Dunia Dalam Tengkorak (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 3 April 2019

“Oh kau belum mendengar hal terburuknya. Hidup ratusan tahun dalam dunia penuh pengetahuan ini adalah luar biasa, aku menikmati kesunyian dan ketenangan tanpa rasa kesepian. Tapi hal terburuk terjadi pada awal aku berada di dunia ini.” yang dikatakanya malah berkebalikan dengan yang kubayangkan.
“Bagaimana bisa..?”
“Aku menyadari kemampuan akselerasi pikiranku ini saat usia 7 tahun, saat itu pikiranku berakselerasi puluhan kali lipat, mengakibatkan dunia terasa membeku, waktu berhenti dan tubuhku terasa lumpuh.” dia menerangkan, seluruh kisah ini benar benar menakjubkan.
“Lumpuh..?”
“Iya. tubuhku tidak bisa mengimbangi kecepatan pikiran sadarku. Aku sangat ketakutan dan tak tahu apa yang terjadi, aku mulai tertidur dan terbangun di dunia ini. Awalnya dunia ini adalah ruang hampa, kosong, gelap, dan kesendirian. Dan kau tahu, aku terjebak di dunia itu selama 10 tahun, tentu saja hitungan tahun di dalam kepalaku berbeda dengan waktu dunia nyata seperti yang kujelaskan sebelumnya. hingga akhirnya aku menyadari kalau aku bisa menggunakan imajinasiku di dunia ini, aku mulai membangun replika alam di dunia ini. Akhirnya hingga sekarang aku tinggal di dunia ini.”
“Aku sungguh tak bisa berkata apa apa, ini semua sungguh dunia lain bagiku..” aku tak pernah sekagum ini.
“Lalu bagaimana dengan duniamu..?” tanyanya membuyarkan lamunanku.
“Maksudmu Linker..?” tanyaku.
“Ya.”
“Yah kau tahu, kemampuanku muncul di usia 9 tahun, mendengar pikiran pikiran jahat, kotor, dan gelap dari orang orang yang berlalu lalang. Aku tak mampu mengontrolnya, namun ayahku yang seorang neuropsikologis menyadari bahwa aku adalah seorang Linker dan mencoba membantuku mengendalikan kemampuan ini.”
“Hm.. ternyata cocok dengan rangkumanku tentang Linker.”
“Kau punya?”
“Tentu, aku mempelajari kaummu selama beberapa dekade.” Tak terasa berjam jam aku berbincang di dalam dunia khayal Radit, aku berjalan menengok jendela sekedar menikmati pemandangan yang diciptakan Radit ratusan tahun yang lalu.

“Hei kau tahu, ini pertamakalinya aku berbincang bincang dengan manusia lain hingga berjam jam seperti ini. Rasanya enak sekali bisa mengutarakan pikiran ke makhluk hidup yang mampu menimpali pikiranmu.” tiba tiba dia mengatakan hal yang sama yang kupikirkan.
“Hahaha aku juga, sungguh. Mungkin karena manusia biasa tak mampu memahami pikiran kita.”
“Kurasa kau benar.”
“Apa kau tidak merasa kesepian..? maksudku menjadi berbeda dan hidup dalam kesendirian dunia ini.” aku bertanya, aku hanya ingin tahu apakah dia merasakan perasaan yang sama sepertiku.
“Kesepian tidaklah sama dengan kesendirian. Kau memiliki sahabat bukan.. memiliki orang orang di sekelilingmu. Kau bisa memahami semua pikiran dan perasaan manusia, tapi apakah ada yang memahamimu?” diapun bertanya balik padaku.
“Tidak. Kurasa tidak, tak ada yang tahu apa yang ada dalam kepalaku dan perasaanku. Maka dari itu aku mencari Linker lain, berharap aku merasa tak lagi seperti Alien.”
“Tepat sekali. Aku menjalani kehidupan ratusan tahun sendirian di dunia ini tanpa kehadiran satu makhluk hidup pun. Yang membuatku kesepian bukanlah kesendirianku, bukan karena tak ada orang lain di dekatku. Tapi kesepian itu kau memiliki pemikiran, perasaan dan pengetahuan sebesar gunung dan sebanyak buku di dunia imajinerku ini, tapi kau tak bisa berbagi itu semua dengan orang lain. Dengan kata lain kesepian datang karena kita tak mampu mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikiran dan perasaan karena tak ada yang memahaminya, tak peduli berapapun teman yang ada didekatmu. Benarkan..?”

Kata katanya membuatku berpikir, itulah yang selama ini kurasakan, rasa kesepianku bukan karena aku sendirian, aku bahkan merasa kesepian ditengah kerumunan, namun kesepian ini ada karena tak ada yang mampu memahami isi kepala dan hatiku. Jika kau memiliki satu saja teman yang mampu memahamimu, itu lebih baik dari pada 100 orang yang sama sekali tak mengetahui apapun tentang dirimu yang sesungguhnya.

Tiba tiba sesuatu berubah di luar jendela. “Hei apa kau juga merancang suatu musim tertentu di dunia ini..?” tanyaku.
“Tidak, kenapa..?”
“eh..? di arah sana ada awan hitam besar bergerak ke kota.”
Radit seketika berdiri dengan ekspresi wajah ketakutan becampur ekspresi tak percaya. “Apa kau bilang..?”
“Ada.. awan hitam besar mendekat. Hei.. ada apa memangnya?”
“Tidak.. tidak, ini tidak mungkin terjadi.” ekspresinya yang biasa terlihat tenang dan hampa kini makin ketakutan melihat awan itu dengan mata kepalanya sendiri.
“Hei ada apa..?” akupun juga merasa sedikit panik.
“Awan hitam itu adalah proyeksi alam bawah sadarku, artinya alam bawah sadarku mengambil alih dunia imajiner ini!”
“Lalu apa itu artinya..?” aku tak mengerti apa yang dimaksudnya.
“Artinya, aku tak akan memiliki kuasa lagi di dunia ini, aku mengontrol dan menciptakan dunia ini dengan alam sadarku, saat kondisi psikologisku jatuh ke alam bawah sadar awan hitam besar akan menyelimuti kota dan aku tak akan bisa mengontrol dunia ini!”
“Oke oke.. aku mengerti, tapi kenapa kau sampai setakut ini? Kita segera keluar saja”
“Tidak, kau tidak mengerti. Terakhir kali ini terjadi adalah dua ratus tahun yang lalu, saat aku masih SMP dan mengalami gejala tipus. Kau tahu, aku terjebak di dunia ini dan tak bisa keluar. Dan hal terburuknya, semua bentuk phobia dan ketakutanku tiba tiba muncul di dunia ini dari alam bawah sadarku, yang mana aku tak mampu mengendalikanya.” Dia meraih tanganku dan menarikku menuruni tangga sebelumnya “Kita harus keluar atau kita terjebak di dunia ini dalam waktu yang sangat sangat lama bersama hal hal megerikan!”
“Ya tuhan.. aku baru ingat, sebelum aku masuk ke pikiranmu aku melihat wajahmu sedikit pucat. Apa kau sakit..?”
“Entahlah, yang penting kita harus segera keluar dari dunia ini, kita harus segera sadar!” Kami keluar dari istana, namun saat kami melihat ke atas awan hitam mulai menutupi langit. “Gawat, kita terlambat!”
“Bagaimana cara kita keluar?” tanyaku. Rasa panikpun segera menjalari sekujur tubuhku.
“Biasanya aku hanya tinggal mengerjapkan mata maka kita akan sadar di dunia nyata, tapi saat awan hitam sudah di atas kepala kita, aku tak dapat mengendalikan dunia ini.”
“Belum terlambat, lihat!” Aku menunjuk kearah bukit dimana langit masih biru, namun awan hitam besar mulai mendekatinya juga.
“Bagus, ayo lari secepatnya kesana sebelum terlambat!” kami berlari sekuat tenaga, walau ini hanya dunia di dalam pikiran radit namun secara fisik semua terasa nyata bahkan rasa lelah saat berlari ini.
“Tidakkah kau menciptakan kendaraan di dunia ini?” tanyaku dengan napas terengah engah.
“Biasanya aku tak perlu kendaraan untuk pergi dari satu tempat ke tempat lain di kota ini, aku cukup terbang atau teleportasi. Ini duniaku, saat kondisi sadar aku bisa mengendalikan apapun bahkan hukum fisika di dunia ini. Tapi tunggu sebentar mungkkin aku punya.” Dia menarik tanganku berbelok ke sebuah jalan raya, terlihat ada mobil jeep militer terparkir di sana. “Aku mendesainya beberapa tahun lalu. Untuk menyimpan pengetahuanku tentang otomotif.” Kami langsung tancap gas menuju bukit cerah yang jaraknya kira kira satu kilo meter.

“Ya ampun sekarang apa lagi..?” aku menegnok ke belakang, entah darimana tiba tiba ada kalajengking raksasa mengejar kami, sekumpulan badut bermuka seram dan amat mengerikan berlari mengejar kami. “Dit… di belakang ada..-”
“Aaah..! jangan katakan apapun! aku sudah tahu apa yang ada di belakang kita. Mereka dalah phobiaku. Kau tahu phobia adalah ketakutan irasional yang tidak bisa kau kendalikan, dan itu datang dari alam bawah sadarku.” Wajah Radit yang biasanya tenang berubah ketakutan, dia tak berani menoleh ke belakang.

Namun itu semua bukanlah yang terburuk, dari samping gang yang baru saja kami lewati muncul sesosok makhluk yang amat mengerikan, yang bahkan aku tak bisa menemukan kata yang tepat untuk mendeskripsikan betapa mengerikanya makhluk ini, aku hanya gemetaran tak mampu berkata apa apa.
“Dari ekspresimu sepertinya kau sudah melihat yang terburuk. Tenanglah aku tak akan membiarkanmu terjebak di dunia khayalku.” Dia memaksimalkan kecepatan mobil jib yang kami kendarai.
“Bagaimana bisa kau mendapatkan phobia semengerikan ini? ya Tuhan…”
“Entahlah, mungkin itu perwujudan dari trauma masalalu saat kecil.”
“Trauma..?”
“Gawat.. ini benar benar buruk! Sinarnya mulai menghilang!” Kami sudah sampai di bukit, namun awan hitam hampir sepenuhnya menutupi lagit, hanya tinggal cahaya langit yang menerobos celah awan selebar satu meter tersisa.”
Entah kenapa aku merasakan firasat buruk.

“Silvia! kau harus melompat kedalam celah cahaya itu atau kau akan terjebak di sini!” dia berteriak di tengah kejaran makhluk makhluk itu.
“Apa kau gila? kau juga harus lompat!” sentakku.
“Tidak bisa, kita tak punya banyak waktu! Aku harus tetap menginjak gas atau kita tak akan sampai ke titik itu, lagi pula celah itu terlalu kecil untuk kita berdua.
“Lalu apa yang akan kau lakukan? kau akan terjebak dalam dunia horror ini!”
“Percayalah aku sudah pernah mengalami ini, mungkin ini saatnya aku menghadapi phobia. Tapi setidaknya kau harus sadar, lalu sadarkan aku jika tidak, kita berdua bisa terjebak di dunia ini selama ratusan tahun. Kumohon!”
Kurasa memang tak ada jalan lain lagi. Aku menengok ke belakang sekali lagi, ratusan kengerian mengejar kami diikut awan gelap yang kelam, seolah olah kami berada di dunia mimpi Alice namun versi horornya.

“Aku berjanji akan menyadarkanmu!”
“Ya, aku percaya itu!” dia tersenyum dan kembali memfokuskan pandanganya ke celah cahaya yang sebentar lagi menghilang.
“Aku berdiri dari kursi, dan tanpa aba aba aku melompat memasuki cahaya itu. Sepersekian detik aku melihat Radit mengacungkan jempol padaku.

“Hah..!!!” aku menyentak dan membuka mata, jarum detik jam hanya berpindah lima detik dari saat pertama aku memejamkan mataku. Aku sadar berada di kelas Biologi. Aku masih sangat kebingungan dengan napas terengah engah.
“Sil.. kamu kenapa..? sakit..?” tanya Sania padaku.
“Ah tidak kok.” Aku melihat jam dinding, telah terlewat 7 detik. Aku teringat bahwa dalam pikiran Radit yang sedang berakselerasi, satu detik dunia nyata bisa terasa seperti empat jam. “Ya ampun, Radit..!” aku menoleh ke arah Radit yang matanya setengah tertutup dengan wajahnya yang sangat pucat.

Tanpa pikir panjang aku mengambil sebuah buku paket tebal dan melemparkanya dengan keras ke arah Radit.
‘bruak’ Hantamanku amat keras hingga membuat Radit yang duduk dua bangku dariku terjatuh ke lantai.
“Haah..!!” dia menyentak. aku berhasil menyadarkanya.
Aku berlari menghampirinya yang terjatuh di lantai, seisi kelas menoleh ke arah kami.
“Ah maaf dit, aku tidak sengaja.” aku mengatakanya dengan keras untuk mengalihkan pikiran semua orang di kelas. Aku mulai mendengar pikiran mereka yang berpikir tentangku, aku mengabaikanya dan berlari menghampiri Radit.
“Dit.. kau tidak apa..? maaf aku terlambat membangunkanmu”
“Hah.. hah.. Astaga!” napasya benar benar tak teratur. “Terimakasih Sil.. aku terjebak selama satu hari di dunia itu sejak kau masuk ke celah cahaya.” rupanya enam detik jeda saat aku sadar membuatnya dikejar makhluk makhluk mengerikan itu selama satu hari satu malam di dunia imajiner Radit. “Tapi jika kau tidak membangunkanku, mungkin akan berabad abad, dan aku bisa gila.”
“Sudah jangan banyak bicara, suhu tubuhmu panas sekali. Kita harus ke UKS.” Aku membantunya berdiri dan meminta izin ke Bu Isni.

Perlahan kami meninggalkan ruang kelas, aku masih mendengar pikiran pikiran teman kelasku, mulai dari ‘dasar orang orang aneh.’ Atau ‘kenapa sih anak itu’ dan pikiran Sania sahabatku ‘sejak kapan ya Silvia berteman dengan si Radit…’
“Well, maaf membuatmu mengalami hal hal mengerikan tadi..” ujar Radit dengan suara lirih.
“Haha kau bercanda? sebuah dunia di dalam kepalamu yang satu detik dunia nyata sama dengan berjam jam disana. Itu sungguh mengesankan!” Ujarku, walau sempat ketakutan setengah mati, tapi obrolan bersama manusia yang sama anehnya dengan diriku adalah pengalaman yang sangat menyenangkan. “Oh hei, ayahku seorang neuropsikologis kau ingat? Walau bukan psikolog ataupun Terapis mungkin dia bisa membantumu mengatasi masalah serangan fobia bawah sadarmu tadi.”
“Aku akan sangat berterimakasih.”
“Sebagai gantinya, ajak aku ke duniamu lagi kapan kapan.”
“Kau yakin..?” dia menatapku dalam.
“Tentu. terlepas dari wonderland horrormu tadi. Saling bertukar pikiran dan saling memahami pandangan itu sangat luar biasa, itu obat rasa kesepian kita.” Aku tersenyum.
“Terimakasih Sella..”
“Silvia..!” bentakku.
“Oh maaf, kurasa aku harus membuat buku rangkuman tentangmu. Haha bercanda.” Wajah dinginya mencair. Kurasa bukan hanya obat kesepian, tapi obat bagi penyakit kemanusiaan. Konflik, ketidak pedulian, perang, rasisme atau apapun itu, bukankah itu semua muncul salah satunya karena kita semua tidak mempunyai keinginan untuk saling memahami.

THE END

Cerpen Karangan: Aliffiandika
Blog / Facebook: Aliffiandika Nuzul

Cerpen Dunia Dalam Tengkorak (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Weather (Part 1)

Oleh:
Cuaca buruk beberapa hari ini sedang melanda Cornwall, membuat kota itu terlihat lebih sepi tak seperti hari-hari sebelumnya, cuaca nampak tak mendukung untuk melakukan aktivitas lebih banyak. Akibat lainnya

Hakim Gemblung

Oleh:
Pada suatu hari, di sebuah negara demokrasi. Hiduplah seorang hakim yang benar-benar tidak pandang bulu dalam menegakkan keadilan di negara itu. Hakim itu bernama Said yang baru saja dilantik

Planet Adrm

Oleh:
Berpindah planet dari planet bumi ke planet adrm tak membuatku melupakan sosok perempuan yang sangat aku cintai. Dunia yang hancur karena antar negara yang terus berperang, sampai perang dunia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *