Green Necklace

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 17 April 2017

Udara pagi itu menusuk tulang. Di balik kaca, embun terlihat menyelimuti halaman rumah. Tak ada mentari di pagi buta kali ini, namun Erika sudah bangun sambil merapatkan kedua kakinya.
Sudah hari ke seratus dia berada di sini. Tuan Steinfeld masih belum membuka pintu rumahnya, sesuatu yang langka di pagi hari. Erika, gadis pendiam ini terpana melihat kilauan cahaya dari kalungnya.

Seperti hari-hari biasa di Orchard.
Orang-orang sejak pagi sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Beberapa penjual makanan dan bunga sudah sejak jam enam membuka lapak. Hari itu juga Erika menandai kertas berwarna perak yang menunjukkan angka berupa tanggal. Sudah hari ke delapan puluh-lima dia berada di sini. Apa yang dirasakannya selama ini cukup membuatnya enggan tertidur lebih lama. Dia mencintai kota kecil ini. Dia mendapat teman baru di sini, dan bahkan mereka adalah yang pertama baginya.
Hari itu, Erika akan kembali berjalan mengelilingi kota, dengan menenteng keranjang buah, sambil menyapa setiap orang yang ditemuinya. Gadis itu bahkan sudah memiliki kesan tersendiri bagi penduduk Orchard.

Joyce dan Liana sudah menungguya di pusat kota. Mereka sudah seperti saudara, dan sering menghabiskan waktu satu sama lain. Erika sering berkunjung ke rumah mereka. Namun belakangan orangtua mereka sedikit sibuk dan membiarkan anak-anak mereka pergi menghabiskan waktu di luar.
Erika tidak pernah menceritakan kisahnya secara utuh. Yang Joyce dan Liana tau, dia hanya seorang gadis pindahan dari pedesaan di timur Alfok. Dan persahabatan mereka pun tidak terlalu mempermasalahkannya.

“dia datang” kata Liana.
“hai” kata Erika “apa aku terlambat?”
“tenang saja. Kemarikan apel-apel itu, kita harus menyajikannya sebelum siang” Joyce beranjak dari tempatnya duduk.
Mereka pun memulai kegiatan mengiris buah, memotong-motongnya dan menaruhnya dalam wadah yang sudah diisi syrup. Pada saat matahari sudah cukup tinggi untuk berteduh, mereka sudah menyajikan minuman segar itu di atas meja kecil.
“bagaimana menurut kalian?” ucap Joyce sambil memperlihatkan hasil tenunnya.
“indah sekali Joy” jawab Erika bersemangat.
“terima kasih Erika, ini adalah percobaan yang ke sebelas kali, ibuku sudah menyerah dan membiarkanku sendiri” kali ini Joyce tertawa.

Siang itu mereka bertiga pergi menyusuri desa dan perkebunan, Liana paling tau hal menyenangkan untuk dilakukan bagi gadis-gadis berusia sepuluh tahun, dia membuat anyaman dari daun yang cukup fleksibel sehingga berputar ketika dia berlari melawan angin. Sontak hal tersebut membuat Erika dan Joyce terkagum-kagum.
“ajarkan kami!” teriak Joyce.
Mereka menghabiskan waktu sampai sore di padang, dan ketika langit menguning di ufuk timur, mereka berbaring di atas rerumputan.
“apa kalian tau kapan Orchard dibangun?” tanya Erika.
“Aku belum pernah bertanya” jawab Joyce.
“mungkin sudah dari ratusan tahun lalu” kata Liana “tapi aku tidak tau persisnya”
“kita bisa tanya ke Ayah” ucap Joyce.
“lalu apa maksud dari perayaan Gordoane?” tanya Erika.
“katanya itu sebagai peringatan hari dimana dewa langit turun pada malam ke tujuh dibulan Mei” jawab Liana “dan kita akan mendapat keberkahan, hanya saja aku tidak tau apa dewa-dewa itu benar ada”
“tentu saja ada,” sergah Joyce “tidakkah kau perhatikan, setiap memasuki bulan Mei pasti akan turun hujan atau angin kencang, itu tandanya mereka segera datang”
“ya, mungkin saja, itu seperti alarm untuk anak penakut sepertimu” ucap Liana.
Tawa pecah di antara Erika dan Liana.
Erika sebenarnya kagum dengan Hari Gordoane, bahkan masih dua hari lagi, tapi orang-orang sudah bersiap, dan melakukan banyak kegiatan untuk menghias jalanan dan rumah-rumah.
Apa mereka tau sebentar lagi dewa-dewa itu benar-benar akan datang? Dewa-dewa bertaring dan memiliki senjata pembunuh.

Malam itu Erika berkomunikasi dengan Tuannya, Lazardos.
“bagaimana keadaanmu Erika?” suara berat itu keluar dari alat pendengar berbentuk silinder.
“aku baik, semuanya baik” jawab Erika.
“apa berita yang bisa kau berikan untukku malam ini?”
“tidak banyak, hanya suasana pedesaan yang indah.” Kata Erika “hari ini orang-orang sudah mulai menghias jalanan”
“luar biasa bukan? Mereka bahkan tidak menyadari kedatangan kita”
“iya, dan sepertinya semua orang bahagia”
“kau sudah menemukannya?”
“belum”
“Erika, Ratu sudah akan memerintahkan koloni berangkat ke sana bagaimana pun juga dua minggu lagi.” Kata Tuan Lazardos “kau harus cepat menemukan lokasi pendaratan”
“bagaimana mungkin?” ucap Erika “aku bahkan belum tau beberapa tempat di sini”
“dengar, kau harus menemukannya bagaimanapun caranya, kejayaan koloni ini tergantung padamu Erika” sergah Lazardos dan memutus sambungan.

Semuanya tampak berbeda hari ini, besok adalah hari yang besar di Orchard. Orang-orang akan berpesta di pagi sampai sore hari, kemudian malam hari warga akan berkumpul di balai umum dan pergi ke kuil.
Liana dan Joyce tidak terlihat di taman. Erika tenggelam dalam benaknya.
“Hallo kak” Seorang anak kecil tiba-tiba menyapa, berdiri di hadapannya.
“hai” Erika langsung tersenyum melihatnya.
“maukah kau menemaniku?”
“tentu” jawab Erika.
Mereka berdua bermain simpul sebelum berpindah ke kelas melipat kertas. Erika sangat senang menemani anak itu.
“aku Andre.” Ucap bocah itu dengan tangannya sibuk melipat kertas.
“sedang apa kau di sini?” tanya Erika
“aku hanya bermain disekitar sini, lalu melhat kakak sendiri”
“di mana orangtuamu?”
“mereka sdang sibuk di rumah, aku rasa lebih menyenangkan di sini”
“tentu saja, mari bermain lagi” kata Erika “namaku Erika”
Sebelum kembali pulang, Andre memberikan gelang buatannya kepada Erika. Dengan sedikit tak teratur, gelang itu terlihat cantik di pergelangan tangan Erika.
“terima kasih Andre, aku menyukainya” kata Erika “besok kita bermain lagi ya?”
“baiklah. Sampai jumpa Kak Erika”.

Di Deluxa, Erika tidak sering bermain di luar. Dia harus pergi bekerja di tambang bersama anak-anak lain seusianya. Dengan penyesuaian waktu dan porsi pekerjaa, anaka-anak bahkan harus rela mengorbankan masa bermainnya.
Bermain bersama Andre membuatnya bahagia sekaligus sedih. Bagaimana mungkin ada tempat seindah ini, sedngkan di tempat lain rasanya hidup tidak ada belas kasihan.

Erika menyusuri jalur sungai (Liin).
Mencoba menikmati hembusan angin, dan langit lebih indah dengan bintang-bintang,
Apa yang mereka lakukan di sana?
Sudah delapan-puluh-enam hari Erika di sini. Dia belum mendapat kabar apa-apa dari orangtuanya.

Tuan Lazardos punya alasannya sendiri.
Mereka bisa saja diusir dari kapal, mereka bisa saja dikurung dalam sel, atau mungkin tewas dalam kerusuhan.

Keesokan paginya, Erika dikagetkan oleh suara dentuman meriam.
Sekitar sepuluh kali terdengar. Suara itu pasti dari lapangan desa, karena hari ini adalah hari besar bagi rakyat Orchard. Hari ini adalah perayaan Hari Gordoane.
Dari jendela, Erika melihat rumah Tuan Steinfeld sudah terbuka pintunya, dengan beberapa hiasan di samping tiap jendela –seperti karangan bunga.
Dia pun keluar ke halaman dan melihat betapa ramainya kerumunan orang di jalanan. Joyce dan Liana tidak terlihat, namun rasanya semua anak-anak terlihat seperti mereka berdua.
Erika memakai sepatu dan langsung pergi ke keraimaian. Sepanjang mata, yang bisa dilihatnya adalah orang-orang yang tampak riang, memakai pakaian rapi dan berwarna-warni. Anak-anak berlarian sambil memegang sesuatu seperti yang dibuat Liana waktu itu. Di pinggir jalan, digantung hiasan terbuat dari dedauan, lalu ada lampu-lampu kecil juga menghiasinya. Erika tenggelam oleh kekaguman.

Tiba-tiba seseorang menyentuh pundaknya.
“Hallo gadis kecil, selamat Hari Gordoane”
“Tuan Steinfeld” kata Erika ketika berbalik badan lalu menyambar pelukan hangat itu.
“Ini untukmu” setangkai bunga berwarna kuning-keemasan diulurkan Tuan Stainfeld.
“untukku?” ucap Erika berbinar-binar “ohh indah sekali Tuan, terima kasih”
Erika kembali memeluknya sebelum Tuan Steinfeld pamit dan berbalik ke arah kerumunan orang.

“Erika!” suara samar-samar terdengar dari belakang telinganya.
“Joyce? Liana?”
Dua gadis berpakaian berbentuk bunga dan bermanik-manik itu berlari ke arah Erika, rambut mereka tergerai panjang seperti ingin terlepas ke udara.
“Erika..” ucap Joyce “kami mencarimu dari tadi”
“dari mana saja kau.. eh ayo cepat ikut kami” mereka menarik tangan Erika dan masuk ke kerumunan penduduk di jalanan.

Terik matahari pagi rasanya tidak berpengaruh terhadap antusias orang-orang. bulir-bulir peluh terlhat di dahi dan wajah mereka, tetapi senyum mereka terus mengembang seperti bunga Dendelion di padang.
“kau tidak bisa melewatkan ini” Liana menatap dengan binar ke arah undakan patung di tengah lapangan.
“itu…” seketika bulu roma Erika bergetar.
“itu adalalah penampilan sang Dewi” jawab Joyce mencoba melindungi wajah dari sinar matahari
“itu.. Dewi? Sangat besar..” mata Erika tidak berkedip.
“sangat besar memang, rasanya sama besar dengan rumahku” ucap Liana tersenyum bangga.

Para lelaki yang berpakaian berumbai dengan dada terbuka menari tarian yang seperti gerakan melompat-lompat kecil, sambil membawa tongkat dan tameng. Lalu salah seorang di antaranya mengambil obor api yang kemudian diiringnya ke darerah sekitar kaki patung tadi.
Kira-kira setinggi tujuh meter berdiri di tengah lapangan itu, sebuah patung menyerupai wanita dengan setangkai bunga di tangan –bunga buatan raksasa, dan juga tongkat di tangan yang satunya.

Lelaki yang membawa obor tadi meneriakan kata-kata yang khas dari Orchard:
“Jika kau datang, berilah kasih sayang dan anugerah, bila kau pergi tinggalkanlah cinta”
Orang yang tadi kemudian melempar obor api tersebut ke kaki patung, dan seketika nyala apinya merambat naik ke seluruh permukaan patung raksaasa tersebut –yang ternyata seperti kapas yang terbakar, memancarkan cahya kuning dan biru api, menyelimuti seluruh bagian patung sebelum
“BOOM”
Ledakan itu terjadi dengan suara seperti popcorn yang meletus, tidak terlalu nyaring, tapi beradiasi lembut dan hangat, juga terang.

Tiba-tiba seluruh langit dipenuhi benda berwarna pink lembut, berkilauan, menyebar ke seluruh penjuru lapangan,
“apa yang..” Erika menyingkap tangan dari wajahnya, kemudian menyaksikan benda sepeti kapas beterbangan di udara, memancarkan kilauan terkena bias matahari. Suasana menjadi hening.
Lalu, sorak-sorai seketika pecah oleh kerumunan penduduk.
“Hidup Dewi!!”
“Selamat Hari Gordoane!”
“Berbahagialah!”.
Merinding di sekujur tubuh, Erika pun ikut berteriak sambil melompat-lompat.

Mereka bertiga berjalan menyusuri desa, dengan bantuan alat berbentuk bulatan oval yang mengeluarkan cahaya kuning. Mereka tidak kesulitan untuk sampai di padang rumput -tempat dimana mereka biasa bermain.
“Lihatlah semua ini” Joyce berlari ke arah rerumputan, berputar-putar sebelum menjatuhkan diri ke tanah.
“ini luar biasa bukan?” tanya Liana menatap kedua mata Erika yang terlihat berbinar di bawah cahaya rembulan.
Mereka merebahkan tubuh sejajar beralaskan rerumputan.
“apa yang kau pikirkan Erika?” tanya Liana memecah keheningan.
“aku tidak bisa membayangkan apa-apa” ucap Erika “hanya sangat senang”
“inilah Hari Gordoane” kata Liana menatap ke arah Erika.
“kau harus benar-benar menikmatinya” Joyce menimpal.
“aku tidak pernah membayangkan tempat secantik ini sebelumnya” kata Erika.
“bagaimana dengan daerah asalamu?” tanya Joyce kemudian.
Mendengar itu, Erika mencoba memikirkan sesuatu hal dan teringat kembali keluarganya di Deluxa. Tempat yang dikenalnya sangat keras, gelap dan penuh dengan abu hitam. Peperangan, kelaparan, tangisan, kesengsaraan, invasi dan lainnya terlintas dalam benaknya saat itu.

“ehm, kami tidak sering merayakan sesuatu di kampung halaman kami” kata Erika sambil memegang kalungnya.
“apa kau benar akan tinggal di sini seterusnya?” tanya Liana
“pasti akan sangat menyenangkan” ucap Joyce.
“ya, pasti” suara Erika merendah.
“aku cinta Orchard!” Joyce berteriak sambil merentangkan tangannya ke udara.

Setiap perayaan Hari Goardoane, semua penduduk Orchard akan pergi ke kuil di atas perbukitan (Tonsoy) untuk memanjatkan doa malam. Tradisinya seperti tahun-tahun sebelumnya, yaitu berjalan kaki berbondong-bondong ke atas bukit, dengan seluruh anggota keluarga, membawa raga dan jiwa yang tenang dan damai ke atas peraduan, menjernihkan hati dan memanjatkan doa keselamatan pada Dewi Asuna.

“aku tidak tau harus berdoa bagaimana” ucap Erika ketika mereka bertiga akan bersiap-siap pergi ke kuil.
“kau hanya harus memikirkan hal-hal yang baik, dan jangan lupa tutup matamu” kata Liana.
Mereka pun akhirnya berangkat, mengikuti kerumunan orang-orang dan keluarga mereka.

Jalanan ke atas bukit sudah dibangun dengan anak tangga, dan ada ribuan anak tanggga tentunya. Sepanjang jalan, Erika tidak berhenti menanyakan benda-benda bercahaya yang terlihat di sisi-sisi bukit, kebanyakan adalah lilin, patung dan tiang-tiang yang di pasang penerang.
Mereka tiba di atas bukit tiga-puluh menit kemudian, lalu menuju kuil yang teletak persis di hadapan mereka. Kuil itu cukup luas, dengan bentuk seperti setengah bulatan, dilengkapi lampion yang digantung di dinding-dindingnya.

“ayo masuk” ajak Liana.
Mereka bertiga harus mengantri dahulu, karena barisan orang yang datang cukup panjang. Ruangan seperti ballroom itu sudah penuh sesak oleh kerumunan orang.
Erika mengambil tempatnya di dekat pelataran, mengikuti gerakan pelan dan lambat ditiru dari Joyce maupun orang-orang disekitar. Erika bersimpuh dan mencoba menutup kedua matanya. Memanjatkan harapan yang teramat mulia, namun beresiko.
Erika berusaha berkonsentrasi, memikirkan hal-hal yang baik -harapan-harapannya, seolah ada kekuatan yang lebih besar dari semua. Bisa dibilang, Erika berdoa.

Ruangan itu hening, sepi akan suara-suara hasrat manusia, akan riuhnya ego, seperti padam di dalam kehangatan nurani. Semua orang khusyuk memanjatkan doa. Tiba-tiba,
“Erika, kalungmu..” Liana terperanjat melihat sinar kehijauan itu.
Erika membuka ke dua matanya dan merasakan kepalanya membesar, bulu roma terangkat, lalu kedua tangannya refleks memegang erat kalungnya.
“apa itu Erika?” suara Joyce melebar seraya menarik tubunya ke belakang.
Sudah saatnya, hari ini Hari Gordoane, mereka akan segera tiba.

Sebagai seorang anak sulung dari tiga bersaudara, Erika sudah sepantasnya mendapat beban yang lumayan besar.
Kelangsungan hidup bangsa Deluxa berada di ujuk tombak. Dan karena banyaknya penduduk yang gugur, Ratu Deluxa tidak punya banyak pilihan selain mengirim sisa-sisa prajurit dan juga anak-anak yang dianggap tangkas untuk menemukan tanah baru, tanah dimana bangsa mereka akan pindah dan tinggal untuk masa selanjutnya.

Erika menjadi satu-satunya harapan koloni, semua yang telah dikirim gagal –entah karena mati kelaparan, dijadikan santapann hewan buas, atau dibunuh penduduk asli, yang pasti sekarang hanya Erika, hanya Erika yang diandalkan bangsa Deluxa.
Tapi, ada masalah lain, kepindahan bangsa Deluxa pasti tidak akan membawa kedamaian bagi penduduk Orchard. Semua yang bukan darah Deluxa pasti akan disingkirkan, dimusnahkan, dan bangsa Deluxa tidak mengenal negosiasi atau pun kerja sama.

“aku sungguh masih heran dengan kalungmu tu” ucap Joyce “kalung apa itu?”
“ini bukan apa-apa, pemberian dari nenek ku, memang bisa menyala disaat-saat tertentu”
“seperti misalnya?” tanya Joyce kembali
Seperti ketika mereka mencari tanda, mencari arah, seperti petunjuk jalan bagi bangsaku, maka kalung ini akan bersinar. Kalung ini sangat berharga, kalung ini seperti nyawa Deluxa.
“sepeti.. ehm. Seperti..”
“Hey coba lihat!” Liana menunjuk ke arah pohon Willow.

Titik-titik cahaya itu berkilau mengelilingi pohon, seperti serbuk-serbuk pixie, warnanya kehijauan.
“kunang-kunang!” Joyce langsung berteriak.
Mereka bertiga berlari ke arah pohon tersebut, melompat dan seketika berhenti di bawahnya. Memandangi pergerkan cahaya-cahaya kecil itu -mereka tidak bersuara.
Menenangkan.

Erika naik ke atas ranjangnya, duduk dan melepas kedua sepatu yang seharian ini menempel terus dengan kulitnya. Dia berbaring, menarik selimut sampai ke pinggang, dan memandangi kotak-kotak persegi di atas langit-langit kamarnya.
Dia memikirkan kembali bagaimana hari ini berlalu, hal apa saja yang sudah dilihatnya, waktu-waktu dimana ia, Liana da Joyce bersama, tertawa, berlari, bernyanyi, semua masih jelas.
Tapi ada yang mengganjal.
Dunia di sini indah, mereka orang-orang yang indah.
Bisakah aku tinggal lebih lama lagi?
Air mata keluar dari pelupuk matanya, mengalir ke pipi dan berhenti di sudut bibirnya.

Pagi itu Erika terbangun lebih awal, merapikan tempat tidurnya, kemudian melangkah ke meja tempat dia menaruh kertas berwarna perak yang berisi angka-angka beraturan. Tepat hari ini, sudah seratus hari dia berada dan tingggal di Orchard, hidupnya bisa saja akan berubah drastis setelah ini.
Melingkari hari ke seratus, Erika kembali duduk di atas tranjangnya. Suhu pagi itu masih sangat rendah, kabut terlihat seperti membungkus rumahnya dan desa ini. Rumah Tuan Stainfeld belum juga terbuka, lalu tiba-tiba kalungnya bersinar lagi.
Hari ini mereka akan segera datang.
Erika berlari keluar dari rumah -tak sempat memakai alas kaki, dia melesat menembus kabut, samar-samar, dia tetap berlari. Tujuannya jelas pagi itu; dia ingin bertemu Joyce dan Liana.

“Joyce!” Erika memanggil nama itu sedikit berteriak beberapa puluh kali, sebelum akhirnya pintu rumah berbentuk persegi itu terbuka.
“Erika?” raut wajah Joyce tidak bisa dijelaskan, bingung.
“Joyce, aku ingin bicara denganmu” kata Erika tegas.
Mereka berdua pergi ke kediaman Liana, juga memanggil beberapa kali nama Liana sebelum dibukakan pintu oleh Ibunya.

“Masih sangat pagi begini” Liana berbicara sangat pelan,sambil menekan-nekan kedua matanya.
“aku ingin bicara, sangat penting” kata Erika tegas.
Mereka bertiga duduk dipadang, membentuk lingkaran.
Erika lalu menceritakan semuanya, tentang asalnya, tentang maksud dan tujuannya datang kemari, tentang masa lalunya, tenang dunianya, tentang keluarganya.

“aku tidak percaya.” kata Joyce sembari berdiri, menatap tajam ke arah Erika.
“aku berkata jujur” suara Erika terdengar memelas.
“bagaimana mungkin?” Liana juga bangkit dan menaruh satu tangannya di dada, mencoba merasakan sesuatu.
“ada satu cara yang bisa dicoba” kata Erika.
“maksudmu?” ucap Liana.
“Dengar, kalian orang-orang yang baik, kalian sahabat terbaikku, semua orang yang pernah kukenal di sini juga sangat baik, desa dan tempat ini sangat indah.” Erika berkata dengan nada besar dan tidak bergetar. “aku bisa bisa menghentikan semua ini!”

Mereka pada akhirnya berjalan bersama ke arah kuil, tidak berkata apa-apa, yang terdengar hanya langkah kaki ketiga gadis kecil.
Terakhir kali Erika kemari sekitar dua minggu lalu, malam yang syahdu, wajah setiap orang seperti wajah bayi, wajah mereka seperti bersinar di bawah terangnya rembulan.
Hari itu perayaan Hari Gordoane, Erika merasakan indahnya kemeriahan dan aura kebahagiaan desa Orchard. Jalanan dipenuhi lampu-lampu, orang-orang memakai kain berwarna putih malam itu.
Hari itu pula untuk pertama kalinya, Erika menceritakan impian-impiannya pada dunia, di dalam hati, Erika menutup kedua matanya dan berdoa.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Joyce.
“Kalian pernah dengar kisah seorang pria muda yang menyelamatkan seisi desa?”
“tidak”
“dia pemberani yang rela kehilangan kehidupannya, demi orang-orang yang dicintainya.” Ucap Erika membelakangi kedua temannya.
“dia harus kehilangan hal terpenting dalam hidupnya demi kecintaaanya pada keluarga” sambung Erika “dia kehilangan segalanya, tapi dia mendapat segalanya juga”

Dua jam lagi mereka akan tiba di sini, tapi mereka tidak akan tiba di sini tanpa ada aku, tanpa ada penunjuk jalan.
Banyak hal yang harus aku korbankan, tapi banyak hal yang bisa kudapatkan juga.
Setidaknya aku tau tujuanku dilahirkan, dan itu untuk Orchad.

Tidak harus menghancurkan untuk mengklaim sesuatu, tidak harus merusak kehidupan lain untuk kepentingan kehidupan yang satunya.

Erika melangkah maju dengan perlahan ke arah tebing curam, Joyce dan Liana mengikuti dari belakang tanpa bersuara.
Kedua gadis di belakangnya saling bertatapan sejenak sebelum berpaling ke arah depan dan mendapati tubuh Erika bergerak berirama, kakinya hanya sejengkal dari udara dan jurang.
Dia menggenggam sesuatu di tangannya; berkilauan hijau.

Diangkatnya kalung tersebut, lalu di lemparkannya di udara. Sedetik kemudian cahaya biru keluar dari ujung jari tangannya, menyambar kalung tersebut, menghancurkan benda itu berkeping-keping, meninggalkan serbuk hijau yang beterbangan ke segala arah. Tanpa peringatan, tanpa suara, hanya suara angin yang terdengar selanjutnya.

Cerpen Karangan: Bima Satria
Blog: milkyway-bs.blogspot.com

Cerpen Green Necklace merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


MyCerpen 6: Mayat Selera Rakyat

Oleh:
Gak indah banget rasanya… Liburan selama dua bulan, tapi tak banyak berkesan selama minggu pertama ini. Walaupun kenyataannya belum ada kepastian Aku bakal Lulus atau tidak, tapi masa sih

Petualangan Di Dunia Penyihir

Oleh:
Di sebuah desa, ada seorang gadis penyihir yang bernama Levi, ia bermata hijau dan berambut pirang. Levi adalah penyihir tumbuhan, ia juga pandai meracik ramu-ramuan, setiap hari ia pergi

Payung Merah (Part 1)

Oleh:
Kamis sore disambut dengan rintik hujan yang cukup deras. Awan gelap bergulung-gulung dengan petir yang sekali-kali menyambar lemah. Jutaan rintik-rintik air mengguyur daerah kecamatan, termasuk tempat sekolahku. Rintik-rintik air

Vampire Night

Oleh:
“Hahh.. hh.. hh..” Suara napasku yang beradu cepat bersama langkah kakiku yang sedang berlari. Ku lewati pohon-pohon besar di depanku. Aku sudah tak peduli bagaimana penampilanku sekarang, yang aku

Katakan Dengan Hati (Part 1)

Oleh:
Aahhh… Nyamannya… tempat ini begitu membuatku tenang, serasa ku ingin istirahatkan tubuhku yang lelah ini. Aku rasa aku akan memejamkan mata sebentar saja… “andi… andii…” terngiang suara di kepalaku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *