El Corto

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 11 March 2016

Matahari terasa terik sekali siang ini, tiada awan, tiada angin berdesir, hanya panas terik menyengat. Dua orang sedang asyik mengobrol, atau lebih tepatnya satu orang yang berorasi dan satunya sebagai pendengar setia. Alzi dan Edi sedang asyik mengobrol, mereka adalah orang Meksiko keturunan Indonesia. Kedua Ibu mereka dulunya adalah Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga ke Meksiko. Mereka berdua tinggal di Kota Juarez, kota perbatasan antara Mexico dan Amerika Serikat.

Kota Juarez adalah kota yang keras, tingkat kriminalitas di sana sangat tinggi. Semua hal di sana dikendalikan oleh Kartel Nark*ba. Mulai dari aspek hukum, politik hingga hiburan semua dikuasai oleh kartel. Dan siapa pun yang melawan, mereka akan dibunuh dengan cara yang mengenaskan, seperti dimutilasi, digantung di jalanan atau semua keluarga dan kerabat mereka dihabisi. Penemuan mayat tak dikenal setiap hari menjadi pemandangan biasa di sana. Hal itulah yang membuat para anggota kartel di sana sangat ditakuti, lebih disegani dari para Polisi atau Militer.

Di kota itulah Alzi dan Edi tinggal. Mereka berdua bekerja di sebuah kedai makanan sebagai pelayan. Namun mereka termasuk beruntung bisa bekerja karena tingkat pengangguran di Juarez juga sangat tinggi, sehingga wajar para pemuda di sana banyak yang terjun menjadi anggota kartel karena bayarannya tinggi. Pemilik kedai itu adalah Pak Javier, dia sudah menjalani usaha tersebut selama 30 tahun. Pak Javier memiliki seorang Putri bernama Kate Mundo, seorang gadis cantik yang tinggi, langsing, berambut hitam panjang berkilau yang selalu diikatnya.

Alzi jatuh hati padanya, namun dia sudah memiliki pacar, seorang pria bernama Guerero, pemuda yang kasar dan juga konon katanya anggota Geng Pulga, yang merupakan organisasi sayap dari kartel Sinaloa, salah satu kartel terbesar di Meksiko. Siang itu, ketika Alzi dan Edi sedang jalan-jalan dan asyik mengobrol, tiba-tiba mereka melihat Kate. Tampaknya Kate sedang dalam kesulitan, pacarnya Guerero kelihatan sedang marah padanya. Melihat hal itu mereka segera mendekati Kate bermaksud untuk menolongnya.

“Hei Guerero, tenanglah! kenapa kamu marah?” tanya Alzi kepadanya.
“Rupanya kamu, Al! kamu suka sama Kate huh?! mau jadi sok pahlawan kamu?” jawab Guerero dengan nada kasar.
“Aku gak mau cari masalah Guerero! aku cuma mau misahin kalian aja!” jawab Alzi dengan tenang.

Namun Guerero tidak terima dengan hal itu. Dia pun mencoba memukul Alzi, tapi dia berhasi menghindar. Kawan-kawan Guerero yang anggota Geng Pulga mencoba membantunya, namun Edi tidak tinggal diam. Terjadilah keributan. Guerero yang emosi mengeluarkan pisau dan menusukkannya kepada Alzi, tapi Alzi berhasil merebut pisau tersebut dan menusukkannya kepada Guerero. Guerero pun roboh. Melihat hal itu, semua teman-teman Guerero pun melarikan diri ketakutan. Kate berteriak histeris, tapi Alzi berusaha menenangkannya.

“Tenang Kate! Aku cuma membela diri aja, mereka yang mulai!”
“Tapi, Al! kamu membunuhnya!? sekarang gimana?”
“Kamu tetap tenang, pulang ke rumah dan istirahat! Biar aku yang urus semuanya!”

Kate pun pulang diantar oleh Edi, sementara Alzi beranjak pergi meninggalkan tempat itu dan membuang pisau yang dipakai membunuh Guerero. Berita kematian Guerero rupanya sudah menyebar luas. Khususnya di kalangan Geng Pulga dan anggota Kartel Sinaloa. Namun bukan itu saja, Kartel Gulf yang merupakan pesaing Kartel Sinaloa juga mendengar kabar tersebut. Sontak hal itu menjadikan Alzi sebagai salah seorang buruan yang dicari oleh para anggota Kartel. Ketika Alzi sedang berada di jalan, dia pun didatangi oleh sekelompok orang. Karena panik, Alzi pun mencoba lari, tapi gagal karena dia sudah dikepung oleh mereka. Salah seorang dari mereka pun mendekati Alzi, tampaknya dia adalah pemimpin kelompok tersebut. Dia pun berkata.

“Tenang kawan, kami bukan ingin membunuh kamu, kami bukan dari Geng Pulga ataupun Kartel Sinaloa, kami dari Kartel Gulf!” ucapnya dengan nada tenang, tampaknya dia adalah orang yang cukup disegani di Kartel Gulf. Itu terlihat dari gayanya yang tenang dan sikap dari semua anggota kelompoknya yang tampak segan kepadanya.
“Ya, tapi itu karena membela diri! dia yang pertama kali menyerang aku!” jawab Alzi dengan nada gugup.
“Haha! Baguslah kalau bajingan itu sudah mati! sudah lama kami mengincar nyawanya tapi selalu gagal. Oh ya, namaku Ochoa, aku adalah Lugartenientes di Kartel Gulf.” ucapnya dengan sikap tenang sambil tertawa ringan.

Lugartenientes (Letnan) adalah jabatan sebagai orang kedua atau tangan kanan dari Capos (Ketua) kartel. Dengan sikap tenang, dia pun berkata pelan kepada Alzi sambil memegang kerah bajunya. “Anak muda, kalau kamu mau selamat, gabunglah dengan kami sebagai Sicarios! maka mereka gak akan berani memburu kamu lagi! tapi kamu yang akan memburu mereka, anggota Geng Pulga dan anggota kartel Sinaloa!” ucap Ochoa. Mendengar ucapan Ochoa, Alzi tampak ragu. Sicarios artinya adalah pembunuh bayaran. Itu artinya Alzi harus menjadi pembunuh dari Kartel Gulf. Tapi dia tahu saat ini dia tidak punya pilihan lain. Kalau dia ingin selamat, dia harus bergabung dengan Kartel Gulf. Alzi pun menjawab tawaran dari Ochoa.

“Baiklah, aku ikut bergabung dengan kalian!”
“Baguslah, Al! Mulai saat ini, kamu menjadi Sicarios, dan karena badan kamu yang pendek, julukan kamu adalah El Corto, hahaha!” ucap Ochoa yang disambut oleh gelak tawa seluruh anggotanya. Ochoa pun memeluknya dan menyambut bergabungnya Alzi dengan Kartel Gulf.

Sejak saat itu, Alzi tidak lagi diburu Geng Pulga dan Kartel Sinaloa. Para Polisi dari Departemen Kepolisian Juarez dan Polisi Federal Meksiko pun disogok Kartel Gulf agar tidak menangkap Alzi, sehingga dia bisa bebas. Sejak kejadian itu, hubungan Alzi dan Kate semakin dekat. Alzi pun sering mengajaknya makan malam atau makan siang kemudian sekedar jalan-jalan untuk berkencan. Seperti hari itu, Alzi mengajak Kate makan siang di sebuah Restoran. Obrolan akrab pun terjalin antara mereka berdua.

“Makasih Al, kamu udah nolongin aku dari si Guerero waktu itu, kalau gak ada kamu, aku gak tahu apa yang terjadi sama aku,”
“Gak apa-apa, kok. Kate, aku mau bilang sesuatu sama kamu, sebenarnya selama ini aku suka sama kamu, aku gak pernah suka sama gadis lain kecuali kamu.”
“Aku tersanjung denger kamu bilang itu Al. Padahal banyak gadis lain yang lebih cantik dari aku,” ucap Kate dengan wajah tersipu malu.
“Gak Kate, aku cuma suka sama kamu jadi, kamu mau jadi pacarku?” tanya Alzi.
“Ya, aku mau.” jawab Kate dengan wajah sumringah dan memerah tersipu malu.

Tak lama kemudian, dari jendela Restoran terlihat sekelompok pemuda dengan gerak-gerik aneh. Mereka, kemudian mengeluarkan senjata Handgun dan mulai menembak Alzi. Tapi mereka gagal, Alzi pun merunduk sambil memeluk Kate untuk melindunginya. Dia pun membalas tembakan mereka sehingga mengenai salah satu dari mereka. Gerombolan tersebut pun melarikan diri setelah melihat teman mereka tertembak. Alzi pun memeriksa keadaan Kate.

“Kate, kamu gak apa-apa? apa ada yang luka?” tanya Alzi dengan nada khawatir.
“Aku baik-baik aja, Al, Makasih.” jawab Kate dengan raut muka ketakutan. Sejak saat itu, percobaan pembunuhan terhadap Alzi lebih sering terjadi. Entah kenapa, mereka selalu mengetahui keberadaan Alzi di mana pun berada. Alzi pun membalas dengan membunuh para petinggi dari Kartel lawan, seperti Kartel Sinaloa dan Kartel Zetas.

Suatu hari, seorang anak buah Alzi dari kartel Gulf membisikkan sesuatu kepada Alzi. Setelah mendengar bisikan tersebut, Alzi tampak kaget. Namun dia kembali tenang dan meminta anak buahnya menyiapkan mobilnya. Saat itu, dia mendapat pekerjaan yang sangat penting. Membunuh Ketua Geng Pulga. Alzi pun beranjak dengan mobil untuk menunaikan tugasnya, membunuh Ketua Geng Pulga. Di Markas Geng Pulga, Alzi pun dengan bengis membunuh semua anggota geng dengan senapannya. Hingga menyisakan Ketua Gengnya yang bernama Paulo. Alzi pun menembak kakinya untuk melumpuhkannya kemudian mendekatinya. Alzi tampak berbicara sesuatu dengan Paulo. Setelah mendengar Paulo berbicara, Alzi tampak marah. Sesaat kemudian Alzi menembak kepala Paulo. Setelah itu, Alzi membersihkan bajunya yang terkena cipratan darah Paulo dan dia pun beranjak pergi dengan mobil.

Hari tampak mendung, tapi hal itu tidak menghalangi acara kencan Alzi dengan Kate. Alzi pun mengendarai mobilnya dan berangkat menjemput Kate untuk kencan dan makan malam.
Sesampainya di sebuah Restoran bersama Kate. Alzi pun duduk di meja yang telah dipesan dan memilih menu makanan. Begitu juga dengan Kate. Mereka pun mengobrol dengan asyiknya.
“Kate, gimana kabar Ayah kamu, Pak Javier? katanya kemarin dia sakit?”
“Cuma sedikit demam, mungkin terlalu lelah bekerja di Kedai.” jawab Kate.
“Kamu sendiri gimana Al? Apa kamu baik-baik aja? mungkin kamu harus berhenti dari Kartel. Aku gak mau kamu jadi sasaran para penjahat itu.”
“Aku baik-baik aja kok. Hei Kate, kamu tahu istilah Halcones?” Mendengar itu, Kate tampak kaget. Dia pun tampak tegang sambil berkata menjawab pertanyaan Alzi.

“Halcones? itu artinya mata-mata Kartel kan?” jawab Kate yang tampak gugup.
“Ya, selama ini aku kira Halcones itu gak mungkin dari orang yang aku kenal seperti sahabat, ataupun keluarga! tapi sepertinya aku salah,” ucap Alzi dengan nada sedikit sedih.
“Aku gak pernah mengira kalau Halcones itu kamu, Kate! kamu yang selama ini jadi mata-mata buat kartel Sinaloa supaya mereka bisa membunuhku!”
“Aku minta maaf Al, aku terpaksa! Guerero yang paksa aku masuk jadi Halcones anggota Kartel Sinaloa, sejak saat itu, aku gak bisa lagi keluar dari Kartel! kalau gak, mereka akan membunuh keluargaku, Al, maafin aku Al!” ucap Kate dengan nada memelas dan berlutut di kaki Alzi.

“Aku juga minta maaf Kate, aku kira ini saatnya kita putus!” jawab Alzi sambil menodongkan pistolnya ke kepala Kate. Sesaat kemudian, Alzi pun menembakkan pistolnya. Tubuh Kate pun tergeletak bersimbah darah. Tapi tidak tewas, Alzi menembak kepalanya sendiri dan darahnya membasahi baju dan wajah Kate. Dalam keadaan sekarat, Alzi pun berkata kepada Kate.
“Kita putus Kate, makasih udah mau jadi pacarku! lanjutkanlah hidupmu, semoga kamu bahagia!” ucap Alzi dengan senyum di wajahnya. Alzi pun tewas dengan luka tembak di kepalanya. Diiringi tangisan Kate.

Cerpen Karangan: Algi Azhari
Facebook: https://www.facebook.com/algi.azhari

Cerpen El Corto merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Bukan Untukmu

Oleh:
Pagi Yang cerah, aku berjalan menyelusuri koridor sekolah, pagi ini hatiku sangat senang, Karena aku baru saja jadian sama orang yang aku sayangi dan aku cintai namanya Iqbaal Dhiafakhri

Secercah Cinta Dari Bunga (Part 1)

Oleh:
Jodoh merupakan pasangan hidup setiap makhluk yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Hidup, mati, rezeki seseorang telah ditentukan oleh-Nya bahkan sejak kita berusia 4 bulan dalam kandungan. Termasuk jodoh. Namun

Destiny

Oleh:
Baiklah… biar cerita ini berjalan seperti semestinya. Tidak berubah, ataupun di ubah. Kalau kau sudah lupa, atau memang sengaja melupakannya, akan aku ingatkan. Dengarkan, karena aku tidak akan mengulanginya.

Lava

Oleh:
Tahun 2356, perjalanan waktu sudah merupakan hal biasa, begitu pula dengan perusahaan-perusahaan. Mereka mengembangkan banyak mesin waktu yang canggih. Sandi La Ode adalah seorang gangster asal kota Depok Raya.

Rumah Kos Misteri

Oleh:
Sebenarnya aku tak mau menceritakan kisah ini. Bagiku menceritakannya sama saja mengulang lagi setiap detail pengalamanku di rumah itu, dan kau tahu, itu bukanlah pengalaman yang menyenangkan untuk diingat.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *