Fortune Spells

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 2 October 2013

Selamatkan dirimu dalam pertempuran bodoh itu, Sofia tetap gentar tidak kenal takut. “sof! Hentikan!” teriak Amanda sahabat karibnya. Apa yang didengar Sofia hanya suara hati dan emosi menggebu, ia hanya ingin membuktikan hal kecil yang seharusnya tidak ia perdulikan. “sof! Aku mohon, kita harus pergi dari sini,” kata Amanda, tongkat baseball bergerak seperti mesin penghancur di tangan Sofia, apa yang ia lihat hanya gerombolan anak sekolah yang siap menerima hantaman.
“tidak! Aku tidak akan berhenti!,” katanya untuk yang pertama kalinya dalam hidup ia menjadi seorang pemberontak dan mungkin kini ia akan masuk dalam kelompok remaja nakal. “kita bisa mati,” bisik Amanda yang sedari tadi berlindung dibalik Sofia, “aku katakan sekali lagi, sebaiknya kau pergi dan biarkan aku disini,” teriak Sofia di tengah keramaian perkelahian pelajar. “oh?” Amanda hampir pingsan karena ia mulai melihat kerumunan itu seperti kepulan asap-asap. “aku akan buktikan bahwa maut tidak dapat menghajarku,” teriak Sofia lagi sebelum ia meninggalkan amanda dan kembali bergerak kejam. Ada seorang teman yang terus menjadi bayangannya dalam perkelahian itu “kau tau? selama didekatmu aku akan sama beruntungnya seperti dirimu,” kata gadis itu sebelum kemudian keduanya tertawa.

Sofia yang mendapat julukan ‘the lucky person’ oleh orang-orang di sekitarnya, adalah masalah antara hidup dan takdir yang mulai mengontrol keluar pikirannya. Seorang berkata bahwa hidup adalah seperti putaran roda, terkadang kau berada di atas dan terkadang kau berada di bawah, yang lain mengatakan bahwa hidup ini seperti lukisan, corak warna adalah bagian gelap dan bagian terangnya. Intinya mereka mengartikan hidup adalah terdiri dari kedua sisi, baik dan buruk. Pernakah kau merasakan setiap sisi kehidupanmu itu selalu baik? Pernakah kau terselamatkan dalam runtutan takdir duka, seakan kau terikat di dalam batas takdir kebahagian?
Takdir mengikatnya dalam rangkaian cerita harmonis yang membuatnya tidak takut akan maut, seperti ketika ia yang baik-baik saja setelah memakan makanan yang beracun di samping banyak orang yang mencari penyelamatan. Tentu saja bukan hanya itu ada hal besar yang kembali membuatnya berpikir, beberapa hari yang lalu kebakaran besar melanda perumahan penduduk di area pabrik sabun, bagian selatan yang paling parah tetapi sayangnya maut tak dapat melahapnya, lagi-lagi, saat ia berada disana di saat semua orang tak terselamatkan. Keanehan itu terus berlangsung selama dua tahun terakhir setelah kematian ibunya. beberapa orang pun mulai menanggapi,
“aku tak percaya mengapa kau sedemikian beruntungnya, tetapi kukira itu hanya sugesti penyelamatan dari pikiranmu sendiri, beberapa ilmuwan membuktikan bahwa di dalam pikiran manusia terdapat hukum yang lebih kuat dari alam semesta, yaitu hukum tarik menarik, dan aku yakin itu hanya sugesti,” kata Kara sahabat baiknya yang lain.
“Ya, seharusnya aku tak perlu terlalu khawatir pada hal aneh ini bukan jika memang itu datang dari pikiranku sendiri?,” katanya mencoba mempengaruhi kara, mungkin kara dapat sedikit memperbaiki kata-katanya bahwa apa yang ia alami bukan sekedar sugesti di dalam pikirannya.
Ini masih soal takdir, kau ingat bahwa tuhan pasti memberikan yang terbaik untuk hambanya? Sore itu, sudah berlalu dari pertengkaran pekan hari yang lalu, Sofia menghadiri acara sekolah, lebih tepatnya sebuah perayaan kecil. Anak sekolah berkumpul untuk menikmati hidangan dan pertunjukan yang ada, hingga sore itu. suara bising tak pernah seburuk itu bagi Sofia, karena apa yang mereka bisingkan adalah tentang dirinya
“…seperti terdapat makhluk asing melingkupi tubuhnya, tidakkah kau merasa aneh?,” suara gadis sepantarannya terdengar samar, tetapi ia yakin gadis itu sedang membicarakan soal keberuntungannya.
“setuju, bagaimana mungkin ia seberuntung itu dari banyak hal?!” timpal yang lain.
“mungkin aku bisa mencari alasan untuk mengingkari itu, tapi sampai sekarang aku tidak bisa menemukan alasan apapun tentang keberuntungannya yang memuakan,” kata gadis yang pertama dengan wajah sinis dan penuh keirian.
“eh… aku dengar di sekolah lain, juga terdapat anak yang seperti itu, tapi bedanya dia sama sekali tidak beruntung” kata yang lain yang mulai menarik Sofia ke dalam pembicaraan lebih dalam.
“benarkah? Kasihan sekali,” sahut yang lain lagi di samping tawanya yang nyaring.
“ya begitulah, dan keadaannya terlihat sangat buruk. Kau tau apa julukan untuknya?,” Tanya gadis itu.
“apa?,” yang lain mulai penasaran.
“anak setan,” jawabnya.

Sofia terikat pada gosip itu, entah benar atau salah tetapi ia menjadi takut, tentu saja ia takut pada keanehan apapun pada dirinya, ia takut karena ia tak dapat membaca jalan hidupnya. Ia takut pada segala kebaikan yang ada pada dirinya, mungkin pada saatnya tuhan akan murka padanya. Ia cari tau siapa si ‘anak setan’ itu. beberapa hari kemudian, tidak sulit mencari tau tentang dirinya, Sofia datang ke tempat ia biasanya menghabiskan waktu luang, dan itu adalah halaman sekolah. Namanya, Alex, dan ia memang terlihat buruk. Kau melihatnya selalu murung, dan kantung matanya jelas sekali, tubuhnya tinggi jakung, dan ia tidak memiliki seorang pun teman, Sofia tidak berani membayangkan hal tidak beruntung apa yang laki-laki itu alami, dan ia sama sekali tidak penasaran.

Setelah beberapa hari, ia berpikir untuk lebih dekat dengan Alex, di samping karena ia selalu beruntung ada rasa kasihan melingkupi jantungnya setiap kali berdetak.
“hai,” pembicaraan awalnya di halaman sekolah, sapaan itu nyaris tidak dapat didengar, tetapi apa yang ia lakukan bukan untuk membuang laki-laki itu lebih jauh seperti yang dilakukan orang lain kepadanya. Alex mempunyai tatapan sayu yang menusuk ia mengalihkan pandangannya dari bukunya.
“apa?,” tanyanya dengan setengah melihat.
“kau mengenalku?” Tanya Sofia, mungkin saja julukannya sudah cukup menyebar dan malah membuat laki-laki itu berpikir tentang ketidak adilan, tetapi sepertinya perkataan pembukanya sangat tidak sopan.
“tidak. Lagipula aku tidak ingin mengenalmu,” katanya sebelum kembali pada bukunya
“Alex,” suara Sofia membuat Alex tercekat, pertama kali untuknya mendengar nama itu kembali disebut setelah lama terkubur. Beberapa detik berlalu dalam sunyi “aku… aku tidak bisa melihatmu seperti ini,” kata Sofia sembari tertunduk tidak tega. Dengan wajah yang sudah terlatih untuk selalu datar itu, Alex beranjak dari duduknya.
“ada apa denganmu? aku tidak butuh rasa kasihan dari siapapun,” katanya kemudian pergi.

Bodohnya dirinya, pengetahuannya selama bertahun-tahun bahkan tidak bisa membuat komunikasi yang baik. Entah bagaimana semua itu terjadi, ia merasa bertanggung jawab pada Alex, walau ia masih asing padanya, ada hal yang kemudian ia tekankan bahwa ia beruntung karena merampas keberuntungan orang lain yang tidak seharusnya. Ia kembali setiap harinya menemui Alex, hampir setiap hari untuk lebih dekat dengannya, berbicara dengannya walau begitu dingin dan memberikannya kembali perasaan pertemanan yang lama hilang dalam dirinya. Anehnya sedikit banyak ketidak beruntungan menghilang dalam diri Alex selama dekat dengan Sofia.

“aku tidak tau mengapa kau mau dekat denganku,” kata Alex, di akhir perjalanan pulang mereka.
“kukira karena kita punya persamaan takdir,” jawab Sofia, dan Alex tertawa hambar. “kau tidak pernah berpikir? Mengapa dua tahun terakhir ini kau jadi seorang yang selalu buruk?,” Tanya Sofia.
“memangnya apa yang harus aku pikirkan, bukankah itu adalah urusan takdir bukan urusan ku. yang aku pikirkan tidak akan berpengaruh apapun.”
“ah… rupanya kau lebih banyak belajar dari pada aku,” desah Sofia. “lalu kau akan diam saja dengan hal aneh ini?, tunggu, kau tidak bisa mengingkari adanya hal aneh di dalam hidupmu itu,” lanjutnya.
“aku tidak peduli, kukira aku mulai terbiasa dengannya,” katanya.
“baiklah, tetapi kau juga tidak dapat mengingkari bahwa selama aku didekatmu sedikit banyaknya keapesanmu itu menghilang?” tantang Sofia untuk mengiyakan.
“ya, kalau begitu jangan jauh-jauh dariku,” kata Alex tanpa secarik senyum sedikit pun ke arah Sofia, wajah Alex terkesan dingin dan misterius dan tatapan laki-laki itu susah untuk ditebak membuat Sofia tertekan atau mungkin terkejut, tatapannya yang tenang seperti matahari yang terbit dari bola kecil yang lama mati.
“ya! aku merasa seperti dewi keberuntungan,” kata Sofiah, Alex tersenyum simpul.
“Tak masalah,” katanya.
Sofia memamerkan senyumannya “baiklah, semoga beruntung,” katanya sebelum masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Alex yang mulai merasakan benih lain di dalam dirinya.

Cerpen Karangan: Karimah Bachmid
Blog: kareemahbch.blogspot.com
LB: saya mengharapkan dengan pengiriman cerpen ini saya dapat mengasah kembali kemampuan menulis saya, saya mengharapkan adanya kritik dan saran dari pembaca karena dengan sedikit frustasi, mengapa menulis dengan bagus itu susah sekali? dengan mempublikasikan ke cerpenmu.com semoga saya dapat mendapat pencerahan.

terima kasih sebelumnya

Cerpen Fortune Spells merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta dan Takdir

Oleh:
“Jay, lihat gadis itu!” Jill menunjuk ke arah seorang gadis berambut pendek cantik yang baru saja ditinggal mobilnya. “Aku ingin punya sahabat seperti itu. Dan mungkin ia bisa aku

Duniaku Setengah Komik

Oleh:
Ketika aku masih muda, orang-orang dewasa bilang “jika kau berharap sesuatu, tunggu sampai bintang jatuh” dan harapan itu akan menjadi nyata, menurutku itu bohong, penipu! Bagaimana bisa harapan menjadi

Si Raja Hutan

Oleh:
Pada suatu hari di tepi pantai ada sebuah kerajaan yang bernama rotonoiskandaimanata di situ hiduplah seorang raja yang bernama dion dia suka menolong semua penduduk hutan sampai pada suatu

Bayang Cahaya Warna Kematian

Oleh:
“Bu, kasihan! Pak!” Ucap seorang gadis kecil berbaju lusuh sambil menampan ke arah orang-orang yang ada di sekitar tempat itu. Beberapa orang memberi sekoin uang. Beberapa lagi mengusirnya dengan

Bunga Lili Putih

Oleh:
Mary menangis tersedu-sedu di atas kasurnya. Sejak tiga puluh menit yang lalu, air matanya tidak berhenti membasahi pipi anak berusia sembilan tahun yang polos ini. Rambut panjangnya yang acak-acakan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Fortune Spells”

  1. Cerpennya bagus kok! Cuma penjelasan atas tema ceritanya saja yang kurang sedikit lebih jelas. Contohnya… persamaan antara Shofi dan Alex dan perbedaan antara keduanya. Mungkin, bisa lebih dijelaskan lagi kenapa bisa seperti itu. Kalau Shofi kan, sejak Ibunya meninggal ia mendapat keberuntungan. Kalau Alex? Sejak kapan ia mendapat keapesan?
    Sekian saran dariku. Keep Writing! And Fighting! Good Luck…
    😉 (y) 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *