Edelweis Pusaka Intraversia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 20 June 2019

Makhluk hitam yang dipimpin seorang lelaki berambut merah tembaga itu, menyebar ke segala penjuru belantara Intraversia.

“Ayo cepat cari mereka! Bawa mereka ke hadapanku sekarang juga!” Titah lelaki itu.

“Grrr..” Makhluk hitam itu menggeram. Mereka beringas. Menebas tanpa ampun pepohonan di hutan kesunyian.

Seorang lelaki berambut pirang melompat dari balik ilalang. Tangannya melempar tombak sekuat tenaga. “Mati kau, Redvey!” Teriak pemuda bermata amber itu.

Sluppp!

Berhasil. Tombak itu kini bersarang di dada Redvey. Mata merah lelaki itu membelalak. Tangannya mencengkram tombak, lalu menariknya secara paksa. “Arghhh” Seketika darah mengucur deras dari lubang yang dibuat tombak.

“A-awas kau, Ditya! Tunggu pembalasan dari Kakakku!” Katanya sarat emosi. Kemudian tubuhnya tersungkur tak bernyawa.

Para makhluk hitam itu murka. Tak terima pimpinan mereka terbunuh begitu saja. “Grrrr!” Gerombolan makhluk itu menyerang Ditya berbarengan.

“Sekarang, Kenzie!” Titah Ditya.
Lelaki berambut hitam legam itu menarik busurnya. Mata biru sapirnya memicing. Seketika anak panah melesat cepat ke arah kawanan makhluk hitam besar itu.

“Pancadasa!” Seru Kenzie mengucap mantra. Seketika anak panah itu bertambah jumlah. Dalam sekejap, 15 makhluk hitam tumbang.

“Sekarang giliran kau, Sara!” Perintah Ditya.
Gadis bersurai indigo panjang itu mengibaskan sayap putihnya. “Bayuangkara!” teriaknya. Angin berembus kencang menerjang 10 makhluk hitam.

Tanpa mereka sadari, satu makhluk hitam bertubuh besar berlari di belakang Ditya, hendak menyerangnya. Kenzie yang berada di atas pohon tentu melihatnya. Ia telah siaga dengan anak panah di busurnya. Belum sempat ia melesatkannya, tiba-tiba tubuh tingginya di selimuti cahaya. “Ck, sial!” umpatnya kesal.

Sousa kanashimi wo yasashisa ni
jibun rashisa wo chikara ni

Lelaki tujuhbelas tahun itu mematikan alarm di ponselnya. Tepat pukul 06:00 pagi. Kenzie meringis. Mata birunya menyipit. Kepalanya terasa sangat pening.

Ingatan pertempuran dengan makhluk hitam itu berkelebatan. Membuat ngilu setiap sendi di tubuhnya. “Sial! Kenapa aku harus terbangun di tengah keadaan genting seperti tadi?!” Rutuknya. Kemudian Kenzie mempersiapkan diri untuk sekolah.

Di kelas, Kenzie nampak tak bersemangat. Ia melipat tangan di meja dan menyembunyikan wajah di baliknya. Sungguh, kehidupan nyatanya sangat membosankan. Ia muak. Tak merasa tertantang. Merasa hidup berjalan datar layaknya zombie.

Tiba-tiba ada perasaan aneh mendera hatinya. Membuat fokus utamanya teralih. Kenzie cukup terganggu. Ia merasa diawasi. Entah siapa orang yang telah berani mengusik ketenangan seorang Kenzie.

Kemudian Kenzie menegakkan kepalanya. Ia menoleh ke sana kemari. Pandangannya menyapu ruangan. Mencari sesuatu.

Ketemu! Sepasang mata hitam menatap tajam dari balik jendela kelas. Mata perempuan. Kenzie yakin itu. Namun ia tak dapat menerka siapa pemilik mata itu. Sebab bagian hidung ke bawah terhalang oleh dinding kelas.

Mereka berdua masih bersitatap. Seolah ada sesuatu yang membuat mata Kenzie terpaku pada manik kelam gadis itu.

Kenzie berkedip dan mata hitam itu menyala. Lelaki itu tersentak dan menganggap kejadian barusan hanya halusinasi. Kemudian ia memejamkan mata lagi lebih lama. Penasaran. Dan benar! Mata gadis itu memancarkan cahaya ungu.

“Ken, kembalilah! Kami membutuhkanmu!” Semayup suara terdengar lirih menyapa telinga Kenzie.

Lelaki itu membuka mata. Menampilkan manik biru samudra di baliknya. Jatung Kenzie berdegup kencang. Kembali ia bertemu pandang. Sorot lekat ungu itu seakan menghipnotisnya. Kenzie beranjak dari duduknya.

Lalu ia menoleh dan… ah! Kepala bersurai hitam legam masih terlungkup nyaman di atas meja. Tak bergerak sedikit pun. Kini sukmanya telah keluar dari raga. Ia baru sadar, dirinya melakukan Astral Projection di siang hari. Padahal, biasanya ia bisa melakukan AP di malam hari saja.

Nginggg…
Kenzie menutup telinga. Matanya terpejam. Seketika dirinya terhisap ke dalam pusaran portal antar dimensi. Dunia serasa berputar-putar sekarang. Menambah pening kepalanya.

“Ken!” Seseorang meneriaki namanya. Mata Kenzie terbuka. Dahinya mengeryit. Tak salah lagi. Kini ia berada di medan perang!
“Sh*t!” umpatnya. Entah sejak kapan makhluk hitam itu kini ratusan jumlahnya.
“Kalau terus melamun, kau akan terbunuh, Ken!” kata Ditya.
Ken menoleh. “Astaga, kau terluka parah, Dit! Kalau tak segera diobati, kau akan mati.” cemas Kenzie.
“Cerewet! Kau pikir aku selemah itu, heh?! Lebih baik kau cemaskan dirimu. Kalau kau terbunuh di sini, kau takkan bisa kembali ke duniamu!” Cerocos Ditya dengan senyum meremehkan tersungging di wajah pucatnya.
“Sudahlah, ini bukan waktunya berdebat! Kita bertiga sebagai prajurit istana harus melindungi Putri Ratimaya dengan segenap kekuatan kita. Dan jangan biarkan Edelweis Pusaka jatuh ke tangan yang bukan pewarisnya.” kata Sara berapi-api. Ia berharap kalimatnya barusan dapat membakar semangat kedua rekannya.

Kenzie mengangguk setuju. Meski ia bukan berasal dari Intraversia, ia berjanji akan ikut berjuang menumpas penyihir jahat demi kejayaan negeri ini. Negeri dimensi yang hanya bisa dikunjungi Kenzie melalui perjalanan astral.
Walaupun ia tak mengenal Putri Ratimaya, tapi ia tetap ingin melindungi Edelweis Pusaka yang katanya menjadi pusat Intaversia.

“DITYA!!!”

Kejadian itu begitu cepat. Entah bagaimana Abigail menjadikan Ditya sandera. Tak ada yang menyadari kapan ia mengendap-endap mengincar Ditya.

“Hei, Ratimaya! Cepat kau keluar dari istanamu! Atau lelaki yang kau cintai ini akan berakhir mengenaskan.”

Tangan Ditya dipelintir ke belakang. Beberapa inci lagi ujung pedang api hitam Abigail menyentuh leher Ditya.

Lelaki berambut pirang itu mengutuk dalam hati. Seharusnya dia berusaha sekuat tenaga melindungi Ratimaya, tapi dia malah menjadi sandera. Dirinya yang terluka parah menjadi sasaran empuk Abigail -si penyihir jahat- yang ingin merapas Edelweis Pusaka demi kepentingan sendiri.

Tiba-tiba angin berembus kencang, bersamaan dengan kepakkan sayap putih turun ke bawah. Sesosok gadis bergaun panjang *eburnean mendarat. Helaian rambut perak panjang melambai-lambai. Mahkota kecil berwarna kencana menghias kepalanya. Kemilau violet memancar dari dirinya.

Gadis itu memegang bola kristal yang di dalamnya terdapat bunga edelweis.

“Turunkan senjata kalian! Jangan menyerang!”

Para prajurit terkecuali Kenzie menurut. Bahkan Sara pun kini berdiri di sisinya. Mereka terdesak. Pasukan putih kalah jumlah dengan para makhluk hitam.

Kenzie tetap menarik busurnya. Siaga melesatkan panah.

“Turunkan senjatamu, Ken! Jangan membantah.” Ratimaya melirik Kenzie dari balik bahunya.

Ken terhenyak. Kaget. Manik mata ungu itu… sama seperti milik gadis misterius yang mengawasinya di kelas. Apa benar keduanya orang yang sama?

Kenzie mendesah sebelum akhirnya meletakkan senjata di tanah.

“Cepat serahkan Edelweis Pusaka itu!” Suara begis kakak Redvey menggelegar.

Jika Edelweis Pusaka jatuh ke tangan Abigail, maka tamatlah sudah riwayat Intraversia. Konon katanya, Edelweis Pusaka akan memberikan kekuatan dahsyat bagi siapapun pemegangnya.

“Tapi lepaskan Ditya, dan kumohon jangan hancurkan Intaversia.” Ratimaya mencemaskan rakyatnya. Biar bagaimana pun, rakyat sangatlah berarti baginya.

Abigail tersenyum licik. Lalu mengangguk.

Hei, Ratimaya! Mana mungkin kau bisa percaya dengan penyihir kejam macam Abigail. Namun tak ada pilihan lain, selain menyerahkan apa yang diinginkan Abigail.

Dengan hati-hati Ratimaya meletakkan kristal itu di atas rerumputan hijau. Secepat kilat Abigail menyambar Edelweis pusaka. Lalu terbang ke angkasa.

“‘Kan ku tundukan Intaversia dibawah kekuasaanku. Hahaha” tawa Abigail membahana, memekakkan telinga.

Kenzie tak berdim diri. Ia arahkan anak panah mengikuti Abigail. Dan… bravo! Berhasil. Anak panah itu menancap, menembus salah satu sayap kelelawar Abigail.

“Sara, bawa aku terbang ke arahnya!”
Sara mengangguk. Digenggamnya sebelah tangan Kenzie. Mereka pun terbang mendekati Abigail.

Tangan kiri Kenzie terjulur ke depan. Mencoba meraih kristal di genggaman wanita berambut merah terang itu.

“Takkan kubiarkan kau memilikinya, wahai penyihir.”

Abigail terus mengelak. Ia akan jatuh nanti. Sayapnya tak bisa digunakan lagi.

Sebilah pedang di tangan kiri Abigal terus mengobarkan api hitam. Melihat kesempatan, Abigail mengayunkan pedang ke arah Kenzie.

“Agni ireng bakarlah dia hingga hangus!”
“Arghhh” Kenzie memekik.
Sabetan api hitam mengenai lengan kanan Kenzie. Tangannya terlepas dari cengkraman Sara. Seketika itu ia terjun bebas.

Perhatian Abigail tersita pada Kenzie. Tentu Sara tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia kibaskan sayapnya kuat-kuat. Dan… oh, angin yang tercipta memiliki ketajaman setara pisau. Abigail terluka, dan kristal terlepas darinya.

Hap!
Kenzie menangkap kristal itu.

Celaka! Kristal pelindungnya pecah terkena api hitam. Tertinggal Edelweis Pusaka di genggaman Kenzie.

Bunga edelweis itu menyala terang. Cahaya putih menyilaukan menyerang mata Kenzie.

“KEN!!!” Sara berteriak sebelum sempat menolong Kenzie.
Lelaki itu terpejam. Tubuhnya terjun bebas. Semakin dekat dengan bumi. Tanah di bawah siap meremukan tulangnya.

“Violeta Intraversia!”
Seberkas sinar keunguan menyelimuti tubuh Kenzie. Seketika tubuh Ken melambat. Ia melayang laksana kapas yang ringan. Kenzie mendarat mulus di tanah.

Sementara itu tubuh Abigail berputar-putar di angkasa. Jurang kesepian menyapa garang di bawahnya. Siap melumat tubuh yang jatuh ke dalamnya.

“Awas kau, Ratimaya! Aku akan kembali membalas kematian Redvey! Dan akan kurebut Edelweis Pusaka darimu! Ingat itu!!” lantang Abigail sarat emosi.

Seluruh makhluk hitam -ciptaan Abigail- musnah, berbarengan dengan lenyapnya Abigail di dasar jurang.

Ket:
*Eburnean = warna putih gading dengan semburat kuning

Cerpen Karangan: Harni Haryati
Blog / Facebook: Harni Haryati
Gadis 18 tahun yang memiliki mimpi sederhana. Ia ingin mengabadikan segala bentuk imajinasinya ke dalam karya sebuah tulisan.

Cerpen Edelweis Pusaka Intraversia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maaf Sahabat

Oleh:
Aku, Eva, Devi, Mia dan Sifa adalah sahabat karib. Kami bersahabat sejak kelas 2 SMA hingga sekarang kami duduk di bangku kuliah semester 2. Kami selalu berbagi cerita bersama-sama

I Have a Dream

Oleh:
“Ini… di mal?” Anne melihat ke sekelilingnya dengan tatapan tak percaya. Di sekelilingnya terdapat banyak toko-toko dengan lampu menyala-nyala. “Yup!” Seseorang membalas gumamannya, ternyata dia seorang gadis yang sangat

My Beloved Hana (Part 1)

Oleh:
Dingin. Aku kedinginan, aku takut. Aku berada dimana? Aku bingung. Seseorang tolonglah aku! Malam yang dingin menghiasi sebuah kota yang berada di daratan Inggris. Seorang lelaki muda berjalan lesu

Chip Robot (Part 1)

Oleh:
Malam ini aku berjalan menyusuri sepanjang trotoar, di balik kelamnya ternyata menyimpan banyak pesona, jarang-jarang aku bepergian malam hari, ya aku sedang berjalan pulang ke rumah setelah tadi aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Edelweis Pusaka Intraversia”

  1. Ifan MR says:

    Pendeskripisiannya bagus. Tapi ceritanya nggantung. Nggak diceritain kenapa Kenzie membatu mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *