Dunia di Balik Dinding

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 8 June 2018

Karena setiap malam aku selalu mendengar suara orang yang sedang berpesta di balik dinding kamarku, aku mengajak sahabatku untuk menginap di rumahku malam ini. Kebetulan Ibu dan Ayahku sedang keluar kota untuk urusan pekerjaan. Bagiku, berada di rumah sendirian sudah seperti uji nyali.

“Dengar tidak?”, bisikku. Terdengar suara orang tertawa, bernyanyi dan dentingan piano yang mengalun indah.
“Apa yang harus kita lakukan?”, Tasya merengkuh tanganku.
“Sepertinya memang ada sesuatu di balik dinding ini, Sya. Hampir setiap malam aku mendengarnya.”, bisikku.
Aku mengusap keringat dingin yang ada di dahi. Ini sungguh mengerikan.
“Aku mau pulang saja kalau tahu begini”, rengek Tasya padaku.
“Enak saja! Kalau kau pulang, aku tidur dengan siapa malam ini?”, aku melotot ke arahnya.
“Aku takut! Bagaimana kalau kau tidur di rumahku saja? Biarkan saja rumahmu kosong satu malam ini”, Tasya mengajukan saran dan berharap aku akan mengabulkannya.
Aku menggelengkan kepala. Tasya yang dari tadi masih memegangi lenganku semakin manyun.
“Sudahlah, kalau kau takut kita tidur di kamar tamu saja. Yang penting malam ini kau di sini bersamaku.”, ucapku akhirnya memberikan solusi.

Kami akhirnya keluar dari kamarku dan memutuskan untuk tidur di kamar tamu. Bukannya aku tidak mau menginap di rumah Tasya, hanya saja aku tidak bisa tidur di rumah orang lain. Aku bisa terjaga sepanjang malam dan esoknya aku akan mengantuk sejadi-jadinya. Jadi, daripada besok aku ketiduran saat jam pelajaran, lebih baik aku bertahan di rumahku.

Aku memang terbilang masih baru di lingkungan ini. Kami baru sebulan menempati rumah ini. Rumah ini juga pemberian dari perusahaan karena Ayah ditugaskan untuk mengurus beberapa aset perusahaan yang berada di sini. Aku tidak menyukai tempat ini karena jauh dari peradaban manusia. Jauh dari sekolahku, jauh dari tempat perbelanjaan, jauh dari tempat nongkrong dengan teman-temanku. Aku selalu mengeluh kepada Ibu untuk membiarkanku tinggal bersama Nenek di kota. Tapi Ibu bukanlah Ibu yang gampang dibujuk. Sekali ia menggelengkan kepalanya, jangan coba-coba bertanya lagi, atau aku akan merasakan sakitnya uang jajan tak keluar sepeser pun berhari-hari.

Sejak pindah ke tempat ini, aku selalu mendengar suara-suara aneh. Kadang seperti suara orang yang sedang mengadakan pesta, kadang seperti orang yang sedang berdiskusi, kadang suara anak-anak yang sedang belajar bernyayi. Aku sempat mengira itu adalah suara dari tetangga sebelah, ternyata semakin jelas terdengar ketika aku merapatkan telingaku ke dinding kamarku. Aku sampai melompat ketika mendengar suara itu berasal dari balik dinding kamarku. Bagaimana mungkin?

Dinding kamarku menyatu dengan dinding toilet di kamarku. Aku mengira suara itu berasal dari toilet, ketika kuperiksa ternyata tidak ada apa-apa. Bahkan suara itu hanya bisa didengar ketika berada di kamar saja. Dan suara itu hanya bisa didengar saat kita sedang benar-benar berkonsentrasi. Aku selalu mencari kesempatan untuk menghancurkan dinding itu. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya ada di balik dinding itu.

Hari ini adalah hari yang tepat, karena Ayah dan Ibuku tidak berada di rumah. Tapi sahabatku yang penakut ini semakin membuatku takut dengan teriakan-teriakannya. Tasya bisa berteriak kuat sekali saking takutnya. Teriakannya bisa memecahkan gendang telinga kita. Dan aku tidak akan sudi jika gendang telingaku harus pecah hanya karena teriakannya itu.

“Sya, aku mau melakukan sesuatu malam ini di kamarku. Sebagai sahabatku satu-satunya, kau harus membantuku.”, ucapku pada Tasya yang sedang mengurung dirinya di dalam selimut.
“Aku tidak mau membantumu jika itu menyangkut suara-suara aneh tadi!”, teriaknya.
“Ayolah, sekali ini saja. Kau hanya perlu menemaniku di dalam kamar. Kau tak perlu melakukan apapun. Hanya menemaniku saja.”, bujukku dengan nada memelas.
Kepala Tasya menyembul dari balik selimut, matanya seolah mengancamku, Awas kau kalau menyuruhku yang tidak-tidak. Aku mengerjapkan mataku berkali-kali sambil tersenyum dan mengacungkan dua ibu jariku. Tasya keluar dari selimutnya dan mendorongku untuk keluar menuju kamarku. Yes! Akhirnya malam ini aku bisa memecahkan misteri ini.

“Kau mau melakukan apa?”, tanya Tasya.
Aku membuka lemari pakaianku dan mengambil dua palu besi besar dari sana.
“Kau mau membunuhku?!”, teriaknya.
Aku tidak bisa menahan tawa melihat wajah pucat sahabatku ini. Aku semakin menakut-nakutinya dengan berjalan perlahan-lahan ke arahnya. Ia hampir pingsan kalau saja aku tidak tertawa terbahak-bahak saat itu. Tasya memukul kepalaku dengan tangannya.
“Sialan kau!”

Kuberikan satu palu besi itu padanya. “Bantu aku menghancurkan dinding ini.”
“Kau gila? Bagaimana kalau Ibumu marah? Lagipula tadi kau yang mengatakan padaku untuk tidak melakukan apapun selain menemanimu.”, Tasya memalingkan wajahnya sambil berkacak pinggang.
“Ayolah, kau tega melihatku menghancurkan dinding ini sendirian? Kalau kau ikut membantu kan semuanya bisa cepat selesai.”, aku membujuknya.

Akhirnya Tasya mengalah. Ia mau membantuku mengancurkan dinding ini. Sebelum mulai menghancurkan dinding ini, kami mencoba mendengar kembali suara-suara aneh itu. Suara itu semakin jelas ketika kami benar-benar berkonsentrasi. Kami mulai memecahkan dinding kamarku, tidak butuh waktu lama, kami sudah membuat lubang di dinding itu.

Ternyata antara dinding kamar dengan dinding toiletku ada semacam jarak sekitar 50 sentimeter. Dan betapa kagetnya kami ketika mendapati ratusan jamur berwarna-warni seukuran jari manis sedang lalu lalang. Tasya yang dari tadi sibuk mengomel sekarang diam seribu bahasa. Aku yang dari tadi harap-harap cemas dengan apa yang akan kami temui dibalik dinding ini juga tidak bisa mengeluarkan kalimat sepatah katapun.
Sungguh ini seperti dongeng anak-anak yang penuh dengan imajinasi. Bagaimana mungkin ada jamur berwarna-warni dan bahkan beberapa dari jamur itu mengeluarkan cahaya yang menakjubkan. Aku benar-benar kagum melihat keindahan ini. Kalian pernah melihat film Disney yang berjudul Smurf? Kalian pasti tahu kan kota mereka seperti apa? Seperti itulah yang kulihat saat ini. Benar-benar tidak masuk akal. Tasya bahkan berulang kali menyuruhku mencubit lengannya.

Jamur-jamur cantik itu bergerak kesana kemari. Ada yang melakukan paduan suara, ada yang bermain piano, ada yang berdiskusi di sebuah meja kecil, entah mendiskusikan apa. Kulihat di leher jamur itu tergantung benda kecil seperti pengeras suara, entah apa gunanya aku tak tahu. Mungkin seperti alat pengenal atau alat komunikasi antar jamur itu. Aku mencoba mendengarkan bahasa yang mereka gunakan. Aku tidak mengerti sama sekali dengan apa yang mereka ucapkan. Mereka terdengar seperti orang yang sedang beradu mulut, cepat sekali ketika berbicara.

Tasya mencoba untuk menyentuh jamur-jamur itu. Tiba-tiba saja ia menjerit kesakitan.
“Kau kenapa?”, aku bertanya panik.
“Jamur itu menyetrumku. Dia punya sengatan listrik di tubuh cantiknya”, Tasya meringis kesakitan.
Sengatan listrik? Aku tak mempercayai perkataan Tasya. Kucoba untuk menyentuh jamur berwarna polkadot pink. Aku tidak merasakan apapun. Tapi tidak berapa lama kemudian, tanganku terasa sangat gatal dan panas. Aku mulai menyadari sesuatu, mungkin setiap jamur ajaib ini memiliki kekuatan yang berbeda-beda untuk melindungi diri mereka dari dunia luar.

Aku masih penasaran, aku mencoba menyentuh jamur berwarna pelangi. Hanya ada satu jamur yang berwarna pelangi dan ia sangat mencolok karena memiliki warna yang berbeda dari jamur lainnya. Aku beranggapan bahwa ia adalah leadernya. Ketika aku mulai menyentuhnya, “AAARGGHHH!!”.
Jamur itu menggigit tanganku. Aku kaget sekali. Aku dan Tasya menjauh beberapa saat dari lubang itu. Sial! Jamur ini memiliki potensi melukai manusia. Setelah mengumpulkan keberanian untuk mendekatinya lagi, aku melihat jamur pelangi itu berdiri menatap ke arahku dan Tasya.

“Sya, kau lihat itu? Dia menatap kita. Apakah dia marah karena kita telah mengetahui tempat tinggalnya?”, bisikku pada Tasya sepelan mungkin.
“Aku rasa dia tidak marah. Lihat matanya, sepertinya dia ingin berkomunikasi dengan kita, Sel.”
Aku mendekati jamur pelangi itu. Jamur itu tersenyum, ia mengulurkan tangannya yang kecil ke arahku, seperti mengajakku untuk bersalaman. Sebenarnya aku tidak tahu apakah itu tangannya atau bukan, karena kalau kusebut itu tangan bentuknya tidak seperti tangan dan tidak mempunyai jari seperti kita. Aku mengarahkan jari telunjukku untuk menyentuh tangannya. Jamur pelangi itu tiba-tiba berubah warna menjadi ungu. Aku pun mengerti satu hal, jamur cantik ini tidak akan menyakitiku jika aku tidak menyentuhnya secara tiba-tiba.

Setelah beberapa detik, jamur-jamur yang lain datang berkerumun melihat ke arah kami membentuk formasi. Sungguh, ini pemandangan yang sangat indah. Dan mereka semua mengulurkan tangannya ke arah kami untuk disentuh. Karena setiap sentuhan akan mengubah warna mereka. Tasya sangat bersemangat untuk menyentuh mereka semua. Ia bahkan lupa bahwa beberapa saat lalu ia disetrum oleh salah satu jamur itu.

“Ini pengalaman pertamaku melihat jamur berwarna-warni dan bergerak seperti layaknya manusia, Sel.”, ucap Tasya dengan nada terharu.
“Kita harus merahasiakan ini dari Ibuku maupun dari teman-teman kita. Hanya kita berdua saja yang tahu, kau setuju?”, tanyaku pada Tasya.
Tasya menganggukkan kepalanya dengan cepat.
“Tapi, bagaimana bisa merahasiakannya dari Ibumu? Sementara kita sudah membuat lubang besar di dinding kamarmu.”
“Itu gampang, kita tutup saja dinding ini dengan poster besar yang baru kau beli tadi siang, Sya.”, jawabku seenaknya.
Tasya memang baru saja membeli poster EXO berukuran besar. Kalian tahukan EXO? Boyband asal Korea yang ganteng-ganteng itu. Tasya sangat menggilai segala hal yang berbau Korea. Mulai dari penyanyinya, filmnya, makananannya, bahkan Tasya les Bahasa Korea untuk melengkapi kecintaannya terhadap negara itu.
“Enak saja!”, Tasya lagi-lagi memukul kepalaku dengan tangan mungilnya.
“Ayolah, nanti kubelikan lagi yang baru, yang lebih besar.”, ucapku mengarang jawaban.

Aku bergegas mengambil posternya dari dalam tas Tasya tanpa menunggu persetujuannya. Kupasang perekat di masing-masing ujung poster itu dan dengan hitungan menit lubang itu sudah tertutup oleh poster EXO kesayangan Tasya. Aku menarik napas lega. Ternyata selama ini suara-suara aneh itu berasal dari jamur-jamur cantik yang tinggal di balik dinding kamarku. Aku baru menyadari ternyata ada dunia di balik dinding itu. Dunia para jamur cantik dan ramah. Kalau sudah begini, aku tidak akan mengeluh pada Ibu untuk dipindahkan ke kota bersama Nenek. Aku bersedia tinggal di sini lebih lama lagi. Aku tersenyum, sementara Tasya masih memasang wajah super manyun karena poster EXO-nya nangkring dengan anggun di kamarku.

Cerpen Karangan: Devian Amilla
Blog / Facebook: Devian Amilla
(Penulis adalah Alumni UMSU Jurusan Matematika, Beberapa karyanya seperti puisi, cerpen dan opini pernah dimuat di media lokal maupun luar daerah)

Cerpen Dunia di Balik Dinding merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Robot Penyerang (Part 3)

Oleh:
“ada pesan” kataku sambil membukanya “jangan khawatir mereka dipindahkan ke tugas lapangan, kau disini sendiri dan bekerjalah dengan baik” pesan video dari orang yang aku, ilham dan widya temui

Ramalan Bintang

Oleh:
Hazel sedang memainkan piano miliknya sambil sesekali meneguk jus blueberry dan memakan fettucini carbonara yang ia beli tadi pagi. Sekarang sudah menjelang sore, Hazel belum beranjak dari piano. Padahal,

Bunga Lili Putih

Oleh:
Mary menangis tersedu-sedu di atas kasurnya. Sejak tiga puluh menit yang lalu, air matanya tidak berhenti membasahi pipi anak berusia sembilan tahun yang polos ini. Rambut panjangnya yang acak-acakan

Editor Waktu (Part 2)

Oleh:
Sandy mengambil laptopnya di kamarnya, lalu membuka browser dan menunjukan sesuatu pada Wijaya. “Nih Wi, coba lihat apa yang aku temukan kemarin di internet.” kata Sandy menunjukkan sesuatu. “Precognition?”

Sahabatku Seorang Penyihir

Oleh:
Claire menghela nafas kelelahan. Seperti biasa, di hari libur ia melakukan aktifitas olahraga pagi dengan cara jogging di taman kota. Di bawah pohon taman yang cukup rindang itu, Claire

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *