Fragmen Itu Bernama Kamu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 18 March 2021

Aku duduk di salah satu kursi tunggu stasiun, menatap sekumpulan manusia yang hilir mudik berjalan. Suara penyiar radio terdengar nyaring pada speaker yang terletak tidak jauh dari tempatku duduk, lagu berjudul Dealova terputar dengan apiknya. Sesekali aku melirik jam di pergelangan tangan, memastikan jika orang yang kutunggu memang belum waktunya datang. Mataku menatap lurus ke depan, saat kereta melintas menjauhi stasiun, hujan deras disertai petir begitu lebat terdengar, tanpa sadar aku sudah bergemul dengan jaket tebalku sendiri. Menutupi wajahku dari cahaya kilatan. Aku takut petir.

Saat membuka mata, yang aku rasakan adalah kehangatan yang mengungkung tubuhku. Ternyata lelaki itu ada di sini, duduk di dekatku dengan sorot matanya yang tajam namun menenangkan, bola mata warna cokelat itu masih memandangku dengan tatapan yang sama dengan lima tahun silam. Lihatlah, kini dia tersenyum, manis sekali; memperlihatkan lesung di pipinya. Jantungku berdebar tak keruan saat dia mencoba merapikan anak rambutku yang sedikit berantakan.
“Lalaku tetap cantik seperti biasa,” lirihnya.

Fragmen putih abu-abu itu menguap. Menarikku kepada kejadian 5 tahun silam, tepat saat aku mengenal laki-laki yang kini merangkum wajahku dengan telapak tangannya yang sedingin es batu.

Tertekan. Begitulah kesan pertama di masa putih abu-abuku. Mereka sama saja, tak pernah memperlakukanku seperti manusia. Mereka menganggapku gadis gila, idiot dan sebagainya. Semua bermula saat aku menceritakannya kepada Rahma—teman sebangkuku tentang kemampuan aneh ini, kemampuan yang mau tidak mau memaksaku tidak bisa tidur dengan nyenyak, gelisah setiap saat, dan parahnya membuat diriku dijauhi mereka.

Aku bisa melihat masa lalu dan masa depan seseorang, kejadian yang akan terjadi ke depannya. Mudah saja, saat aku melamun fragmen-fragmen kejadian itu muncul bagai layar iklan yang kutonton. Namun, mereka tidak ada yang percaya, termasuk orangtuaku. Hingga aku bertemu dengannya, mengenalnya.

Namanya Bian Rudi, dan aku senang memanggilnya Biru selain karena singkatan nama panjangnya, Biru adalah nama yang cocok untuk lelaki yang khas dengan jaket warna biru lautnya. Biru, hanya pemuda itu yang menganggupku normal, memperlakukanku sebagai manusia biasa. Kali pertama kita bertemu, aku menemukannya di lorong depan perpustakaan membaca buku tebal tentang flora dan varietas pohon.

“Tidak ada yang aneh dengan kemampuanmu, bukannya itu terlihat keren ya?”
Hanya itu komentarnya di saat aku merasa terkucilkan. Bahkan, Biru sering memintaku untuk melihat masa depannya, entah sekadar bergurau atau apa. Tapi nihil, hanya dia yang tak mampu kulihat masa depan atau masa lalunya. Saat ini, kami berada di podium, aku menemaninya membaca buku, sekolah sudah sepi sejak dua jam yang lalu tapi aku enggan untuk pulang.

Tiba-tiba cowok itu berdiri, duduk membelakangiku, membiarkan dirinya yang tersengat panasnya terik matahari. “Nggak bagus cahaya matahari kalau mau sore gini, apalagi buat cewek kayak kamu. Nanti, saya nggak bisa bedain mana gula jawa mana yang namanya Lala.”

Aku tersenyum simpul menanggapinya, bukan Biru namanya kalau tidak membuat sesuatu yang aneh, yang membuat pipiku bersemu kemerahan. Ada pula rangkaian kejadian yang akan membuat kalian geleng-geleng kepala saat kuceritakan perbuatannya. Biru yang pernah kuinjak punggungnya karena membantuku memanjat pagar sekolah, kami terlalu larut sore pulangnya waktu itu, alhasil sebagai rasa bersalahnya dan karena aku juga tidak bisa memanjat pagar ia melakukan itu. Atau saat ia rela membolos pada jam pertama dan kedua demi menemaniku yang dihukum berdiri hormat pada tiang bendera karena terlibat pertengkaran dengan Rahma. Padahal, saat itu ia sudah duduk di kelas paling akhir berada satu tingkat di atasku.

Atau seperti saat kemarin, saat aku meringkuk di gazebo sekolah hujan deras dan petir saling bersahutan di luar sana. Biru di sini, menenangkanku dengan segala kalimatnya yang kurasa begitu puitis. Dan aku menyadari itu, sejenis perasaan kaku yang kusebut sebagai merah jambu. Aku menyukainya, entah sejak kapan itu aku tak tahu. Aku tak mau berharap hanya karena semua perlakuannya begitu mengistimewakanku.

“Bagusan gini, terurai. Kamu jadi lebih cantik, saya suka,” katanya sambil melirikku yang tengah membuka kepangan rambut.
Di detik saat ia merangkum wajahku itulah aku mengungkapkan hal gila tersebut. Aku menyatakan perasaan kaku itu, membuat rahang tegasnya tersentak menatapku. Bersamaan dengan itu tangan dingin yang menjalari pipiku mulai tidak terasa, bayangannya kian menjauh hingga aku sadar hari inilah terakhir aku menatapnya, dekat dengannya, karena setelahnya kami bagaikan manusia asing yang tidak lagi penting.

“Apa kabar Lala? Saya rindu,” bisiknya. Kutatap bola matanya yang sudah berkaca-kaca, aku sendiri tidak sadar jika bibirku bergetar menahan isak tangis. Gumpalan salju bernama rindu itu mengungkung dadaku hingga aku sesak. Dia telah kembali.
Namun, sekali lagi aku tersentak dengan kenyataan itu. Kenyataan yang membuatku sulit menalar ini semua, berkaitan dengan kemampuanku yang tidak berlaku pada Biru. Enam bulan setelah kami berjauhan, Biru memberiku jawaban. Membuat aku tak lagi dikungkung rasa harap, tak lagi dibelenggu sesak karena jarak, sore itu kepingan teka-teki itu terkumpul sepenuhnya ….

Senja yang buruk, kenapa Rabu pagi yang cerah harus ditutup dengan hujan lebat seperti ini? Aku benci hujan lebat, apalagi hujan petir ingin rasanya aku menjerit dan bersembunyi. Saat petir mulai berperang di luar sana itulah dia muncul di kusen pintu. Bibirnya membiru dengan wajah pucat pasihnya, aku terhenyak kaget melihat Biru yang seperti itu tak segar seperti biasanya. Dia menatapku dengan sendu, berjalan mendekatiku hingga ia merengkuh tubuhku.
Rasanya begitu canggung dan kaku, beberapa menit dia memelukku hingga pada akhirnya aku yang berinisiatif melepaskannya. “Hai La, apa kabar? Maafin saya,” ucapnya membuka percakapan.
“Eng …, baik, baik sekali. Kamu sendiri?”
“Sama sekali tidak baik. Maafin saya, ngilang tanpa jejak udah bikin kamu kepikiran. Sebagai gantinya, saya ada ini untuk kamu.” Dia menyerahkan setangkai mawar putih di atas meja, “nanti, kalau saya udah musnah dan bunganya ikutan musnah berarti saya nggak cinta kamu. Tapi kalau sebaliknya, artinya ya kamu tahu sendiri ‘kan?”
Aku terdiam, tak mengerti maksudnya.

Tiba-tiba Biru memperlihatkan pergelangan tangannya padaku, aku tersentak. Tangannya terlihat—transparan?
“Apa saya bilang? Kamu nggak aneh, kamu punya kemampuan itu, kemampuan istimewa yang tidak setiap manusia punya. Kamu bisa lihat saya, sementara mereka nggak bisa,” katanya tersenyum takzim. Aku baru menyadari kalimatnya saat tubuh itu sepenuhnya musnah, bagai debu tertiup angin. Melebur bersama partikel di udara.

“Bagusan gini, terurai. Kamu jadi lebih cantik, saya suka.” Kalimat itu lagi.
Tangisanku kian lebat, sama seperti hujan di luar sana. “Mawarnya nggak ikut musnah ‘kan?” aku mengangguk, sekali lagi ia tersenyum. Ucapannya terakhir itu terbukti, mawarnya tidak musnah, artinya dia juga mencintaiku, perasaanku berbalas.

“Maaf, saya cuma bisa datang walau akhirnya meninggalkan kamu. Tapi sepertinya, penantianmu setimpal ya La? Lala, gula jawaku sudah menemukan Tuan Senjanya. Bima lelaki baik La. Saya yakin, dia nggak akan bikin kamu nangis, nggak akan bikin kamu nunggu lama, dan yang penting nggak akan ninggalin kamu kayak saya.”

Hanya itu kalimat terpanjang yang pernah kudengar dari Biru. Suara speaker terdengar nyaring, mengabarkan jika kereta dengan tujuan Bandung-Surabaya telah tiba. Seseorang menepuk bahuku, dia Bima—tunanganku, pemuda yang juga mau mengerti akan duniaku. Kami saling berpelukan lama hingga Bima mengajakku untuk keluar dari stasiun, aku menatap bangku itu lamat, di sana pemuda itu terlihat lagi, tengah melambai dan tersenyum simpul menatap kami. Selamat tinggal Biru, lelaki maya yang menjadi cinta pertamaku yang telah kubiarkan lepas, bebas, bersama dunianya.

Surabaya, 11 Januari 2020

Cerpen Karangan: Linda Kartika Sari
Blog / Facebook: Linda Kartika Sari

Cerpen Fragmen Itu Bernama Kamu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2)

Oleh:
“Kalau kalian mau, kalian bisa bantu-bantu berdagang bersama kami, dari pada kalian menjadi gelandangan di luar sana,” sahut Ibu Rain lagi. Joe tersenyum. “Terima kasih, anda baik sekali,” katanya.

Putri Salju

Oleh:
Kalian telah mengetahui bahwa kisah “Putri Salju” memiliki akhir yang bahagia. Seorang putri yang teramat cantik, diusir dari istananya, nyaris ditikam, bertemu para kurcaci, ditipu oleh nenek tua yang

Camelia Putih

Oleh:
Pagi itu indah sekali. Mentari bersinar lembut menyapu kabut tipis yang masih menggelayut di bukit ujung desa. Bukit yang penuh sesak dengan pohon cemara dan semak berbunga. Di sisi

Dilemaku Menganut Ilmu Pelet

Oleh:
Sebut saja namaku Irvan, usiaku sekarang 30 tahun, aku tinggal di bilangan Bekasi. Sejak SMA aku memang tertarik dengan dunia supranatural, khususnya dengan ilmu-ilmu yang berbau klenik, dimana waktu

Cinta Pertamaku Pada Anak Guruku

Oleh:
Hi namaku al azzahra Berawal dari aku masuk tk dulu, aku bersahabat dengan aini sejak aku baru masuk di situ. Ada kakak kelasku yang katanya anak guru di situ

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *