Gadis Pantai Berkarang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Lingkungan
Lolos moderasi pada: 19 December 2014

Ku bergelantungan di antara mentari dan rembulan. Mega merah seakan merangkulku erat-erat, sepertinya ia tak mau kehilangan sahabatnya lagi. Hanya desiran ombak dan hembusan angin kecil yang membuatku tentram. Tentram dalam birunya damai, tentram dalam persembunyian belati sejarah. Sejarah, ya sejarah yang menusuk sela-sela tulang rusuk, mencabik paras wanita cantik, mengoyak tubuh juragan besar yang tamak.

Kisah ini dimulai saat akhir perang dunia 2 berkecamuk. “Hendro… Hendro… you dimana? I takut you kena tembak”. Suara merdu Natasya Van Duddits yang memanggil sahabatnya ketika baku tembak antara tentara kolonial Belanda dan tentara Jepang berlangsung. Hendro dan aku datang secepat mungkin menghampiri Natasya. “Kau memanggilku?” sahut Hendro. Tiba-tiba terdengar suara tembakan di dekat mereka “Dhooor… Hahaha.. Mati you Hendro”, tuan Erick Van Dudits menembak mati pemuda Jawa yang cinta perdamaian tersebut.
Tetesan air mata Natasya menemani kami yang ditinggal pergi Hendro dalam perjalanan menuju sang Illahi. “Papa, waardoor jullie hardvochtig pijnigen en doden zij?” (Papa, kenapa kamu tega menyakiti dan membunuh mereka?), Natasya membentak dengan penuh rasa kecewa. “E… Tasya, Papa niet houden van jullie getrouwd gelijk mens!” (E…Tasya, Papa tidak suka kamu berteman sama orang pribumi!), suara lantang Tuan Erick menjawabnya.

Penduduk pribumi -Begitu Tuan Erik menyebut kami- memang sudah tau ketidakakuran keluarga mereka. Semua pertikaian keluarga Van Duddits diawali satu tahun lalu ketika Ny. Erny Van Duddits, istri tuan Erick berusaha membela salah seorang teman Natasya yang berasal dari bangsa pribumi di hadapan tuan Erick. Tetapi dengan kejinya sang juragan minyak menembak mati istri dan teman Natasya di depan lahan pertambangan minyaknya. Semua warga dan buruh-buruh pertambangan tak habis pikir apa yang menancap di otak tuan Erick sehingga ia dengan mudahnya membunuh keluarganya sendiri.

Semenjak ibunya meninggal, Natasya lebih sering bermain di pantai yang berjarak 1 km dari rumahnya. Gadis manis itu tak pernah lupa untuk mengajakku menemui sahabat barunya sebelum petang. Natasya tak akan pernah berbicara kecuali hanya kepadaku. Ia sering membicarakan masalah-masalah yang menekan hidupnya sampai aku tak mampu menahan kesedihan ketika melihat wajah indahnya mengkerut dan dilapisi rasa putus asa.

Waktu terus berlalu. Bergulir menghapus kenangan dan kesedihan. Hingga bertahun-tahun berikutnya semuanya masih sama. Dan kala senja meremang di sela-sela langit, Natasya selalu menyanyikan kidungnya dalam diam. Hanya kidung-kidung itu yang dapat menghiburnya. Seperti sebuah elegi indah Natasyaku bersatu dengan alam. Tak ada gurat kehampaan yang ditampakannya. Alam seakan larut dalam kedamaian mendengarnya bernyanyi. Saat itulah aku pecaya aku aman di pantai ini.

Hingga suatu hari, mereka datang ke pantai kami. Layaknya rombongan sirkus yang mendirikan tenda, mereka memarkir mobil-mobil besar berisi perbekalan di tepi pantai. Aku dan Natasya hanya mengamati mereka dari sela-sela bebatuan karang.

“Ini benar-benar tempat yang cocok, Pak. Sesuai dengan apa yang Bapak rencanakan!” Wanita gendut bertopi polkadot tampak sibuk berbicara dengan laki-laki berjas hitam. Sementara teman-teman mereka mendirikan palang-palang dan mengukuri area pantai.
“Kapan kita bisa memulai proyeknya?” tanya laki-laki berjas hitam tersebut pada si wanita gendut bertopi polkadot.
“Segera Pak! Besok kita bisa memulainya kalau Bapak mau.”
“Bagus-bagus. Saya sudah tidak sabar menjalankan proyek besar kita. Kau bisa bayangkan berapa banyak duit yang bisa kita dapatkan? Satu milyar, dua milyar, tiga milyar… hahahaha” laki-laki itu tertawa begitu lebar, sampai-sampai urat-urat di lehernya menyembul keluar, sementara perempuan gendut tersebut terus mengekor di belakangnya.
“Saya yakin pantai ini prospeknya cerah! Tapi, bagaimana dengan penduduk lokal di sini?”
“Tenang Pak. Kalau masalah itu tim saya sudah bergerak cepat!” ujar perempuan gendut itu centil.
Sebenarnya aku tak begitu mengerti apa yang mereka bicarakan. Tapi entah mengapa, aku tak menyukai kedatangan mereka.

Sementara Natasya perlahan beranjak dari sisiku. Dia berlari melintas hamparan pasir putih sebelum akhirnya menceburkan diri ke laut. Mungkin ia akan membagi cerita mengenai kedatangan orang asing itu pada lumba-lumba dan terumbu karang di bawah sana. Atau sekadar mencari makanan untuk perutnya yang lapar. Entahlah, yang jelas ia meninggalkanku dalam diam di tempat ini.

Di langit matahari perlahan naik. Cahanya berpendar kebiruan menembus bongkahan batuan karang yang digenangi air. Buih-buih air laut terseret ombak hingga menyisakan bekas basah di tepian pantai. Aku masih tertidur sebelum deburan ombak bercampur desing logam membangunkanku. Natasya belum juga kembali dari laut. Sementara keadaan di pantai semakin ramai. Truk-truk besar berdatangan membawa bahan-bahan material. Orang-orang berseragam semakin banyak memadati tepian pantai. Dari sela-sela batuan karang aku bisa mendengar mereka berteriak-teriak dan tertawa cekakan.

“Apa Pak Lek yakin dengan tawaran mereka?”
“Yo yakin ta Jo. Wong mereka itu mau membantu, biar hidup kita nggak miskin terus!”
“Tapi Sarjo nggak yakin dengan orang-orang kota macam mereka Pak Lek! Sarjo takut kalau Pak Lek dan warga yang lain dibohongi.”
“Sudahlah Jo. Percaya saja. Wong akhir-akhir ini pendapatan kita menurun. Bagaimana kita hidup nanti kalau setiap hari cuma ikan teri sama ikan asin yang kita dapat.”
“Tapi nggak dengan cara menyerahkan semua lahan untuk mereka Pak Lek. Belum lagi semua warga setuju-setuju saja mereka mengambil alih pengolahan pantai dan laut. Memangnya siapa mereka?”
“Kamu itu anak kecil tahu apa! Nanti kalau Pak Lek dapet uang banyak yo kamu juga yang seneng.”
“Tapi Pak Lek…”

Percakapan singkat itu berlangsung di dekatku. Aku kenal mereka, Sarjo dan Pak Lek War. Mereka nelayan, sama dengan warga lainnya yang tinggal di sekitar pantai ini. Aku dan Natasya suka mengantar mereka pergi bernelayan ketika senja menyelimuti pantai kami. Kadang-kadang kami juga menggoda mereka dengan menggoyangkan perahu-perahu kecil milik mereka atau mengeluarkan suara-suara mengerikan di tengah riak air. Setelah percakapan itu, mereka pergi meninggalkanku sendirian di bebatuan karang.

“Hei, kau masih di sini rupanya,” tiba-tiba Natasya sudah berada lagi di sampingku.
“Kau lihat mereka!” Aku mengangguk. Matanya menatap tajam pada orang-orang asing yang tampak sibuk di pantai.
“Mereka orang-orang jahat! Aku yakin mereka akan melakukan sesuatu yang tidak baik pada pantai kita,” ujarnya lagi sambil lalu membawaku menjauh dari bibir pantai.
Dibawanya aku menyelam ke lautan. Erat, dia memegang tubuhku hingga sepenuhnya terendam air laut yang segar. Di saat seperti inilah aku merasa aman, rongga-rongga tubuhku terisi kesegaran, aku hidup!
Terus, terus kami berenang ke dasar lautan yang kelam. Aku takjub melihat segala yang ada. Tampak di sana-sini terumbu karang bergerak teratur saat air laut memuculkan riaknya. Ikan-ikan berenang kian kemari membentuk gugusan indah bagai pemain akrobat. Belum lagi koral-koral yang bercorak meriah menyambut kehidupan di dalam laut, betapa indahnya laut kami.
Hingga akhirnya kami sampai di sebuah tempat. Aku tak tahu tempat apa ini namanya. Mungkin ini dasar laut yang paling dalam karena di sini sangat gelap. Kemudian Natasya mengajakku ke sebuah ceruk besar yang menyerupai gua bawah air. Detik berikutnya, air laut sudah tak merendam tubuh kami. Kehampaan seakan menyergapku saat tetesan air menimbulkan bunyi yang nyaring ke lantai-lantai gua.
“Kau tahu, di sinilah aku selalu mengenang masa lalu,” ujarnya sambil mengajakku menuju gundukan-gundukan besar di ujung ceruk.
“Aku tak pernah melupakan Hendro dan semua pejuang yang telah gugur demi mempertahankan tempat ini,” ujarnya berbisik. Lalu, Natasyaku mulai menyanyikan kidungnya yang menggetarkan alam. Aku diam seketika saat kidung tersebut mengalun dalam tubuhku, bagaikan doa penjaga malam kidung tersebut menggema di lautan.

“Seraaaang!” Semuanya terjadi bagaikan potongan-potongan kisah yang tercecer dan terpaksa disatukan. Malam seolah menjadi saksi palagan hitam ketika para kompeni menembaki mati para nelayan dan pejuang tanah air pemilik sah pulau ini. Persis seperti berpuluh-puluh tahun lalu, peristiwa tragis terjadi lagi di pantai ini.
Satu persatu, pemuda tersebut maju sambil membawa parang dan tombak. Sarjo yang memimpin golongan pemuda menyerbu pantai. Aku juga bisa melihat Pak Lek War di antara kekacauan itu. Tak ada ketakutan di wajah mereka. Tak gentar, mereka berduel dengan orang-orang asing dari kota yang berusaha merebut tanah mereka.
“Kami tak sudi pantai kami kalian ambil. Dasar munafik! Mana keuntungan yang kalian janjikan kepada kami hah?”
“Keuntungan apa? Dasar nelayan-nelayan bodoh. Kalian sendiri yang mau menandatangani surat penyerahan lahan. Jadi apa salahnya kami mengelola tempat ini!”
“Pergi kalian dari sini! Ini tempat kami! Seraaaanggg!”
Para pemuda berkoar-koar menuntut haknya. Sumpah serapah dan teriakan penuh kesakitan mengisi malam bersih tanpa bintang. Tak ada yang menyerah hingga akhir pertandingan. Suara desing peluru yang beradu dengan parang bagaikan luka lama yang dibuka kembali di masa yang berbeda. Aku tak kuasa melihat peristiwa yang terjadi sekembalinya aku dari dasar laut. Mereka saling membunuh tanpa rasa iba. Dimana Natasaya? Tidakkah dia melihat kejadian ini?
Hingga akhirnya, satu per satu peluru-peluru panas itu membuat para pemuda tergeletak tak bermakna.

Berminggu-minggu setelah peristiwa tragis itu terjadi, warga pantai yang tersisa tak bisa berbuat apa-apa. Mayoritas mereka adalah tua renta, anak-anak, dan wanita. Bagaikan anak ayam kehilangan induk, mereka hanya dapat memandangi resort-resort megah berdiri di tepian pantai.
Sebagian besar dari mereka mulai menjadi penjual kalung kerang dan souvenir bagi turis-turis yang berdatangan. Kalau beruntung mereka akan dipekerjakan sebagai tukang cuci di restoran-restoran yang juga mulai berkembang memadati daerah pinggiran pantai. Tak ada tawa. Tak ada canda. Tak ada air mata yang mereka tampilkan. Semua luka yang ada mereka kubur dalam-dalam. Sama seperti orang-orang kota itu mengubur jasad para pemuda, anak dan suami mereka dalam gulungan ombak di lautan.

Sekarang sudah sebulan sejak tempat wisata “Paradise Island” begitu mereka menamai pantai ini dibuka. Turis-turis selalu berdatangan dari segala penjuru. Mereka banyak menghabiskan waktu berplesir dan menginap di cottage-cottage yang ada di pantai. Belum lagi ketika malam menjelang, suasana tak pernah sunyi seperti dulu. Gegap gempita para pemuda yang sedang asyik berjoget sambil menegak minuman keras menjadi pemandangan yang tak lazim di sini. Ditambah lagi, kelap-kelip lampu diskotik seakan menjadi isyarat habisnya riwayat tempat ini. Aku muak!
Natasya benar, mereka orang-orang jahat! Tapi dimana gadisku itu sekarang? Apakah dia tak melihat pantai yang pernah diperjuangkannya sudah berubah menjadi surga dunia remaja-remaja kota itu.
Hingga ketika pagi datang membawa cahaya mentari ke tengah-tengah pantai. Dan camar-camar berterbangan ribut kesana-kemari. Gelombang besar setinggi 13 meter itu datang dari tengah laut. Remaja-remaja kota itu tak memperhatikan karena mereka sibuk bersendau gurau sambil memamerkan tubuh terbuka mereka. Pelan tapi pasti gelombang besar itu mendekati pantai kami. Beberapa penduduk lokal yang tahu akan keadaan itu segera berlari, menyelamatkan diri. Sementara turis-turis seperti tak ambil pusing karena mereka hanya mengira itu gelombang biasa yang akan habis ketika meraih bibir pantai.
Detik berikutnya, gelombang itu telah menggenangi semua sudut pantai. Orang-orang kota itu tak sempat menyelamatkan diri ketika gelombang besar tersebut menenggelamkan tubuh mereka. Semua bangunan rubuh, hancur tak bersisa.
Puing-puing yang tak bisa menata peradaban lagi.
Dan dari celah-celah karang tempat aku melihat semua kejadian, bisa kulihat seorang gadis berdiri di atas karang di tengah pantai. Gadis itu adalah Natasya. Dia menggerak-gerakan tangannya untuk menghalau angin dan mengendalikan gelombang.

Mungkin kalian masih tak paham dengan apa yang aku ceritakan. Bagaimana Natasyaku bisa menciptakan gelombang atau menyelam berjam-jam di lautan? Baiklah aku akan sedikit mengenang masa lalu.

Saat itu, setelah Tuan Erick terbang dengan penerbangan terkahir ke Belanda, Natasya bersembunyi di pantai karena ia memang tak mau kembali ke negara asalnya. Akhirnya ia hidup sebatang kara dalam keputus asaan dan kesendirian. Betapapun aku tak bisa menghalau kesedihan di wajahnya. Wajah sendu yang seperti menerawang masa lalu itu, seakan membawa luka hitam bagaimana sejarah telah mencabik-cabik batin seorang dara cantik.
Hingga di suatu hari, ia berjalan terlunta-lunta menuju sebuah tebing. Natasya berniat mengakhiri hidupnya dengan menerjunkan diri ke laut. Saat itulah Natasaya mendengar suara yang membimbingnya ke dasar lautan. Suara yang membuatnya bersatu dengan alam. Suara milik-Nya yang lebih tahu ketulusan hati seorang gadis Belanda yang begitu cinta perdamaian. Sejak saat itulah Natasyaku menjadi gadis pantai yang menjaga lautan. Dia menggiring ikan-ikan untuk para nelayan setiap harinya. Menjaga pantai untuk kami -para anak-anak negeri atas seizin-Nya.

“Hai Kawan, bagaimana kabarmu? Maafkan aku ya telah meninggalkanmu,” tiba-tiba saja Natasya sudah berada di sampingku. Diraihnya tubuhku lalu dikalungkannya aku ke lehernya.
“Aku tak akan meninggalkanmu lagi, aku berjanji,” ujarnya berbisik lembut membuat tubuhku berdesir.
Ya, aku yang hanya kalung kerang pemberian Hendro ini memang telah menyimpan banyak kenangan. Begitu banyak memori indah yang kurekam dalam sepenggal hidupku di dunia. Dan aku juga berjanji akan selalu menjaga gadisku ini.
Kami pun menyelam ke dasar lautan. Natasya membawaku berenang menyusuri lautan. Sekilas aku bisa melihat air mata mengalir dari matanya. Sementara pemandangan di sekitar kami semakin pekat. Terumbu karang sudah tak tampak menyambutku seperti pertama kali. Yang ada hanyalah bola-bola besi yang dapat meledak sewaktu-waktu. Air laut pun tak lagi segar dan terasa sesak memenuhi tubuh.

Aku tahu Natasyaku akan membawaku ke ceruk itu lagi. Lalu aku akan mendengarnya memujikan kidungnya untuk Hendro, Sarjo, dan semua jasad para pejuang ia kubur di ceruk bawah air itu. Jika sudah seperti itu, aku seakan melihat Natasya berdialog dengan Tuhan.

Maka, ketika langit mendung menampilkan bintang-bintang gelap dan rembulan tak dapat bercahaya dengan terang Natasya akan bernyanyi. Gadisku itu akan membunyikan kidungnya untuk menjaga lautan anak-anak kami. Dia selalu membantu para nenek moyang sejak lama untuk bertahan dan hidup di lautan. Begitupun sampai saat ini.
Penduduk memanggilnya ikan duyung. Karena banyak dari mereka hanya menyaksikan kelebatan bayangan berwujud manusia setengah ikan setelah mendapati tubuh mereka tergeletak selamat dari amukan badai. Entahlah, yang jelas Natasyaku -Gadis Pantaiku itu kerap mengajakku berloncatan dari karang satu ke karang lainnya. Ia selalu membawaku menjaga pantai dari para kompeni baru yang datang. Menghikmati setiap jengkal pasir pantai kami.

Cerpen Karangan: Arizky Rachmad Sudewo
Blog: arizkysudewo.blogspot.com
Facebook: Arizky Rachmad Sudewo
Bercita-cita menjadi penulis yang dapat menginspirasi sesama dan menyebarkan pesan kedamaian. Sempat aktif menulis saat SMP dan SMA, dan beberapa karyanya sempat memenangkan perlombaan serta dimuat dalam antologi puisi. Sekarang telah menginjak semester 3 di jurusan Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS Surabaya).

Cerpen Gadis Pantai Berkarang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan dan Kaktus

Oleh:
Dibalik tirai jendela, terlihat dia yang sedang menatap langit. Tidak begitu jelas. Embun-embun yang melapisi kaca membuat aku hampir tidak mengenali wajah itu. Matanya masih bersitatap dengan langit yang

Ada Batas Yang Membuat Kita Mengerti

Oleh:
Ia masih memegang sapu, ketika ada seorang pria terengah-engah bersembunyi di balik pagar tinggi rumahnya. Dari jauh terdengar teriakan maling… maling… terdengar kian mendekat. “Tolong saya, mas” kata orang

Sahabat Bayangan

Oleh:
Ketika sunyi menghampiri Dan sedih pun menyelimuti Pabila harap menjadi pinta Mimpi pun menjadi nyata — “Fiz, gimana pr mu? Udah selesai?” “Belum nih Qi, coba kamu tanya Risma.

Seruling Ajaib Dimas

Oleh:
Matahari bersinar dengan teriknya. Dimas, Bagas, Satria, dan Ludvi berjalan pulang sekolah menuju rumah Ludvi. Mereka akan mengerjakan tugas kelompok. Saking panasnya, Bagas mengeluh, “Mataharinya panas banget. Dimas, jajanin

Mimpi dan Fana (Part 1)

Oleh:
Ini adalah mimpi. Bagaimana aku tau? Aku berdiri di bawah himpunan dedaunan. Rasanya rindang, seperti sebuah tameng yang melindungiku dari terpaan sinar matahari. Tapi, layaknya sebuah benda yang tertarik

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Gadis Pantai Berkarang”

  1. Cahyo says:

    Powerfull story, ada sejarah, misteri, dan globalisasi yang disajikan dalam kisah fantasi. Really apreciate it!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *