Gerdika Adiyaksa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 20 February 2017

Di sebuah desa, hiduplah seorang ibu dan anak laki-lakinya. Nama anak laki-laki itu Gerdika Adiyaksa. Mereka hidup sebagai keluarga sederhana di desa tersebut.

“Gerdika, ayo antar ibu ke pasar!” ajak ibu Gerdika. “Aku tidak mau!”, “Ayolah, ibu akan membawa barang belanja yang banyak!” akhirnya Gerdika menurut dan mengikuti ibunya ke pasar. Sampai di pasar, ibu membeli barang belanja yang sangat banyak hingga Gerdika membantu ibu membawanya. “Gerdika, ayo kita pu..” ibu terdiam melihat anaknya menatap seorang ibu berpakaian mewah tersebut. Tampaknya ia membawa barang belanja yang banyak. Gerdika menghampiri ibu tersebut.

“Ibu, aku bawa barang belanjanya ya!” seru Gerdika pada ibu tersebut. “Tidak perlu!”, “Tidak apa-apa bu, aku ikhlas!” akhirnya Gerdika membawa barang belanja ibu tersebut dan meninggalkan ibunya di pasar. Di perjalanan, mereka berbincang. Nama ibu itu Renia. Ia mempunyai seorang anak perempuan sebaya Gerdika bernama Terina. “Kalian bisa berteman baik!” ucap ibu Renia. Gerdika tersenyum mendengar perkataannya.

Sampai di rumah, ibu Renia berterimakasih dan menyerahkan uang kepada Gerdika. “Tidak perlu bu. Aku ikhlas!”, “Ini tanda terimakasih ibu!” akhirnya Gerdika menerima uang tersebut dan pamit lalu pulang dengan hati yang bahagia. “Gerdika, kau tak kasihan melihat ibu yang lelah ini?” tanya ibu Gerdika ketika anaknya sampai di rumah. “Lebih baik aku membantu ibu kaya itu daripada membantu ibu. Lihat bu, uang. Ini hasil kerja kerasku!” jawab Gerdika sambil memperlihatkan uangnya. “Sudahlah, aku mau ke kamar!” lanjutnya dan pergi menuju kamar.

Dua hari kemudian, ibu kembali mengajak Gerdika ke pasar setelah dibujuk. Saat Gerdika mengikuti ibunya, tiba-tiba seorang nenek datang kepada Gerdika untuk meminta bantuan membawa barang belanja nenek tersebut. “Aku tidak mau!” tolak Gerdika kasar. “Nak, bantulah nenek ini. Tidak apa-apa, lagipula ibu belum belanja apapun. Dua hari yang lalu, tanpa diminta, kau mau membantu ibu tersebut!” Gerdika menatap tajam ibunya. “Ibu itu mempunyai uang yang banyak. Wajar saja aku membantu membawa barang belanja agar aku mendapat uang. Sedangkan nenek ini, apa dia bisa membayarku?” nenek dan ibu terkejut mendengar perkataannya. “Jadi kamu ingin menolong orang karena uang? Gerdika, ibu mengajarkanmu untuk..”, “Sudahlah, aku temani ibu saja!” Gerdika memotong ucapan ibu lalu menarik tangan beliau menjauhi nenek tersebut.

Seminggu kemudian, Gerdika meminta izin kepada ibu untuk bermain ke rumah teman akrabnya. Ibu mengizinkannya. Gerdika pergi dengan hati bahagia. Bukan bahagia karena akan bertemu dengan teman akrabnya, melainkan bertemu Terina, anak dari ibu Renia. Rencananya ia akan mengajaknya bermain. Ya, Gerdika berbohong.

Di perjalanan, angin berhembus sangat kencang membuat daun-daun di pohon ikut bergerak dan jatuh ke tanah. Karena angin tersebut semakin kencang, sebuah pohon besar tumbang dan mengenai kaki Gerdika. “Tolong!” teriak Gerdika. “Tolong!” teriaknya lagi. “Siapa saja, ayo bantu aku!” Gerdika terus berteriak namun tak ada jawaban. Tiba-tiba seorang nenek muncul. “Nenek? Bukankah ini nenek yang kutolak untuk dibantu seminggu yang lalu?” heran Gerdika. “Ya. Aku orangnya!”, “Cepat bantu aku!” Gerdika tak sabar lagi untuk keluar dari pohon tumbang itu.

“Gerdika Adiyaksa!”, “Mengapa kau tahu nama lengkapku?”, “Tentu aku tahu. Kau yang berbohong, kau yang menolak untuk membantuku, kau yang membantu karena uang, kau yang..”, “Cukup. Kau tak tahu bahwa kakiku semakin sakit?” kesal Gerdika. “Baik, aku akan membantu dan menyembuhkan luka di kakimu. Asalkan kau turuti permintaanku!”, “Apapun permintaanmu, akan kukabulkan!” akhirnya nenek tersebut membantu dan menyembuhkan luka Gerdika. “Ajaib sekali!” kagum Gerdika.

“Gerdika Adiyaksa!”, “Kau kuubah menjadi seekor kucing. Itu karena perbuatan kasarmu pada orang lain. Kau bisa berubah menjadi manusia bila membantu 50 orang dalam seminggu. Jika tidak bisa, kutukkan itu selamanya ada pada dirimu!” Gerdika terkejut mendengar permintaan nenek tersebut. “Kau mengutukku?”, “Iya, aku mengutukmu. Agar kau tahu bahwa jika kau menolong orang bukan karena harta, itu akan membuat hidupmu damai!”, “Hidup akan damai bila ada uang. Dengan uang, apapun bisa kulakukan!”, “Itu hanya kesenangan duniawi!”, “Kau bisa membuat permintaan lain?” tiba-tiba nenek itu hilang. Gerdika melihat seluruh tubuhnya dan terkejut. “Apa? Aku berubah menjadi seekor kucing?”.

“Membantu 50 orang dalam seminggu mudah bagiku. Bahkan bisa saja dari 50 orang tersebut, kudapatkan uang yang sangat banyak. Tapi bayangkan saja, dengan wujudku yang berubah menjadi kucing, apa aku bisa membantu orang?”, “Tolong!” Gerdika mendengar suara orang meminta tolong. Ia menghampiri suara tersebut. Ternyata seorang ibu dan dua preman yang saling berebut tas. Tanpa berpikir panjang, Gerdika berlari dan menyerang lengan salah satu preman tersebut. Ia menyakar dan menggigitnya. Preman itu kesakitan dan berlari meninggalkan Gerdika. Tas itu berada di tangan ibu tersebut. Gerdika menatapnya sebentar lalu berlari.

“Aku membantunya. Ini suatu keajaiban!”, “Tolong!” Gerdika mendengar suara meminta tolong. Ia berlari menghampiri orang tersebut. Dilihatnya seorang anak perempuan yang terluka. Gerdika menjilat luka itu dan ajaib, luka tersebut hilang dengan sendirinya. “Apa? Aku melakukannya lagi?” Gerdika terkejut dan menjauhi anak tersebut.

2 orang sudah dibantunya. Ia semakin giat membantu semua orang agar kutukannya hilang. Seminggu kemudian, tinggal 1 orang lagi yang harus dibantunya. “Hee..” terdengar suara anak menangis. Tangisan yang memilukan membuat Gerdika mencari sumber suara tersebut. “Mengapa seorang anak kecil menangis di kuburan?” Gerdika menghampiri anak tersebut.

“Ibu!” teriaknya dan menjatuhkan selembar kertas. Gerdika membaca isi kertas tersebut. “Jadi ibunya meninggal. Ia yatim piatu, kasihan sekali!” Gerdika mengeong kepada anak tersebut. Anak itu menatapnya dan kembali menangis. Gerdika menaruh kepalanya di lutut anak tersebut. Ia mengelus kepala Gerdika. “Aku tidak akan menangis lagi!” ia menghapus air matanya. Namun, setetes air mata jatuh ke bulu halus Gerdika. Keajaiban terjadi, Gerdika berubah menjadi manusia. Anak itu terkejut. “Aku berubah menjadi manusia. Terimakasih!” ucap Gerdika pada anak itu. Gerdika menceritakan kepada anak tersebut mengapa dia menjadi seekor kucing.

“Aku tidak tega melihatmu menangis. Aku teringat ibuku. Aku tak tahu bagaimana kabarnya!” Gerdika menutup cerita tersebut. “Bersyukurlah kakak masih mempunyai ibu!” jawab anak itu tersenyum walau hatinya masih menangis. “Siapa namamu?”, “Namaku Fardina!”, “Ayo ikut aku!” Gerdika menarik tangan Fardina walau Fardina belum menjawab ajakannya.

Sampai di rumah, Gerdika langsung memanggil ibunya. “Anakku!” Gerdika dan ibu berpelukan sementara Fardina kembali meneteskan air mata. Gerdika menceritakan mengapa selama seminggu tidak ada kabar. “Nenek itu menyadarkanku bahwa menolong orang itu harus ikhlas bukan karena uang. Aku menolong 50 orang itu dengan ikhlas bahkan hatiku jadi damai. Dia juga menyadarkanku pentingnya berbakti kepada orangtua!” ujar Gerdika sambil menunjuk Fardina. Ia menghapus air matanya. Ibu Gerdika langsung memeluknya. “Jadi kau yatim piatu? Maukah kau jadi anak ibu? Ibu menganggapmu sebagai anakku sendiri!” Fardina terharu mendengar ucapan ibu Gerdika. “Aku mau bu. Terimakasih!” akhirnya ibu Gerdika memiliki seorang anak dan Gerdika memiliki seorang adik.

Gerdika Adiyaksa, seorang anak yang dahulu kasar dan menolong orang karena harta, ia berubah menjadi penyayang dan mau membantu orang dengan ikhlas. Kini hidupnya lebih damai daripada sebelumnya.

Selesai.

Cerpen Karangan: Salma Sakhira Zahra
Facebook: Salma Zahra

Cerpen Gerdika Adiyaksa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kado Teristimewa Dari Papa

Oleh:
Namaku Arnold Greevano, panggil saja Arnold, besok adalah hari ulang tahunku ke 12 tahun. “Mama, apa yang akan diberikan Papa di ulang tahunku?” tanyaku. “Sabarlah Arnold, besok kau juga

Senandung Seruling

Oleh:
Di Desa Hindun, ada desas-desus menarik yang sedang jadi bahan pembicaraan dari anak-anak sampai orang dewasa. Katanya, di dalam hutan pinggir desa, ada lelembut yang muncul dan meniup seruling

Sahabat Yang Sebenarnya

Oleh:
Liliana Silqia. Gadis ramah yang selalu tersenyum. Dikala suka maupun duka. Walaupun dicerca banyak orang, tak membuat senyumnya pudar. Tapi anehnya, tidak ada yang ingin bersahabat dengan Qia. Jangankan

De Ja Vu

Oleh:
“Kok, jam segini Bu Maya belum datang, yah?” lirih Dimas yang duduk di bangku sebelah kananku. Aku mengernyitkan dahi. Benar, dalam hati aku juga bertanya kenapa wali kelas kami

Can I Singing Again?

Oleh:
Nina dan Ana, adalah sepasang sahabat sejati. Mereka tinggal di satu perumahan dan kompleks yang sama. Perumahan Anggrek di Kompleks D. Mereka juga mempunyai suara yang amat merdu. Kebetulan,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *