Gadis Incaran

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 12 April 2016

“Awww,” kataku lirih sambil perlahan membuka kedua mataku, aku baru saja terbangun dari pingsan. Masih bisa ku rasakan perihnya bekas pukulan di pelipis kananku. Aku terpaku dalam keadaan yang sulit. Ternyata setelah hampir 2 hari aku terkurung dalam gudang kayu jati ini, tetap saja aku tidak bisa ke luar untuk kabur atau sekedar mencari pertolongan. Tali tambang kusut yang serabut-serabutnya sudah berhamburan ini tetap saja mengikat kuat tubuh mungilku. Dapat ku lihat, ventilasi di gudang ini sangat sedikit. Sehingga atmosfer yang dapat ku rasakan begitu pengap.

“Mengapa aku disekapnya? Padahal aku tak memiliki secuil harta benda apa pun,” gerutuku kesal sambil menunduk lesu dan tetap memikirkan bagaimana cara untuk ke luar dari gudang berukuran sepuluh meter kali sepuluh meter ini. Adalah Madam Lel, wanita tua kaya raya sekampung Raya Sari yang memiliki hutan jati berpuluh-puluh hektar luasnya dan tidak akan pernah cukup puas dengan apa yang dimilikinya. Ia berpikir bahwa harta yang melimpah akan mengantarkan kebahagiaan kepadanya ketika ia telah berada di liang lahat. Sungguh tidak logis. “Percuma saja kau berpikir keras tentang bagaimana cara untuk kabur, gadis bodoh! Warga desa tak akan ada yang mau menolongmu, mereka pengikutku,” bentak keras Madam Lel dengan suara seraknya yang sangat khas.

Aku terkejut seraya mendongakkan wajahku ke arahnya. Namun kembali ku tundukkan wajahku, aku lesu mendengar perkataannya. Ada benarnya juga, semua sia-sia. Kali ini Madam Lel datang tak ditemani oleh kedua body-guardnya yang berperawakan besar dan kekar itu, tak ku ketahui siapa namanya. Perlahan ia mulai mendekatiku dengan raut wajah yang kejam. Langkahnya tertatih dan tertahan. Tiba-tiba sebuah asap berwarna hitam pekat mengepul, seiring dengan hilangnya Madam Lel dari tempat semula ia berada. Asap itu semakin mendekat ke arahku. Aku terhenyak lantaran sebuah keanehan baru saja ku saksikan langsung oleh kedua bola mataku yang berwarna cokelat ini.

“Toloooong.. Tolooong,” teriakku kencang. Aku takut, karena asap itu mengelilingiku. Dapat ku hitung, sebanyak tujuh kali asap itu mengitariku. Aku berkomat-kamit memanjatkan doa, berharap Sang Pencipta segera menyelamatkanku dari tempat ini. Namun tiba-tiba Madam Lel muncul dan seketika asap itu menghilang. Ia tetaplah menjadi wanita tua yang kejam. Bedanya, kini wajahnya terlihat putih pucat, darah berwarna merah pucat bercucuran dari sekujur tubuhnya, rambut putihnya yang panjang sepunggung acak-acakan. Aku terperanjat, ia menatap tajam wajahku dan menyeringai bengis.

“Huahahaha kini penantianku telah tiba, Liona. Gadis kecil yang lugu kini telah beranjak menjadi gadis berumur tujuh belas tahun yang sangat cantik jelita. Namun malang, nyawanya akan segera melayang,”
“Apa yang dia mau dariku? Ada apa ini?” batinku. Aku terkejut, heran, dan tidak mengerti apa maksud dari perkataan Madam Lel. Aku terdiam, sementara Madam Lel masih terus berkata aneh seiring dengan tawanya yang semakin meledak-ledak. “Bersiaplah kau gadis sial!” ucap Madam Lel sambil menolehku dengan tatapan penuh amarah.

Aku kembali mengernyitkan dahi, aku tak mengerti. Kini di tangan Madam Lel terdapat dua buah kendi yang tak ku ketahui isinya. “Byorrrr,” cairan kental dari kedua kendi itu telah ditumpahkannya. Kental, pekat, dan anyir. Iya, darah. “Tinggal selangkah lagi, Liona,” ucapnya seraya mendekatkan wajah buruk rupanya ke wajahku. Dapat ku cium bau amis di seluruh badannya. Perutku serasa diaduk, ingin muntah rasanya.

“Iblis kau!” gertakku geram. Ku lihat Madam Lel hanya tertawa kegirangan seraya berputar-putar di hadapanku.
“Setelah tujuh belas tahun menanti seorang gadis untuk menggantikan riwayatku, kini di hadapanku telah ku dapatkan gadis yang tepat. Tinggal menghitung detik engkau akan lenyap, gadis malang. Dan kini aku akan berubah menjadi Gabriella yang muda dan berseri kembali. Hahahaha,” jelas Madam Lel panjang lebar. Aku hanya bisa pasrah dan menangis, iya menangis. Seperti seekor tikus dalam perangkap, mustahil untuk bisa menyelamatkan diri. Kini nyawaku telah di ujung tanduk, ritual pertukaran raga akan segera dimulai. Madam Lel berkomat-kamit, entah mantera macam apa yang ia baca. Ia semakin mendekat ke tubuhku, lalu ia mendekapku.

“Glek,” aku hanya bisa menelan ludah, berkali-kali. Lalu mataku kembali terpejam, mencoba untuk menghilangkan rasa takutku. Aku benar-benar pasrah akan kenyataan pahit yang ku rasakan secara mendadak ini. Aku syok berat.
“Baguuuus, ritual akan segera berakhir,” ucap Madam Lel kegirangan. Kata-katanya seakan mengiris seluruh tubuhku menjadi bagian yang kecil dan tipis, sangat sakit rasanya.
“Jleb,” tiba-tiba tubuh Madam Lel jatuh terkulai, lemas seperti sehelai kain yang diterpa angin. Tubuh rentanya berubah menjadi debu dan hilang seketika.
“Hel.. Helmy. Ka..u?” ujarku terbata-bata. Mataku terbelalak menyaksikan kejadian beberapa detik yang lalu ini. Helmy, seorang laki-laki yang telah ku kagumi dua belas bulan terakhir ini telah menghunuskan keris ke punggung Madam Lel dan membuatnya musnah. Sungguh tak terduga, Tuhan mengirimkan seorang kesatria untuk menolongku.

“Terima kasih, Hel,” sambungku sambil mengembangkan senyum di wajahku yang kusam. Namun ku lihat tak ada rona kebahagiaan di wajah Helmy, ia bersikap sangat dingin.
“Aku telah mengambil keris baja Ki Ageng Maharaya di bukit Indah. Menurut petunjuk, aku harus membunuh penguasa Raya Sari. Dan aku telah melakukannya,” ucap Helmy untuk yang pertama kali. “Setelah itu, aku harus membunuh seorang perempuan incarannya,” sambungnya sambil menatap mataku dalam-dalam dan menyeringai kemenangan.
“Glek,” aku tertegun. Habislah riwayatku.

Cerpen Karangan: Dwi Putri Ayu
Facebook: Dwi Putri Ayu

Cerpen Gadis Incaran merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dunia Afterlife

Oleh:
Pada saat itu… Ahk! terdengar suara teriakan, Aldric menghampiri suara teriakan tersebut dan dia melihat perempuan yang cantik yang sedang kebingungan. “Hey nona apa kau baik-baik saja?” sapa Aldric

Katakan Dengan Hati (Part 1)

Oleh:
Aahhh… Nyamannya… tempat ini begitu membuatku tenang, serasa ku ingin istirahatkan tubuhku yang lelah ini. Aku rasa aku akan memejamkan mata sebentar saja… “andi… andii…” terngiang suara di kepalaku

Pangeran Kuda Putih

Oleh:
Hujan yang sangat lebat membasahi jendala rumahku, ku lihat di seberang kamar ku ternyata ada sosok pemuda tampan yang sedang berteduh seorang diri di pinggir danau. Aku terus memandanginya

Kirito san (Part 3)

Oleh:
Tidak lama kemudian ramen itu habis dan Sima minum. Kemudian “terimkasih Kirito-san. Kau hebat dalam memasak ramen” “aku memang hebat” kata Kirito somobng. “hem. Seharusnya aku tidak memujimu tadi.

Machu Picchu Kota Indah Yang Terungkap

Oleh:
“andai sebuah waktu dapat menahan umurku, aku akan pilih dirimu meski kau bayar diriku dengan sebuah kota machu picchu yang megah” Tahun 1911 Pegunungan andes menjulang menghadap langit biru,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *