Eye

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 22 January 2014

New York, Desember, 15, 2013
Porsche putih itu melaju kencang. Pengemudinya membanting setir ke kiri menghindari truk tronton di depannya, mengakibatkan mobil menabrak pagar jalan. Benturan terdengar memekakkan telinga. Mobil terguling ke badan jalan, terseret jauh, lalu diam.

Dua penumpangnya tak sadarkan diri. Shim Changmin sadar lebih dulu. Yang dipikirkannya begitu membuka mata adalah kondisi Kim Junsu. Susah payah, dia menoleh ke kanan. “Hyung [Kak]…,” lemah dia memanggil laki-laki itu. Junsu tak bergerak. Wajahnya seperti tersiram darah dan matanya terpejam.

Airmata Changmin bercucuran saat dia berusaha melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya. “Hyung…,” lemah panggilannya, berusaha meraih Junsu. Tidak sampai.
“Ponsel… ponsel…,” gumam Changmin. Kepanikannya dengan keadaan Junsu membuat pemuda itu nyaris tidak merasakan perih luka di kepalanya. Seolah menjawab Changmin, sebuah dering terdengar keras dari lantai mobil. Changmin sedikit membungkuk, meringis karena tulangnya terasa dicabuti saat dia melakukan itu. dia meraba-raba lantai mobil sampai menemukan ponsel.
“Yeoboseo [halo?]? Changmin-ah, kau dan Junsu main kemana dulu? Kenapa lama sekali sampainya? Makan malam sampai dingin…”
“Hyung… mobil kami kecelakaan…,” Ponsel itu terjatuh dari tangan Changmin. Kepala pemuda itu kini terkulai lemas.
“Changmin? Changmin?”

Seorang wanita usia 48 tahun menangis tersedu-sedu di pundak suaminya. Dokter yang berdiri di hadapan kedua orang itu tampak tidak nyaman, lalu mohon diri.
“Operasinya berhasil…,” tangis wanita itu. “Tapi kenapa, kenapa Fraya masih koma… kenapa dokter tidak tau kapan putri kita sadar, Pa…”
“Ssst, Ma, istighfar. Mama yang tenang ya,” hibur sang suami meski airmatanya juga ingin tumpah ruah.
“Mama pengen Fraya sadar, Pa… ini sudah hampir satu bulan… kenapa Fraya, kenapa dia belum sadar-sadar, Paaa…”

Jantung Changmin serasa mencelos mendengar berita keadaan Junsu. Wajahnya yang sudah pucat semakin pias. Dokter Cabot menatap pemuda itu penuh simpati. Selama beberapa saat, hening menyelimuti ruangan dokter bedah ternama itu. Baik Changmin maupun Yoochun tak bersuara.
“Buta permanen, Dokter?” akhirnya Yoochun berkata. Hanya ingin memastikan telinganya tadi tidak salah dengar. Dokter Cabot mengangguk, berarti telinganya baik-baik saja. Tapi, buta? Junsu?
“Benturan keras di kepalanya merusak bagian otak yang berhubungan dengan syaraf mata,” kata Dokter Cabot menjelaskan. “Mr. Kim cukup beruntung tidak mengalami luka serius lainnya. Mengingat kecelakaan itu sudah meringsekkan mobilnya. Dan Mr. Shim,” angguknya pada Changmin. “Juga bisa dibilang baik-baik saja.”

Ya, memang. Changmin hanya perlu di-rontgen bagian kepalanya, namun tidak ditemukan luka atau keretakan yang membahayakan. Luka luar cukup diperban dan lengan kanannya digips. Seperti kata dokter itu, mengingat kecelakaan dua hari lalu itu sudah meringsekkan sebuah Porsche. Tidak adanya luka dan cedera serius pada Changmin adalah suatu keajaiban. Begitu juga Junsu, selain matanya yang jadi buta.
Yoochun mengepalkan tangannya. Polisi telah mengamankan siapa sopir truk ceroboh yang mabuk pada saat sedang mengemudi. Keadaan bapak itu lebih parah daripada Changmin dan Junsu.

Kedua pemuda itu keluar dari ruang Dokter Cabot. Berjalan di lorong John Hopkins Hospital, masih saling diam.
Junsu hyung buta? Buta? Buta? Changmin melangkah seperti tidak memijak lantai. Dokter bilang satu-satunya jalan supaya Junsu bisa melihat lagi adalah dengan transplantasi kornea, tapi siapa yang hendak menyumbangkan kornea dengan sukarela? Yoochun memasukkan kedua tangannya ke saku long coat cokelatnya.
Kecuali orang itu sudah mati.

Dunia penuh warna.
Dulu. Dan dia baru menyadari itu ketika kemampuan melihat sudah diambil darinya. Junsu kembali memejamkan mata. Lebih baik berpura-pura sedang tidur daripada membuka mata tapi yang dia lihat hanya warna hitam.

Beberapa saat matanya terpejam, perasaannya mengatakan ada seseorang di kamar rawat tempatnya kini berada. Junsu berdecak pelan saat hidungnya mencium wangi yang sudah dikenalnya dengan sangat baik.
“Kaukah itu, Yunho hyung?” Junsu berusaha bangkit dari posisi berbaring. Seseorang datang membantu menata bantal untuk sandaran Junsu.
“Bagaimana kau bisa tau? Aku bahkan baru membuka pintu,” kata orang itu. Dia kedengarannya takjub. Junsu tersenyum kecil.
“Mataku tidak bisa berfungsi, tapi inderaku yang lain semakin tajam kemampuannya. Terutama feeling,” kata Junsu. “Kau bawa makanan apa?”
“Wow, kau bahkan tau aku bawa makanan. Ck, ck,” geleng Yunho. Dia menarik kursi ke dekat ranjang, lalu mengangkat sebuah rantang besar dari lantai. “Taraaa! Jaejoong memasak makanan kesukaanmu.”
“Hmm… sepertinya enak. Tolong siapkan sarapanku, hyung.”
“Ne [ya].”

Yunho sedang membuka rantang itu satu persatu. Sementara Junsu diam dengan mata menatap lurus dan kosong. Yunho miris melihat ini. Digigitnya bibir supaya airmatanya jangan mengalir. Dia tidak ingin Junsu merasa terbebani dengan kesedihannya.
Junsu yang ceria, yang suka dibikin lelucon oleh teman-teman lain, yang lucu, kini duduk dengan pandangan hampa.
“Apa yang kaupikirkan, hyung?”
Yunho tersentak. “Ehm, aniyo~ [tidak],” jawabnya, tersenyum. “Mau kusuapi?”
“Ya, tolong. Jaejoong hyung tidak ikut denganmu?” tanya Junsu sebelum membuka mulut menerima sesuap bubur beras merah. “Mmm~ masakan Jaejoong hyung enak sekali seperti biasa,” senyum pemuda itu.
“Jaejoong sedang mengurus beberapa pembatalan penampilan JYJ, Yoochun sedang ada urusan,” di kantor polisi, batin Yunho. “Changmin… kami menyuruhnya istirahat di apartemen.”
“Oh ya, bagaimana keadaan si bodoh itu? Yoochun bilang dia harus di CT scan beberapa kali. Apa luka di kepalanya serius, hyung?”
Yunho menghela nafas tanpa suara. “Kau ini. Changmin tak perlu kau risaukan. Dia baik-baik saja, Junsu-ah. Dia sedang berusaha mencarikanmu donor mata.” Tapi susah, Junsu-ah. Kau masih harus menunggu untuk bisa mendapatkan kornea. Kecuali ada yang mau mendonorkannya untukmu.
Junsu mengangguk, tersenyum kecil. “Ne, daripada menganggur di apartemen lebih baik dia melakukan itu untukku,” candanya. Yunho kembali menyuapkan bubur pada Junsu.
“Hyung?” panggil Junsu setelah beberapa saat mereka berdua diam saja.
“Hm?”
“Mianata [maaf], hyung. Selama kita berpisah, aku tidak pernah mencoba menghubungimu.”
Yunho menelan dengan susah payah. Kenapa tiba-tiba Junsu mengingatkan perpisahan yang menyakitkan itu? Perpisahan tanpa saling kontak atau bertemu hanya karena masalah dengan manajemen artis mereka. Sungguh berat karena hatinya dengan Junsu, Yoochun, dan Jaejoong, serta Changmin terikat begitu erat. Tapi hal itu adalah masa lalu. Masa lalu yang menyadarkan Yunho betapa dia sangat menyayangi keempat temannya itu.
“Gwaenchana [tidak apa-apa], Junsu-ah. Kita sudah bertemu sekarang,” senyum Yunho.
“Ne, aku senang,” ujar Junsu. “Aku menyesal tidak bisa melihatmu dan Changmin lebih lama, hyung… kau tau, dulu aku sering mengeluh kenapa kita tidak bisa hidup bersama terus. Tak terlintas di pikiranku, meskipun kita berlima berpisah, aku masih bisa melihatmu dan Changmin di tivi di media manapun dan mendengar kalian bernyanyi. Sekarang aku kehilangan mataku… hanya bisa merasakan kehadiran kalian, mendengar suara kalian…”
Yunho bernafas lewat mulut sebelum keran airmatanya bocor.
“Kajja, mogo, Junsu-ah.” [ayo, makan]

Kalau saja dengan jutaan dolar yang dimilikinya dia bisa memperoleh sepasang kornea.
Pikiran itu akhir-akhir ini sering berputar di benak Junsu. Tapi siapa coba yang mau menjual korneanya demi jutaan dolar. Buat apa jutaan dolar kalau tidak bisa melihat? Junsu memainkan ujung selimutnya. Kepala sedikit dimiringkan, tanpa sadar. Telinganya yang sensitif mendengar kesibukan di luar kamar rawatnya.

Langit pasti putih bersih. Warna yang biasa mewarnai langit ketika menjelang Natal. Dan pohon cemara hijau berornamen merah dan emas. Para sinterklas di trotoar menahan hawa dingin dan membagikan coklat serta permen.

Di kamar Junsu juga ada pohon Natal berukuran kecil yang dibawa Yoochun setelah membujuk suster—yang ngotot tidak boleh membawa hiasan natal yang mengganggu ruang gerak ke kamar pasien—dengan pesona feromonnya. Ornamen di pohon itu dipasang oleh Junsu berdua Yoochun seharian tadi. Tapi karena pemasangannya didominasi Junsu, pohon Natal itu terlihat berantakan, kecuali bintang di puncaknya.

Hhh, helaan nafas lembut lolos dari celah bibir Junsu. Andai bisa melihat, lagi-lagi dia berpikir tentang itu. Tidak bisa tidak. Meski berkali-kali dia membujuk hatinya supaya ikhlas. Mau marah, sama siapa? Pada Tuhan? Pada Changmin? Kenapa Changmin hanya cedera ringan di kepala dan patah lengan? Pada Jaejoong hyung? Kalau saja malam itu Jaejoong tidak menyuruhnya menjemput Changmin di bandara. Junsu mengacak-acak rambutnya. Aniyo, dia tidak marah. Tepatnya, dia tidak bisa marah. Dari dulu dia selalu percaya ada sesuatu yang berharga dibalik setiap kejadian. Kepercayaan itulah yang membuatnya tidak pernah menyesali apa pun yang terjadi padanya.
Begitu pun sekarang.

Junsu menoleh ke pintu. “Siapa?”
Tidak ada jawaban. Kening Junsu berkerut. Dia tidak mungkin salah dengar. Barusan ada seseorang, gadis, sedang menyanyi lirih dari arah pintu kamar rawatnya. Setelah sunyi sedetik, suara itu kembali terdengar. Junsu diam saja, tapi gestur tubuhnya penuh perhatian.
“Lo bisa dengar suara gue?” tanya gadis itu, heran. Bahasa Inggrisnya asing di telinga Junsu. Anehnya, dia mengerti maksud ucapan si gadis. Seolah otaknya langsung menterjemahkan kalimat gadis itu agar dimengerti Junsu.
“Tentu saja. Aku kan punya telinga,” sahut Junsu. “Kau siapa? Pasien juga ya? Kau pasti salah masuk kamar, Nona.”
“Nggak salah kok. Gue memang lagi jalan-jalan. Kebetulan aja lewat kamar lo.” Gadis itu melangkah mendekati ranjang Junsu, lalu duduk di kursi yang sepagian tadi diduduki Yoochun. “Tadi gue ngeliat ada cowok ganteng banget masuk ke kamar ini.”
Junsu tersenyum geli. Dari nada suara gadis itu, pasti usianya masih belasan tahun. Mungkin 16 atau 17. “Oh, itu temanku. Kau ke kamarku karena penasaran dengan temanku? Kau ingin kukenalkan padanya ya?”
Gadis itu mengibaskan tangannya, belum tau kalau Junsu tidak bisa melihat. “Nggak perlu. Gue udah tau. Namanya Yoo…” Kening gadis itu berkerut. “Yochen,” lanjutnya. “Namanya aneh banget ya.”
“Yoochun [baca: Yuchun], Nona,” senyum Junsu geli. “Namanya tidak aneh jika di Korea.”
“Oooh. Jadi lo berdua orang Korea? Hahaha, kirain orang Cina. Abisnya mata kalian pada sipit, trus kulitnya putih banget. Di Indonesia, orang yang ciri-cirinya kayak gitu tuh ya kebanyakan keturunan Tionghoa.”
Junsu mengangguk. “Baiklah. Aku harus beristirahat. Kau bisa keluar dari pintu itu, Nona…”
“Fraya!” sambung gadis itu sembari mengulurkan tangannya ke Junsu. Dia heran waktu Junsu tidak menyambutnya. Jangan-jangan… Fraya menduga-duga. Benar kan, aku memang nggak bisa dilihat. Dia menghela nafas, tangannya masih terulur. Tapi kakak ini bisa ngedengar gue, kok nggak bisa ngeliat?
“Terima kasih atas kunjunganmu,” senyum Junsu, lalu dia membaringkan tubuhnya dan merapatkan selimut. Tepat saat itu seorang suster masuk.
“Selamat sore. Bagaimana keadaan Anda, Mr. Kim?” sapa suster itu.
“Baik-baik saja, Suster Lynch,” sahut Junsu, mengenali suara suster yang sering berkunjung untuk mengecek keadaannya.
Suster Lynch mengecek suhu tubuh Junsu sebelum memeriksa mata pemuda itu dengan senter kecil. Tidak ada reaksi pupil sekecil apapun.
“Yes. I think you are healthy like a horse,” senyum Suster Lynch. “Kalau kondisi Anda terus baik seperti sekarang, tak lama lagi Dokter bisa mengizinkan Anda pulang.”
“Oh ya, Suster, apa sudah ada donor mata untuk saya?”
Fraya, yang dari tadi mendengarkan dengan penuh perhatian, kini memandangi Junsu lebih seksama. Mata Junsu menatap lurus tapi tidak fokus pada objek yang dilihatnya, bahkan sama sekali tidak berkedip seperti yang biasa dilakukan sepasang mata normal. Gadis itu mengusap-usap tangan kanannya sendiri. Pantas tadi dia tidak menjabat tanganku, kirain nggak mau salaman, pikir Fraya.
“Bersabarlah, Mr. Kim,” jawab Suster Lynch. “Sekarang Anda harus istirahat.”
“Terima kasih, Suster.”
Suster Lynch mengangguk. Fraya menunggu sampai suster itu keluar dan menutup pintu, lalu dia duduk di tepi ranjang Junsu.

“Kau masih disini?” tanya Junsu heran. Kenapa suster tadi tidak menyuruhnya pergi?
“Maafin gue ya?”
“Ha? Maaf buat apa?”
“Gue kira lo sombong nggak mau salaman sama gue. Taunya lo emang nggak bisa ngeliat.”
Junsu tidak mengerti. Tak memedulikan ekspresi nggak mudheng di wajah Junsu, Fraya menaikkan kakinya hingga bersila di atas ranjang. Tanyanya, “Eh, tapi lo kok bisa tau sih kalo gue ada di kamar lo?”
“Gadis kecil, kalau kau tidak menyanyi dengan suaramu yang pas-pasan itu, aku tidak akan tau kau disini. Sekarang kembalilah ke kamarmu, aku mau tidur.”
Fraya cengar-cengir suaranya dibilang pas-pasan.
“Nama lo…,” Fraya membaca label nama di gelas susu yang sudah kosong. “Kim Junsu. Lo lebih tua bertahun-tahun dari gue… hm, sebenarnya gue paling anti manggil orang laen kakak. Tapi kelihatannya lo orang baik, jadi gue akan manggil lo kakak,” senyum Fraya lebar.
Junsu mendengus. Memangnya siapa peduli? Kenapa suster tadi tidak membawa anak ini pergi sih?
“Kenapa mata Kakak buta?”
Junsu menghela nafas. “Kecelakaan.”
“Oh.” Fraya mengangguk-angguk. “Gue juga kecelakaan, Kak. Kakak masih mending, buta tapi sehat wal afiat. Kalo gue, entah kapan bisa sadar lagi.”
“Bisa sadar?” tanya Junsu menyadari keanehan ucapan Fraya. Gadis itu berkata seolah keadaannya parah. Kalau parah, memangnya mungkin dia bisa ada di kamar Junsu dan mengobrol dengannya.
“Hm-mm. sepertinya keadaan gue parah banget. Gue ngeliat Mami nangis terus. Kalau Papi kelihatannya tabah, tapi gue kuatir kalau beliau terus memendam perasaan sedihnya. Kasihan. Kenapa ya, Tuhan nggak ngambil nyawa gue sekalian daripada gue bikin Mami-Papi sedih gini. Hidup – mati nggak jelas. Biaya RS di New York kan nggak murah.” Entah Fraya ini sedang menggerutu atau sedang curhat. Tapi Junsu diam saja mendengarkan.
“Kau ditabrak atau kau ngebut lalu menabrak sesuatu, mungkin?”
Kening Fraya berkerut sekejap, raut wajahnya berubah sedih. Mobilnya meluncur cepat di jalan raya New York yang licin sehabis turun salju. Demi menjemput adiknya, Athena, di bandara. Saking ngebutnya, dia langsung panik waktu ada orang tiba-tiba melompat ke badan jalan. Menghindari orang itu, Fraya refleks membanting setir ke kiri dan menabrak sebuah truk Fedex yang sedang melaju. Saking kerasnya tabrakan itu, badan Fraya sampai terlempar keluar melalui kaca depan mobilnya. Dia langsung tak sadarkan diri begitu kepalanya membentur aspal jalan.
“Gue dengan sombongnya nggak pasang seat belt, ngebut pula.” Fraya tersenyum mengejek kebodohannya. “Padahal Mami udah wanti-wanti. Hati-hati, Fraya Sayang, jalan licin,” lanjut Fraya diiringi hela nafas berat. Penuh penyesalan.
“Gue anggap remeh nasihat Mami, sebab gue merasa… Lo ngerti kan, gimana perasaan seseorang yang jago nyetir sewaktu dinasehatin ibunya yang naik sepeda aja nggak bisa,” cengir Fraya, kecut. Junsu mengangguk.
Tangannya terulur, mencari-cari, kemudian terhenti di wajah Fraya. Gadis itu kaget. “Hei, you can touch me!” serunya takjub.
“Kau sadar, tidak? Bicaramu aneh dari tadi, tau.”
“Hehehe, intinya, gue senang banget ada yang bisa ngeliat gue, Kak. Tau nggak sih, gue frustasi dari sebulan lalu gue berusaha ngomong sama Mami – Papi – Athena, tapi semuanya nyuekin gue.”
“Baiklah. Anggap saja aku sudah gila karena mau mengobrol dengan gadis yang tidak bisa dilihat orang lain,” gerutu Junsu.
“Eh, gimana kalo kita jalan-jalan, Kak. Gue bosen sendirian terus. Kita jalan-jalan yuk, Kak.” Fraya menarik-narik lengan seragam pasien Junsu.
“Ahh, tidak mau. Aku lelah.”
“Tapi di luar indah lho, Kak. Lumayan cerah meski dingin. Yuk, yuk. Jarang-jarang cuaca cerah di musim salju kayak gini.” Fraya masih tidak menyerah. Junsu menghela nafas, lalu membuka selimutnya.
“Baiklah,” ujar pemuda itu, lalu mengulurkan tangan. “Tolong aku turun.”
“Oke, Jenderal!!”

Fraya beruntung, lorong rumah sakit sayap kanan tidak terlalu ramai orang lewat. Jadi tidak ada yang curiga melihat Junsu yang buta sedang jalan-jalan sendirian tanpa meraba-raba. Karena digandeng olehnya, Junsu tidak terlihat seperti orang buta. Tak ada yang menyangka Junsu buta. Lagipula Junsu mengenakan mantel tebal di atas seragam pasiennya. Kemungkinan digiring suster kembali ke kamar rawat kecil sekali.
“Kau mau membawaku kemana, gadis kecil?”
“Ih, Kakak, namaku bukan gadis kecil. Fra-ya,” eja Fraya.
Tidak sadar sudah ber-aku. Junsu rupanya menyadari itu juga. Dia merasa sebutan aku lebih halus dibanding gue. Tapi dia masih heran kenapa dia bisa mengerti bahasa asing gadis ini? apakah ini juga termasuk kemampuan lebih karena dia buta? Kalau ya, Junsu pengennya bisa jago ngomong bahasa Inggris. Changmin dan yang lain pasti terkaget-kaget dan berhenti mengejek bahasa Inggrisnya yang kacau.
“Kakak, kenapa senyum-senyum?”
“Ah, tidak. Hanya terlintas sesuatu. Tadi kau tanya apa?”
“Aku nggak nanya apa-apa. Kubilang namaku Fraya.”
“Oh, iya, aku dengar kok, gadis kecil.”
Fraya cemberut. Dibimbingnya Junsu ke sebuah bangku berkanopi. Bangku logam itu terasa dingin ketika diduduki, tapi hanya Junsu yang merasakannya. Untung saja mantelnya cukup tebal. “Ada apa disini?” tanya Junsu.
“Langit ungu gelap. Lampu-lampu kota. Hiasan Natal kelap-kelip. Pohon-pohon beranting putih. Es tipis yang menggantung di ranting. Tumpukan salju di pinggir trotoar. Kakak bisa bayangin?”
“Pasti indah sekali,” gumam Junsu. Fraya menaikkan kedua kakinya ke bangku.
“Aku rela membayar berapa pun, melakukan apa pun, asal bisa sadar dari koma,” gumam gadis itu. “Kalo aku sadar nanti, pertama-tama aku akan minta maaf sama Mami.”
“Semoga keinginanmu terkabulkan,” Junsu mengamini.
“Kalo Kakak, apa yang akan Kakak lakukan setelah dapat mata baru?” Fraya menoleh ke Junsu.
“Aku ingin melihat wajah orang-orang yang kucintai.”
“Waaah, Kakak punya cewek ya?” goda Fraya, usil.
“Bukan pacar, dasar anak perempuan. Maksudku, teman-temanku, adikku dan ibuku. Dasar, memangnya orang yang dicintai itu mesti pacar, apa?”
Fraya cekikikan saja dimarahi begitu, malah semakin usil menggoda Junsu. Lucu melihat wajah kakak itu jadi meeeerah.
Lama sekali mereka duduk-duduk disana, mengobrol dan menertawakan banyak hal. Belum pernah Junsu merasa sehidup ini sejak kecelakaan waktu itu. begitupun Fraya.

“Kau darimana saja? Kami semua panik mencarimu!”
Begitu tiba di kamarnya, Junsu langsung kena omel Jaejoong dkk. Dia tau Fraya masih ada di kamar ini dengan mereka berlima. Dia mendengar gadis itu berseru histeris mengagumi wajah tampan Jaejoong, Yunho, Changmin dan Yoochun. Suaranya, yang dibilang pas-pasan oleh Junsu tadi siang, terdengar nyaring sekali.
“Apa kalian mendengar sesuatu?” Junsu kuatir.
“Dengar apa?”
“Dia hanya mau mengalihkan perhatian.”
“Hya, kalian berempat tega sekali! Aku kan sedang sakit, kenapa malah dimarahin?” gerutu Junsu saat dibantu Yoochun naik ke ranjang.
“Kami kuatir.” Yunho.
“Hyung, bagaimana kalau kau terjatuh atau apa?” Changmin.
“Kau jalan-jalan kemana sih? Kayaknya seluruh rumah sakit sudah disatronin, tapi tidak ada yang berhasil menemukanmu.” Yoochun.
“Aku buatkan makan malam untukmu, Junsu-ah.” Jaejoong.
“Ya ampun, Kak!! Ini benar-benar sesuatu! Teman-teman lo cakep-cakep bangeeet!” itu Fraya.
“Sudahlah. Kau kembali saja ke kamarmu, gadis kecil,” cengir Junsu.
“Gadis kecil?” Jaejoong tolah-toleh. “Kau bicara padaku?”
“Bukan, bukan. Aku…” Junsu tersadar Fraya memang tidak bisa dilihat oleh siapa pun. Kehadiran gadis itu hanya bisa dirasakan olehnya. Junsu mengibaskan tangan, “Lupakan saja.”
“Oh iya, hyung. Aku sudah mendaftarkan namamu di bank organ. Mereka bilang, kita akan dihubungi kalau ada kornea yang cocok denganmu.”
“Arraso [aku mengerti]. Komawoyo [terima kasih], Changmin-ah,” senyum Junsu.
“Kakak, kau sedang cari donor mata ya?” tanya Fraya. Dia kini duduk di samping Junsu.
“Ya. Kalau aku beruntung, aku ingin melihat dunia lagi, gadis kecil.”
Siing~ Keempat teman Junsu memandang pemuda itu, lalu saling bertukar pandang. Junsu bicara sama siapa ya? Siapa yang dipanggilnya gadis kecil? Jaejoong celingukan, apa mungkin ruangan ini ada hantunya? Dia dan Yunho bertatapan aneh.
Fraya ber-oh, lalu diraihnya tangan Junsu. “Kak, kalo hidupku emang nggak lama lagi, aku bakal donorin mataku ke Kakak. Soalnya Kakak baik sih, trus orangnya nyenengin.”
Junsu tersedak nasi yang sedang dikunyahnya. “Hya, pelan-pelan, Junsu-ah,” kata Jaejoong, kemudian menyuruh Yoochun mengambilkan air minum.
“Uhuk, uhuk… mian, hyung… uhuk.” Junsu berpaling ke sebelah kirinya, tempat dia mendengar suara Fraya. “Kau bercanda,” ujarnya. Tak peduli dengan tatapan aneh keempat sahabatnya. Melihat itu, Fraya cengengesan.
“Hihihi, Kakak nggak usah ngomong sama aku lagi deh. Tau nggak sih, dari tadi Kakak dipandangin mulu sama teman-teman Kakak. Dikirain gila kali, hahaha.”
Junsu tersenyum kecut.

Di kamar pasien VIP nomer 237, tubuh Fraya mulai bereaksi. Tangannya yang selama sebulan lebih terkulai di samping tubuhnya, kini perlahan bergerak. Melihat gerakan jari kakaknya, Athena yang baru selesai mengaji lalu melompat dari kursi tempat dia duduk. “Kak Fraya?” panggilnya. Dia menekan tombol memanggil dokter jaga, lalu keluar untuk memanggil Mami dan Papi.
“Mami! Papi! Kak Fraya sadar!” seru Athena, girang. Kedua orangtuanya masuk ke kamar rawat Fraya berbarengan dengan Dokter Darrel, yang langsung memeriksa keadaan Fraya.

“Ayo makan, Sayang. Aaa~” Mami menyodorkan sesendok bubur asin ke mulut Fraya.
“Mmm~ enak, Mam.”
Mami tersenyum senang. “Kamu bilang aja sama Mami mau makan apa. Mami bakal bikinin, ya?”
Papi, yang sedang duduk di sofa memandangi keduanya, nimbrung, “Jangan semua dibikinin tapi, Mam. Fraya kan masih belum bener-bener sembuh.”
“Iya, Papi. Aduh, Papi ini, Mami kan senang banget Fraya udah sadar.”
Fraya senyum-senyum memandangi kedua orangtuanya. “Mami, Fraya minta maaf ya. Dulu itu, kalau Fraya nurut sama Mami, pasti Fraya nggak bakal kayak gini. Nggak bikin susah Mami dan Papi.”
“Mami juga minta maaf sama kamu ya, Fray.”
Fraya bengong. Mami minta maaf buat apa? Tapi dia mengangguk saja, lalu berpaling ke Papi. “Papi, Fraya minta maaf sama Papi ya.”
“Sama Athe juga, Kak?” celetuk si adik.
“Iya, sama lo juga, anak jelek,” kekeh Fraya. Athena mendengus. “Fraya sayang kalian bertiga. Fraya bahagia dilahirkan sebagai anak Mami dan Papi dan kakaknya Athena.”
Papi menelan perasaan harunya. “Kamu lagi pengen gadget apa, Fray?” godanya.
Fraya nyengir. “Papi tau aja, hehe. Hmm, Papi, Mami, Fraya mau minta satu hal sama kalian berdua. Fraya… minta supaya mata Fraya didonorkan. Ya, Mi, Pi?”
Kedua orangtuanya tertegun. Athena bengong. Fraya, tidak menyadari keanehan tatapan keluarganya, turun dari ranjang perlahan-lahan. “Aku sayang Mami,” ujarnya sambil memeluk ibunya.
“Mami juga, Fraya Sayang.”
Dipeluknya Athena. “Aku sayang anak jelek.”
“Kak Fraya, aduuh, sakit leherku. Meluknya jangan kencang-kencang dong, Kak.”
“Iya, iya, dasar cerewet lo nih.”
“Hehe, aku juga sayang kakak.”
“Aku sayang Papi,” kata Fraya, gilirannya memeluk sang ayah.
“Papi juga, Nak…”
Fraya melepaskan pelukan Papi sambil tersenyum. “Tolong anterin Fraya ke kamar mandi dong, Pi,” katanya ngalem sebelum tiba-tiba mata gadis itu membelalak dan tubuhnya ambruk ke lantai. Mami dan Athena menjerit kaget.
“Fraya!! Fraya!! Athe, panggil dokter! Cepat!”

Di kamarnya, Junsu bertanya-tanya kenapa Fraya tidak lagi datang ke tempatnya.

“Operasi transplantasi korneanya berhasil. Besok perban di mata Mr. Kim bisa dibuka.” Kalimat Dokter Barret menerbitkan senyum di bibir keempat pemuda itu.

Sebuah keajaiban telah terjadi. Ada seorang pasien yang sebelum meninggal bersedia mendonorkan kornea matanya. Selang dua hari setelah meninggalnya pasien itu, Dokter Barret segera menyiapkan operasi transplantasi untuk Junsu.
Changmin ingin menangis saking leganya. Selama ini dia merasa bersalah pada Junsu-hyung. Andai saja waktu itu dia naik bus saja, Junsu hyung tidak perlu menjemputnya. Mungkin semua akan baik-baik saja. Seseorang menepuk pundak Changmin.
“Sudahlah, Changmin-ah,” kata Yoochun. “Junsu tidak menyalahkanmu, tidak ada yang menyalahkanmu. Jangan mikir macam-macam. Yang penting kan Junsu sudah tidak apa-apa.”
“Iya, hyung.”
“Lalu kenapa matamu berkaca-kaca?”
“Mana? Oh, ini… aku kelilipan salju, duh…” Changmin menggosok kedua matanya.

Perban mata Junsu jadi dibuka besok paginya. Dokter Barret yang membantu melepaskan perban itu perlahan-lahan. Junsu sampai gemas. Pengennya dia tuh sret-sret selesai. Perasaan kok lama sekali ya? Junsu harus menahan tangannya supaya tidak menarik si perban.
“Nah, sekarang bukalah mata Anda, Mr. Kim,” kata Dokter Barret.
Di sekeliling ranjang pasien, Jaejoong dkk menatap Junsu dengan ekspresi senang campur deg-degan. Sementara itu kelopak mata Junsu sedikit bergetar saat sedang bergerak terbuka. Secercah cahaya melesat menembak pupil mata, Junsu mengerjap-ngerjapkan matanya. Silau. Silau? Itu Changmin — syukurlah perban di kepalanya sudah dibuka. Jaejoong hyung — apa dia ke salon dulu sebelum kesini? Kenapa wajahnya terlihat begitu cemerlang? Dan Yoochun — kenapa dia cengar-cengir begitu? Dan Dokter Barret — omo [astaga]… dokter yang merawatku ternyata masih muda sekali, ck, ck, lalu itu susternya kan. Yunho hyung… mana dia?

Brak. Pintu kamar dibuka dari luar. Yunho terengah-engah masuk dan menutup pintu. Uap putih keluar membarengi nafasnya. “Junsu-ah!” serunya. “Kau bisa melihatku? Bisa?” sambil melepaskan syal di lehernya, Yunho mendekati ranjang.
“Hyung,” senyum Junsu, menyambut pelukan Yunho. Ketiga sahabatnya pun ikut memeluk mereka berdua. Dokter Barret dan suster berdiri saja di pinggir melihat kelima pemuda itu berpelukan.
Betapa senangnya mendapatkan kembali cahaya di sekelilingnya. Warna-warni benda. Ya Tuhan, rasanya seperti mimpi sampai Junsu berulang kali membuka dan memejamkan matanya untuk meyakinkan diri.

Kening Jaejoong berkerut. “Pendonor matamu? Aku tidak tau, Junsu-ah. Pihak rumah sakit kan tidak mau memberitahu data-data rahasia semacam itu.”
“Oh, begitu.”
“Ayo, barang-barangmu sudah dikemas. Kita pulang sekarang?”
“Nde, hyung. Kajja.”
“Oh ya, Changmin ada di apartemen kita. Dia sudah memasak untuk menyambutmu pulang. Jadi sebaiknya kau makan saja apa pun yang dimasaknya ya,” cengir Jaejoong.
“Mwo? Dia memasak?!” Tampaknya Junsu terkejut. “Hyung, kenapa tidak kausuruh dia menjemputku saja dan kau yang masak?”
“Yaa gimana ya? Dia memaksa sih. Jadi mana aku tega, hehe.”
“Aku akan pura-pura lemas saja biar dia tidak memaksaku makan apapun yang dia masak,” gerutu Junsu disambut gelak tawa Jaejoong.

Cerpen Karangan: Syarifah
Facebook: syarifah ahmad abdurrahman bahamisah

Cerpen Eye merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Happy Mall Story

Oleh:
Pada hari Sabtu, sepulang sekolah, Grifa berganti baju, lalu main dengan Tab-nya. Grifa pulang sekolah pada hari sabtu pukul 9:00, Guys… Grifa membuka apps game favoritnya, HAPPY MALL STORY

Eunoia

Oleh:
Aku tersadar dengan enggan ketika merasakan ada tangan yang mengusap rambutku dengan pelan. Aku mencium aroma tubuh seseorang yang sekarang sedang duduk di samping ranjangku. Aku belum membuka mata.

Paradise of Love (Part 1)

Oleh:
Awalnya hidupku sangat nyaman dan tenang, hidup dengan kedua orangtua dan kaya raya di kota busan, korea selatan, dan mengambil pendidikan di universitas busan. Seketika semua hancur karena Ayahku

Separuh Dari Satu Yang Utuh

Oleh:
Langit malam yang tadinya hitam kelam, kini memerah, yang sepertinya menandakan pertukaran malam menjadi pagi. Langkah jarum jam seakan terdengar begitu keras pada malam menjelang pagi itu. Yang kemudian

Cerminan Dirimu

Oleh:
Aku memiliki cermin ajaib di kamarku. Seperti mimpi saja. Apakah aku berada di dimensi lain, sedangkan ragaku masih terlelap di tempat tidur? Nyatanya tidak. Cahaya mentari pagi masuk melewati

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *