Dunia Dongeng

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 25 April 2018

Alkisah di pesisir pantai, hiduplah keluarga yang sangat miskin. Mereka tinggal di sebuah gubuk kecil. Hanya ada dua orang dalam keluarga itu. Seorang janda bernama Mande Rubayah, mempunyai anak yang bernama Jaka Tarub. Para tetangga kerap memanggil ibu itu ‘Bu Mande’ dan anaknya ‘Jaka’.

Setiap hari Bu Mande bekerja menjala ikan di tepi sungai kecil untuk makan sehari-hari. Sedangkan Jaka diperlakukan seperti pembantu oleh ibunya.

Sang ibu sering menatapi anaknya itu dengan tatapan sangat tajam. Seperti halnya hari ini.

“Sepertinya ada yang aneh.” gumam Bu Mande.
“Iya, menurutku juga begitu.” kata Jaka setuju.
“Kamu tau nggak? Apa yang aneh?”
“Aku tau sih, tapi kalo menurut Ibu sendiri apa?”

“Menurut Ibu, kamu itu aneh Nak. Kamu mau aja dijadikan pembantu kayak si Bawang Putih. Lagian kan kamu bukan anak Ibu. Anakku bernama Malin Kundang. Sedangkan kamu? Siapa kamu?”
“Aku Jaka Tarub, iya aku bukan anakmu Bu. Menurutku Ibu juga aneh. Masa’ Ibu kerjanya menjala ikan? Itu kan sudah menjadi pekerjaannya nenek yang menolong Candra Kirana si Keong Mas. Seharusnya kan Ibu bekerja sebagai penjual kue.”

“Wah gawat! Dunia cerita rakyat semakin rusak!”
“Bukan hanya cerita rakyat, mungkin sampai semua dongeng Bu.”
“Kalo begitu kita harus segera memperbaikinya.”
“Aku suka dengan ide Ibu, tapi bagaimana caranya?”
“Aha! Aku punya ide!”
“Sudahlah langsung saja…”
“Kita kan bisa pake karpet terbang yang ada di sana. Mumpung karpetnya ke sini dan si Aladin belum naik karpet itu.”
“Boleh juga, baiklah aku setuju.”

Lalu mereka melompat ke karpet itu. Benar, ternyata karpet itu bisa terbang. Tapi terbangnya tak tentu arah karena angin kencang.

“Wah anginnya kencang sekali. Bagaimana ini? Perasaanku mulai tidak enak nih…” kata Bu Mande.
“Iya sebaiknya kita mengunjungi Malin Kundang saja, biar perasaan Ibu jadi enak kembali.”
“Bukan itu maksudnya Nak! Serius dong! Fokus!”
“Tapi kan ini tandanya Malin Kundang hampir terkutuk menjadi batu.”
“Memangnya aku peduli?! Biarkan saja anak durhaka itu!”
“Tunggu, itu kan Malin Kundang! Tapi dia menikah bersama Candra Kirana. Berarti dia sudah menjadi Raden Inu Kertapati!”
“Mungkin kau salah orang. Sudahlah sekarang kita menembus langit saja!”

“Apa hubungannya?”
“Kalo kita menembus langit, maka kita akan menemukan bola ajaib dunia dongeng. Kalo kita memperbaiki kerusakan pada bola ajaib itu, maka dunia dongeng akan kembali seperti cerita aslinya.”
“Apakah nanti kita akan ke angkasa? Kan bahaya kalo sampe kurang oksigen!”
“Ah biarin, yang penting kita serbu bola itu!”
“Serbu? Maksudnya? Merebutnya?”
Tapi pertanyaan Jaka tidak dijawab.

Lalu mereka meluncur ke atas. Semakin ke atas, angin bertambah kencang. Sebenarnya angin itu memang sengaja dibuat kencang agar tidak ada yang berani menembus langit dongeng. Saking kencangnya angin itu, karpet mereka terombang-ambing di langit dan mereka harus berpegangan di karpet itu agar tidak jatuh. Ternyata mereka berhenti di Pulau Samosir, dengan keadaan pusing luar biasa.

“Aduuuh! Gara-gara kamu Nak!” gerutu Bu Mande.
“Aku bukan anakmu!” sanggah Jaka.
“Oh kamu durhaka ya? Kalau begitu, Ibu akan berdoa kepada Allah supaya kamu dikutuk menjadi kodok!”
“Lho, lho, bukannya anak Ibu itu Malin Kundang ya?”
“Benar juga ya. Kenapa aku lupa?”
“Sudahlah sekarang kita kembali ke permasalahan kita.”
“Tapi, ke mana karpet kita pergi?”
“TIDAAAK!!!”

“Nak, kamu stress ya?” tanya Bu Mande dengan hati-hati.
“Enak aja! Sekalian aja bilang aku ini gila!” jawab Jaka cuek.
“Ya udah nggak usah dilanjutkan, sekarang kita hanya bisa minta bantuan pada Allah.”
“Doa harus diiringi dengan usaha…”
“Kalau begitu, Ibu akan meluncur ke atas langit dengan cepat!”
“Gimana caranya? Memangnya Ibu itu bisa apa?”
“Jangan meremehkan dulu, lihat ini!”

Bu Mande mengeluarkan sebuah tongkat yang kecil. Mirip tongkat peri. Jaka sangat takjub melihatnya.

“Inilah tongkat Ibu Peri dalam dongeng Chickenrella itu, eh maksudnya Cinderella.”
“Mantranya apa?”
“Mmm… Aha! Aku punya ide!”
“Langsung saja Bu, keburu ceritanya tamat lho.”
“Iya iya. Sim salabim jadi kodok, dok dok dok!”
Bu Mande mengayunkan tongkatnya dan berbunyi CLINK!
Jaka hanya bertepuk tangan. PROK PROK PROK!
“Jangan bertepuk tangan.” Sahut Bu Mande.

Beberapa detik kemudian, tubuh mereka terangkat, bahkan semua tokoh dongeng. Sepertinya Lalu tanpa terasa dan dalam hitungan detik, tubuh mereka sudah dikembalikan di tempat yang tepat. Ternyata dunia dongeng telah menampakkan cerita aslinya, seperti harapan mereka. Sepertinya mantra dalam tongkat itu berhasil.

“Dasar Bu Mande. Kalo punya tongkat, kenapa gak bilang dari tadi?” gerutu Jaka sedikit kesal.
“Maaf, tadi Ibu lupa.” Sebuah suara menjawab.
“Lho, Ibu ada di mana? Di sampingku ya?”
“Tidak, tapi kita tetap bisa merasakan berkomunikasi seperti waktu itu.”
“Oh begitu… Terima kasih atas infonya. Mulai sekarang bilang kepada seluruh warga dunia dongeng, bahwa kita semua tidak boleh menembus langit dongeng.”

“Hanya penjaga dunia dongeng yang dapat mengatakannya.”
“Mengapa begitu Bu?”
“Karena dialah yang telah menjaga dunia dongeng ini. Sebenarnya dia juga yang memperbaiki bola ajaib itu, bukan mantra tongkat itu.”
“Dari mana Ibu bisa tau?”
“Emmm… Itu sih rahasia.” Kata Bu Mande sambil tersenyum sinis, seperti menyembunyikan suatu niat.

Jaka mulai bosan menjalani kehidupannya sebagai tokoh dongeng. Selain dia bernasib buruk, dia juga masih memikirkan maksud dari Bu Mande tersebut. Dia khawatir jika bola ajaib itu benar-benar dikuasai oleh Bu Mande.

“Bu Mande, apakah Ibu mendengarku?”
Tak ada jawaban, padahal seharusnya mereka bisa berbicara seperti itu. Ternyata Bu Mande pura-pura tidak dengar.

“Jaka, kamu berbicara dengan siapa?” tanya Dewi Nawang Wulan, istri Jaka Tarub yang aslinya berwujud bidadari.
“Eh, tidak kok.”
“Jangan begitu Mas Jaka. Kalo ada masalah, bilangin aja ke saya. Siapa tahu saya bisa membantu Mas Jaka.”
“Kamu gak akan ngerti!”
“Terserah lah! Kalo gini, mendingan aku ke khayangan aja deh!” kata Nawang Wulan dengan marah, lalu dia memakai pakaian bidadari-nya dan terbang ke khayangan.
“Jangan! Janganlah kau lakukan itu, bidadariku…” Jaka hanya bisa menangis tersedu-sedu.

“Sudahlah, ikhlaskan saja.” terdengar sebuah suara, Bu Mande.
“Bu Mande? Benarkah ini Bu Mande?” tanya Jaka masih kurang yakin.
“Sudahlah, ikhlaskan saja.” suara itu terulang.
“Bu, apakah ini Bu Mande?”
“Sudahlah, ikhlaskan saja.” suara itu kembali terdengar untuk yang ketiga kalinya.

“Yang benar saja Bu! Aku Cuma tanya, dengan siapa aku bicara?!”
Tak ada jawaban.

Jaka pun hanya terdiam mematung. Lalu dia mulai memandang suatu layar yang tak dapat dipandang oleh tokoh lain. itulah layar dunia nyata.

“Ayah, cerita Jaka Tarub itu begitu ya?” kata seorang anak dalam dunia nyata tersebut.
“Coba ceritakan.” Sang ayah hanya tersenyum.
“Jadi, si Jaka Tarub ditinggal oleh istrinya karena dia ngomong sendiri.”
“Apa maksudmu Nak?” kali ini ayah terkejut mendengar kisah dari anaknya.
“Iya Yah, aku lihat di youtube seperti itu.”
“Aneh sekali, kenapa bisa berubah ya?”

Jaka Tarub sangat cemas melihat anak itu salah menerima informasi. Jika sampai begitu terus, maka dunia dongeng sudah tak berguna lagi.

“Aku harus memanggil bidadari itu!” teriaknya seperti orang gila.
Tapi dia tak tahu mau bagaimana lagi.

Sementara itu di tempat lain…
“Ayolah Nak! Kau pasti bisa menariknya lebih keras!” teriak Bu Mande.
“Iya, aku sedang berusaha!” kata Nawang Wulan.

Mereka sedang mengambil bola ajaib agar mereka dapat menguasainya. Pada awalnya Nawang Wulan tinggal di khayangan. Lalu dia kasihan melihat Bu Mande, dan bermaksud mengajaknya jalan-jalan. Ke manapun Bu Mande mau, dia pasti mengabulkannya. Dan mereka sama-sama ingin ke langit dongeng untuk menguasai bola ajaib dunia dongeng. Dan begitulah.

Tapi tanpa sepengetehuan mereka, Jaka Tarub mengintip mereka melalui dinding ruangan bola itu diletakkan.
“Hah? Kenapa Nawang Wulan ada di sini? Untung saja aku sudah memanggil Nawang Wulan cadangan untuk mengantarkanku tadi, hehehe…” kata Jaka Tarub sambil terkekeh sendiri.

“Berhenti! Kalau tidak…” kata Jaka Tarub terputus.
“Jangan coba-coba hentikan kami! Atau kami akan merusak dunia dongeng ini! Hahahahaha!” kata Bu Mande dengan gaya tertawa penyihir.
“Hwahaha hahaha!” sambung Nawang Wulan.
“Nawang Wulan, kumohon. Jangan lakukan kejahatan itu! jadilah pribadimu yang baik, Nawang Wulan…” kata Nawang Wulan cadangan.
“Hah! Buat apa? Aku kan mau bersenang-senang. Biar saja dongeng ini hancur!” jawab Nawang Wulan asli.
“Baiklah, tidak ada cara lain lagi selain… PERANG!!!” teriak Jaka Tarub.

Lalu mereka berperang di atas langit. Tepat di atas awan. Tanpa sengaja, kaki Jaka menendang bola ajaib itu. Bola itu pun jatuh.

“Jaka!!! Apa yang kau lakukan?!” tanya Bu Mande.
“Emmm… aku memang sengaja melakukannya, agar kalian tidak menguasainya!” kata Jaka berbohong.
“Hwahaha hahaha!” ternyata Nawang Wulan cadangan berhasil menangkap bola itu. Dia pura-pura tertawa terbahak-bahak untuk menipu Bu Mande.
“Baguslah Nak! Sekarang bawa kemari! Kita akan menguasainya berdua!” kata Bu Mande.
“Bukan Bu! Itu bukan Nawang Wulan yang asli!” kata Nawang Wulan asli.

Kemudian Nawang Wulan yang membawa bola itu melemparnya ke tangan si penjaga dunia dongeng.

“TIDAAAK!!! Apa yang kau lakukan Nak?!” kata Bu Mande.
“Sekarang bola itu telah ke langit yang lebih atas!” kata Jaka.

Lalu mereka kembali ke tempat semula. Sedangkan Nawang Wulan cadangan tadi kembali ke dalam bola ajaib itu. Jika Nawang Wulan asli lelah, maka ada Nawang Wulan cadangan yang akan menggantikannya sementara.

Tapi tidak begitu dengan Jaka Tarub. Tidak ada Jaka Tarub cadangan. Karena Jaka Tarub istimewa di dunia dongeng itu.

Cerpen Karangan: Nia Ka

Cerpen Dunia Dongeng merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Last Blood (Guardian Sword)

Oleh:
Tok… tok… tok…!! terdengar suara orang mengetuk pintu, Clark beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah pintu depan. Ketika ia membuka pintu, ia sedikit terkejut dengan kedatangan Therra adiknya,

Fesya

Oleh:
Hari menjelang senja. Matahari telah menggelinding pelan ke ujung cakrawala. Aku berjalan pelan memunggungi matahari. Langkahku mulai gontai, usahaku hari ini sia-sia, Tom telah pergi. Tidak ada seorang pun

Pangeran Dan Putri Cantik

Oleh:
Dahulu kala hiduplah seorang Pangeran. Pangeran yang baik dan sederhana, pada waktu itu pangeran sedang mengendarai kendaraan yang sangat bagus nan cantik. Ketika di tengah perjalanan Pangeran diberhentikan oleh

Asya, You Are My Best Friend

Oleh:
Aku adalah seorang Peri berkekuatan Cahaya dari Fairy Land. Namun aku melakukan kecerobohan, yaitu memecahkan Permata Kesayangan Ratu Peri, dan sebagai hukumannya aku akan dijatuhkan ke Bumi besok. Hei,

Senyuman Senja Terakhir

Oleh:
Kucabut satu per satu kesepian di ruang kelas baruku ini. Kutatap tajamnya sinar mentari pagi yang menembus kelambu biru langit di sampingku. Aku duduk di bangku paling belakang. Kesunyian

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *