Gadis Seniman

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 23 August 2016

Genap sudah usia pangeran dari Kerajaan Panjanirwa menginjak 29 tahun. Kini telah saatnya ia mencari pasangan hidup. Setelah pelantikannya menjadi raja sebagai pengganti ayahnya, ia harus bersiap mencari gadis yang bisa menemani hidupnya.

“Raja Tarkawana raja yang terkenal ke pelosok-pelosok sebagai raja yang arif dan tegas, juga pemurah dan pemaaf serta adil. Kau harus mencontoh ayahmu nak.” Sang Raja baru hanya tampak tercengang dan bangga akan ayahnya. Kemudian ia mengangguk mengerti.
“Nah, sekarang katakanlah seperti apa gadis yang kau inginkan? Butuhkah kita adakan sayembara?” tanya ayah Darawita, Tarkawana.
“Darawita ingin gadis yang baik dan cintanya tulus, ayah. Darawita ingin seorang gadis yang rendah hati dan cantik. Rencananya, anakmu ini ingin pergi ke rakyat kota dan desa mulai besok, ayah.” Ucap Darawita tegas.
“Kau memang anak yang dewasa, tak jauh beda dengan ayah dulu. Tak salah ayah mengangkatmu jadi raja baru di sini. Dengar nak, dulu ayah pun mendapat gadis cantik seperti ibumu dari rakyat kita sendiri. Sayang usianya pendek.” Jelas Tarkawana sembari memainkan janggutnya yang panjang.
“Kalau memang itu kehendakmu, pergilah besok bersama para prajurit. Pilih kuda terbaikmu.”
Darawita tersenyum dan menggangguk.

Usai berbincang dengan ayahnya ia lekas pergi mencari para prajurit kepercayaannya. Diajaknya memilih kuda terbaik.
“Dewangga Sutriono! Prajuritku dan temanku terbaik, semoga kau bisa menemaniku besok ke luar istana!” ucap Darawita dekat pintu gerbang penghubung kamar pelayan wanita.
“Tentu saja, raja.” Ucapnya sambil menundukkan kepala. Di Istana Panjanirwa ini, memang beginilah aturan sopan santunnya, semua wajib menunduk bila ada kedudukannya lebih tinggi.
“Jangan tertunduk. Anggap aku temanmu.” Ucap Darawita tegas.
“Tidak Raja, ini atan di istana kita.” Dewangga tak juga menegakkan kepalanya, hingga akhirnya Darawita mengangkat kepalanya dan membiarkan Dewangga menatap matanya.
“Ini perintah raja.” Darawita melepas tagannya dari kepala prajurit kepercayaannya itu. “Ayo, sekarang mari kita pilih kuda terbaik untuk kita berdua!”

Keduanya pun lekas pergi ke belakang istana dimana tiap kuda berada. Tidak hanya kuda, di sana juga terdapat sapi, pasalnya Kerajaan Panjanirwa juga memproduksi susu dan nantinya bisa diberikan ke rakyat tidak mampu. Dengan mantap keduanya memilih kuda terbaik istana, kuda putih dengan bulu agak keemasan di kepalanya.
“Tunggulah aku besok pagi di sini, Dewangga!” prajurit itu menggangguk tampak mengerti dan raja pun pergi ke kamarnya.

Tibalah hari yang ditunggunya, pagi-pagi sekali raja sudah berdiri di tempat yang di janjikan kemarin dan kemudian disusul kedatangan prajuritnya. Dewangga. Seduanya tampak rapi, gagah, dan terlihat tampan, namun pakaian mereka benar-benar seperti rakyat biasa.
“Raja, kemana kita akan pergi?” tanya Dewangga.
“Kota Darputi.”

Kedua kuda putih cantik dan bersih dengan cepat melaju. Maklum mereka tergesa-gesa, jarak Kota Darputi ke istana cukup jauh, sekitar 6-7 kilometer.
Ketika matahari tepat berdiri di atas kepala, sampailah keduanya di tepi sungai, pertanda mereka telah sampai di kota yang ditujunya. Dengan perut yang sedikit kelaparan, mereka menuruni kuda mereka dan berjalan di kota kecil beraspal batu yang diukir.

“Kota yang bersih dan unik. Tapi, mengapa sepi?” Celetuk Darawita.
Tak lama berjalanlah seorang gadis manis berkepang kuda dengan sebuah payung di tangan kanannya.
“Hai nona, bolehkah saya bertanya, dimana ada sumur yang tidak kering? Karena saya dengar di sini terkena gejala kemarau panjang yang cukup parah.” Tanya Darawita.
“Maaf tuan, saa tidak tahu. Tapi di sana ada kedai kecil.” Ucap gadis itu sambil menunjuk ke ujung jalan.
“Baiklah, terimakasih.” Ucap raja yang kemudian segera pergi dengan prajuritnya ke ujung jalan itu.

Sesampainya di depan kedai, dikaitkannya tali kuda ke sebuah kayu di pinggir jalan kemudian masuk ke kedai kecil dengan model bangunan tua dari kayu.
“Silahkan tuan, mau minum apa?” ucap pelayan muda berbadan tinggi dan tampan.
“Dua cangkir kopi dan satu piring sokla.” Ucap raja.
Di kota ini amat terkenal dengan makanan yang bernama sokla. Makanan ini bentuknya seperti bola. Teksturnya sama dengan roti dengan isi coklat yang meleleh bila digigit namun dagingnya lebih lembut dibanding roti. Amat enak bila dimakan hangat. Rasanya juga unik, sehingga tak aneh jadi digemari oleh rakyat.

“Hidangannya, tuan.” Ucap seorang pelayan.
Keduanya menikmati makan siangnya dengan lahap. Setelah hanya menyisakan endapan hitam serbuk kopi, kedunya lekas membawa kudanya ikut dalam perjalanan mereka.
“Zoe, Carta!” panggil Dewangga. “Raja, bagaimana ini.”
“Ssssst… jangan panggil aku raja. Lihatlah di sana.” Dewangga yang lupa dengan penyamarannya menelungkupkan kedua tangannya di atas bibirnya, kemudian menatap ke arah tunjukan raja.
“itu kuda kita, tapi kenapa dibawanya oleh wanita itu?!” Dewangga yang heran segera melangkahkan kaki hendak mengambil kudanya dan kuda rajanya kembali. Tapi sang raja menahannya.
“Diam dulu. Lihat wanita itu memberinya minum dari embernya.”
Tak lama gadis itu masuk ke rumahnya. Karena rasa penasaran raja dan prajuritnya makin memuncak, keduanya pun segera berlari ke arak kuda mereka berada.

“tok tok tok. Permisi, ada orang?” Darawita mengetuk rumah si gadis tadi.
“Ya, ada apa tuan?” melihat Dewangga memegang kuda yang diberinya minum tadi, ia pun bertanya “apakah itu kuda tuan?”
“Iya benar. Maaf siapa nama Anda?”
“Nama saya Syifhaka. Panggil saja Shifa.” Jelas gadis putih berponi dengan rumah yang agak reyot.
“sebelumnya saya minta maaf karena saya kuda kalian lepas dari patok kayu di sana. Kuda-kuda tuan ini kehausan, waktu saya membawa air dari sumur di belakang kedai, kedua kuda tuan menhampiri saya dan meneguk air.”
“Tidak. Maafkan saya karena tidak menjaga kedua kuda saya dengan baik. Terimakasih sudah memberinya minum.” Ucap raja dengan mata berbinar-binar.
Untuk gadis lain, pasti jijik bila embernya harus dipakai untuk minum seekor kuda, pikir raja.
Gadis itu mengangguk.
“Tuan tuan bukan dari kota ini ya? Kalau boleh tau tuan ingin kemana, barangkali saya bisa membantu, karena jalan di sini cukup rumit.” Papar gadis itu.
“kami dari kota seberang, hendak berkeliling di sini. Barangkkali ada keunikan di kota ini.” Jelas Darawita.
“Mungkin jika tuan mau, silahkan masuk ke rumah saya, ada beberapa hasil lukisan dan pahatan karya saya. Di kota ini terkenal dengan seninya, bila tuan mungkin suka dengan karya saya, silahkan ambil.” Ajak gadis itu ramah.
“Tidakkah merepotkan?” tanya Darawita.
“Tidak tuan, jangan sungkan, masuklah.”

Setelah ketiganya masuk, benar yang ditemukan sang raja dan prajuritnya, karya gadis itu memang luar biasa. Tiap karyanya punya makna tersendiri yang terlihat amatlah unik. Raja dan prajuritnya benar-benar dibawa ke sebuah alam yang indah tiada duanya. Di sisi kiri dan kanannya berjajar lukisan dan pahatan yang khas.
“Maafkan saya tuan, bila mengecewakan. Maaf juga keadaan rumah saya yang kecil ini dan tidak punya apa-apa.” ucap si gadis yang berdiri di pojok rumahnya dengan wajah murung yang kentara.
“Syifha! Ini karya yang luar biasa! Ijinkan aku membawamu ke istana!” ucap sang raja dengan amat terpesona dengan isi rumah kecil itu.
“is… istana?” gadis itu tampak bingung dan seolah tak percaya. “Tuan? Tuan Raja Darawita?” tanya gadis itu tak percaya.
“Betul. Bersediakah kau jadi istriku, Shifha?” ucap sang raja.
Gadis itu malah menunduk malu dan tidak menjawab.
“Hei? Kenapa?” tanya sang raja.
“Maafkan saya tuan, saya sudah amat tidak sopan.” Ucap gadis itu.
Sang raja terkejut bukan main melihat ekspresi gadis tersebut, bukannya bahagia dibawanya ke istana, malah murung seperti kesambar petir.
“Sudahlah, maukah kau dibawa raja ke istana?” ucap Dewangga memecah kebingungan raja.
Gadis itu mengangguk.
“Kau memang gadis luar biasa! Pasti ayah dan ibumu bangga padamu.”
“Ayah dan ibuku tak bisa melihatku di bumi ini.” Jelas gadis itu. Kemudian sang raja mengangguk mengerti.
“Kurasa hanya isi rumah ini yang perlu kita bawa ke istana” ucap raja
Semuanya tertawa lepas seolah tak ada yang terjadi.

Cerpen Karangan: Davina Senjaya
Facebook: Davina Senjaya
Hi readers semoga cerita ini bermanfaat untuk kalian yah. Minimal jadi hiburan hehe. Makasih udah baca juga.

Cerpen Gadis Seniman merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Musuh Dalam Selimut

Oleh:
Namaku rista. Aku punya sahabat bernama rtia (baca: retia). Kami satu les, sekolah dan kelas. Kami juga sebangku. Pagi itu, gheni sedang gosipin rtia. Biasa… Gheni tu emang si

Verdriet

Oleh:
Sejak dua jam yang lalu aku bersantai di halaman belakang rumaku, angin malam berhembus, mendinginkan otakku, memang enak sih bersantai sambil mendengarkan lagunya Shaggy dog – Bersamamu. Beberapa menit

Sajadah Terbang

Oleh:
“Bunda… Aku kangen sama Nenek.” “Sayang… kenapa kamu tidak pernah ikhlas atas kepergian Nenek. Kasihan Nenek dia punya banyak beban… ” “Tapi Bunda..” “Ya sudah, hari ini ayo kita

Kepingan Bintang Yang Hilang

Oleh:
Terlalu bodoh untukku purnamasari, melepas bintang yang telah kamu beri kepadaku, bintang yang selama ini menerangi hari-hariku, menemani setiap detik dalam hidupku, bintang yang aku perjuangkan dari setiap orang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *