Dunia Terbalik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 14 December 2015

“Kia, Ayo cepat bangun. Sudah jam berapa ini?” Omel Mama.
“Iya, ma..” Sahutku.

Aku pun melihat jam weker doraemonku, ternyata sudah pukul 06.12 tak salah Mama mengomeliku, biasanya masih pukul 06.00 saja aku sudah diomeli Mama. Aku pun bergegas pergi ke kamar mandi, lalu siap–siap ke sekolah. Namaku Kiana Angelica Velby, biasa dipanggil Kia. Kelas X, umurku 16 tahun. Aku hobi membaca dan berenang, cita–citaku adalah penulis. Papaku pengusaha, sedangkan Mamaku punya salon.

Aku pun berangkat tergesa–gesa ke sekolah, gerbang sudah ditutup. Aku pun lapor sama Pak Joko, satpam yang menjaga gerbang sekolahku. Aku diantar sama Pak Joko ke kelas X-B, kelasku. Lalu melaporkan aku ke Pak Ricky, guru bahasa inggrisku. Alhasil, aku pun dihukum gak boleh ikut kelasnya Pak Ricky. Selang beberapa menit, aku pergi ke toilet. Hatiku kesal, hampir tiap hari aku datang terlambat. Hmm, nasib, nasib. Di toilet aku berharap andai saja dunia ini bisa menjadi dunia pararel. Aku pun tiba di kaca toilet yang lumayan besar. Tiba-tiba aku tersedot masuk ke kaca tersebut.

“Aaaaa!!!” teriakku.

Tiba–tiba, aku ada di kamarku dengan baju tidur bergambar doraemon. Jadi barusan hanya mimpi? Hm, aku lihat jam wekerku ternyata sudah jam.. Hah jam 06.40? Hari ini kan hari, senin? Pelajaran Pak Ricky, guru paling galak seantero sekolah. Huhuhu… mati aku. Tapi, kok Mama gak bangunin aku ya? Aku pun segera mandi lalu ganti baju. Setelah itu, aku pun ke luar kamar. Tapi kok gak ada Mama ya? Aku langsung pergi ke kamar Mama.

“Tok, Tok, Tok.” Aku mengetuk pintu kamar Mama.
“Iya, apa sih?” Ternyata Papa yang membukanya.
“Pa, Mama mana? Kok belum bangun?” Tanyaku.
“Aduh, ada ribut–ribut apa sih?” tiba–tiba Mama datang.

“Ma, aku mau berangkat sekolah dulu ya..” Ucapku.
“Kok masih pagi udah berangkat sih? Mama aja belum masak makanan?” tanya Mama.
“Hah, Pagi? Ma, ini tuh udah jam 07.10..” Jawabku.
“Jam 07.10 tuh ya masih pagi, nanti berangkat jam 08.30 aja..” Jawab Mama.
“Aah?” Tak salah Mama bicara begitu? Aah, tapi nanti aku dimarahi Pak Ricky.
“Eeh, Ma aku berangkat dulu ya..” Kataku, lalu langsung berangkat ke sekolah.

Sesampainya di sekolah, baru ada penjaga sekolah. Tak salahkah? Ku lihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 07.43.
“Heh, Neng. Nanti saya bilangin sama gurunya ya, biar dihukum. Baru jam segini udah dateng?” Kata Pak Ari, penjaga sekolah.
“Ta,tapi pak, kan udah jam 07.43?” Jawabku.
“lihat tuh ke papan peraturan..” Jawabnya.
“Ya udah, aku lihat dulu ya Pak..”
“Ya udah, sana..” Sesampainya di papan peraturan sekolah.

“1. Datang minimal pukul 08.00, maksimal pukul 09.50.
2. Dilarang belajar dengan serius, kecuali saat akan menghadapi ujian.
3. Dilarang membuang sampah pada tempatnya.
4. Diharuskan mencorat–coret tembok sekolah tiap istirahat.”

Peraturan–peraturan itu membuatku rasanya tak percaya. Aku langsung pergi ke kantin, ku lihat baru pukul 07.58. 2 menit lagi baru mulai jam minimal masuk sekolah. Akhirnya tak berapa lama pun tiba pukul 08.00, baru ada beberapa anak yang masuk ke sekolah, itu pun anak kelas lain. Lalu, aku pun pergi ke kelas. Kelas masih kosong melongpong, aku pun menyimpan tas lalu pergi ke luar lagi. Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 08.12, lalu ada yang masuk ke gerbang. Ternyata itu Audrey, Audrey adalah sahabatku. Kami sekelas, bahkan sebangku.

“Hei Ki, kebiasaan kamu ini datang pasti pertama deh. Siap–siap dimarahin Pak Ricky loh…” Ancam Audrey sambil tertawa, aku hanya tersenyum sambil bingung. Kami pun mengobrol seperti biasa. Waktu pun terganti, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 09.00. “Eeh, masuk kelas yuk Ki, anak–anak udah mulai datang tuh.” Kata Audrey.
“Ayo.” Jawabkku. Setelah sampai di kelas, Pak Ricky belum datang. Semakin bingunglah aku, apa ini yang disebut dunia terbalik? Setelah pukul 09.40, datanglah Pak Ricky dengan baju acak–acakan, padahal biasanya Pak Ricky adalah guru paling rapi di sekolah.

“Hei, Kiana sini maju..” Kata Pak Ricky padaku, aku pun segera menghampirinya.
“A, ada apa Pak?” Tanyaku.
“Tadi, kata Pak Ari kamu datang pukul 07.43 ya?”
“Iya Pak..”
“Berdiri kau di sini, angkat satu kaki ke atas dan dua tanganmu diberi buku di atasnya..” Kata Pak Ari.
Aku pun segera melaksanakannya. Dari depan kelas aku melihat teman–temanku ada yang bermain pesawat–pesawatan, ada yang makan snack, ada yang main hp, ada yang mengobrol, dan lainnya. Tetapi anehnya, Pak Ricky tidak memarahinya. Pak Ricky sedang bermain game ninja di laptopnya, semakin anehlah rasanya.

Akhirnya, bel istirahat pun berbunyi. Aku segera pergi ke kantin, ternyata ada Ibu Fatma, Ibu kepala sekolah. Di depan Ibu Fatma ada Marco, temanku yang paling bandel sedang mencorat–coret tembok, tapi Ibu Fatma tidak memarahinya. “Kiana, tolong bantu Marco mencorat–coret tembok ya..” Kata Bu Fatma.
“I, iya Bu.” Jawabku. Aku pun mencorat–coret tembok kantin, bersama Marco. Setelah selesai, aku melihat si Cici membuang sampah di lapangan, diikuti Reysa, dan Chesya. Cici, Reysa, dan Chesya adalah temanku, mereka baik dan biasanya rajin dan rapi juga taat peraturan. Tapi, sekarang juga taat peraturan sih sebenernya, Hehehe..

Bel masuk pun berbunyi, semua murid pun masuk ke kelas masing–masing. Kelasku berlangsung seperti tadi, hingga akhirnya bel pulang berbunyi membuatku tak sabar mencari tahu apa yang sedang berlangsung pada dunia ini sekarang. Setelah sampai di depan kelas, aku pun segera berlari ke toilet. Aku pergi ke kaca besar itu, tetapi tak ada yang terjadi. 5 menit, 10 menit, 15 menit, aku diam di depan kaca besar itu. Namun, tak ada yang terjadi. Tiba–tiba ada suara benda jatuh, aku melihat ke lantai. Ternyata ada sebuah kotak kado berwarna dasar cokelat muda dengan hiasan berwarna krem juga dengan pita biru di setiap sisi ujungnya. Aku pun mengambilnya, lalu membukanya. Di dalamnya ada secarik kertas dan botol kecil berisi air berwarna hijau transparan. Aku buka kertasnya, lalu membacanya.

“Untuk kamu yang tersesat di sini, di dunia pararel. Pergilah dari sini, di sini sangat tidak aman untukmu. Siapa pun kamu, tak akan bisa selamat jika sampai besok kamu masih ada di dunia ini. Ku harap kamu bisa mengerti dan percaya. Cara untuk bisa kembali adalah dengan meminum air dari dalam botol yang sepasang dengan kertas ini dan diam di depan kaca besar di toilet perempuan..” Aku merasa takut, aku pun langsung meminum air yang ada di dalam botol itu. Lalu diam di depan kaca besar itu. Tiba–tiba aku tersedot masuk, seperti saat aku memasukinya.

“Aaaa!!!” Aku berteriak.

Saat aku membuka mataku, aku ada di kamarku. Di bawah bantalku seperti ada yang mengganjal, dan aku meraba ke bawah bantalku. Ternyata ada sebuah kertas yang terbungkus amplop berwarna pink yang diikat pita silver. Aku segera membukanya, “Terima kasih telah mau mempercayaiku. Apa kamu mau tahu apa yang terjadi di sana saat ini?” Tulis pesan itu, aku penasaran sekali. Tiba–tiba di depanku ada sebuah layar dengan sebuah video.

Di dalam video itu, menunjukkan kalender dengan lingkaran pada tanggal 29 bulan Januari tahun 2012, atau tepatnya sekarang. Lalu menunjukkan suatu tempat yang tak asing lagi bagiku, yaitu sekolahanku. Di sana, teman–temanku sedang bertengkar. Mereka saling melukai satu sama lain, juga ada beberapa warga dan guru maupun kepala sekolah. Mereka saling menonjok, menendang, adapula yang membawa pisau. Aku hanya bisa melihat dengan ketakutan dari tempat tidurku. Satu–persatu dari mereka pun tergeletak tak bernyawa di tempat, dan setelah semua mengalami hal itu, ada tulisan di layar yang besar itu, “DUNIA TERBALIK..” Setelah layar itu hilang, di sebelahku telah duduk seorang perempuan yang kira–kira sebaya denganku memakai baju SMA.

“Hai, tak usah takut padaku. Aku tak akan menyakitimu.” Ucapnya.
“I, iya..” Jawabku agak ragu.
“Namaku Nafisah, namamu pasti Kiana?” Katanya.
“Kok kamu bisa tahu? E, eh. Na, Nafisah?” Tanyaku.
“Iya, sebetulnya aku yang mengirim kotak sewaktu kamu di toilet dan tadi juga aku yang memberi kamu surat. Juga yang memunculkan layar video..” Jelasnya.

“Oh, tapi kenapa kamu memberi aku surat dan botol itu?” tanyaku lagi.
“Aku hanya ingin menolongmu. Dulu, aku juga mengalami hal yang sama denganmu. Aku tersedot ke dalam dunia terbalik itu, lewat kaca besar yang ada di toilet sekolahku. Aku sangat senang, karena peraturan berubah. Aku boleh datang agak siang, tidak boleh belajar dan lain–lain. Saat pulang sekolah, aku pergi ke toilet. Saat di toilet, aku mendengar suara yang memberitahuku untuk cepat pergi dari dunia ini. Namun, aku yang lebih suka di sini tak mengikuti kata suara itu.”

“Keesokan harinya, aku bangun pukul 06.00, lalu siap–siap ke sekolah. Namun, terdengar suara ribut-ribut di ruang tengah. Aku segera menghampirinya, ternyata orangtuaku sedang bertengkar. Aku bingung melihatnya, karena baru sekali ini melihat mereka bertengkar. Aku yang tak tahan melihatnya segera pergi ke sekolah. Aku sampai di sekolah pukul 09.45, 5 menit lagi akan masuk. Aku pun pergi ke kelas untuk menyimpan tasku, lalu aku duduk di kursiku. Tak berapa lama terdengar suara ribut–ribut dari arah lapangan, ternyata di lapangan ada siswa dari sekolah lain yang menantang sekolahku.”

“Siswa dari pihak sekolahku pun menerima tantangan tersebut, mereka pun berkelahi. Aku yang ketakutan pun bersembunyi di kelas XI-F, hanya aku sendiri yang bersembunyi. Sedangkan yang lain ikut berkelahi, ternyata banyak dari siswa lawan itu yang membawa pisau. Akhirnya, sekolah kami pun kalah. Aku pun semakin ketakutan, ku lihat mereka memeriksa setiap kelas di sekolahanku. Untung kelas XI-F itu ada di ujung, sehingga aku mempunyai waktu untuk melarikan diri. Tetapi saat aku sudah melewati setengah lapangan, ada yang melihatku. Mereka pun segera mengejarku, tak lama aku pun bisa tertangkap oleh mereka.”

Aku pun disiksa oleh mereka, lalu membawaku ke sebuah sungai. Lalu setelah itu mereka mendorongku hingga jatuh terbawa arus sungai, akhirnya nyawaku pun telah hilang. Aku menyesal tidak mengkuti kata suara yang ada di toilet itu. Ya sudah ya aku mau pergi dulu..” Ceritanya aku dengarkan dengan seksama, aku berpikir untung saja aku mengikuti kata suara itu.
“Eeh, ya sudah terima kasih banyak atas semuanya, kalau tidak ada kamu aku tak tahu nasibku sekarang..” Ucapku.
“Iya, dah. Sama–sama.” Ucapnya.
“Dahh.” Jawabku. Ia pun pergi dengan tiba–tiba.

Aku sangat bersyukur karena aku telah memilih pilihan yang tepat untukku. Karena bila aku salah memilih, bisa jadi sekarang aku tak bisa di sini lagi sekarang. Setelah itu hari–hari aku lewati sama dengan sebelumnya, namun aku berusaha agar bisa berangkat lebih pagi lagi, dan akan berusaha untuk lebih giat.

Cerpen Karangan: Benedicta Loveni .M
Facebook: Benedicta Loveni Melki S
Nama saya Benedicta, saya lahir di Yogyakarta pada tanggal 13 November 2003. Saya pernah menulis beberapa cerpen lain, di antaranya, Boneka yang sombong, Kisah persahabatan Tasya, Petualangan Muty, juga Berry & Caca. Saya mempunyai sebuah blog yang berisi kumpulan cerpen buatan saya, yaitu: http://cerpenpuisibene.blogspot.co.id

Cerpen Dunia Terbalik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dunia di Balik Dinding

Oleh:
Karena setiap malam aku selalu mendengar suara orang yang sedang berpesta di balik dinding kamarku, aku mengajak sahabatku untuk menginap di rumahku malam ini. Kebetulan Ibu dan Ayahku sedang

9 Bulan

Oleh:
Menjadi seorang Ayah bagi kebanyakan Pria memang sebuah cita-cita. Apalagi pada kelahiran pertama. Terkadang Ayah-ayah muda ini terlalu antusias. Belum-belum anak mereka lahir, mereka sudah membelikan ranjang tidur bayi,

Gelap Namun Bercahaya

Oleh:
Terbawa arus kehidupan yang tidak pernah brhenti. Terbawa gelap malam pekat yang selalu memberi rasa tidak aman. Apa bulan merupakan simbol kegelapan? Apa matahari simbol cahaya? Tidak ada jawabannya,

Raine Dan Rakyat Negeri Hujan

Oleh:
Pada bulan Desember lalu biasanya selalu turun hujan di negara Indonesia. Namun, pada bulan Desember kali ini hujan sama sekali tak kunjung turun dan kisah ini menceritakan tentang kerjasama

The Future

Oleh:
“Apa yang kau lakukan?” teriak seorang laki-laki. “Aku?” jawab laki-laki satunya. “Aku hanya mengambil apa yang aku ingin lakukan?” Sinis laki-laki tersebut. “Sebaiknya kau kembalikan! Kalau tidak…” sahut Suna.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *