Editor Waktu (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 4 December 2015

Sandy mengambil laptopnya di kamarnya, lalu membuka browser dan menunjukan sesuatu pada Wijaya.
“Nih Wi, coba lihat apa yang aku temukan kemarin di internet.” kata Sandy menunjukkan sesuatu.
“Precognition?”
“sebuah kemampuan Psikis, dimana pemilik kemampuan ini mampu menangkap gambaran sebuah kejadian sebelum kejadian itu terjadi, dengan kata lain, mampu melihat masa depan.”
“Oke, tapi aku tidak pernah berusaha meramal bertapa atau apapun itu. Yang ku lakukan hanya melamun berimajinasi lalu menulis hasil khayalan tadi menjadi sebuah rangkaian kisah fiktif. Bagaimana aku bisa punya kemampuan Psikis?” Wijaya perlahan berusaha memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya.

“Oke ada teori menarik, dari seorang Psikolog bernama Dr. Hermann Gustav. Psi bersama Prof. Paul Parkman. MSc. mereka mengatakan bahwa, jika dimensi waktu bisa digambarkan dalam bentuk sebuah garis linier, maka kita dapat menyimpulkan bahwa waktu adalah sebuah ‘seek bar’ artinya masa lalu, sekarang atau masa depan hanya sebuah urutan sesuatu yang sebenarnya sudah ada. Lalu beberapa orang di dunia ini dengan kemampuan gelombang otak misterius yang masih diselidiki oleh para Ilmuwan, mampu menangkap gambaran dari urutan kejadian yang akan terjadi selanjutnya.”

“Maksudmu, orang-orang dengan kemampuan Precognition ini, otaknya mampu menangkap kejadian di masa depan dari bocoran dimensi waktu yang kita tempati begitu?”
“Ya tepat sekali, kau langsung nyambung dengan teori ini. Artinya kau punya kemampuan melihat masa depan. Dan bagaimana kau melakukannya, jawabanya saat kau melamun!” Sandy menjelaskan dengan penuh semangat.
“Melamun? Maksudmu saat aku mencoba mencari ide untuk menulis cerita fiksi?”
“Ya, untuk menulis sebuah fiksi tentunya kau butuh inspirasi, baik itu dari kehidupan nyata ataupun imajinasi. Nah saat kau berimajinasi terkadang kau membebaskan pikiranmu melayang dalam lamunan, dan tanpa kau sadari kau menangkap gambaran masa depan.”

“Oke, oke, aku paham, jadi dengan kata lain, aku menangkap gambaran masa depan dan secara tidak sadar menganggapnya sebagai imajinasiku begitu?” Wijaya menyahut.
“Tepat sekali. Menurutku cerpenmu, mengandung imajinasi murni darimu dan juga mengandung gambaran masa depan yang telah kau anggap imajinasimu juga. Itu sebabnya cerpenmu mampu memprediksi masa depan.”
“Astaga… ini semua sungguh mengejutkan. Penjelasan ini cukup masuk akal dan membuatku sedikit lebih menangkap apa yang terjadi padaku. Tapi walau begitu teori ini sangatlah rapuh dan kurang bukti, pastinya di luar sana pengkritiknya tak terhitung.”

“Iya kau benar soal itu, terkadang kebenaran sungguh di luar perkiraan. Untuk mempercayai sesuatu kita tak bisa menunggu selamanya untuk sebuah konfirmasi kebenaran, karena kita bukan mahluk abadi.” Sandy mengungkapkan pemikiran filsafatnya. Sejak SMA Sandy adalah orang yang berpikir filosofis, sementara Wijaya orang yang berpikir secara Ilmiah dan rasional. Tapi walau berbeda cara berpikir, mereka berdua menjadi sahabat yang saling melengkapi gagasan mereka.
“Iya, iya Mr. Aristoteles.” ujar Wijaya bercanda. Beberapa saat kemudian, Wijaya pamit pulang karena hari mulai malam.

Keesokan harinya, di hari sabtu pagi Wijaya berniat pulang ke rumah orangtuanya menggunakan kereta. Tiba-tiba ponsel Wijaya berbunyi. Terlihat nama sang Editor muncul di layar ponselnya, “iya halo bang..”
“Anu Wi.. Cerpen yang kamu kirim kemarin bagus banget, tapi ceritanya terlalu panjang.” ujar editor.
“Terlalu panjang bagaimana bang? semalam saya ngetik hanya 6 lembar kertas kok jadinya..”
“6 lembar apanya, ini jelas-jelas 12 lembar, ini kepanjangan buat dimuat di majalah, dan ada satu masalah wi, ceritamu ini kok sad ending sih? Pasti banyak pembaca yang tak suka dengan ending yang anti klimaks begini, tapi ya terserah kamu sih.”

“hah 12 lembar, kok bisa sad ending? Ah bentar deh bang nanti saya cek dulu kayaknya ada yang salah nih, kalau misal nanti diralat boleh kan?”
“boleh sih, tapi cepat ya, ini sudah mepet banget, belum editing sama pencetakannya, tiga hari lagi majalah kita terbit.” tegas editor.
“Iya iya, maaf ya Bang..” panggilan diakhiri.

Wijaya segera lari menuju laptopnya dan membuka cerpen yang ia ketik malam kemarin. Dia begitu terkejut bahwa cerpenya benar-benar berubah, seolah seseorang telah mengetik ulang kisah tersebut, kisah yang ia tulis menjadi dua kali lebih panjang dari seharusnya, dan kisah endingnya pun berubah menjadi Sad-ending yang awalnya adalah Happy ending. Dia menutup laptopnya dan segera pergi ke rumah Sandy sahabatnya. Saat Wijaya mengunci pintu dan hendak meninggalkan rumah, tiba-tiba pagi itu hujan deras padahal saat itu bukan musim hujan. Yang membuat Wijaya heran adalah suasana pagi itu benar-benar persis seperti yang ia gambaran dalam cerita yang ia tulis tersebut, bahkan memiliki tanggal dan hari yang sama.

Sandy segera membuka pintu rumahnya yang digedor-gedor oleh Wijaya.
“Iya iya sebentar..” Sandy membuka pintu, terlihat Wijaya memakai jaket yang basah karena hujan deras pagi itu.
“eh? Wi? ada apa?!”
“San.. gawat, sesuatu yang aneh terjadi..”
“Oke tenang dulu, masuk dulu, dan jelaskan apa yang sebenarnya terjadi sampai membuatmu segelisah ini.” ujar Sandy.
“Nih!! lihat halaman sepuluh!” Wijaya memberikan lembaran cerpen yang ia print pagi ini.

“aku menulis kisah tentang seorang mahasiswi jurusan teknik kimia yang berhasil melalui masa-masa sulit di keluarganya dan berjuang demi prestasinya, pada akhirnya dia berhasil membuat sebuah penemuan berupa pengawet makanan organik yang ampuh dan sangat sehat.”
“Tapi cerpen ini, bukankah terlalu panjang Wi..”
“Itu dia masalahnya..” Wijaya menyela.

“cerpen itu awalnya ku ketik kemarin malam dan aku yakin sampai ending hanya enam halaman, lalu aku tertidur di depan laptopku. Berhubung sudah deadline saat bangun pagi langsung ku save dan segera ku kirim via Email ke Editorku. Namun tadi pagi saat ku cek tiba-tiba saja cerpenku berubah dua kali lebih panjang dan ditambah lagi ending kisah ini berubah, lihat.. di kisah ini diceritakan si mahasiswi hendak mengambil penghargaannya di universitas, namun ia tewas dalam sebuah kecelakaan kereta api, dia tewas saat berusaha menyelamatkan nyawa orang lain!”

“Tenang, apa kau yakin hanya kau yang ada di rumahmu saat itu? Apa kau yakin kau tidak mengetik kisah tersebut?” Sandy berusaha menenangkan.
“Aku dengan sadar sangat yakin aku tidak mengetik itu.”
“Kecuali kalau kau mengetiknya dalam keadaan setengah sadar.” sahut Sandy.
“Apa? Maksudmu aku menulis cerita ini dalam keadaan setengah sadar? Tidak mungkin!” sentak Wijaya.
“Dengar Wi! semua yang terjadi padamu akhir-akhir ini sangat di luar akal, tapi kita semua tahu itu benar-benar nyata. Kau mampu menangkap gambaran masa depan, kau mempunyai kelebihan Precognition, jadi sesuatu seperti menulis dalam keadaan tidak sadar bukanlah sesuatu yang mustahil. Dan bisa saja kisah yang kau tulis ini adalah..”
“Sesuatu yang akan terjadi!” Wijaya menyela.
“Iya..”

“Gawat.. kalau begitu ini benar-benar gawat. Kali ini kisah yang ku tulis benar-benar sangat jelas ke detilnya, lihat latar waktu dalam cerita ini..” Sandy membuka lembaran cerpen tersbeut. “ini..”
“Hari ini, tanggal ini dan tahun ini! dan lihat latar suasana dalam cerita tersebut,”
‘pagi hujan lebat mengguyur kota malang dan sekitarnya, sebuah anomali, karena sekarang bukanlah musim hujan.’ Wijaya secara reflek berdiri dan hendak ke luar dari pintu rumah.
“Wi..kau mau ke mana?”
“Aku harus menyelamatkan mahasiswi dan para penumpang tersebut, kau benar, aku dianugerahi kemampuan Precognitif bukan tanpa alasan, jika aku tahu hal buruk apa yang akan terjadi aku tak bisa mendiamkannya saja, aku harus merubahnya. Masa lalu yang tak bisa diubah, tapi masa depan masih bisa kita rubah, aku percaya takdir bisa dirubah jika takdir itu benar-benar ada!” Wijaya bersi keras.

“Tapi bagaimana?”
“Entahlah, tapi aku setidaknya aku harus memberi peringatan pada mereka! gadis ini membutuhkanku!”
“Tunggu!” Sandy menghentikan Wijaya yang hendak ke luar menembus hujan lebat di pagi hari tersebut.
“Apa?!”
“Aku akan mengantarmu ke stasiun.” Sandy mengambil sepeda motornya karena tahu hari itu Wijaya tidak membawa kendaraan pribadinya.

Sekejap kemudian mereka berdua ngebut menembus hantaman-hantaman kecil dari tetesan air hujan yang lebat tersebut.
“Cepat sedikit San! kecelakaan kereta terjadi 30 menit dari sekarang!” Wijaya memperingatkan, Sandy segera menambah kecepatan sepedah motornya.

Sesampainya di stasiun, dia berlari kencang menerobos kerumunan dan memukul petugas di sana agar dia bisa memasuki kereta tanpa tiket. Kereta telah beralan perlahan. Wijaya berhasil melompat masuk, beberapa orang di gerbong terlihat bingung melihat orang yang basah kuyup tiba-tiba berlari masuk kereta. Kereta itu terdiri dari beberapa gerbong, dan saat itu Wijaya masuk gerbong paling belakang. Dia berlari melewati gerbong satu ke gebong lain, mencoba mencari gadis berambut pendek yang memakai jaket berwarna cokelat dan celana hitam. Dengan pikiran yang agak panik dia tetap mencari, namun ia sama sekali tak menemukan orang dengan ciri-ciri yang ia cari. Saat dia melihat jam tangan, dia terperanjat. “Hah, gawat sepuluh menit lagi terjadi tabrakan!” ujar Wijaya, saat itu Wijaya berada di gerbong nomor tiga dari depan.

“Heh? Bukankah seharusnya arah kota kita ke sana? Kita naik kereta yang benar kan?” ujar seorang penumpang yang berada di dekat Wijaya.
“Gawat..” Wijaya mengepalkan tanganya. “semua!! cepat lari ke Gerbong belakang!! kereta ini salah Jalur!!” Wijaya membuka pintu untuk ke gerbong belakang.

Awalanya seluruh penumpang hanya keheranan melihat tingkah aneh Wijaya, namun beberapa penumpang mulai menyadari bahwa memang ada yang salah dengan jalur kereta tersebut, para penumpang mulai berdiri namun wajah mereka masih disertai rasa bingung, heran dan juga ragu. Tak lama kemudian pintu dari gerbong di depan Wijaya, tepatnya pintu gerbong dua terbuka dan banyak penmpang gerbong dua berlarian ke arah gerbong belakang. Penumpang gerbong tiga pun ikut panik dan semua berlarian menuju pintu yang dibuka Wijaya. Teriakan-teriakan panik memenuhi gerbong.

“Semuanya tenang! lewatlah pintu ini tanpa saling mendorong, dan peringatkan penumpang di gerbong empat!” teriak Wijaya. Namun Wijaya masih merasa bingung, dia sama sekali tak melihat gadis yang ia cari.
“haduh.. di mana dia?” ujarnya. “jangan-jangan dia masih di gerbong satu!” Wijaya berlari dengan menerobos arus orang-orang yang berlarian, dia berlari kencang menuju gerbong paling depan, jam tangan memperlihatkan menit tabrakan berlangsung kurang dari empat menit. Gerbong-gerbong depan sudah kosong, namun saat dia memasuki gerbong paling depan, dia melihat seorang gadis terjatuh di lantai gerbong, dia adalah gadis yang ia cari-cari. Rupanya dia tertinggal karena mencoba mendahulukan orang lain.

“Hei Ria!! kau tidak apa? Ayo cepat kita pergi dari sini.. kereta ini..” teriak Wijaya menghampiri gadis itu.
“Aku tidak bisa, pergilah selamatkan dirimu cepat!” kata gadis itu sambil memegangi engkel kakinya.
Wijaya tetap menghampiri gadis itu dan tetap mencoba menolongnya.
“apa yang kau lakukan? cepat pergi!” sentak gadis itu, awalnya Wijaya kaget melihat wajah gadis itu dari dekat, gadis itu adalah Ria dari club basket semasa Wijaya masih SMA, Wijaya tak menyangka gadis yang ia coba tolong adalah gadis yang pernah dia tulis masa depanya semasa SMA dulu.

“sudahlah, aku tahu kakimu pernah cedera saat turnamen basket SMA dulu, sekarang aku tak akan tinggal diam mengetahui sesuatu yang buruk akan menimpamu lagi. Tak ada waktu!” jam menunjukkan waktu hanya tersisa satu menit. Wijaya menggendong gadis itu dan berlari sekencang mungkin ke gerbong empat untuk menyelamatkan diri mereka.
Dari arah berlawanan kereta telah terdengar bunyi kereta lain. Wijaya berlari sambil mendekap gadis itu lalu melompat ke gerbong empat.

Dua hari berlalu, Wijaya membuka matanya, dia tersadar sedang berbaring di atas kasur rumah sakit dengan infus menancap di tangannya. Dia kelihatan bingung.
“Akhirnya kau bangun juga.” suara seorang gadis.
Wijaya menoleh ke arah kanannya, gadis yang ia tolong juga sedang terbaring di ruang perawatan yang sama dengan Wijaya.
“Kau.. kau selamat? syukurlah. Bagaimana dengan kecelakaannya?” tanya Wijaya pada gadis itu.
“ya, semua berkatmu, terima kasih telah menolongku. Yang aku tahu korban jiwa ada 15 orang, kebanyakan korban luka, mereka berhasil meminimalisir korban karena mereka berlari ke gerbong belakang. Saat sadar aku sedang dalam ambulans, jika bukan karenamu mungkin aku sudah ada di pemakaman sekarang.” gadis itu tersenyum.

“Ah.. iya. syukurlah, walau begitu, setidaknya ini jauh lebih baik daripada jumlah korban jiwa dalam kisah itu..” gumam Wijaya.
“apa maksudmu? Oh iya, semoga lekas sembuh, karena aku punya segudang pertanyaan untukmu, bagaimana kau tahu namaku, masa laluku, dan masa depanku..”
“ya, aku Wijaya, namamu Ria bukan. Dulu kita di SMA yang sama. Aku juga sudah menyiapkan segudang penjelasan, panjang ceritanya. Ah bukan.. bukan, sebenarnya ini semua tentang Cerita pendek.” Kata Wijaya sambil tersenyum.

Cerpen Karangan: Aliffiandika
Blog: Aliffiandika.blogspot.com
Facebook: Aliffiandika Nuzul
Siswa SMA N 6 MALANG

Cerpen Editor Waktu (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tangga Kematian

Oleh:
Pada hari sabtu yang cerah. Kelima sahabat Raka, anisafa, Ryan, Rani dan Veronica pergi untuk bekerja ke rumah tua. Mereka adalah anak kelas 7.6, Mereka mendapat tugas untuk mengobservasi

Menaklukkan Naga (Part 5)

Oleh:
Kabut debu pasir muncul mengikuti suara dentuman yang membahana. Daratan di sekitar kastil bergetar. Suara raungan panjang terdengar bersahutan. Pertarungan kedua naga masih berlanjut, diselingi raungan-raungan bersahutan. Beberapa kali

Loker 17

Oleh:
Si pecundang, Leo, pemuda empat belas tahun kelas dua SMP, duduk melamun di pojok ruangan loker tak terpakai. Sendirian saja tanpa seorang pun tahu. Betapa ambisinya untuk menjadi juara

The Orphanage House

Oleh:
“Elena, lakukan dengan benar!” Uh, ya ampun. Suara menggelegar Bibi Clara benar-benar seperti musik orkestra gratis yang berdesing di telingaku. Tidak elite sekali menyuruh seorang gadis untuk membersihkan seluruh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Editor Waktu (Part 2)”

  1. angeli says:

    keren banget ceritanya

  2. nia ai says:

    sumpah.. ini cerita keren banget.
    cara penjelasannya, ide cerita dan imajinasinya.
    good job. terus berkarya ya.

  3. Andara Claresta Rabbani says:

    Bagus banget… Sumpah deh alurnya bagus, imajinasinya tinggi, kreatif banget deh. Habis tu banyak pesan pesan di dalam cerpen nya. Good job!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *