Greenland, Nama Yang Tak Berarti Lagi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Lingkungan
Lolos moderasi pada: 30 March 2016

Baiklah, kalau kalian ingin bertanya aku siapa, tanyalah kepadaku langsung. Aku Ben Alfian, panggil saja Bred. Oke deh, sabar dulu jangan protes, panggil aku Ian. Aku hanya anak SMP yang agak menyebalkan, nilai di bawah rata-rata yang selalu membuat Ayah dan Ibu selalu menasihatiku, dan bertanya, “Kalau kamu begini, bagaimana bisa kamu jadi penerus generasi bangsa yang baik? Yang bisa mengubah dunia jadi lebih baik?” Sampai hafal aku tentang kata-kata itu. Saat ini aku sedang fokus pada dunia sekitarku. Ya, asal kalian tahu sih. Aku dari tahun 2055, kalian berada di tahun berapa? 1990? 2000? 2010? 2015? 2016? Terserah lah. Tahun 2040 aku lahir, tanggal 32 bulan 14 tahun 2040 tepatnya.

Ayah dan Ibuku lahir di masa dunia masih memiliki udara, tepatnya sih.. Oksigen yang gratis. Ayahku lahir tahun 2018, Ibuku lahir tahun 2019. Menurut cerita Nenekku, saat dulu ia kecil dunia masih sangatttt bersih, berbanding 180 derajat dari sekarang. Waktu itu masih tahun 1990, masih banyak pohon alami yang mengeluarkan oksigen tak terbatas, yang dapat menyerap air hujan, rumput masih asli dari tanah. Kalau memang begitu adanya, kalian tak akan bisa membayangkan tempatku tinggal sekarang. Dunia menjelang gerbang kehancuran sekitar tahun 2000-an.

Mulai ada pencemaran, entah itu udara, air, tanah dan banyak lagi. Tahun 2010-an, mulai membludaknya pencemaran, banjir terjadi hampir di seluruh wilayah Negara tempatku tinggal. Bahkan beberapa pemimpin daerah memilih untuk mencapai jalur pintas, korupsi. Baiklah, tinggal sedikit lagi kalian bisa membayangkan tempatku tinggal. Tahun 2015, dunia masih belum menyadari tentang dunia yang sudah ada di ambang kehancuran, bukan sih sebenarnya, ada beberapa yang menyebutnya kejayaan tapi itu tak benar. Langsung skip..

Namaku Ian, umurku 15 tahun. Aku tinggal di kota GreenLand. Hari ini tanggal 32 Februari, aku akan pergi bersama seorang temanku ke alun-alun. Aku menaiki motorku. Motor keluaran terbaru yang dibelikan Ayah karena aku bisa mendapat juara 1 di kelas. Juara 1 dari belakang sebetulnya? Mau tahu kenapa aku mendapat ranking paling belakang tapi bisa dapat motor, keluaran terbaru lagi. Itu karena mulai sabtu minggu depan aku harus rutin mengantarkan pesanan robot pemutar mimpi ke saudaraku. Motorku tak memiliki roda seperti motor yang sering diceritakan Nenek. Baiklah, kembali ke inti cerita. Ku kendarai motorku dengan agak ugal-ugalan untuk menghindari jalanan yang berlubang. Hmm, tentu saja karena korupsi para wakil rakyat.

Apakah kalian percaya ini? Korupsi terjadi di mana-mana, rumah-rumah mungkin terlihat sangat baik, tapi lihat lingkungannya. Korupsi sudah menjadi hal yang wajar, banjir di mana-mana sudah biasa, jalan berlubang sudah jadi makanan para pengguna jalan. Tahukah kalian? Jumlah pohon saat ini hanya sekitar 1000 jumlahnya. 1000! Di seluruh dunia, jumlahnya tinggal 1000. Aku sendiri hanya bisa melihat pohon asli di gambar, sedangkan di kotaku sendiri pohon sudah ditebangi dan hanya tersisa satu di kota Greenland ini, tapi tempatnya sangat terpencil, aku sendiri tak tahu itu ada di mana. Akhirnya aku sampai di Alun-Alun kota, tempat terhijau di Greenland. Bukan hijau karena pohon atau rumput, bukankah sudah ku bilang tinggal 1 pohon di kota ini, yang tempatnya hanya diketahui Presiden dan wakilnya.

Terlihat hamparan hijau rumput-rumputan plastik. Terlihat sebuah pabrik besar di seberang tempat dudukku. Pabrik penghasil oksigen… Seperti yang sudah ku bilang tadi, oksigen harus dibeli di sini. Kata Nenek, udara dari sana sangat tidak enak dihirup, baunya memuakkan bila dibandingkan yang asli. Mungkin kalian bertanya, mengapa orang-orang di sini tidak mati karena kekurangan oksigen kan? Oksigen yang dijual dibuat secara khusus dan sangat lama untuk diolah dalam tubuh manusia, butuh 1 sampai 2 hari untuk mencernanya. Jadi kami harus menyediakan kantung oksigen yang siap pakai kalau tidak mau mati karena kurang oksigen. Banyak orang mati karena tak sanggup membeli kantung oksigen yang harganya 1 Galleon atau menurut Nenek sama dengan 10.000 ribu rupiah pada zaman kalian, itu harga per kantungnya.

“Hai, Simon. Sudah lama?” Tanyaku pada Simon.
“Oh, hai Ian.. Belum sih..”
“Ok.. Maaf ya, soalnya jalanan tadi cukup lancar.” Ujarku bercanda.
“Hmm… Kalau lancar kenapa telat?” Tanya Simon dengan kesal.
“Hihihi.. kesiangan,” Ucapku tanpa rasa berdosa.
“Sudah… Sudah biasa.”
“Maaf dong, kok kamu jadi pemarah gini.” Langsung skip saja ya, kalian pasti bosan.

Apakah ada di antara kalian yang memikirkan hal yang sama denganku? Ya, ada? Menurutku sih, rakyat Greenlad bagaikan dijajah oleh pemimpin sendiri. Sebentar lagi pasti bangsa ini hancur. Lihat saja, suhu di sini mencapai 40 derajat, kira-kira. Panas sekali, padahal kata Nenek, dulu suhu normal dibumi hanya 26-30 derajat. Apakah aku sanggup mengubah dunia ini menjadi lebih baik? Sebenarnya aku tak yakin, tapi aku kan seharusnya mencoba. Sudah dulu ya percakapan kita kali ini, Dahhh… Sampai Jumpa. Sekali lagi, Ingat ya! Kehidupan tidak bisa dibeli. Saat pohon tidak tumbuh lagi, penyesalan tak akan lagi berarti.

Cerpen Karangan: Benedicta Loveni M
Blog: http://cerpenpuisibene.blogspot.co.id
Hai, saya Benedicta. Kunjungi blog saya ya!! http://cerpenpuisibene.blogspot.co.id

Cerpen Greenland, Nama Yang Tak Berarti Lagi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Petualangan di Pantai Mutiara

Oleh:
Hari minggu yang cerah, aku dan sekeluarga berencana berlibur di pantai hari ini. Kami sekeluarga menyiapkan barang-barang yang akan dibawa ke pantai. Tak lupa aku membawa peralatan mandi, seperti

Makhluk Mati dan Benda Hidup

Oleh:
Langit abu berangsur-angur menjadi gelap. Gemuruh guntur sayup-sayup terdengar berbarengan dengan gema adzan isya. Rintik hujan mulai jatuh membasahi atap amben bambu. Nampak kekecewaan timbul pada wajah pengunjung warung

Anyelir Pusaka

Oleh:
Waktu itu, di dunia peri, terjadi perang sengit antara penyihir Glawise atau penyihir jahat dari utara melawan Ratu Melia, ratu pemimpin dunia peri. Mereka berdua memperebutkan bunga Anyelir Pusaka.

Pertama Kali Melihat Peri

Oleh:
Matahari bangun terlalu pagi, rasanya aku tertidur baru beberapa menit. Matahari pun mulai memancarkan sinarnya. Pemandangan kulihat sangat cerah. Aku pun terbangun dari tidurku. Pada pagi hari ini aku

Teman Gaib

Oleh:
“Eh, kayaknya kamu indigo, deh, Sher!” seru temanku mengejutkan. Aku yang sedang ketakutan, menjadi tambah ketakutan lagi. Indigo? Kata-kata itu terus terulang dalam pikiranku. Gadis berambut hitam kelam itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Greenland, Nama Yang Tak Berarti Lagi”

  1. kayla says:

    Aku lahir tahun 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *