Elly

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 10 November 2020

“Dah, Elly!”.
“Dah, Ani!”.
Aku berjalan pulang ke rumah dengan gembira. Aku sungguh senang bisa selalu bersama sahabatku, Ani.

Perkenalkan, aku Elly. Ani adalah sahabatku dulunya kami tetangga, tapi orangtuaku pindah karena pekerjaan, aku satu sekolah dengannya.

Krieet!
Aku membuka pintu rumahku.
Aku segera melepas sepatuku, menyimpan tasku dan berganti baju di kamar. Hingga aku mendengar suara benda pecah dari luar kamar. Kuharap bukan ayah dan ibuku lagi…
“Dasar tidak tau diri! Berani-beraninya selingkuh di belakangku! Kubunuh kau!”. Teriak ayahku.
“Apa-apaan kau!?! Aku selingkuh?! Justru kau yang selingkuh! Aku melihatmu bersama seorang gadis!”. Bantah ibu.
“Dia siswiku! Kau ingat aku ini guru!!!”. Elak ayah.
Sementara aku hanya bisa mendengarnya dari balik pintu kamarku. Aku terduduk, berusaha berpikir tidak terjadi apapun. Mereka sudah begini sejak sebulan yang lalu, mereka bertengkar karena hal sepeleh. Air mataku sudah habis untuk menangisi ini, wajahku sudah sanggup berpura-pura bahagia di depan orang lain. Tapi, sampai kapan?

Plak!
“Berani-beraninya kau menamparku! Kau mau kubunuh?!!”. Bentak ayah.
“Bunuh saja! Mari kita saling bunuh! Dia itu temanku, aku tidak selingkuh!”. Bentak ibu juga.
Aku berusaha menutup telingaku, aku bersembunyi dalam selimut dan lama-kelamaan akupun terlelap.

Perlahan kubuka mataku, jam menunjukan pukul 22:30, lama sekali aku tidur.
Aku membuka pintu sambil melirik kanan-kiri, tampak rumahku sangat berantakan.
Segera aku pergi ke dapur dan mengambil makanan yang ada. Selesai makan aku kembali lagi ke kamar, aku melewati kamar kedua orangtuaku. Samar-samar terdengar mereka masih bertengkar. Aku tak sanggup lagi dengan ini! Aku berlari keluar rumah dan pergi ke taman belakang, tempatku biasa termenung sambil menatap kolam ikan.

Ikan-ikannya terlihat berenang sana-sini, mereka terlihat bahagia. Cuma makan dan tetap hidup saja, itulah yang mereka jalani, sedangkan aku? Enak, ya jadi hewan. Atau, aku mati saja?

“Jangan berpikir yang tidak-tidak.”.
Aku terperanjat, berbalik mencari asal suara itu.
“Perkenalkan, aku Kazuko. Salam kenal!”.
Tampak seorang gadis berpakaian serba hijau toska, berambut panjang bewarna hitam, wajahnya imut dan matanya tampak tajam menusuk. Siapa dia?
“Kalau kau cuma bersedih di sini maka tidak akan ada yang terjadi. Lebih baik ikut aku!”. ucapnya, aku tidak mengerti.
Dia kemudian berjalan dan duduk di dekatku. Aku dapat mencium wanginya, wangi daun mint?
“Siapa kau?”. tanyaku.
“Kan, sudah kubilang aku kazuko. Aku ingin mengajakmu membantuku membuat dunia yang lebih baik, dunia yang baru dunia tampa perang dan perselisihan”. Ucapnya, sepertinya aku pernah mendengar itu di sebuah anime di tv…

“Ya, dunia yang berjalan sesuai maumu. Duniaa…”.
“…Iilusi”. Sambungku.
“Nah! Itu kau mengerti! Kau bisa kembali mendapat keluargamu yang harmonis, bersama teman-temanmu tanpa takut tua dan kematian. Kau bisa mendapat itu jika kau mau membantuku membuat dunia itu”. Ucapnya sambil menyunggingkan senyum.

Aku berpikir, keras. Apakah dia benar? Apa aku bisa mendapat apa yang kumau? Keluarga yang harmonis, bersama dengan sahabatku Ani tampa takut akan kematian? Tapi, apakah ini jalan yang benar dengan menerima tawarannya?

Prang!
“Apa yang kau lakukan?! Nanti bisa didengar tetangga!”. Tersengar suara ayah membentak ibu, mereka masih bertengkar?!
Aku berbalik menatap Kazuko, kulihat dia masih menyunggingkan senyum manisnya.
“Ya. Aku setuju.”. Kujabat tangannya tanda sepakat.
Kemudian dia berdiri dan menjentikkan jarinya. Tiba-tiba muncul semacam portal yang besar sedang menganga dan siap untuk dimasuki.
“Pertama-tama, lihatlah dulu dunia ilusi yang masih dalam tahap pengerjaan ini”.
Aku yang masih terheran-heran segera ditarik oleh Kazuko.
“Ayo, masuk!”.

“Elly… Elly… Elly!”.
Aku terbangun mendengar suara ibu yang lembut. Perlahan kubuka mataku dan melihat senyuman ibu yang sudah lama kurindukan.
“Ibu?”.
“Iya, ayo cepat mandi dan kita akan liburan bersama.”.ucapnya beranjak meninggalkanku.
Aku segera mandi dan berganti baju. Aku melihat ibu dan ayah yang sarapan bersama, mereka terlihat bahagia.
Aku menghampiri meja makan dan ikut sarapan bersama.
Kami bercanda sambil tertawa ria, pertama kalinya setelah sebulan aku dapat kembali merasakan kebahagiaan ini.
Setelah sarapan, kami pergi ke wahana bermain, bahagia bersama, tertawa bersama dan bermain bersama. 1 Minggu sudah ini berlangsung, rasanya aku adalah orang paling bahagia di dunia ini!

“Oke, cukup.”.
Aku tersadar, tiba-tiba aku berada di tempat serba putih. Hanya ada putih di mana-mana.
“Hebatkan, dunia ilusi ciptaanku?”. Tiba-tiba Kazuko sudah ada di belakangku.
“Itulah yang akan terjadi jika kau menerima tawaranku”. ucapnya masih dengan senyumannya.
“Baiklah, tahap pertama adalah…”.
Aarrgh! Tiba-tiba mataku menjadi sakit. Semenit kemudian rasa sakitnya menghilang.
“Membuatmu setia padaku.”. Lanjut Kazuko.

“Matamu sudah kuubah menjadi hijau seperti mataku, tanda kau sekarang pengikutku. Hanya orang tertentu yang dapat melihatnya, selain itu matamu akan terlihat normal”. jelasnya.
“Tahap selanjutnya, jangan pernah berkomunikasi dan memberitahu orang lain tentang ini kecuali kusuruh”. Lanjutnya lagi.
“Termasuk Ani? Aku tidak boleh berkomunikasi dengannya?!”. Tanyaku mulai cemas, apa aku harus memutuskan hubungan persahabatanku?
“Ya. Hubungan seperti itu cuma mengganggu”. Jawabnya santai.
“Nah, untuk yang lainnya nanti kau akan tau sendiri. Sarang persembunyian kita, tidak dapat diketahui orang-orang dan tidak terdapat di dunia, tapi di matamu”. ucap Kazuko, misterius.

Sedetik kemudian aku sudah berada di kamarku.
Aku melirik ke jam, 07:30, tampaknya aku sudah terlambat ke sekolah, besok sajalah. Prioritasku sekarang adalah membantu Kazuko mewujudkan dunia ilusi.

Orangtuaku sudah dipengaruhi oleh Kazuko, entahlah mereka terlihat seperti sudah dihipnotis atau semacamnya, mereka tampak tidak hidup. Berpura-pura bahagia dan tersenyum, tapi aku sudah tidak peduli, mau mereka seperti mayat hidup atau tidak tapi, pada akhirnya mereka akan ada juga di dunia ilusi…
Bersamaku…

Tamat

Cerpen Karangan: A.Naila Isna Maghfirah
Blog / Facebook: Namina
Ini adalah flashback Sahabat Cuek dengan sudut pandang “Elly”.

Cerpen Elly merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Si Penolong (Part 1)

Oleh:
Joko Raharjo adalah seorang remaja asal Kota Bogor. Dia adalah pria yang nakal, dan sering sekali ikut balap motor liar, bahkan sering sekali tertangkap. Sekali waktu dia tertangkap, dan

Requiem Karma

Oleh:
Perlahan cahaya lazuardi menghilang dari rangkaian senja petang ini, lampu-lampu mulai menyala di setiap sudut kota; di tepi jalan, tempat-tempat ibadah dan gedung-gedung tinggi pun tak mau kalah memberikan

Seuntai Gelang Tangan

Oleh:
Benang, dari untaian benang yang dirajut aku pun dilahirkan. Aku adalah seuntai gelang kain berwarna cokelat. Aku adalah sebuah hadiah dari seorang Ibu untuk anak laki-lakinya yang tersayang. Aku

Dactylogram

Oleh:
Aku termenung melihat hasil forensik berupa sidik jari yang sedang aku pegang saat ini. Sidik jari ini merupakan sidik jari paling unik menurutku. Kau tahu mengapa aku memegang kertas

Hati Kecil yang Tertinggal

Oleh:
Ahsan menarik nafas sejenak, membuangnya seketika. Hatinya masih tampak labil meski ia sudah berusia kepala dua. Serta-merta ia masih teringat peristiwa tak terlupakan 5 tahun lalu saat ia diseret

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *