Dunia Gyna (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 8 September 2017

CONVENTION HALL – A144
Pintu kayu itu menganga lebar, seolah menyambut udara dingin masuk begitu saja. Ia menyusuri koridor dan berjalan perlahan ke arah ruangan tersebut. “Tak ada orang,” pikirnya heran. Gadis itu melihat ke sekeliling ruangan. Tampak bangku-bangku kosong masih berdiri tegak dan kokoh. Di belakangnya terdapat lemari tua yang terbuat dari pohon eek. Berwarna cokelat kekuningan, besar, dan juga panjang. Terdapat ukiran burung merpati yang diapit oleh hiasan kalpataru di bagian kedua pintunya. Gagangnya berlapisi emas dengan motif yang begitu rumit untuk digambarkan. Laksana simbol, dengan dua pedang yang mengarah ke atas. “Seperti simbol pada kerajaan-kerajaan kuno.” Ujarnya ketika akan merabanya.

Perlahan debu-debunya menari dan berkumpul di atas udara. Bagaikan seorang penari ballerina yang menari di atas panggung-panggung opera. Serta jaring laba-laba yang terbentang seperti tirai beludru. Angin yang mencoba masuk dari ventilasi demi ventilasi membuat udara di dalam ruangan semakin terasa beku. Angin musim dingin telah menyapu seluruh volume ruangan, meniup renda bagian bawah dressnya yang menjumpai. Dress selutut yang berhiaskan motif stripe navy – blue – white dengan hoody berwarna S navy dan berbalut pita yang terulur panjang di bagian pinggangnya. Di bagian kerahnya terdapat bordiran berbentuk bunga amestis berwarna ungu kebiruan yang berpadu dengan hitam pekat rambutnya yang tergerai.

Atmosfer masih terasa dingin, hening. Hanya terdengar suara hiruk piruknya angin dan ketukan dahan ranting pohon papinus dari balik jendela. Gadis itu menggulung syal miliknya. Syal berwarna cream, berhias renda di bagian ujung-ujungnya. Name tag yang tersemit di bagian kantung sebelah kanan dressnya itu terlepas. Sebuah name tag berwarna hitam polos bertuliskan namanya, “Gyna Hausberg” yang ditulis dengan tulisan latin, menggunakan tinta berwarna silver. Ia mengalihkan pandangan ke arah atas lemari. Terlihat setumpuk buku lama terpampang jelas di sana. Gyna mengernyitkan dahi. Dengan sigap, ia langsung menyeret sebuah kursi yang ada di dekatnya, namun sayang, masih begitu pendek.

“Satu kursi saja tidak cukup bukan?” Gumamnya di dalam hati. Kali ini ia tidak akan lagi mengambil kursi, namun meja lah yang akan menjadi incarannya. Rasa penasaran kini mulai merasuki tubuh Gyna. Rasa penasaran itu membuatnya membara seperti batu bara yang terbakar, lalu meluap melalui cerobong-cerobong asap.
“Eh, tapi, di mana aku akan menemukan meja?” Pikirnya keras. Ia tersadar bahwa ia berada di dalam ruangan yang dipenuhi oleh puluhan kursi, bukanlah meja. Api yang membara itu seketika padam. Gyna bersandar di kursi kayu itu sambil menyilangkan kedua kakinya. Haruskah aku ke luar mencarinya? Melewati tangga-tangga agar aku bisa mengambil buku kuno tersebut? Lalu mengangkat beberapa meja seorang diri? Oh, Tidaaak… Gadis itu menghela napas. Gyna merasa malas. Ia berdiri dari tempat duduknya, lalu memandang kembali ke arah buku itu untuk yang kedua kalinya. “Haruskah aku mencarinya?” Tanyanya kembali hingga terdengar seperti sebuah nyanyian.. Udara semakin beku. Entah kenapa rasa penasaran itu semakin mengikatnya. Terasa begitu sesak, seperti pasien penderita asma.

Terdengar bisikan-bisikan aneh. Gyna merasakan seberkas rasa hangat mejalari ujung jarinya, menelusup naik ke lengan, dan menerpa tubuhnya; lalu meninggalkan sensasi hangat menggelitik saat dia tersadar. Sebelum Gyna bisa bereaksi, mulai terdengar suara gemuruh yang dalam dan lantai yang dia pijak mendadak miring dengan kelandaian 120 derajat. Dia terhuyung-huyung berusaha menjaga keseimbangan. Seluruh ruangan mulai berguncang. Gyna memekik dan berlari ke tembok untuk menyeimbangkan diri. Tetapi, saat tangannya seharusnya meraih permukaan padat, yang dia rasakan hanyalah dingin, lembab… tak ada apa-apa. Seluruh ruangan berguncang. Seolah ruangan itu seperti rumah boneka di tangan bayi raksasa. Ubin-ubinya terangkat dan berjatuhan seperti kunci piano saat paku-pakunya terlepas. Hingga suara nyaring tiba-tiba terdengar memekikkan telinga, merobek lapisan udara.

CARILAH, TEMUKAN KUNCINYA, PINTU RAHASIA TELAH TERBUKA
Suara itu bergema, lalu perlahan-lahan menghilang seperti kilatan cahaya. Gyna terbaring di atas lantai. Lampu menyala berkedip-kedip. Gadis itu mengerang dan memaksakan diri untuk duduk. Ia menatap ke sekeliling. Ruang kosong itu berbeda, jauh lebih gelap, tidak seperti sebelumnya.

“Apa yang terjadi?” bisiknya. “Kapan terakhir kali gempa bumi terjadi di London?” Ia sesekali menggelengkan kepala. Memberikan isyarat bahwa ia sedang bermimpi. “Fuhh… Sepertinya hari ini aku benar-benar butuh waktu istirahat.” Katanya sambil memegang bahunya yang sedikit memar. Mungkin karena benturan tadi. Waktu masih terus berlari, jam menunjukkan pukul 5 pm. Ia tersadar bahwa hari semakin gelap. Dengan berat hati gadis itu berjalan ke luar, melewati kembali koridor yang dipenuhi oleh lampu kecil yang menempel pada dinding.

KING’s COLLEGE,
Gedung itu mulai sepi. Burung-burung gagak beterbangan meninggalkan sarang di sela-sela atap yang tersembunyi. Di bawahnya terdapat pohon horse chestnut. Pohon yang tingginya mencapai 28 meter dengan daun lebar dan bunga yang bermekaran pada bulan-bulan tertentu. Bunganya terdiri dari 4-5 kelopak, berwarna putih dan merah muda di bagian pangkalnya.
Terhanyut dalam lamunan, berbagai ribuan pertanyaan mulai menggelayuti pikirannya. Ia mengepalkan tangan, mengayunkannya ke depan dan belakang dengan sangat kaku. Tatapannya dingin laksana es. Matanya yang berwarna biru langit berkaca-kaca seperti butiran-butiran kristal. Perasaan sedih dan ketakutan mengganggunya, membuat hati gadis manis itu terkoyak-koyak. “Uh, aku masih tidak mengerti, tadi itu…”

“Gyna Hausberg! Apa yang kau lakukan di sini? Ini area terlarang, kau tahu itu!” Teriak seseorang dari ujung koridor. Ia tersentak kaget. Lamunannya buyar, hilang, bagai dedaunan kering yang diterpa angin musim gugur. Gyna terpaku menatap sosoknya. Berdiri tegak dan terdiam, dengan wajah yang begitu masam. Tampak wanita separuh baya mengenakan jubah berbahan katun berompi berwarna hitam pekat menyatu pada bayangannya yang panjang. Rambutnya tergulung rapi ke atas berwarna hitam berpadu uban yang berbentuk stripe. Wanita itu memegang sebatang tongkat kayu berbentuk huruf T yang terbuat dari batang pohon mahoni. Terlihat burung gagak hitam bertengger di atasnya, mengangkat kedua sayap lalu meroak. Mata hitam keabu-abuannya yang kelam menatap mata Gyna yang berwarna biru terang seolah menggambarkan kebencian.
“Dan kau, Miss Evelyne, apa yang Anda lakukan di tempat ini juga?” tanya Gyna sambil mengangkat satu alisnya. Wanita separuh baya itu, Miss Evelyne, terkekeh, melirik ke arah burung peliharaannya, lalu berjalan mendekati Gyna dengan langkah lebar. “Hmm… Tidak ada, anak muda. Aku dan burung kesayanganku, Hwin, hanya ingin jalan-jalan saja.” Katanya dengan tatapan sinis. Wanita itu membelai bulu Hwin dengan lembut. Bulu Hwin yang hitam itu berkilau terkena cahaya lampu koridor, seperti mutiara hitam di lautan.
Sorotan matanya begitu mengerikan. Gyna tertunduk. Benarkah hanya itu? Perasaan di hatinya bergemuruh, merasakan bermacam-macam hal aneh yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Kenapa kau ada di tempat ini, anak muda? Apakah kau ingin mendapatkan hukuman?”
“A… Aku… Aku tersesat,” ujarnya sambil terbata-bata. Keringat dingin mengalir ke seluruh tubuh. Miss Evelyne memiringkan kepalanya, mengamati wajah Gyna yang berubah menjadi pucat. Ia merasa heran.
“Apa kau yakin itu, Nona Hausberg?” Tanya Miss Evelyne ketika gadis itu memalingkan muka.
“Em, Ya… Aku benar-benar tersesat.” Gyna menoleh tersenyum, wajah pucatnya mulai terlihat samar-samar. Menyembunyikan kebohongan adalah hal paling bodoh yang pernah ia lakukan. Meskipun itu untuk melindunginya dari hal-hal buruk yang mungkin akan terjadi jika ia mengatakan yang sesungguhnya.
“Hmm, baiklah. Sebaiknya kau pergi dari tempat ini. Hari semakin gelap.” Bisik Miss Evelyne perlahan. Suara seraknya terdengar begitu khas di telinga Gyna. Gadis itu mengangguk lalu bergegas pergi meninggalkannya.
“Tunggu!” Gyna menghentikan langkahnya, ia terkesiap ketika melihat wanita tersebut berbalik ke arahnya.
“Ada satu hal yang perlu kau ingat, Gyna Hausberg. Kau tidak boleh kembali ke ruangan itu lagi. Mengerti?”
“Ya, Miss Evelyne, aku mengerti…”

Di waktu yang sama, sederet tangga melingkar telah lelah menantinya. Gyna menapaki satu demi satu anak tangga untuk mengambil jaket tebalnya dari balik loker di dekat lobby. Warna jaketnya serasi dengan warna sepatu boot yang ia kenakan. Putih bersih seperti butiran salju yang turun lebat pada hari itu. DRAP… DRAP… DRAP
Derapan langkah kaki pun terdengar, hembusan nafas terasa begitu berat. Gyna memakai jaket tebalnya sebelum udara dingin menembus tulang rusuk. Ia berjalan ke luar. Jalanan yang terkubur oleh setumpuk salju, itulah yang pertama kali dilihatnya. Sepatu bootnya menyentuh tanah. Jejak itu membekas di sepanjang jalan setapak, menuntunnya pergi meninggalkan gedung hingga terhenti tepat di sebuah taman yang terlihat begitu usang. Semak-semak belukar dan tanaman rambat tumbuh subur di sekelilingnya, seperti medan arena yang terkena serangan 1000 pasukan peri tanaman.

Mata Gyna menyapu ke arah sekitar, memperhatikan satu per satu tiang lampu kusam dan beberapa bangku panjang yang terlihat sedikit reyot. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menyusun kembali kenangan-kenangan yang masih tersisa di dalam memori jangka panjang. Terdiam, hanya itu yang dapat Gyna lakukan. Entah kenapa tiba-tiba sebutir air mata terjatuh membasahi pipi chubby-nya. Mengingatkannya pada secercah harapan yang tak berbalas.
Andai saja waktu itu aku berada di sampingmu, aku berjanji akan melindungimu

LONDON, 12 th January 1952
“Hei! Clara, tunggu akuuu…” sorak Gyna sambil berlari mengitari taman yang dipenuhi oleh bunga daffodil di bagian tepinya. Gadis kecil itu membalikkan badan, terlihat lengkung senyuman manis menghiasi wajah mungilnya. Rambut pirangnya bergoyang tertiup angin musim semi. Begitu pula dengan mata cokelat madunya yang membentuk sebuah tatapan hangat. Dia adalah Clara Hailey, saudara kembar Gyna. Meskipun begitu, mereka mempunyai ciri fisik yang berbeda. Gyna berambut hitam, Clara berambut pirang. Mata Gyna berwarna biru langit dan Clara cokelat madu. Berbeda, begitulah kenyataannya. Dari semua perbedaan itu, hanya ada 1 hal yang mereka tahu, yaitu: Kami bersaudara dan kami terlahir dari rahim yang sama.
“Ayolah, kau ini lemah sekali!” ejek Clara ketika melihat Gyna terengah-engah. Sesekali Gyna menampakkan wajah memelasnya. Namun, sorakan Clara-lah yang mebuat gadis itu untuk tetap terus berlari.
Langit sore menaungi mereka, kerlipan cahaya lampu warna-warni mulai terlihat mewarnai seluruh taman kota. Begitu indah dan menakjubkan!

“Gyna… Clara..!! Ayo pulang,” panggil Mrs. Hailey dari kejauhan. Kaki Gyna terhenti. Mereka berdua menatap satu sama lain, lalu berjalan mendekati ibunya sambil bergandengan tangan.
“Tapi hari ini adalah hari festival musim semi, kita tidak bisa pulang begitu saja.” Ucap Clara dengan nada memohon. Gyna menganggukkan kepala. “Iya, Bu, kita tidak bisa melewatkan momen ini.” Tambahnya. Mrs. Hailey tertawa kecil sambil mengacak-acak rambut dua bersaudara itu.
“Memang tidak bisa. Kita pulang ke rumah karena Oma Rich akan memberikan hadiah spesial untuk kalian. Dan setelah itu, kita akan kembali kemari bersama-sama, bagaimana?”
“Yaa!! Mari kita pulang!” Jawab kedua gadis itu kegirangan.
Tanpa berpikir panjang, mereka langsung berlari ke arah tempat parkir. Memasuki mobil lalu bernyanyi di sepanjang jalan.

“Oma… Oma Rich!!”
Suasana hiruk piruk, dua bersaudara itu berteriak sambil menyusuri satu per satu ruangan. Ia menemukannya. Oma Rich, yang sedang duduk di atas sofanya itu pun terkejut. Cangkir teh yang dibawanya bergoyang akibat hentakan kaki mereka. Gyna memeluknya erat-erat.
“Oma, di mana hadiah kami?” Tanya Gyna dan Clara bersamaan. Oma Rich berdiri dari tempat duduknya. Ia mengambil sesuatu dari sebuah kotak berbentuk kubus yang berhiaskan pita merah. “Ini dia hadiah kalian.” Oma Rich memperlihatkan hadiahnya. Terlihat sepasang kalung dengan batu rubi berbentuk hati. Di dalamnya terukir nama mereka yang sedikit samar-samar.
“Ini… Begitu indah, sungguh…”
Clara meraihnya. Matanya berbinar-binar penuh kekaguman.
“Aku akan memakainya, terima kasih”

Bersambung…

Cerpen Karangan: Shabrina Naa
Blog: greenzaku27.blogspot.com

Cerpen Dunia Gyna (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Operasi Outlone (Part 3)

Oleh:
“Badan Inteligen Negara membentuk program pelatihan sipil yang bernama ‘Outlone’. Program ini dijalankan oleh para dokter yang ahli di bidangnya dan diawasi oleh tentara dan polisi terpercaya, tujuan program

Takdir Akan Berkata

Oleh:
Saat itu hari cerah, namun Orin tidak begitu enak badan hari itu, sampai-sampai mukanya pucat pasi. namun dia menguatkan tekadnya mengikuti pelajaran Olahraga kala itu. saat itu Keni menatapi

Me and My Guardian Angel

Oleh:
Hai, Namaku Rachel. Aku punya seorang malaikat pelindung yang selalu ada menemani hari-hariku. Jason namanya. Ini bermula saat aku pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Saat itu hari

Clurit dan Linggis

Oleh:
Aku terdiam memangu ketika mendengar suara bising dari arah samping rumaku – tetangga. Sering kali pasangan suami istri itu bertengkar, tak jarang keluar jancukannya bahkan kalimat-kalimat pencerai secara tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *