Goyah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 7 February 2016

Sakittt! Itulah rasa yang menghiasi jiwaku saat ini.

“Aku tahu ini berat, sangat berat malah, namun kita juga tidak bisa egois karena cinta, mungkin aku harus pergi saat ini dan entah kapan akan kembali atau mungkin aku tak akan pernah kembali lagi, bukan karena benci atau sudah tak cinta lagi, namun sebaliknya, aku hanya ingin kamu menjalani hidup tanpa beban dalam hatimu, aku ingin melepasmu, aku cuma ingin kamu tidak goyah dengan segala keputusanmu!!” Surat dari Adrian masih ku genggam erat, sangat erat!! aku tak mau melepasnya, sakit banget rasanya dan aku juga melihat bekas tetesan air di surat ini mungkin air mata Adrian, aku yakin itu.

Malam semakin larut, hati tak kunjung tenang, rasa sakit itu masih hebatnya menusuk-nusuk hatiku, semua ini bukanlah kemauanku. Aku hanyalah anggota polisi biasa. Dan Adrian juga hanyalah pesuruh bayaran biasa, meski begitu ia tidak pernah melukai siapa pun apalagi sampai membunuh, ia memang terkenal hebat dalam hal penyelidikan bahkan lebih hebat daripada aku. “Aku tahu kamu tidak bersalah Adrian, aku yakin itu, kenapa kamu harus pergi? aku sudah pernah bilang kan sama kamu, mau bagaimanapun keadaannya kamu harus tetap kembali!!” Aku terus menangis seraya memandang luar jendela, kebiasaannya sebagai pesuruh yang fantastis membuat kisahku dengannya terjalin tidak biasa, ia sering ke luar masuk kamarku dengan mudah. “Ini semua kesalahanku, jika kau tak melindungiku kau tak akan menjadi tersangka pembunuhan itu, karenaku kau mengakui kesalahan orang lain dan menjadi tameng untukku, aku harus menuntaskan semua ini!!”

Pagi telah menyapa dengan ramah.. aku mulai membuka mataku yang terasa berat ini. Ini bukan mimpi, aku terus mengucek mataku, mencubit dan semua ini nyata, sosok itu ada di depanku sekarang.

“Adrian!!”
“Hmm!!”

Aku berhambur dalam peluknya merasakan detak jantungnya, “Jangan pergi!!” ucapku seraya merengek dan memeluknya sangat erat. “Hey! jangan khawatir, semua akan baik-baik saja!!” Balasnya dengan melepaskan pelukanku dan mulai mengangkat wajahku, membiarkan kedua manik mata kita saling beradu, di sana di dalam sana aku melihat keyakinan yang tanpa ku sadari mulai merasuki hatiku.
“Tapiii…” kalimatku belum selesai, tiba-tiba ia mengecup lembut bibir ceriku, ada rasa lain ku rasakan, ciuman ini berbeda dengan biasanya, perasaanku sungguh tidak enak, seperti perpisahan.

“Tangan kamu?” Aku melihat goresan luka di sana, ku rasa itu masih baru.
Aku hafal semuanya, bagaimana darah segar, dan luka karena itu sebagian dari tugasku.
“Ah… tidak apa-apa!!”
“Tapi itu masih baru Adrian!!”

“Aku harus pergi, dengarkan dan ingat pesanku baik-baik, jangan pernah goyah dengan keputusanmu yang kamu anggap itu benar, jaga diri kamu baik-baik, jangan pernah sok pemberani, dan jangan pernah terpuruk dengan kejadian yang akan terjadi hari ini!!” ucapnya dengan memegang tanganku erat. Kalimat terakhir yang ia ucapkan membuat tubuhku lemas seketika dan mengukir tanda tanya besar dalam hatiku. “Aku tak akan pernah goyah dengan keputusanku, kamu tidak bersalah Adrian, kenapa kamu hanya diam, kenapa tidak melakukan penyelidikan, kamu kan terbiasa dan sangat handal dengan itu!!”

“Aku sudah menemukan bukti bahwa aku tidak bersalah Luna, tapi aku tak bisa.”
“Kenapa?”
“karena hatiku tak mengizinkannya!!”
“Apa maksudmu?”
“Bukan apa-apa, belum saatnya kamu tahu, mungkin kamu akan tahu suatu saat nanti dari mulut orang lain, karena aku tak bisa mengucapkannya, jangan menangisiku lagi!”
“Kok bisa tahu?”
“karena aku seorang pesuruh bayaran.. hahaha!!”
“Jadi dari tadi malam kamu di sini?”
“Iya!!”

“Hah?” Aku masih ternganga, pikiranku melayang jauh membayangkan sesuatu yang negatif.
“heh!!” Teriaknya memecah lamunanku. “gak usah kotor kali otaknya, orang aku gak ngapa-ngapain, cuma duduk aja kok, lagian kamu dah terbiasakan dengan semua ini.”
“Hahaha… iya juga sih, terus maksud surat ini apa, kamu gak akan pergi kan, aku gak peduli mau kamu bisa nemuin bukti apa enggak kamu harus tetap kembali!!” Ucapku dengan memeluknya.

“Kamu adalah anggota polisi, tak seharusnya begini, bagaimanapun kamu harus menjauhiku, menjauh dari buronan yang kamu cari ini kan malah kamu sembunyikan!!”
“Kamu gak salah Adrian!!” aku terus berteriak. “Aku harus pergi sekarang!!” Ucapnya dengan melepas paksa pelukanku, namun ia berhenti sebentar memandangi wajahku aku tahu dia juga tak ingin seperti ini, matanya yang menjeritkan semua kepadaku, lama ia memandangku lalu mengecup bibirku untuk terakhir kalinya dan pergi menghilang begitu saja.

Lima bulan telah berlalu, perasaanku mulai sedikit lega, pasalnya pencarian Adrian sudah tidak lagi terdengar hebat, namun aku masih melakukan penyelidikkan terhadapnya, berat memang.
“Lun, cepat bergegas, buronan kita sudah terkapar!!” Sebuah kalimat itu membuyarkan lamunanku sekaligus membuat jantungku rontok rasanya “terkapar? Adrian terkapar?”
Aku langsung bergegas di tempat tujuan, ku sibak polisi lainnya dan juga wartawan. Benar itu Adrian!

“Adrian!!” Teriakku lantang tanpa peduli.
“Adrian bangun!!” Aku mengusap wajahnya, hati benar-benar berontak sekarang.
“Heh, selama ini aku diam, bukan berarti aku tidak tahu semuanya, kalian dengar kalimat ini baik-baik Adrian bukan pembunuh dia bukan pembunuh, dan kalian tega memerlakukannya begini!!” Aku berteriak kepada semua orang tak peduli pandangan demi pandangan aneh tertuju padaku.

“Luna!!”
“Iya Adrian, kenapa, dimana yang sakit, kamu harus kuat!!”
“Ingat semua pesanku dulu!!”
“Iya aku akan mengingatanya, kamu juga harus bertahan demi aku!!”
“Enggak luna, terima ini, jangan berteriak seperti orang bodoh, berteriak dan tunjukkan ini pada dunia, namun kalau kamu tidak mau aku tidak memaksa, dengan ini kamu akan tahu dan tak akan tahu lewat mulut orang lain..” Ucapnya dengan menutup mata dan pergi untuk segala galanya. Tangisku tak terbendung saat itu juga.

“Lihat apa yang kalian perbuat, kalian telah membunuh orang yang tidak bersalah, kalau tidak percaya buktinya ada di flashdisk ini!!” Tanpa pikir panjang aku serahkan flashdisk itu pada salah satu wartawan, kebenaran pun terungkap, bukan Adrian pelakunya melainkan….
“Ayah?” Ya pelakunya adalah ayahku sendiri, bagaimana mungkin semua ini terjadi, semua ini benar-benar di luar dugaanku. “Jadi ini apa yang dimaksud Adrian karena hatinya tak mengizinkannya karena Ayahkulah pelaku sebenarnya!!”

Tamat

Cerpen Karangan: Aisyiah Noviani
Facebook: Aisyah novi
Thank you

Cerpen Goyah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sesal Dan Harapan

Oleh:
“Sampai kapankah kita, akan bersama?” Tanyaku, pada sesosok wanita cantik, yang ada di hadapanku. Dia hanya tersenyum padaku, sambil menepuk bahuku. “pertanyaan kamu kok aneh gitu sih?” balasnya. “kenapa?

Dari Mata Yang Berbeda

Oleh:
Malam yang indah dengan ditemani siraman cahaya rembulan. Angin malam berhembus pelan menembus tubuhku. Tanpa berpikir dua kali, aku keluar dari persembunyian. Sejenak kuedarkan pandangan untuk menentukan jalan mana

Sesal Tak Terduga

Oleh:
Hujan tak surut terhenti, suara petir pun terus menggelegar. Hujan semakin mendinginkan badan, apalagi jika sampai harus menunggu hujan itu reda. Iya cerita ini dimulai ketika hujan turun di

Kembalilah Seperti Setahun Lalu

Oleh:
Aku rindu tatapannya, aku rindu senyumnya, aku rindu suaranya, aku merindukan semua tentangnya. Dia yang tak akan merindukan ku, dia yang tak mengenalku. Aku hanyalah bagian ingatan yang telah

Semuanya Milikmu Kembaranku

Oleh:
Sungguh membosankan sekali hari ini. Nilai metematika aku jeblok, terus aku harus nganter temen sekelas aku ke ruang piket, ceritanya sakit terus mau pulang, tapi enggak tau juga sih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *