Dunia Di Bawah Tanda (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Petualangan, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 20 February 2017

Hujan masih turun sama seperti tadi, tidak ada tanda-tanda mau berhenti

Bumbu yang dibuat ardi telah siap dan dani kini sedang mengoleskan bumbu itu ke badan burung yang ia bawa

“kau kiri atau kanan?” katanya sambil memasukan daun bumbu ke dalam perut burung tersebut
“kanan saja” sahut ardi

Ketika semua bagian burung telah terkena bumbu kini saatnya mulai memasak burung ini dengan cara dipanggang, ketika bumbu dan tubuh burung itu tersentuh api, hmmm harumnya seperti

“ayam” sahut ardi gembira
“sudah kubilang kalau ini bisa kita jadikan makan malam, kalau kau tidak keberatan kau bisa ambil sosis di dalam mobil” kata dani sibuk mengurusi burung itu
“ok siap pak” jawabnya lekas berdiri dan kembali dengan 4 bungkus plastik yang berisi 5 sosis berukuran sedang
“kau ambil dua sisanya buat aku fine”
“kau bawa penjepit, tidak mungkin kalau disunduki” kata ardi
“ya aku bawa, di bawah tas tenda tadi ada” jawab dani yang mulai mengiris bagain tengah burung itu untuk dibagi dua

Mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing, dani sedang mengurusi burung tadi sedang ardi sibuk memanggang semua sosis tanpa berfikir apakah besok ketika mereka bangun apakah mereka bisa kembali pulang

Ketika semua hidangan telah selesai beserta minumannya (air dari talang tadi dimasak lalu didinginkan di kulkas kecil dalam mobil), mereka mulai menyantap dengan syukur

“kau tahu, sudah jarang aku begini sama temen-temen, dulu waktu aku sma aku sering mengadakan kegiatan seperti ini kalau malam minggu” kata dani disela makannya
“hmmm ini enak, seperi bebek bagiku, kau?” kata ardi
“ya seperti bebek”

Mereka terus melanjutkan makan malam mereka dengan ditemani nyala api yang hangat dan hujan yang tak kunjung berhenti. tapi itu tidak jadi soal, soalnya di dalam sini hangat dan hmmm harum

Ketika burung itu tinggal tulang (mereka tidak makan nasi), aroma dari sosis masih membuat mereka meliriknya lalu memakannya dengan disertai obrolan seputar masa lalu atau hal-hal yang tidak diketahu satu dengan yang lain

“oh ya, pas waktu sma kamu masuk sma mana?” tanya ardi ke dani yang memberi sosisnya dengan mayonis
“sma 9, tahu sendiri kan gimana reputasinya di mata masyarakat” jawab dani bangga
“tahu, itu sma favorit untuk orangtua yang tidak ingin anaknya susah kelak, kalau aku masuk ke smk” sambung ardi
“kenapa?, ambil jurusan apa kamu”
“itu keputusanku sendiri, lebih mudah saja bagiku, aku ambil jurusan mesin”
“mesin” “ya mesin”
“wow itu keren, kalau mobil ini mulai jahil kau bisa membetulkannya dong” sahut dani
“boleh-boleh saja”

Mereka terus ngobrol asyik menceritakan diri mereka atau hal-hal yang menurut mereka unik yang patut untuk dibagi

Ketika sosis pun telah habis, dan hujan di luar juga masih deras. mereka mulai membereskan piring-piring mereka dan gelasnya, mencucinya lalu menyimpannya kembali ke dalam mobil

Ketika sedang santai ardi mulai bicara

“apakah kamu pernah berfikir kalau kita tidak akan pernah pulang ke dunia” katanya menerawang melewait tirai hujan
“entahlah, tapi yang pasti kita akan keluar, mungkin besok atau kapan entah tapi yang pasti kita akan keluar, aku yakin itu” dani yakin sekali dengan ucapannya

Hening sejenak sambil mendengarkan suara hujan dan merasakan hangatnya api bekas penggangan burung tadi

“jam berapa sekarang” kata dani mendadak
“jam Sembilan, kenapa?”
“aku ngantuk, aku mau tidur, kau mau berjaga?” tawarnya sedang ia memasuki tenda
“tidak, eh tapi aku tidur di mobil ok, aku kurang nyaman saja di sini” katanya sambil mengerling ke dalam tenda
“itu soal selera, aku lebih suka tidur di alam bebas”
“ok aku masuk dulu” dani masuk ke dalam tenda lalu mematikan lampu yang digantung ardi tadi

Ardi juga mengikuti jejak sahabatnya itu, ia melangkah ke mobil dan memasukinya, ia tidur di bagian belakang karena kursinya menyatu seperti sofa panjang

Baik ardi maupun dani telah terlelap dengan kelelapan yang dalam, notifikasi waktu di HP ardi menunjukan pukul 21:43 dan bertanggal 18 november 1996

Ketika pagi tiba, mereka berdua telah bangun duluan sebelum alarm berbunyi dan segera lapor bareng
Ardi berdeham

“kita jalan lurus lagi” katanya sambil mengamati cuaca di luar yang hujannya telah berhenti dan digantikan mentari yang indah, rasa-rasanya lebih besar dan dekat dengan mereka, seperti SuperSun

Dani melihat jalan semalam, cuma ada satu arah, lurus atau kembali, kalau ke depan itu bukan jalan, melainkan lereng terjal yang mungkin saja berakhir buruk

“kau sudah mengemasi semuanya” tanya dani
“all is well” sahut ardi mantap

Dani masuk kedalam mobil dan keluar sambil membawa jerigen berisi bahan bakar mobil

“beres” ucapnya

Brummmm

“apa kau tidak mengisi semua botol dengan air itu, siapa tahu kita melewati padang pasir” kata ardi bosan
“baguslah” dan ia segera turun membiarkan mobilnya tetap menyala dan mengisi botol-botol yang ia bawa dengan air pancuran tadi malam

Setelah semua sudah bersih seperti semula, mereka segera naik ke mobil dan segera menempuh perjalanan yang tidak mereka tahu dimana akhir dari perjalanan ini

“coba kau cek petanya, sudah normal atau masih dengan bahasa zargon itu” kata dani memasang sabuk pengaman
“masih sama” ucap ardi datar dan ia memperhatikan kembali layar HPnya, ada yang janggal di situ
“man” panggilnya ke dani, dani mengangguk
“ini ada yang salah dengan, ini ada yang salah jelas-jelas tidak masuk akal, jelas-jelas tidak masuk ak…” “… bisa kau hentikan itu dan beritahu aku apa yang terjadi” potong dani

Ardi menunjukan waktu di Hpnya

“sembilan limabelas tanggal 19 november tahun 1996” baca dani lirih dan ia menatap ardi dan ardi menatap balik dengan linglung
“ap apa ini menurutmu kita mundur beberapa tahun atau gimana?” tanya ardi mencoba menguraikan antrean pertanyaan yang berjubel di kepalanya
“gerbang” sahut dani juga berfikir
“apa!” tanya ardi tidak mengerti
“gerbang, mmm maksudku jalan ke kanan dan menanjak dulu ingat?” jawabnya semangat

Ardi merenung menerima jawaban itu, kalau jalan itu adalah gerbang waktu…

Terus apa?

Ardi masih tidak paham

“aku tidak paham” kata ardi akhirnya
“sama aku juga, tapi firasatku berkata kita harus jalan terus atau…”
“atau apa?” ardi mulai
“ingat apa yang tertulis di patung itu, itu seperti semacam perintah bagi siapapun yang masuk ke sini untuk jalan terus atau kau akan diselimuti oleh kabut” kata dan yang membuat ardi bingung
“itu artinya kau akan lenyap”
“lenyap” ucap ardi lirih
“mati” dani mengakhiri dengan dramatis

Mereka terdiam sejenak dengan pikirannya masing-masing

“kita harus jalan” kata ardi setelah berhasil menguasai kepanikannya
“ok, kita ikuti apa yang dimaui oleh si ksatria”

Mobil mundur dan bersiap berjalan ke depan hingga sesuatu terjadi

Tempat mereka semalam menginap telah menutup dan berubah menjadi batu kokoh seperti dinding batu yang menaungi mereka dari sinar mentari sore

“dan” sahut ardi, antara takut dan kagum menjadi satu dalam satu suara

Dani menelan ludah tidak percaya, ia mengedipkan matanya beberapa kali kalau-kalau itu hanya tipuan mata belaka, tapi ini nyata, nyata untuk seseorang yang masuk dalam dunia yang tidak mereka kenal

Disaat mereka masih memperhatikan kejadian janggal itu, dari belakang mereka terdengar bunyi gemuruh suara kaki hewan yang jumlahnya banyak

Ardi melihat ke belakang, dilihatnya sekawanan banteng yang ukurannya sebesar mobil ini tengah berlari dengan liar ke arah mereka, jumlah mereka sangat banyak. sangking banyaknya ardi mengira kalau aspal yang mereka lalui telah menjadi debu, tapi itu salah, aspal itu memang telah menjadi debu ketika sekawanan banteng itu bergerak maju

“injak gas” teriak ardi ketika mereka dalam bahaya yang semakin mendekat

Dani menginjak gas dengan keras dan mendadak hingga asap hitam kembali muncul

Mobil melaju dengan cepat tapi sekawanan banteng itu seperti boneka mengerikan yang ditarik mobil ini, jadi secepat apapun mobil ini melaju, banteng itu tetap bisa mengikut dari belakang

“cepat cepat” teriak ardi ngeri karena salah satu dari banteng itu hampir saja menyeruduk bagian belakang mobil
“tembak mereka” balas dani
“apa!”
“tembak mereka!” gentian dani yang berteriak

Tanpa bertanya dimana tempat senapan yang dimiliki dani, ardi mencari-cari dari segala sudut mobil itu dengan tergesa-gesa dan baru menemukan benda itu yang ternyata terletak di bawah kursi yang ia duduki
Ardi membuka kaca belakang dan mulai membidik banteng yang paling dekat

Dor

“yeahh kena” teriaknya ardi senang
“copy that” sahut dani
“roger” jawab ardi semangat

Ia membidik lagi dan tembakan kedua ini juga kena tepat mengenai kakinya yang menyebabkan banteng itu jatuh disertai banteng yang ada di sekitarnya. tembakan ketiga, keempat dan kelima kena semuanya

“reload bro” kata ardi

Dani membuka dashbor yang berada di samping kemudi dan melemparkan sebuah kotak kepada ardi dan ardi mulai mengisi amunisi dari senapan itu

Dor dor dor dor

“brooo, ini seperti game!” ardi semangat sekali sampai-sampai matanya berair karena ada debu yang menabrak wajahnya
“keep going”

Mereka terus melaju di jalan lurus beraspal itu dengan masih dinding batu yang mirip ombak tinggi itu masih membayangi mereka

Hingga mereka terus melaju dan dinding batu di samping mereka makin lama makin kecil hingga benar-benar hilang sehingga mereka bisa melihat apa yang ada di baliknya

Sebuah padang pasir luas dengan bukit-bukit pasir menjulang tinggi

“awas di depan!” ardi menunjuk ke arah depan

Kalau di belakang mereka dikejar sekawanan banteng, di depan mereka ada sekawanan badak yang menuju ke arah mereka sehingga mereka berada di tengah-tengah kerumunan hewan berbahaya

“kita harus gimana” teriak dani panik

Mereka berfikir di tengah laju mobil dan bahaya yang kian mendekat dari belakang dan depan
“belok ke kiri!” perintah ardi
“ke padang pasir?” dani tidak percaya, itu nekat
“mau apalagi, depan belakang kita kena, ayo cepat!”

Dani membelok tajam ke kiri hingga mobil agak miring waktu melakukan itu

Banteng dan badak yang tidak sempat mengikuti manuver itu sebagian ada yang bertabrakan ada pula yang lolos dan kembali mengejar mobil mereka, ardi yang memegang senapan segera menembaki sekawanan binatang itu dengan sengit

Kaki dan kepala adalah target utama

“kau tidak punya granat” kata ardi
“apa kau gila!” jawab dani tidak percaya

Tapi ardi tidak percaya, ia mencari-cari kalau apa yang ia inginkan akan terwujud di alam ini, contohnya saja tempat penginapan malam kemarin

Ia terus mencari dari berbagai sudut mobil, di bawah kursi, di tas belakang kursi mobil semuanya tidak ditemukan

Maka ia ganti mengangkat senjatanya dan menggunakan itu dengan sebaik-baiknya

“oi, bagaimana dengan bahan bakarnya!” teriak ardi

Dani melihat indikator bahan bakar mobil

“tinggal setengah” itu buruk, memang mereka mempunyai cadangan bahan bakar sisa isi tadi, tapi kalau dalam pengejaran seperti ini untuk melakukan isi ulang dengan tenang itu tidak mungkin karena si pengejar terus berlari di belakang mereka

“woops” dani berkata takjub

Di depan mereka ada badai pasir yang seperti angin ribut yang melebar seperti gelombang tsunami, tidak ada cara untuk menghindar

“tutup kaca belakang”

Ardi segera menutup dan meninggalkan pergulatannya dengan hewan-hewan tadi

Bummm

Mobil seakan-akan diterjang oleh angin yang kuat hingga kecepatan mobil turun meskipun indikator kecepatan mobil menunjukan 100km/h. dani memberikan tirai besi di depan kaca mobil kalau-kalau kaca tidak kuat menahan kekuatan badai ini, atau yang lebih mengkhawatirkan ada bongkahan batu yang ikut terbang dan menghantam mobil mereka

Laju mobil terasa berat karena mereka melawan arus badai, hewan-hewan yang mengejar mereka telah hilang tersapu badai

“apa kita tidak bisa berhenti dan menungu badai ini reda” tanya ardi
“aku khawatir kita malah ikut terbang seperti hewan tadi”

Itu benar, karena baru saja dani berkata itu, sebuah batu yang besar baru saja ikut terseret arus melewati mobil mereka, untung di samping

Kini laju mobil benar-benar turun drastis, sepertinya mereka mereka malah mendekati pusat badai yang memiliki hembusan makin lama makin menakutkan, sesekali roda bagian depan mobil sedikit terangkat karena hembusan yang kuat

“jam berapa sekarang”
“satu” jawab ardi
“apa kau merasa aneh” tanya ardi ke dani yang berjuang keras agar mobilnya bisa melaju dan tidak terangkat
“apanya yang aneh” teriaknya
“kita mundur beberapa tahun bukan?” jelasnya
“lalu?” dani membanting setir ke kanan
“menurutmu apa ini akan kembali normal kalau kita mengubah waktunya dengan benar?” jelas ardi yang sepertinya masuk akal
“entahlah, tapi yang pasti kita perlu mengisi kembali bahan bakarnya”

Alarm yang disertai lampu merah berkedip-kedip mengkawatirkan

“pakai caraku, kita tidak mungkin mengisi bahan bakar dalam keadaan seperti ini, aku kan coba merubah waktunya ke yang benar”

Ardi mulai mengubah waktu di HPnya ke waktu yang benar sesuai kapan mereka berada di sini

“sudah” kata ardi mengatasi deru badai diluar
“normal” jawab dani masih berjuang dengan mobilnya
“tidak langsung, ini seperti minum obat, efeknya akan terasa untuk beberapa waktu”

Selesai ardi mengucapkan kata itu, badai telah hilang dengan cepat dan dan kembali lingkungan padang pasir di sekitar mereka

Mobil mereka yang awalnya cepat karena untuk melawan badai menjadi sangat cepat karena badai telah berlalu
Dani segera menstabilkan laju mobilnya

“jangan berhenti, jalan terus” saran ardi entah mengapa ia berkata seperti itu

Tak disuruhpun dani memang terus melajukan mobilnya meskipun alarm tetap berbunyi, dani melajukan mobilnya tidak terlalu cepat guna menghemat bahan bakar yang menipis, sebenarya mau berhenti dan diisi, tapi masih kawatir kalau ada kejadian yang tak terduga muncul dan membuatnya dalam bahaya

Mereka terus melaju hingga di depan mereka ada batu besar tegak lurus memanjang yang membuat bayangan cukup untuk meneduhi mobil itu, mereka melalui batu dan tidak terjadi apa-apa

Sekarang yang mereka kawatirkan kalau ada sesuatu yang memaksa mereka harus melajukan mobilnya dengan cepat sedangkan mobilnya sendiri lagi haus

Setelah mereka melewati batu itu, sinar mentari kembali menyengat

“ambilkan aku air” perintah dani, dan ardi membuka kulkas kecil dan memberikan botol minum itu ke dani dan ia sendiri mangambil untuk dirinya sendiri

Setelah cukup lama dalam perjalanan, di depan mereka baik dani maupun ardi sama-sama melihat sebuah pohon besar dan deretan bunga berwarna kuning indah, dan kalau penglihatan mereka tidak salah, di situ juga tidak hanya pohon dan bunga, tapi juga ada jalan yang sepertinya salah satu dari mereka mengenalnya

“bukankah itu jalan menuju ke rumah kakekmu dan” lontar ardi
“sepertinya iya, apakah normal?” tanyanya balik
“mungkin kita sudah bisa pulang” sahutnya senang

Mobil makin mendekati objek itu dan benar, itu jalan yang mereka kenal, tidak mungkin salah. ketika roda depan mobil itu dan roda belakang masih menempel di padang pasir mereka bisa merasakan hembusan angin yang dikeluarkan oleh lingkungan yang sejuk di depan mereka, ketika mobil benar-benar memasuki alam yang membuat mereka bisa tahu dengan benar dimana mereka sebenarnya, dani agak mempercepat laju mobilnya meskipun alarm indikator tetap berbunyi

Segera baik ardi maupun dani membuka jendela mobil, semua jendela mereka buka, angin kemenangan sudah bisa mereka rasakan

“hmmmm” ardi menghirup udara dengan sekuat-kuatnya sambil tersenyum merem sedangkan dani tertawa
“hoho aku masih ingat bagaimana aku menembak hewan-hewan itu haha” katanya sambil tertawa
“aku juga, aku masih mengingat waktu kau dengan begonya hanya melihat sebuah makan malam yang terhidang dengan jelas haah” mereka terus melontarkan kata-kata yang membuat mereka tertawa, sepertinya angin yang menghembus masuk membuat mereka merasa senang, mereka baru berhenti ketika mobil berhenti total

“oh ya, aku lupa memberinya minum” sahut dani dibarengi turunnya ardi

Setelah mengisi bahan bakar selesai

“aku jadi pengen kacang segala rasa lagi” celetuk ardi, entahlah, ini efek lapar atau memang ia ingin kacang segala rasa
“kita bisa mampir kalau mau?” tawar dani
“big deal”

Lalu mereka berdua masuk mobil dan melanjutkan perjalanan hingga jarak kafe yang mereka bicarakan hanya dalam hitungan meter

“eh coba aku lihat petanya apakah sudah kembali normal atau masih apa katamu” pinta ardi
“bahasa zargon” kata dani
“iyep zargon, dan woopss, ini sudah normal” ardi menunjukan HPnya ke dani dan mereka tertawa senang

Mobil melaju dan berbelok ke kanan, satu belokan lagi kafe yang mereka akan singgahi akan sampai

“lihat ini ada sms masuk” kata ardi semangat

Mobil berbelok ke kiri

“coba bacakan” pinta dani

“SELAMAT ANDA BERHASIL KELUAR DARI DUNIA, TAK BANYAK ORANG YANG TAHU BAGAIMANA CARANYA KELUAR DARI DUNIA ITU, WOW ITU SANGAT JENIUS. KEBANYAKAN DARI MEREKA YANG TIDAK BISA KELUAR MENJADI SESUATU YANG MEMBAHAYAKAN ORANG YANG BARU MEMASUKI DUNIA ITU, DAN KALAU TIDAK SALAH, SALAH SATU DARI KALIAN TELAH MEMBUNUHNYA BUKAN?, ITU TIDAK MENGAPA, KAMI MASIH PUNYA BANYAK CADANGAN, NAH SELAMAT MENIKMATI HARI ANDA”

Dani dan ardi saling pandang, lalu tawa keduanya meledak hingga dani lupa mampir ke kafe yang mereka bicarakan tadi

“kau membunuh orang bro” kata dani masih tertawa
“aku tak menyangka, bahkan aku tadi semangat melakukannya, untung salah satu dari mereka tidak ada yang menjadi polisi, kalau iya, bisa masuk penjara versi mereka nanti”

Keduanya meledak tawa hingga ardi bilang

“kau lupa kacang segala rasanya”
“ahh lupakan, masakan ibuku jauh lebih best daripada butiran kacang itu”

Mereka terus melaju dan menuju rumah dani, sedang pulangnya ardi nanti naik bis seperti biasa

TAMAT

Cerpen Karangan: Farikun Aziz
Facebook: Farikun Aziz

Cerpen Dunia Di Bawah Tanda (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Payung Merah (Part 1)

Oleh:
Kamis sore disambut dengan rintik hujan yang cukup deras. Awan gelap bergulung-gulung dengan petir yang sekali-kali menyambar lemah. Jutaan rintik-rintik air mengguyur daerah kecamatan, termasuk tempat sekolahku. Rintik-rintik air

Isi Batok Kepala Bertengkar

Oleh:
Seorang pengamen duduk di sisi trotoar perumahan sejenak melepas lelah setelah berteriak ‘menyanyi’ mencari selogam dua logam rupiah. Dipeluknya gitar dengan kedua lengannya, sebatang korek api terselip di sudut

Dongeng Kertas

Oleh:
Di atas meja itu, kamu bisa melihat buku-buku berjajar rapi… tempat pensil, lengkap dengan pulpen, penghapus, dan penggaris bergambar kartun kucing. Di dalam laci meja itu, ada sebuah kotak

MyCerpen 4: Hantu Sepatu Baru

Oleh:
Hanya duduk sendiri dan tenggelam dalam buku Sastra, yang membuatku semakin ngantuk. Malam minggu yang cukup membosankan, tidak seperti malam-malam sebelumnya. Karena malam ini Aku tidak datang mengapeli Devi

Trap On Trip (Part 1)

Oleh:
“Come on Leh, You can do it” Teriakku pada Soleh sambil mengulurkan tanganku untuk membantunya mendaki gunung Semeru. “Ayo Rip kurang sedikit lagi” teriakku lagi pada Arip yang berada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Dunia Di Bawah Tanda (Part 3)”

  1. Nana says:

    Keren cerpen nya. Like

  2. farikun aziz says:

    Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *