Fairy Story (Asrais and Brownies in Love)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 26 May 2013

Gadis manis itu terduduk di ranting pohon cemara yang tertanam di sebuah pekarangan rumah seseorang. Kakinya menguncang-uncang.
“hey, kau belum kembali ke fairy world?” tanya seseorang yang sudah ada di hadapannya.
“aku menunggumu banshee” jawabnya sembari beranjak dari ranting cemara itu.
“oh brownies kau sungguh sahabat yang baik” ucap banshee seraya merangkul brownies. Mereka saling melempar senyum.
“ayo” ucap banshee yang di angguki oleh brownies.

Brownies dan banshee meninggalkan rumah classic nan besar itu. Mereka menuju ke timur. Mereka berhenti di sebuah tempat. Dua pemuda berwajah sama kini berada di depan mereka.
“ayo ikut kami menari, banshee, brownies” ucap salah satu pemuda itu.
“aku tak bisa menari sepertimu, trolls” jawab brownies polos.
“aku trows dia trolls” ucap pemuda itu dengan menunjukan telunjuknya ke arah pemuda di sebelahnya.
“maaf, habis wajahmu dan trolls sangatlah mirip”
“tapi aku lebih tampan dari trolls” brownies dan banshee terkekeh mendengar jawaban dari trows. Trolls mengerucutkan bibirnya.
“sudahlah, lebih baik kalian berdua yang menari biar aku dan brownies melihat saja” ucap banshee dengan lembut. Trolls dan trows mengangguk. Mereka menari dengan gembiranya. Banshee dan brownies hanya tertawa melihat tarian henking milik si kembar trolls dan trows.
“tarian apa itu? Cihh jelek sekali” ejek seseorang dari belakang banshee dan brownies. Trolls dan trows menghentikan henkingnya.
“leprechauns, apa maksudmu?” tanya trolls yang mendekat ke arah si empunya suara tadi.
“tarian mu sangat jelek” ucap leprechauns dengan sinisnya.
“apa kau punya tarian yang lebih baik dari mereka?” tanya brownies mantap. Leprechauns tertawa. Suaratawanya sangat melengking.
“aku lebih suka menyiksa manusia daripada melakukan gerakan aneh seperti itu” jawab leprechauns ketus.
“dasar peri ke..” ucapan banshee terhenti karena mendapati leprechauns telah menghilang. Leprechauns adalah peri licik yang sangat lihai, ia bisa menghilang dengan cepat. Peri itu masuk dalam elves. Elves pasukan peri lawan tangguh bagi fairy worls.
“nyehhhhh, selalu menghilang begitu saja” ucap banshee yang sudah hafal sifat leprechauns.
“sudahlah. Itu tandanya ia tak bisa menari lebih baik dari aku dan trolls” ucap trows bijaksana. Mereka mengangguk setuju.
“sebaiknya kita pulang, langit nampak mendung” ucap brownies menunjuk arakan gumpalan abu-abu.

Merekapun berlalu meninggalkan tempat yang mereka singgahi tadi. Mereka berpisah ke arah rumah masing-masing. Brownies mengepakan sayapnya pelan. Ia berputar-putar gembira.
Brukkk..
Brownies terjatuh beserta seorang pemuda.
“maaf aku tak sengaja” ucap pemuda itu. Mereka saling menatap dalam.
“ya, tak apa. Aku yang salah” ucap brownies mulai berdiri.
“aku asrais, kau?” ucap pemuda itu mengulurkan tangan.
“brownies, apa kau baru di sini?” pemuda itu mengangguki perkataan brownies. Brownies menatap asrais dengan tajam.
“tenang aku bukan penyusup suruhan elves. Aku dari debora, queen-lah yang menyuruhku kesini atas kemauan shefro, anaknya” brownies mengangguk-angguk di setiap perkataan asrais. Asrais tersenyum. Mereka kembali saling memandang.
Tukkk
Seorang pemuda memukul kecil kepala asrais dengan kerikil.
“dari tadi kalian hanya diam, ada apa? Apakah kalian jatuh mphhhhgbh” ucapan pemuda itu terpotong kala asrais membekap mulutnya.
“sebaiknya aku pulang. Sampai jumpa shefro, asrais” brownies mengepakkan sayapnya. Ia menjauh dan menjauh. Asrais menatapnya.
“kau suka dengannya?” ucap shefro yang mulutnya telah terlepas dari bekapan. Asrais menoleh ke arah shefro.
“ya, mungkin aku suka. Tadi jantungku berdetak cepat sekali saat memandang wajahnya” ucap asrais jujur.
“lalu apa kau sudah tiada hubungan dengan merrows?”
“siapa yang sudi berhubungan dengan anggota elves? Apalagi dia setengah ikan” mereka berlalu bersama. Mereka berjalan ke selatan.
“hey, knockers” pekik shefro sambil melambai.
“ada apa?” tanya knockers terbang mendekati shefro dan asrais.
“ini akumau mengenalkanmu dengan asrais. Tadi aku sudah mengenalkannya pada dwarfs dan hobgoblins” knockers menatap asrais dan dengan ramahnya ia mengulurkan tangan.
“aku, knockers. Maaf tanganku kotor” ucap knockers yang di sambut baik oleh asrais.
“aku asrais, oh tak apa. Kau peri pertambangan kan?” tanya asrais setelah berjabat tangan dengan knockers.
“darimana kau tahu?”
“aku tadi menceritakan semua tugas peri laki-laki di sini” ucap shefro sambil tersenyum.
“baiklah. Aku pulang dulu, badanku sudah bau” ucap knockers kemudian meninggalkan shefro dan asrais.
“ayo kita pulang. Besok ku kenalkan pada semua penghuni fairy world” ucap shefro lalu berlalu. Asrais mengekorinya.
“besok kan mereka menjalankan tugas? Lalu apa tugasku di sini. Aku tak bisa terkena sinar matahari” tanya asrais panjang lebar.
“besok mereka akan menyiapkan pergantian musim maka tugas mereka di bebaskan dahulu lalu tugas mu adalah menjaga kawasan ini bersama ku” jawab shefro. Mereka terhenti di sebuah pintu dari ranting.
“queen, kami pulang” seorang wanita dengan gaun putih panjang hingga menutupi kaki keluar dengan membawa seloyang kue.
“ini makanlah kalian laparkan?” tanya wanita itu menunjuk loyang. Wanita yang tak lain adalah ibunda shefro itu terduduk di sebuah kursi.
“queen, tadi asrais bertemu dengan brownies dan sepertinya mereka saling jatuh hati” adu shefro dengan santainya. Asrais nampak tersedak mendengar kejujuran shefro.
“itu tidak benar, queen” elak asrais dengan cepat. Queen nampak tertawa.
“wajar saja kalau kalian jatuh hati” ucap queen dengan senyum yang terus mengembang.
“tapi aku takut untuk menyatakannya, queen. Aku dan dia kan baru saja kenal”
“dekati lah dia. Hati-hati dengan sainganmu dari anggota elves”
“siapa? Apabrownies juga mencintainya?”
“ku fikir ia tidak mencintai pixies yang suka berubah menjadi landak” asrais tersenyum karena melihat sebuah kesempatan.

Seminggu kemudian asrais nampak sudah dekat dengan semua penghuni fairy world. Tanpa ia sadari seorang gadis ada yang mengaguminya. Gadis itu adalah brownies. Entah sejak kapan brownies mulai merasakan jantungnya berdetak tak normal kala ia sedang bercengkrama dengan asrais.
“brownies!” pekik keras dryads tepat di depannya. Dryads muncul tiba-tiba dari pohon oak yang salah satu rantingnya tengah di duduki oleh brownies. Brownies yang sedang menopang dagu itu mengangkat wajahnya.
“ayo kita ke tempat danshee” ajak dryads. Brownies mengangguk lalu mengekori langkah dryads.
“apa kau masih memikirkan asrais?” tanya dryads tiba-tiba. Brownies mengangkat bahunya.
“kenapa tak jujur saja?” saran dryads.
“kau gila? Aku ini wanita” ucap brownies dengan mantapnya.
“haha.. Ya sudah, kau tunggu saja asrais mengatakan cinta padamu”
“apa mungkin dia juga mencintaiku?”
“mungkin saja. Sudahlah, itu danshee” dryads menunjuk sosok danshee yang terduduk di ranting cemara. Ranting yang seminggu lalu pernah di duduki oleh brownies. Danshee menutupi mukanya dengan kedua telapak tangannya. Ia menangis lagi.
“siapa yang kau tangisi kali ini” tanya dryads yang telah terduduk di sisi kanan danshee.
“mariana, itu dia” tunjuk danshee ke arah jendela kamar. Tampak seorang gadis tergolek lemas dengan luka di bagian pelipis dan lengannya.
“dia bunuh diri?” Danshee menggeleng. Ia masih terisak namun tak menutupi mukanya lagi.
“dia di bunuh oleh bogles” ucapnya dengan bibir bergetar.
“kejam sekali anggota elves itu!” brownies mengepalkan tangannya lalu menghantam ranting itu agak keras.
“apa kau bilang?” ucap suara berat dari arah atas. Tiga makhluk yang sedari tadi menguping itu mendekati mereka.
“membunuh itu tugas ku! Dan aku sangat menyukai kegiatan ini” ucap seorang dari tiga makhluk itu.
“kejam sekali kau bogles” bidik brownies. Bogles nampak mendekati brownies namun seekor landak yang tadi berada di belakangnya kini malah menghalanginya.
“apa-apaan kau pixies?” hardik bogles.
“jangan kau sakiti brownies” ucap pixies memperingatkan.
“hey sudah lah, kita harus segera pergi dari sini” ujar seekor ular yang mulai merubah wujudnya.
“baiklah phouka” ucap pixies yang kini telah merubah wujudnya ke semula. Bogles pun ikut mengekori arah pergi nyapixies dan phouka.
“ayo kita juga pulang” ucap dryads mulai mengepakkan sayapnya. Mereka pun berlalu ke arah timur.

Brownies kini terduduk di sebuah bibir danau buatan yang tiga bulan lalu pernah mereka kunjungi. Di sebelah kanannya terduduk pula asrais.
“aku mau bicara padamu” ucap asrais dan brownies bebarengan.
“kau duluan saja” ucap brownies lembut. Asrais mengangguk.
“aku mencintaimu sejak kita bertemu dulu. Mungkin pertemuan kita itu lucu” ucap asrais dengan senyum. Brownies hanya diam dan menatap asrais yang tengah memandang lurus ke depan.
“apa kau tau, kalau sebenarnya aku juga mencintaimu” kini gantian asrais yang menatap wajah brownies.
“apa kau mau menikah dengan ku?” tanya asrais polos. Tanpa di sadari ada seekor landak yang mengamati mereka.
“itu terlalu cepat asrais. Aku takut kau main-main”
“apa tiga bulan ini kau pernah melihatku bermain wanita?” brownies menggeleng.
“tiga bulan ini aku telah merencanakan hari pas untuk aku ungkapkan perasaanku padamu” lanjut asrais mantap.
Bukkkk
Seekor landak berdiri kokoh di depan asrais dan brownies. Landak itu berubah menjadi sosok pemuda hanya dengan sekejap mata.
“kau tak bisa menikahi brownies sebelum kau bertarung melawanku” ucap pemuda yang tak lain adalah pixies.
“apa maksudmu pixies?” tanya brownies lembut.
“apa kau tak sadar selama ini aku mencintaimu?” brownies menggeleng. Karena memang ia tak tau akan perasaan pixies padanya.
“aku tak ingin bertarung karena wanita” ucap asrais manatap pixies.
“hey ada apa ini?” pekik sluagh yang datang bersama goblins dan gwyllion.
“mana yang membuat pixies murka!” ucap goblins selanjutnya.
“itu dia” pixies menunjuk asrais yang berdiri di dekat brownies.
“kau mau cari mati dengan anggota elves hah?” ucap gwyllion.
“aku tak mau berkelahi” ucap asrais mantap. Mereka tertawa.
“pergi kalian” pekik brownies yang mulai geram. Pixies mendekati brownies dengan tatapan murka.
“jangan sentuh dia, tringg..” sebuah kilatan cahaya menyambar pixies hingga tersungkur.
“beraninya kau melukai temanku!” bidik sluagh lalu mulai mengeluarkan kekuatannya untuk menghajar asrais. Brownies di cegat oleh gwyllion dan goblins. Ia hanya dapat menangis. Brownies menatap sayu kala asrais mulai tak berdaya oleh serangan sluagh. Sluagh memang sangat kuat di kalangan elves. Terlihat asrais tergolek lemah. Brownies memberontak hingga ia terlepas dari cengkraman globins dan gwyllion.
“berhenti!” pekik keras brownies.
“terkutuk kau pixies!” bentak brownies yang kini memangku kepala asrais.
“aku bersumpah saat ini juga kau pasti akan menjadi landak yang tak berdaya” seketika itu petir mulai menyambar-nyambar. Asap putih mengitari tubuh pixies. Tubuhnya kini berubah menjadi seekor landak.
“kau mengutukku! Dasar wanita gila” bidik pixies dengan kasarnya.
“goblins, gwyllion bawa aku kembali!” ucap pixies. Goblins dan gwyllion mengekori arah kaki pixies.
“aku akan membalas mu brownies!” ancam sluagh yang mulai berjalan menjauh. Brownies menangis saat menatap asrais yang tergolek tak berdaya.
“maaf kan aku asrais.. hiks… hiks” air mata brownies mengalir lalu menetesi wajah asrais. Entah mengapa ia sesedih itu melihat asrais terluka mungkin karena cintanya yang besar. Setiap tetes air mata brownies selalu mengenai wajah asrais yang tampan.
“brownies..” ucap asrais mulai membuka matanya. Brownies menatap wajah itu dengan sayu.
“biar aku bawa kau ke sidhe untuk di obati” asrais menggelengkan kepalanya.
“aku tak apa. Air matamu sangat bermanfaat untukku” ia menyeka air mata brownies dengan jemarinya.
“aku mencintaimu” ucap asrais dengan tersenyum. Brownies mengangguk dan ikut tersenyum.
“menikalah denganku, tuah putri” pinta asrais dengan mantapnya.
“baiklah” mereka berlalu dari bibir danau itu dengan gembiranya. Tubuh asraispun nampak tak selemah tadi akibat air mata yang menetes ketubuhnya.

THE END

Cerpen Karangan: Mayangsari Purwaningsih
Facebook: Mayang Sari Purwaningsih

Tips dari admin: banyak sekali kata kata yang tidak di pisahkan oleh spasi sehingga tersambung begitu saja sehingga menjadi gabungan kata yang tidak semestinya, sebaiknya untuk kedepan sebelum di kirimkan harap di periksa kembali terlebih dahulu untuk memperbaiki dan meminimalisir kesalahan penggabungan kata yang terjadi, ini juga akan mempermudah proses moderasi cerpen nantinya, terus berkarya ya! ^_^,

Cerpen Fairy Story (Asrais and Brownies in Love) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dinda dan Raffa

Oleh:
“Din.. Dinda!. Duduk dulu dong, Din!.” “Apa? Gue udah ngerasa cukup, Fa!.” Kata cewek itu sebelum melangkah kan kakinya menjauhi tempat itu. “Gue pulang.” Lanjutnya tanpa menoleh ke lawan

Stopwatch

Oleh:
Saat di taman. Anto menemukan sebuah stopwach. Stopwach itu terdiri dari 2 tombol yang kiri berwarna merah sedangkan yang kanan berwarna hijau. Anto menekan tombol kiri, seketika semua berhenti.

Operasi Outlone (Part 3)

Oleh:
“Badan Inteligen Negara membentuk program pelatihan sipil yang bernama ‘Outlone’. Program ini dijalankan oleh para dokter yang ahli di bidangnya dan diawasi oleh tentara dan polisi terpercaya, tujuan program

Takdirlah Sutradaranya

Oleh:
Andai kau menyatukan sepasang kasih, tiada luka menyayat lara, tiada puitis mengandung dusta tiada air mata terbuang percuma, tiada hidup berakhir sia. Tidakkah kau dengar rengkuhan doa memanggil cinta?

Angin Bawa Kabar Ke Sana

Oleh:
Jikalau hingga nanti aku tidak bisa bersanding denganmu, jadilah istri yang baik bagi pemilikmu. Apabila kau tak mungkin menjadi bunda dari anak-anakku, maka jadilah bunda yang baik untuk buah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *