Eyes

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 4 May 2015

Mata itu..
“Aku bilang hentikan!” jerit gadis itu sambil menodong pistol.
Tidak mungkin..
“Tak ada yang tidak mungkin, kau memang gadis yang telah ditakdirkan.” sang pemuda terus mendekat.
Mata biru itu, pemuda itu..
“Mundur!” gadis itu menjerit lagi.
Dia..
“Kau tak bisa lari, ‘The Lost Number’ yang ada dalam dirimu lebih lemah dibandingkan aku.”
Ya, aku kenal mata itu..
“Kau pembohong!”
Mata yang sempat aku kejar..
“Kau harus tahu kapan aku jujur dan kapan aku berbohong.”
“Kenapa? Kenapa, Light?!”
“Kau pasti tahu alasannya. Kau tahu makna mataku, kan?”
Mata penuh tipuan dan ilusi..
Light kini berdiri di depan gadis itu, “Three, kau tak bisa merubah takdir.”
“Kenapa? Kenapa harus aku?” Three menangis, tangannya melemas dan pistolnya terjatuh.
“Kau membuat kesalahan, Three. Seharusnya kau tak mengejar mata biruku dan sekarang kau terjebak di dalamnya. Kau harus memberikan jantungmu.”
Apa aku akan..?
“Mata birumu selalu penuh ilusi, Light.” ujar Three lirih.
Sreeet.. crash..
“Ya, aku tahu.” pemuda itu menyeringai, “Bahkan jantungmu masih sempat berdetak pada pisauku..”

Ibu bilang, aku punya kemampuan khusus. Mungkin, tapi aku tak merasa begitu. Katanya mataku sangat istimewa. Mata yang bisa membaca kehidupan orang hanya dengan menatap matanya. Mata ‘The Lost Number’. Tapi aku tidak terlalu menyukai mataku ini. Karena mataku lah yang telah membunuh Ibuku sendiri.

“Hai, Three,” sapa Nema. Ia mengangkat alis, “Kau tahu, kau sering melamun akhir-akhir ini. Jujur deh, ada apa?”
Aku tersadar, “Eh? Tidak ada apa-apa.”
“Baiklah. Terserah kau saja. Umm, kau sudah tahu ada anak baru yang bakal masuk ke kelas kita?”
“Belum,” jawabku diikuti gelengan pelan.

Bel masuk berbunyi tiga kali. Nema kembali ke bangkunya dan meninggalkan rasa penasaran tentang sosok anak baru itu di otakku. Ah, untuk apa aku pikirkan. Buang-buang waktuku saja.
Pak Hendri masuk ke kelas dengan dua buku paket Fisika di tangan kanannya. Ia diikuti seorang pemuda di belakangnya. Itukah anak baru yang Nema katakan?
“Sebelum kita mulai pelajaran hari ini, kita kedatangan anak baru. Silakan perkenalkan diri,” tutur Pak Hendri di depan kelas dan mempersilakan pemuda di sebelahnya memperkenalkan diri.

Jika ku perhatikan, pemuda itu cukup tampan. Ku tatap matanya dan dia menatap mataku. Warna matanya biru, warna yang jarang. Tapi entah kenapa aku tidak bisa memaknai apapun dari matanya. Tak satu pun kehidupannya bisa ku baca. Sangat aneh.

Cukup lama kami bertatapan, dia segera berpaling ke teman-temanku, “Nama saya Light Dimithry. Kalian bisa panggil saya Light. Saya pindahan dari SMA Negeri Langit Emas. Salam kenal.”

Pak Hendri mempersilahkan Light duduk. Dia berjalan hampir melewatiku dan duduk tepat di sebelah kananku. Aku masih menatap mata birunya. Sebisa mungkin aku coba untuk membacanya. Tapi nihil. Dia menoleh ke arahku dan membalas tatapanku. Lalu tersenyum.

Ku kumpulkan keberanian untuk membuka suatu pembicaraan, “Hai! Namaku..”
“Three, kan?” tebaknya.
Aku terkejut, “Bagaimana kau bisa tahu namaku?” tanyaku heran.
“Entahlah. Tapi matamu menyebutkan nama itu padaku.” jawabnya sambil memainkan pulpen.
Mataku? Bagaimana dia tahu namaku hanya dengan menatap mataku? Ku kira hanya aku yang bisa melakukan hal itu. Apa mungkin dia memiliki mata ‘The Lost Number’ juga?
“Matamu indah dengan warna biru,” ungkapku. Hanya sekedar untuk basa-basi.
Dia tertawa pelan, “Matamu juga indah, Three.”
“Hmm,” aku hanya mengulum senyum. “Apa.. kau bisa membaca sesuatu dari mata orang yang sedang kau tatap?”
Kali ini wajahnya berubah menjadi serius dan kaku. Dia berhenti memainkan pulpen. Aku jadi merasa tidak enak menanyakan hal itu. Tapi dia malah menatapku lekat-lekat.
“Ya, Three. Aku bisa melakukannya. Membaca kehidupan orang lain sama sepertimu. Tapi, aku mohon. Jangan pernah menatap mataku lebih lama. Terlalu berbahaya untukmu. Oke?” pintanya dengan nada cemas.
“Tapi kenapa aku tidak bisa membaca matamu? Bahkan hanya sekedar memaknai matamu pun aku tidak bisa.”
Light menghembuskan napas panjang dan beralih ke papan tulis yang telah dipenuhi rumus-rumus ‘Tumbukan Elastis Sempurna’, “Karena aku telah menguncinya.”
Aku tidak mengerti, “Menguncinya bagaimana?”
“Ekhem. Three, apakah ada masalah?” tegur Pak Hendri menatapku dengan tatapan menyelidik.
Aku menunduk, “Maaf, Pak. Tidak ada apa-apa.” mataku ku paksakan untuk menatap papan tulis agar Pak Hendri tidak menginterogasiku lebih lanjut.

Untuk beberapa menit, aku terjebak dalam kebingungan di antara rumus-rumus indah penghias papan tulis yang tak ku mengerti sama sekali dan pernyataan Light yang masih menggantung. Hingga Light memegang pergelangan tangan kananku erat dan kembali menatap mataku.

“Three. Mata ‘The Lost Number’ milikku lebih berbahaya dari pada milikmu. Aku bisa menguncinya dan membukanya agar orang lain sepertimu bisa membacanya. Tapi kau tak bisa melakukan itu di depanku, kau hanya bisa melakukan itu di depan orang dengan kemampuan lebih rendah dari matamu.” jabarnya yang lebih mirip dengan peringatan, “dan itu alasan.. mengapa matamu bisa membunuh Ibumu sendiri saat itu. Ibumu tak bisa membaca matamu dan mengejarnya. Beliau menatap matamu lebih lama. Itu yang membuat matamu menginginkan kematian Ibumu. Matamu yang menyuruhmu membunuhnya tanpa kau sadari. Matamu saat itu lebih berbahaya dibanding mata Ibumu.”
Dengan cepat ku tarik tanganku dari genggaman Light. Sungguh, apa-apaan ini?! Dia membaca terlalu banyak. Dia membaca semua masa laluku dan aku benci ini.
“Maaf. Aku tak bermaksud untuk menyinggung hal itu. Huft.. kau boleh, tapi hanya sebagai permohonan maafku.” dia memberiku sedikit harapan, “Dan jangan menatapnya lebih lama.”
Aku mengangguk cepat, erupsi eksplosif kebahagiaanku membuat senyumku mengembang. Light menutup matanya cukup lama dan membukanya kembali.
Dia membuka kuncinya. Mata itu..
“Matamu.. mata penuh tipuan dan ilusi.” bisikku. Sementara mataku bergerak-gerak mencoba membacanya, Light menggenggam pergelangan tanganku lebih erat dari sebelumnya.
“Uh, Three,” dia mendengus kesal, “Kau melakukan kesalahan.”

Sekarang aku baru menyesal. Gambaran seluruh kehidupannya mengitariku hingga membuat kepalaku pening. Itu memang salahku. Seharusnya, waktu itu aku tak menatap matanya lebih lama.

Yang bisa ku lakukan kini hanya berlari di antara kelas-kelas dan di sepanjang lorong sekolah. Di tanganku hanya ada sebuah pistol yang ku temukan di ruang kedisiplinan. Aku tidak tahu kenapa benda ini ada di sana. Aku sudah terlalu frustasi untuk memikirkannya. Aku tidak tahu harus lari ke mana lagi.

Tring.. tring.. tring..
Aku berbalik dan ku dapatkan Light sudah ada lima meter di hadapanku. Pisaunya mendentingkan setiap batang pagar besi pembatas taman. Ku biarkan diriku dilanda ketakutan, yang mampu ku pikirkan hanyalah menodongkan pistol ini ke arahnya. Berharap membuatnya mundur.
Aku menjerit, “Aku bilang hentikan!”

Selesai

Cerpen Karangan: Arghi Momentum
Facebook: Adani Ghina Puspita Sari
Twitter: @ArghiMomentum

Cerpen Eyes merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Phone 13

Oleh:
Pada saat itu bel istirahat berbunyi. 3 anak perempuan segera keluar dan mengobrol di gasebo. Nama mereka adalah Seren, Ann dan Mendy. “Ann, kamu sudah membuat Pr IPS?” Tanya

Games Holic

Oleh:
Cerita ini di mulai saat hari minggu pagi aku sedang melakukan aktivitas ku biasanya, aku memulai hariku dengan coklat panas dan sepotong sandwich yang baru saja aku buat. Oh

Jejak Terakhir

Oleh:
Desember 1979, aku lupa tanggal dan hari tersebut. Yang kutahu hari itu menjadi hari yang cukup tenang untuk menikmati rumah baru keluargaku sebelum sisa-sisa kolonial Belanda menghabiskan segalanya yang

Matahari Dan Bulan (Part 2)

Oleh:
Alven seperti mengetahui bahwa aku mulai menyadari sesuatu. Dia menoleh padaku, tersenyum penuh arti. Sekali lagi aku menelan ludah. “Alven, apa kau..” Lagi, aku memandang patung, lalu kembali pada

Dari Mata Yang Berbeda

Oleh:
Malam yang indah dengan ditemani siraman cahaya rembulan. Angin malam berhembus pelan menembus tubuhku. Tanpa berpikir dua kali, aku keluar dari persembunyian. Sejenak kuedarkan pandangan untuk menentukan jalan mana

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Eyes”

  1. mrs.R says:

    Aku pikir pernah menonton film anime yg sama persis dengan cerita ini

  2. Raisa says:

    Mmm,good story,tapi,kyknya aku prnh bca cerita yg hmpir mirp kyak cerita ini…. Tapi,over all,nice…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *