Gliese 581g (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 7 July 2014

Tanpa menyelesaikan surat Raffles, aku segera berlari keluar. Kulihat makhluk Gliese 581g tengah dikurung dan dipaksa masuk ke dalam sebuah jeruji besar di sana. Tanganku yang masih menggenggam surat Raffles gemetaran hebat, kulihat kata terakhir yang ada di sana. “… tenanglah, aku menyembunyikan beberapa temanmu di bawah tangga rumahmu. Maafkan aku, sekali lagi maaf aku tak bisa membantumu. Aku harap kau bisa bersembunyi dan aman daripara manusia yang mencari informasi darimu.

Aku mencintaimu, Raffles”

Aku melipat surat itu dan memasukannya ke dalam kantung bajuku. Aku berlari ke dalam rumah dan mencari ruang bawah tanah di rumahku. Apa benar ada ruang bawah tanah di rumahku ini?

Aku mencari ke setiap penjuru rumah, sampai akhirnya aku merasa ada yang aneh dengan perapian di rumahku, aku merasa ada sebuah lorong di sana, mungkin kah jalan menuju ruang bawah tanah di sana?

Aku memasuki perapian, bajuku sedikit bercampur abu dan aku mencoba mengoreknya. Di sana ada sebuah tombol merah yang tertutupi tumpukan abu. Aku menekannya dan tiba-tiba saja aku beranjak turun ke bawah di atas abu itu dengan keras. Saat aku sudah mencapai di bawah, aku melihat beberapa kumpulan orang yang ada di sana. Saat aku datang, orang-orang itu langsung menatapku dan salah satu mereka mendekatiku.
“Apa kau Glisa?” tanya dia. Aku beringsut bangkit. Aku menepuk rok dan keluar dari abu tadi. Sesaat papan meluncur ke atas dan kembali ke tempat semula.
“Ya, aku Glisa,” ucapku pada mereka. Mereka semua langsung bersorak, mereka memang mirip denganku, namun tubuh mereka sedikit membungkuk seperti orangtua dan masyarakat di tempatku dulu.
“Kau lah satu-satunya harapan kami, kau lah satu-satunya yang bisa menyelamatkan kami,” kata seorang dari sana. Aku tersenyum kecil.
“Kalian jangan khawatir, kita pasti bisa mempertahankan Gliese 581g,” kataku menyemangati mereka. Aku mengambil liontinku dari saku celanaku. Walau pun kristalnya pecah, namun kalung ini masih bisa aku pakai.
“Ini adalah lambang Gliese 581g. Ini adalah kristal Zogo, walau pecah, namun aku yakin kita bisa bersatu lagi,” kataku melanjutkan.
“Glisa, apa yang harus kita lakukan?” tanya seorang dari mereka.
“Kita harus melawan, persiapkan persenjataan kita sekarang, kita harus bisa mempertahankan Gliese 581g, kita pasti bisa!”

Aku menatap nanar langit yang mulai berubah gelap. Kini permukaan tanah mulai memunculkan bias warna merah. Angin dingin mulai berhembus keras. Aku menatap peradaban Gliese 581g yang tersisa dan belum ditangkap, mereka memang sedikit namun aku yakin peradaban Gliese 581g tak akan punah. Dengan persenjataan seadanya, aku memimpin pasukan kecilku keluar dari persembunyianku. Saat aku keluar, Raffles memandangku kaget dan cemas. Aku menatap pasukanku dan mengangguk mengisyaratkan untuk penyiapan penyerangan. Mereka balas mengangguk dan terlihat siap.

Aku berjalan maju ke depan dan berteriak,
“Hey, manusia! Apa yang sedang kalian lakukan pada bangsaku?! Kalian tak berhak untuk mengurung dan membunuh mereka!” teriakku lantang.
“Kau siapa gadis kecil? Apa kau gadis yang dikirimkan dari bumi? Kulihat kau sedikit berbeda dari mereka,” balas seorang pria beruban yang berdiri di samping Raffles, Raffles melengos pergi dan tak menatapku. Pria beruban itu berjalan menghampiriku.
“Ternyata benar, kau gadis itu!” katanya.
“Enyahlah dari tanahku! Jangan kau kotori planetku dengan langkah busukmu!” ucapku kasar padanya.
“Oh, oh! Siapa dirimu? Apa kau Tuhan yang memiliki semua ini?” katanya dengan senyum hambar.
“Siapa diriku? Aku pemimpin Gliese 581g. Aku hidup dan dibesarkan di sini bukan untuk memberitahukan rahasia Gliese 581g padamu! Aku di sini datang untuk melindungi rakyatku! Maka dari itu, lepaskan mereka, bebaskan rakyatku dari kekanganmu!” teriakku tepat di depan wajahnya. Dia tersenyum hambar.
“Kau berani melawan padaku? Apa yang kau punya?” katanya. Aku menarik liontinku dan menunjukannya pada dia.
“Gliese 581g akan tetap menjadi milikku dan seluruh rakyatku, bukan manusia!” ucapku menekan sambil membuang muka dari hadapannya. Aku berbalik dan berjalan menjauhi dirinya. Selama beberapa menit aku tak melihatnya, aku juga tak mendengarnya. Namun tiba-tiba…

Duaarr! Aku kaget dan langsung berbalik, mataku terbelalak dan aku terpaku. Mataku mendadak panas dan berair ditebak angin. Kulihat kobaran merah di selatan dan itu begitu besar. Tidak, ini tak boleh terjadi. Pria beruban itu tersenyum sinis dan memasukan sebuah benda dengan beberapa tombol di sana ke dalam saku bajunya. Keadaan mendadak begitu panas dan menggerahkan. Kutatap penuh kebencian siluet wajah yang dimakan usia itu, dia telah berhasil memusnahkannya. Orangtuaku, tetua Vad, ledakan itu muncul dari arah tempat tinggalku dulu.

Aku berteriak sekencang-kencangnya. Air mataku tumpah dan kebencianku semakin membuncah. Dadaku terasa terbakar dan liontinku kembali bergetar. Mata merahku menatap pria itu penuh kebencian yang sebelumnya tak sebesar sekarang, kebencian yang tiada akhirnya. Kutarik sebuah belati dari kantongku, dan ku berlari sekuat tenaga menuju pesawat pria itu, pasukan yang ada di belakangku berlari mengikutiku dan menyerbu kawasan baja kokoh itu, dan akhirnya, peperangan pun tak bisa diragukan lagi, semuanya telah dimulai. Peperangan, perjuangan dan darah yang akan tertumpah.

Aku berjalan sempoyongan. Darah merah yang keluar dari lenganku begitu sakit dan perih. Ternyata benar, aku adalah manusia, salah satu dari mereka. Darah-darah yang mengucur dari pasukanku berwarna kehitaman.

Kugenggam lengan atas kiriku dengan tangan kananku. Kuberjalan dengan seluruh sisa tenagaku. Belatiku masih kusimpan dan kubawa. Aku sepertinya akan kalah, Gliese 581g akan musnah.
“Glisa, apa lagi yang harus kita lakukan?” kata seorang dari mereka. Kutatap pasukanku, mereka semua sudah begitu terluka dan lemah.
“Apa perlu kita melanjutkannya? Kurasa kita sudah kalah,” ucapku mengeluh.
“Aku mendukungmu, Glisa. Kita pasti menang!” ucap yang lain, aku menatap mereka nanar.
“Tapi aku tak mau melihat kalian terluka, apalagi lebih terluka dari keadaanku sekarang. Sudah banyak rakyat Gliese 581g yang musnah, aku tak ingin kalian menjadi hal yang sama,” kataku. Mereka terdiam, rakyat Gliese 581g yang tersisa kini hanya sedikit dan aku tak yakin jika aku akan menang nanti.
“Tidak, kita pasti menang!” ucap sebuah suara yang begitu tak asing bagiku. Aku langsung bangkit, kulihat senyum itu menyinari wajahnya. Seulas senyum yang begitu tenang.
“Raffles,” kataku sambil menatapnya.
“Aku adalah sekutumu, kita di sini untuk berjuang, bukan untuk menyerah.” Dia tersenyum, aku balas tersenyum padanya. Aku tahu, Raffles pasti akan memihakku dan yang lain, aku tahu Raffles memilih setia padaku. Namun, berarti dia sekarang telah mengkhianati Ayahnya?
“Aku senang kau memihakku, namun bagaimana Ayahmu? Bukan kah Ayahmu memiliki impian untuk menetap di planet ini?” tanyaku. Raffles terdiam dan menunduk. Entah apa yang ingin dia utarakan, namun sepertinya ada sesuatu yang menjejali perasaannya.
“Aku tahu Ayah sudah berusaha keras untuk bisa sampai di planet ini, namun aku tidak bisa menyangkal bahwa hal yang telah dia lakukan pada penghuni makhluk ini begitu kejam. Tak seharusnya Ayah melakukannya,” kata dia.
“Lalu apa pilihanmu? Apa kau akan berdosa?” Dia hanya menggeleng.
“Entah, aku menyayanginya. Tapi aku tak terima sikapnya jika itu mengancam keselamatanmu, aku tak ingin kau pergi. Lagipula bumi masih bisa kita lakukan perubahan, aku tahu. Gara-gara mesin waktu, kami menjelajah masa depan dan menemukan bumi musnah akibat bencana dan ulah manusia sendiri. Bukankah tak ada kata terlambat untuk memulai segalanya?” kata dia. Aku hanya mengangguk.
“Kita lakukan saja secara baik-baik. Aku tak ingin kekerasan dan darah yang harus jadi taruhannya, aku wanita. Aku tak sekuat pria,” kataku.

Raffles langsung mengajakku dan pasukanku untuk menemui Ayahnya. Dia akan bilang bahwa semunya harus diakhiri. Juga dia tak mau ada orang yang harus terluka karena keegoisan manusia.
“Ayah!” teriak Raffles.
“Apa yang kau lakukan bersama mereka, Raffles?” tanya Ayahnya kaget saat melihat aku dan sisa pasukanku berada di belakang Raffles.
“Ayah, kumohon hentikan peperangan ini! Aku tak ingin ada orang yang terluka karena keegoisan kita! Mereka menderita setelah kita mendarat di sini, Ayah,” ucap Raffles saat Ayahnya menghampirinya. Mata biru tua milik Ayahnya menatapku tajam.
“Apa yang kau lakukan pada anakku?” kata dia dengan suara menekan padaku.
“Aku tak melakukan apa pun!”
“Ramuan mujarab apa yang kau berikan sehingga anakku menjadi berbalik pemikiran?!” katanya lebih menekan lagi.
“Tidak, Ayah. Glisa tak melakukan apa pun, kumohon Ayah, kita jangan menganggu lagi peradaban Gliese 581g!” ucap Raffles.
“Rupanya kau telah dicuci otak, nak! Apa hal yang membuatmu seperti ini?” “Ayah, kumohon!” kata Raffles memelas.
“Tidak, Ayah tak akan keluar dari sini! Kau memang anak yang tak berguna!” caci Ayah Raffles padanya.

Raffles hanya diam tak berkutik. Aku menepuk pundaknya dan dia malah menyingkirkan tanganku. Raffles mengeluarkan sebuah remot yang berisi banyak tombol. Saat Raffles akan menekan tombol itu, tiba-tiba…

Duaar! Ledakan itu menyeret aku dan Raffles terbang dan terbanting. Begitu juga pasukanku yang tersisa. Bau anyir mulai tercium di mana-mana. Aku terbaring tepat di samping Raffles.
“Kau akan membunuh Ayahmu dengan bommu, Nak? Tidak-tidak, aku lebih cepat darimu! Jangan pernah berpikir bahwa kau lebih pandai dariku!” suara sinis itu dibarengi dengan sebuah senyum sinis. Terlihat Raffles begitu lemas dan darah berlumuran dari tubuhnya.
“Ta-k akan kubiarkan!” katanya sedikit terjeda.

Mendadak suasana menjadi berwarna merah kejinggaan. Lidah api keluar dari matahari yang baru saja terbit dari ufuk timur. Semasa hidupku tak pernah kulihat hal seperti ini. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupku. Pertama kali!

Aku menggenggam tangan Raffles yang ada di sampingku. Keadaan semakit panas dengan lidah api yang menjulur ke luar dari cahaya matahari. Aku menggenggam erat tangan Raffles yang berlumuran darah, tak jauh dengan keadaan tanganku sekarang.
“Kita akan selamanya bersama, kita akan mati bersama,” desahku sambil menggenggam tangannya lebih erat lagi.

Raffles sedikit menahan rasa sakit yang dideritanya. Begitu pun denganku, aku sudah tak bisa lagi bangun dengan keadaan burukku ini. Hampir tak bisa. Manusia di sana tampak kaget sekaligus terpukau melihat lidah api matahari yang begitu besar dan menimbulkan radiasi. Raffles mengeluarkan sebuah remot dari bajunya dengan seluruh sisa tenaganya.
“Aku tahu kemenangan -yang mutlak itu tak ada, walau kita- bertempur dalam- satu peperangan, tak akan ada satu detik pun- keabadian, aku harus melakukannya. Bom yang sudah kutempatkan, jika aku mati, maka kita semua harus mati,” katanya sedikit tersendat-sendat. Aku menatap ke atas, kurasakan pahit yang begitu dalam dan serentetan nostalgia manis yang bersatu dalam sebuah kehidupan. Aku membayangkan betapa senangnya hidupku di masa lalu, di masaku kecil dan tak tahu apa-apa. Kehidupanku sangat harmonis, tak ada kekacauan dan tak ada kesakitan. Tapi sekarang, kenangan manis itu baru kurasakan begitu manis saat aku harus kehilangan segalanya. Dan aku merasa di atas sana ada sebuah keabadian setelah aku menutup mata dan melayang.
“Kau benar, tak ada kemenangan mutlak, semuanya tak ada artinya. Walau sekarang kita tak akan jadi abu, mungkin kita akan terpanggang jadi arang.”

Raffles menatapku dengan pandangan sayu. Usai kuberucap, air mataku tumpah bersama darah yang terus bercucuran. Raffles menekan tombol peledak bomb yang telah dia siapkan dan membuat ledakan yang begitu besar. Rasanya seluruh Gliese 581g punah setelah ledakan itu menggema. Kapal baja itu rusak, tubuh itu terpelanting jauh dan darah bercecer di mana-mana. Walau Raffles menyimpan bom itu di dalam kapal baja, aku ikut terpelanting jauh dan merasa seribu kesakitan. Adil, ini yang paling adil yang harus Raffles lakukan. Jika mereka merasakan kematian, maka dia dan aku pun sama. Walau Gliese 581g punah, bukan berarti aku tak akan mendapat lagi kehidupan. Yang aku rasakan sekarang, aku begitu hampa dan bahagia bersama tanganku yang masih bergandengan dengan Raffles. Mungkin aku akan hidup bahagia bersama dengan Raffles di keabadian. Atau mungkin juga aku akan dipanggang di neraka bersama Raffles yang telah membunuh mereka semua. Entahlah, yang kurasa kehidupan baruku telah dimulai. Kehidupan di mana kesakitanku akan berakhir dan aku akan bebas.

-Selesai-

Cerpen Karangan: Musume Timide
Blog: notesofmydiary.muwapblog.com
Hanya gadis berusia tigabelas tahun yang suka bermimpi dan pemalu.

Cerpen Gliese 581g (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Si Pengecut

Oleh:
Malam ini adalah malam yang menentukan segalanya. Sesuatu akan berakhir malam ini, entah itu aku, kami, atau pun mereka. Ini adalah saat-saat terakhir untuk kita semua, kematian adalah takdir

The Bladekeeper

Oleh:
Di hari yang cerah di suatu desa terdapat orang yang bernama Yunero, dia adalah anggota terakhir dari klannya, dulu semua klannya dibunuh dan desanya dibakar, kecuali ia dan ibunya

Hantu Goblin

Oleh:
Suatu malam, ada seorang gadis dan saudara perempuannya ke taman. Suasana taman yang remang remang sepi, membuat mereka ingin kembali ke rumahnya. Sebelum pulang ke rumah, di jalan, mereka

Misteri Kompas (Part 1)

Oleh:
Kehidupan biasa tidak ada yang susah tiap hari pergi bersekolah dan pulang. Aku sebagai anak yang baru masuk SMA merasa hidupku membosankan. Sampai sore semuanya berubah. Namaku Nia gadis

Putri Naswa

Oleh:
Pada zaman itu ada seorang putri naswa yang buruk rupa,hingga pada suatu hari dia bermimpi bertemu seorang pangeran “cantik kemarilah!”katanya sang putri melihat kekanan kiri,tidak ada orang selain ia.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Gliese 581g (Part 2)”

  1. Dimas Ayu Dina says:

    ceritanya keren.sya suka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *