End of The World (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 8 July 2018

Kristal salju pertama jatuh di atas helaian surai vermillion Alcor. Dia menatap ke langit Aincrad City dengan pandangan lurus tanpa ekspresi. Uap putih buram terlihat mengepul seirama dengan hembusan nafasnya dari balik syal abu-abu bergaris merah marun. Disusul dengan jatuhnya kristal salju berikutnya yang semakin lama semakin banyak, Alcor merapatkan zipp jubah hitam-kelabu musim dinginnya. Suhu pun perlahan turun hingga mencapai titik dibawah nol derajat.

Alcor kemudian memilih menyeret kakinya menjauh dari taman kota yang sepi. Ia sudah muak dengan pemandangan sendu ini. Melihat salju hanya akan mengingatkan nya pada kenangan buruk yang tak seharusnya ia ingat.
Ya.
Hari itu tepat setahun semenjak kematian adiknya, Fuyukaze Ayato, dalam kejadian berdarah di Alfheim City. Harus ia akui kematian itu tidaklah sia-sia. Ayato lah yang sudah menyelamatkan kota itu dari bencana Hareki —yang entah mengapa bisa terlepas dari penjaranya di langit dan nyasar ke salah satu dunia bernama Straight Death— meski banyak nyawa terpaksa harus dikorbankan dalam kelangsungan penyegelan Hareki.
Termasuk nyawa Ayato.

Adalah bodoh jika ia menyalahkan dirinya sendiri karena telah menyegel Hareki. Adalah naif jika ia memilih menyelamatkan satu nyawa daripada banyak nyawa. Pikirnya, jika Hareki tidak tersegel, maka Ayato masih hidup. Padahal, sang Shinigami akan tetap datang pada seluruh makhluk hidup jika sudah datang waktunya. Kalau sudah begini, siapa yang harus ia salahkan? Sang Pengamat? Tuhan? Shinigami? Hareki? Atau, jangan-jangan dirinya sebagai Sekai no Owari lah yang harus disalahkan. Entahlah.

Lagipula, ia bisa-bisa kehilangan posisinya sebagai pengatur dunia fana penuh kebusukan ini jika melalaikan tugas, tahu! Tugas seorang Sekai no Owari sepertinya adalah mengatur keseimbangan seluruh dunia dengan cara menurunkan Hareki ke dunia tersebut. Hareki bukan sembarang bencana. Dia juga berfungsi untuk mengganti kehidupan. Meski, jujur, cara Hareki mengganti kehidupan di dunia sebenarnya telalu kejam. Bayangkan saja, sebuah negara bisa luluh lantak jika Hareki diturunkan ke sana.
[Untuk detailnya lebih baik dirahasiakan. Demi kenyamanan bersama.]

Dan sedikit informasi, Hareki bukanlah benda mati ataupun wabah. Melainkan makhluk hidup. Ya, dia hidup dan selamanya hidup. Abadi. Yah, untuk penampilan, silahkan bayangkan saja seorang anak manusia kira-kira berumur 15 tahun yang memiliki surai dua warna —misalnya, hitam putih atau pink putih, dan pada matanya terdapat sebuah segel untuk mengaturnya. Dia selalu mengambil wujud seorang gadis cantik ataupun pemuda tampan. Dia bisa membuat manusia mati hanya dengan tatapan matanya saja. Teriakannya dapat menghancurkan seperempat benua. Tangisannya dapat memunculkan badai mahadahsyat. Dan amarahnya mampu menggetarkan dunia dimensi dan memusnahkan satu dunia dalam beberapa detik.

Tapi, yah, siapa yang bisa menerima kematian dengan lapang dada ? Bahkan Sekai no Owari seperti dirinya sendiri yang sudah sering menyaksikan kehancuran dan kematian orang lain pun tidak sanggup menerimanya.
Sudahlah. Tak perlu membahas hal itu lagi. Yang lalu biarlah berlalu. Apalah arti pengorbanan sang adik jika ia malah terus menyesalinya? Sebaiknya ia cepat pulang jika tidak ingin ada keributan absurd antara Albarn dan Shizu yang selalu meributkan masalah tak penting. Di rumah hanya ada mereka berdua dan Marc. Asai dan Val sedang pergi ke Minimarket untuk membeli bahan makanan dari tadi pagi. Bisa bahaya jika meninggalkan rumah terlalu lama.

“Alcor nii-cchi! Gawat gawat gawat gawat!”
Duh.
Bener, kan?
Cobaan macam apalagi sekarang?
Baru sampai di rumah sudah ada masalah lagi. Bisa tidak sih orang-orang mengerti kalau dia itu ingin menjalani hidup dengan penuh ketenangan?!
“Ada apa, Marc?” Alcor menghela nafas kesal. Ditatapnya sosok bocah bersurai kelabu dan bermanik amber dihadapannya dengan pandangan sinis.
“Ano..” Marc memainkan jemarinya gugup, “AL nee-cchi dan Shi nee-cchi berantem di balkon kamar nii-cchi. Mereka jambak-jambakan..” ucapnya pelan.
What the?
Jambak-jambakan?

Alcor rasa-rasanya ingin tertawa mendengar laporan dari sang Hell Hound cilik milik Asai. Oke, kalau Albarn dan Shizu bertengkar dengan membawa death schyte masing-masing itu sudah biasa. Tapi, kalau jambak-jambakan? Bisa-bisa wibawa mereka sebagai Shinigami hilang tak tersisa akibat kebodohan mereka sendiri. Shinigami, kan, terkenal dengan Death Scyhtenya.

“Alcor nii-cchi?” panggil Marc heran melihat sang Sekai no Owari terseyum-senyum sendiri.
“Ah. Biarkan saja. Mereka akan berhenti dengan sendirinya, kok!” jawab Alcor dengan entengnya. Dia kemudian melenggang masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamarnya.

Begitu sampai, yang pertama kali ia lihat adalah bertebarnya komik-komik dan doujinshi koleksinya di lantai dan suasana kamar yang sudah mencapai level ‘kapal pecah’. Ditambah dengan pemandangan mengherankan dimana Albarn dan Shizuhime masih jambak-jambakan sambil melempar komik Alcor yang entah bagaimana caranya.
[Antara Alcor memang tidak mendengar kata-kata Marc dengan seksama atau dia budek? Kan, sudah dibilang kalau Albarn dan Shizuhime ribut di kamarnya Alcor. Entahlah. Hanya Tuhan dan Penulis yang tahu.]

Cukup sudah.
Ini keterlaluan. Mana ada orang yang berani bertengkar di kamar orang lain sambil menghancurkan (baca: memberantaki) kamar Tuan Muda Fuyukaze Alcor yang cinta kerapihan dan clean freak? Oh, mungkin ada dan itu adalah Albarn dan Shizuhime. Dua gadis Shinigami yang saling bertolak belakang sifatnya dan selalu meributkan hal yang tidak berguna.

“STOP!”
Albarn dan Shizu berhenti saling jambak. Mereka berdua menatap Alcor dengan wajah tanpa dosa. Sedetik kemudian, mereka melambaikan tangannya dan menyapa Alcor dengan penuh riang gembira.
“Oh, selamat datang kembali, Alcor-sama!”
“Tumben datang lebih cepat? Kangen sama Ayato-donno nya sudah hilang, ya?”
Dan, selanjutnya yang terjadi adalah terbakarnya dua Shinigami yang dilaporkan telah meyulut kemarahan Sekai no Owari hingga melebihi batas.
[Oke. Lebih baik kita skip scene ini.]

“Sekarang jelaskan, kenapa kalian bertengkar di kamar ku?!”
Alcor menatap penuh kekesalan pada dua Shinigami dihadapannya itu. Kamarnya sudah lebih baik dari sebelumnya. Berterima kasihlah pada Marc yang berbaik hati mau membereskan sisa-sisa peperangan super tak penting dalam sejarah dunia. Tak terlihat sedikitpun sisa bara api yang dikeluarkan oleh Sekai no Owari berkekuatan api tersebut disana.
Albarn merengut panjang pendek. Disenggolnya bahu Shizuhime yang berada di sebelah kanan nya dan menatapnya dengan tatapan kau-saja-yang-menjelaskan.
Shizuhime hanya memutar matanya kesal. Sambil berlutut penuh penghormatan pada Alcor, ia angkat bicara,
“Tuan Muda Alcor yang terhormat, maafkan kesalahan saya dan teman saya yang sedikit aneh ini. Semua ini salah saya. Saya yang terlalu serius menanggapi candaan Albarn. Dia mengejek tentang tinggi badanku..” jelas Shizu sambil sesekali melirik kearah Albarn dengan tatapan membunuh. Seakan-akan melalui tatapannya, ia ingin sekali melempar Shinigami bodoh yang menjadi partnernya itu kembali ke neraka.
“Yayaya..” Alcor memutar matanya bosan, “Sekarang, kalian berdua segera keluar dari sini karena aku ingin istirahat.” Katanya melambaikan tangan guna mengusir dua Shinigami itu.
Albarn dan Shizuhime mengangguk kemudian beranjak dari tempat, hendak meninggalkan Alcor sendiri atas perintahnya. Namun, belum sempat mereka mencapai pintu kamar, Alcor melanjutkan kata-katanya.
“Dan sebagai hukuman, Albarn, kau pergi ke dunia E X Class dan pantau para users di sana. Berikan laporan tentang kegiatan sehari-hari mereka yang memiliki kekuatan The Elemental. Aku ingin penjelasan yang konkrit.”
Albarn memasang ekspresi seakan dirinya adalah seseorang yang paling terkhianati di seluruh dunia. Namun karena tahu bahwa perintah Alcor sebagai Sekai no Owari itu mutlak, ia hanya bisa mengeluh panjang pendek sebagai jawaban. Alcor kemudian menoleh pada Shizu yang menyerinagi takut akan tugas sang temannya yang sangat ‘daebak’.
‘Mengawasi dunia E X Class? Yang berisi para manusia berkekuatan tak wajar dan mengerikan meski masih remaja? Hiii! Lebih baik aku memberi makan para beast di Dungeon, deh!’ Pikir Shizu merinding.

“Dan untuk Shizu,”
“E-Eh, iya ?”
Alcor menyeringai jail, “Kau tugasnya untuk mengawasi Albarn selama dia berada di dunia E X Class. Itu saja.”
“WHUAT?! Aku? Mengawasi orang idiot ini di dunia menyeramkan itu?!” tanya Shizu kaget dengan raut wajah tak percaya. “Gyaaa..! Aku pasti bermimpi! Iya, Ini pasti mimpi !!! Tidaaaak..!! ” pekik nya putus asa.
“Sudah, sudah.. Laksanakan saja. Jangan lupa, ya~ Kembali paling cepat senin lusa. Selamat bertugas!” Alcor menyeret dua orang itu sebelum menutup pintu kamar dengan seringai jahil terpasang di wajahnya.
“Khukhukhu.. Rasakan itu! Berani mengacaukan kamarku lagi, kalian akan kuberikan hukuman yang lebih berat! Nyurufufufu~” kekeh Alcor dengan kejamnya dalam hati.

Well, setidaknya mereka berdua masih dapat kembali ke Aincrad lagi, kan?
Yah, semoga.

To Be Continued

Cerpen Karangan: Al managim
Blog / Facebook: Alya Nurul
Hanya seorang author Otaku yang bercita-cita menjadi seorang komikus..

Cerpen End of The World (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


9 Bulan

Oleh:
Menjadi seorang Ayah bagi kebanyakan Pria memang sebuah cita-cita. Apalagi pada kelahiran pertama. Terkadang Ayah-ayah muda ini terlalu antusias. Belum-belum anak mereka lahir, mereka sudah membelikan ranjang tidur bayi,

My Ears Feel You

Oleh:
Hantaman bom dan suara tembakan pistol dari kompeni seakan terbiasa terdengar di telinga gadis muda yang buta bernama sekar, perawat para tentara pribumi itu, dia dengan cekatanya menemukan luka

Think All About People

Oleh:
“Apakah kau tahu, hari ini ada murid baru yang akan masuk ke kelas kita. Katanya sih, dia cantik banget. Blasteran dari Brazil!,” bisik perempuan yang tengah duduk bergerombol dengan

Isi Batok Kepala Bertengkar

Oleh:
Seorang pengamen duduk di sisi trotoar perumahan sejenak melepas lelah setelah berteriak ‘menyanyi’ mencari selogam dua logam rupiah. Dipeluknya gitar dengan kedua lengannya, sebatang korek api terselip di sudut

Garsel

Oleh:
Dia. Aku hanya bisa menatapnya dari jauh. Paling dekat aku hanya bisa menatapnya dengan jarak 10 cm. Hanya itu. Paling jauh adalah saat dia. menghilang dariku. Entah kenapa aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *