Gulungan Pengembara: Putri Raja Dan Pengakuan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 31 March 2016

Mereka terbang menuju Gunung Heilja dengan kecepatan yang luar biasa. Dalam waktu hanya 5 menit, mereka sudah sampai di puncak gunung yang sebenarnya memakan waktu 3 jam jika berjalan kaki. Mereka turun dari Bika, lalu langsung mencari bunga trala. Mereka hanya mengucapkan perpisahan singkat kepada Bika, yang langsung ditanggapi dengan terbangnya Bika kembali ke angkasa. Tidak perlu waktu yang lama untuk mencari bunga tersebut. Bunga trala berwarna sangat cerah dan bersinar terang, membuat bunga ini sangat mudah untuk ditemukan meskipun membutuhkan waktu-waktu yang tepat. Mereka akhirnya menemukan bunga trala tepat di ujung mulut jurang. Maf yang melihat itu menelan ludah, bersiap-siap layaknya orang yang bisa mati kapan saja.

Erida melihat kelakuan Maf yang aneh, lalu ia bertanya.
“Ada apa, Maf? Ayo cabut bunganya dan hilangkan kutukan ini.”
“Ini tidak semudah yang kau kira, Erida. Tepat setelah aku menyentuh bunga itu, seluruh energiku akan terserap. Aku takut sewaktu-waktu kita akan diserang,” Maf menyampaikan kekhawatirannya. “Kalau begitu, aku sendiri saja yang mencabutnya,” ujar Erida mencoba menyelesaikan masalah.

“Tidak bisa. Tidak jika itu bunga trala.”
“Kenapa?” Erida kebingungan.
“Bunga itu harus diberikan, bukan digunakan. Mengasihi, bukan memperkaya diri. Itulah filosofi bunga trala.”
“Lalu, bagaimana? Matahari akan terbit segera.”
“Berjanjilah padaku kau tak akan melawan ataupun mencoba untuk melindungi diriku setelah kutukanmu hilang dan rambutmu tersambung,” ujar Maf. Kali ini dengan wajah serius. “Kenapa aku harus me,..”
“Berjanjilah!!” Maf menyela Erida yang nampak tidak setuju.

Erida terdiam sesaat. Ia tidak pernah melihat Maf seserius ini. Erida lalu menganggukkan kepalanya, tanda ia setuju. Maf tersenyum melihat kebijaksanaan Erida, lalu berpaling menuju bunga trala. Maf menyentuh bunga itu. Dalam sekejap seluruh energinya diserap bunga ini, membuat bunga ini lebih terang daripada sebelumnya. Setelah ia mencabut bunga itu, Maf meminta Erida untuk mengeluarkan rambutnya yang terpotong. Dengan kekuatan bunga itu, rambut Erida kembali tersambung. Bunga itu luluh bersama rambut Erida. Erida bersamaan merasakan senang dan sedih. Di lain sisi rambutnya tersambung, tetapi di sisi lain Maf terlihat seperti tak memiliki energi. Lalu, tiba-tiba..

“Setelah 10 tahun, akhirnya hari kematianmu datang juga, Maf,” ujar suara misterius dari balik pohon.
Maf merasa akrab dengan suara tersebut. Ia lalu menyadari siapa itu dan berteriak, “Aktifkan ‘Kertas Teleportasi’mu, Erida!!” Erida yang kaget spontan saja menuruti perkataan Maf. Kertas teleportasi adalah kertas perjanjian dengan Safiraca, pemilik kekuatan ‘Berpindah Tempat’ yang ditulis dengan huruf kuno Ankiarta. Tenggang waktu teleportasi berbeda-beda, menyesuaikan tingkatan perjanjian yang tertulis di kertas tersebut.

“Kau menyadarinya, bukan? Ya, aku adalah Geir, penyihir yang 10 tahun lalu kau kalahkan. Karena kau,.. Karena kau,.. Aku harus menanggung beban malu karena dianggap tak bisa menyerang seorang gadis kecil. Mereka tidak percaya bahwa yang melindungi gadis itu adalah Maf si pengembara.”
“Dan hanya karena hal itu, kau memotong rambut Putri Erida?” Maf menunjukkan wajah muaknya. Muak dengan kekanak-kanakkan Geir yang merupakan kawan lamanya saat berada di Gua Pri untuk berburu cula naga bersama. “Yaa.. Yaaa!!! Aku telah merencanakan hal ini dan aku tahu bahwa kau yang akan datang menghilangkan kutukan tersebut. Sekarang, makanlah apiku!!” timpal Geir yang disusul dengan teriakannya. Ia mengeluarkan api dari tangannya.

Maf mengorbankan punggungnya untuk melindungi Erida yang masih menunggu tenggang waktu teleportasinya. Dengan bantuan zirah naganya seharusnya serangan api tidaklah menjadi masalah. Permasalahannya adalah api Geir sangatlah besar. Erida menangis tersedu-sedu. Maf mencoba menenangkannya dengan menepuk kepala Erida. Mata mereka bertatapan satu sama lain. Maf masih berusaha mengumpulkan seluruh energinya. Ia menyiapkan energi untuk pertarungan dengan Geir.

Erida tiba-tiba mengulurkan jari kelingkingnya, lalu berkata, “Berjanjilah padaku kau akan pulang dengan selamat, Maf. Aku tidak bisa menanggung beban kematianmu. Aku,.. Aku.. Aku mencintaimu, Maf.” Maf tak sanggup berujar apa pun, ia hanya menaikkan kedua pundaknya.
“Berjanjilah, ku mohon berjanjilah. Setidaknya kau tidak akan mati semudah itu ketika kau memikul beban janji di pundakmu,” ujar Erida terpatah-patah karena tangisnya yang belum reda. “Baiklah, aku berjanji, Erida. Tetapi, tetap saja aku tidak bisa menghindari rencana alam atas pertarunganku setelah ini. Jadi, jangan terlalu berharap aku akan kembali.” ujar Maf.

“Dengan ini, aku ambil janjimu sebagai seorang pengembara,..” Erida berujar. Maf lalu menundukkan kepalanya.
“Dan hidupmu sebagai jaminannya.” Lanjut Erida yang lalu mencium kening Maf. Hampir seperti ritual suci di zaman ini. Erida memberi Maf sebuah batu. Batu itu berukuran sebesar tangan laki-laki dewasa dan sepertinya memang diciptakan untuk digenggam. “Kekuatanmu mengharuskanmu untuk melihat dan menyentuh benda secara langsung sebelum kau bisa membuatnya dengan sihirmu, bukan?”
“Ya,” jawab Maf singkat.
“Aku mulai membuat batu ini sejak pertama kali kita bertemu. Selama 10 tahun, aku berusaha mencari rumus kimia yang bisa selaras dengan energi kehidupanmu. Selama 10 tahun juga aku selalu memikirkan bagaimana cara agar aku bisa pantas berada di sisimu,” Maf terdiam.

“Batu ini membuatmu bisa membuat benda tanpa harus memiliki pengetahuan dan energi kehidupan yang cukup. Batu ini juga bisa membuatmu meniru sihir tingkat tinggi yang sebelumnya tidak bisa kau lakukan dengan Hadiah Ensienmu. Dengan ini aku yakin, kau tak akan mati dari penyihir rendahan itu,” Erida menjelaskan dengan bangga.
“Sungguh luar biasa. Penyihir itu takkan bisa membunuhku,” ujar Maf dengan nada keyakinan.
“Gunakanlah secara bijak, Maf. Karena batu ini pun punya tenggang waktu setelah digunakan, sama dengan teleportasi ini,”
“Kalau begitu, selamat tinggal, Putri Erida,” ucap Maf penuh kasih.
“Selamat tinggal juga, Pengembara Maf,” balas Erida dengan kasih yang tak kalah besarnya.

Erida akhirnya kembali ke Kerajaan Drarakorta tempatnya menargetkan teleportasinya. Dengan perginya putri Erida, pergi juga tanggungan yang dirasakan oleh Maf. Punggung Maf terasa terbakar, tetapi hatinya lebih terbakar lagi. Sudah lama ia tidak merasakan hasrat untuk menghajar seorang manusia. Sudah lama juga ada orang yang cukup berani untuk mengganggu ketenangan hidup Maf. Maf memang bukanlah tipe orang yang bertarung tanpa alasan yang sehat. “Penyihir dari negeri barat dengan aura yang cukup kuat untuk membunuh bahkan anak naga terkuat sekali pun, terlebih-lebih manusia. Tapi, kaulah yang paling tahu tentangku yang hanya seorang manusia ini, bukankah begitu, Gier ru Nas Trea, Sang Pemanggil Api?”

Setelah percakapan itu, tiba-tiba suasana yang awalnya kuat sepihak seketika berubah kelam mencekam bagi Gier. Ia yang awalnya terus melancarkan serangan pada Maf, sekarang harus berpikir dua kali sebelum melakukan bukan hanya serangan tapi bahkan langkahnya. Maf yang mengetahui kekalutan Geir itu mencoba memanfaatkan situasi tersebut. Maf lalu tersenyum lebar. Bersamaan dengan senyumannya itu, ia juga mengeluarkan seluruh auranya tanpa batasan lagi sejak Putri Erida telah pulang ke Drarakorta. Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Gier yang memang panik karena perubahan aura yang terlalu cepat, tidak sempat menghindar ketika Maf tiba-tiba meloncat ke belakang lalu menghunuskan belatinya tepat ke arah jantung Gier.

Berbekal refleks yang hebat, Gier mengubah arah serangan Maf dengan sabitnya, meninggalkan hanya goresan kecil di pipi kanannya akibat dari reflesnya yang masih kurang cepat. Tanpa membuang waktu, Gier dengan sihirnya terbang agak tinggi, lalu memanggil sihir api terbesar yang ia punya. Ia berteriak, “Nes Trea, Treanin Treakka!!” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Api yang besar muncul secara tiba-tiba. Api yang cukup besar untuk membumi hanguskan satu kota. Api itu menjalar secara cepat menuju Maf. Tiada celah untuk menghindar dan kehabisan Gavl membuat Maf tak punya pilihan lain selain menggunakan sihirnya dengan sisa gavl yang ada. Ia mengepalkan tangannya lalu meniupnya, mengalirkan energi kehidupannya. Itu adalah syarat sihirnya, meniup Gavl ke dalam tangan.

“Jika kau ingin bermain-main dengan api, maka terbakarlah!!” Maf berteriak ketika ia menebas badai api di depannya dengan sihir api berbentuk pedang raksasa dari tangannya. “Kau cukup tangguh juga ya, Maf? Berhasil menghindari serangan pertamaku. Tapi, untuk serangan kedua, kau tak akan mempunyai kesempatan lagi.”
“Aku kira tidak akan ada yang namanya serangan kedua, Geir. Emm, apa itu namanya tadi? Sihir Treakka, ya?” Maf bertanya dengan nada intimidasi. Ia meraba tangannya sembari melihat batu yang sebelumnya diberikan Erida. Batu itu mulai mengeluarkan tulisan yang merambat di tangannya. Sama persis seperti kemampuan Hadiah Ensiennya.

“Tidak mungkin. Sihir yang ku pelajari selama 10 tahun ini, kau pelajari dengan sekali lihat.. Pa..Padahal harusnya kau tak bisa meniru sihir tingkat tinggi. Ini tidak mungkin terjadi,..” Geir meracau tak karuan. Mulutnya menggigil ketakutan, tubuhnya berguncang keras. Ia masih berusaha untuk menyeimbangkan tubuhnya kembali. Sampai ia melihat tulisan kuno mulai menyebar di seluruh Maf. Geir tak yakin tulisan apa itu, tapi yang pasti tulisan itu adalah mantra sihir yang sama persis dengan milik Geir sebelumnya.

Maf lalu meloncat agak tinggi dengan tangan merentang, lalu berkata dengan tenang, “Makanlah apimu sendiri, Geir.” Maf menggerakkan tangannya layaknya ia sedang mengendalikan ombak. Ia mengayunkan tangannya yang terentang itu ke bawah lalu ia ayunkan ke arah Geir. Ayunannya seakan-akan ia ingin menyebarkan api ke seluruh dunia dengan cepatnya. Geir yang ketakutan mencoba kabur. Namun, apa daya Geir, yang kakinya telah dikunci oleh Maf tepat setelah ia meniru sihir api milik Geir. Geir yang memang berjiwa pengecut langsung tersungkur lemas. Maf yang melihat hal ini langsung menghentikan sihirnya tepat sebelum api mengenai tubuh Geir, membuat lautan api yang sangat besar tiba-tiba menghilang tanpa jejak.

Maf lalu turun dan mendekati Geir. Ia mengangkat kerah baju Geir dengan erat dengan sedikit kegeraman, lalu berkata, “Bagaimanapun juga, kau adalah kawanku, bodoh. Tetapi, nasibmu yang akan datang hanya akan ditentukan oleh Raja Aleigh dan Kehakiman Drarakorta. Selanjutnya, terserah kau bagaimana cara mengatasinya. Penjara Drarakorta mungkin akan memberimu sensasi yang berbeda dari penjara-penjara lainnya, karena asal kau tahu saja, Aleigh tidak pernah membiarkan satu pun lolos ketika itu menyangkut putrinya. Jadi, nikmati sisa hidupmu di sana, Geir.” Setelah percakapan sepihak yang panjang itu membuat Geir mengucurkan keringat dingin bagaikan air terjun, Maf memukul wajah Geir dengan gagang belatinya agar ia tak sadarkan diri. Maf lalu mengaktifkan ‘Kertas Teleportasi’ menuju ke Drarakorta.

“Sungguh perjalanan panjang yang melelahkan,” Maf bergeming sendiri, menunggu 2 menit tenggang waktu teleportasi. “Tak ku sangka, gadis kecil yang dulu ku selamatkan darimu sekarang telah menjadi sehebat ini, Geir. Dia tidak main-main dengan kemampuannya di bidang kimia,” Maf menoleh kepada Geir yang tak sadarkan diri.
“Batu yang ia berikan padaku, walaupun hanya bertahan 5 menit untuk sekarang ini adalah hal paling menakjubkan setelah Belati Nazzgrel milik Kerajaan Frinkenaz. Cantik dan berbahaya, pantas saja ia disebut Ru Drent.”

Maf melihat ke langit sekali lagi. Dalam kalbunya, ia tahu benar bahwa mencintai seseorang itu perlu. Tapi, masa lalunya tak membiarkan hal itu terjadi. Ia pun tahu, bahwa ketika ia kembali ke Drarakorta pastilah Aleigh menawarinya untuk menjadi pasangan hidup untuk putrinya. Apa pun yang terjadi, pikirnya. Aku akan tetap menjelajahi seluruh Ankiarta, lanjutnya. Mentari yang mulai terjaga di ufuk timur menjadi saksi bisu keteguhan hati Maf. Menjadi saksi akan cinta murni yang melebihi lainnya. Bukan cinta yang ingin memiliki, tetapi cinta yang ingin melindungi. Sebentar lagi ia akan sampai di Drarakorta.

Tepatnya di Istana Berlian, tempat ia menemukan cinta keduanya. Ketika Maf sampai di sana, ia disambut oleh pelukan hangat nan penuh kasih dari sang putri. Seluruh rakyat di Millenota bersuka cita. Mereka bersorak-sorai mengelu-elukan Maf yang telah menyelamatkan Putri Erida dari kutukannya. Sang putri berbicara banyak hal kepada Maf dan semua orang, tetapi Maf hanya membalasnya dengan senyuman. Sesaat setelah itu, Raja Aleigh menyambut Maf dengan membawa Berlian Merah sebagai bentuk selesainya perjanjian mereka berdua. Tulisan yang menempel di tangan mereka lalu menjadi abu, terbang menuju langit tak berbatas.

Raja menawari Maf untuk sarapan bersama terlebih dahulu, tetapi Maf menolak dengan halus. Ia beralasan bahwa ia punya janji dengan Keluarga Atthazandi dari Frinkenaz. Ia juga beralasan bahwa tujuan sebenarnya datang ke sini hanyalah untuk mencari belati baru. Ia tanpa meninggalkan pesan lagi, hanya membungkukkan tubuhnya sebagai tanda penghormatan kepada seluruh orang yang ada di Millenota saat itu. Sebelum ia benar-benar pergi menuju keramaian Millenota, ia berbisik singkat pada kawan lamanya, Aleigh. “Jaga putrimu baik-baik Aleigh. Aku tidak akan meragukan intuisimu tentang keputusan dan sikapku ini. Semoga Roh Ensien selalu bersama kerajaanmu.” Setelah mengucapkan kata tersebut Maf menghilang di tengah kerumunan banyak orang dengan cepat. Putri Erida yang tadi sempat pergi sebentar karena ingin mengambil hadiah untuk Maf terkejut karena Maf sudah pergi.

“Pergi ke mana ia, Ayah?” Tanya Erida tergesa-gesa.
“Sudahlah, Erida. Ia sudah pergi, biarkan ia dengan petualangannya.”

Erida tak terima perkataan ayahnya itu, ia berlari ke tengah kerumunan orang-orang hanya untuk mencari Maf. Dengan tetap mendekap hadiah dan sedikit air mata yang menetes jatuh, akhirnya Erida menemukan Maf, tepat sebelum ia ke luar dari gerbang kota. “Apa maksudmu, Maf?” Erida berusaha menahan tangisnya.
Maf terdiam, ia lalu berbalik dan mendekati Erida. “Kenapa? Lalu, apa yang kau inginkan?”
Maf terus berjalan mendekati Erida. Kini ia berada tepat di depannya. “Aku hanya ingin bersama dengan orang yang ku cintai,” tangis Erida kini semakin menjadi-jadi.

Maf mengangkat dagu Erida dengan tangan kanannya, lalu mencium keningnya. Erida terkejut, tak bisa berkata-kata. Maf lalu mengusap air mata Erida dari pipinya dengan halus. Setelah itu Maf tidak mengatakan apa pun, juga tidak melakukan apa pun. Mereka berdua hanya saling memandang untuk beberapa saat. Lama saling memandang satu sama lain ke dalam lubuk hati masing-masing membuat Erida memahami apa yang sedang terjadi sebenarnya. Ia tersenyum, lalu tertawa. Tawa paling bahagia dalam hidupnya saat itu. Erida mengusap seluruh air matanya, lalu memberikan hadiah yang ia dekap kepada Maf.

“Kau butuh belati baru bukan? Dalam kotak itu juga terdapat beberapa batu luar biasa itu. Kau menyukainya bukan?” Erida menebak perasaan Maf ketika menggunakan batu buatannya. “Terima kasih atas belati dan segalanya. Kau memang luar biasa hingga dapat membuat batu dengan kekuatan seperti itu. Benar-benar ilmu kimia yang tak dapat dipandang sebelah mata.” Maf memuji Erida.
“Itu bukanlah apa-apa, Maf. Aku hargai keteguhan hatimu. Aku ingat sekarang, ketika dulu kau bercerita tentang kisah Nazzgrel dan Cyadow. Cinta yang murni itu bukanlah cinta yang ingin memiliki, tetapi rasa ingin saling melindungi,” Erida tersenyum bahagia.

Pipinya sekali lagi basah karena air mata yang menetes. Air mata itu adalah air mata bahagia. Kebahagiaan yang ia dapatkan sehari kemarin. Hari kemarin yang sangat berkesan di hatinya. Hati yang akhirnya mendapatkan kehangatan cinta lelaki baik hati. Mereka mengucapkan selamat tinggal satu sama lain. Meninggalkan kesedihan dan mengucapkan selamat datang pada kebahagiaan. Dengan bahasa kuno, mereka saling bertukar cinta dan kasih dengan saling berujar, “Ankin deisdakka vi Ensien, zara.”

Cerpen Karangan: Adam Widianto
Blog: dcyadow.blogspot.com
Seorang pengembara kehidupan yang sekarang sedang mencari komikus untuk menggambar cerita saya.

Cerpen Gulungan Pengembara: Putri Raja Dan Pengakuan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Negeri Ku Yang Damai

Oleh:
Tahun 2075. Aku seorang jenderal tua kerajaan Namira, negeri yang makmur, tidak ada pengangguran, negeri penuh ilmuan, sastrawan, dan hartawan. Para mahasiswa menyibukkan diri memproduksi berbagai alat dari perkakas

Penjelajah Waktu

Oleh:
2132- Indopolis ISIS berhasil dihancurkan. Semua orang sudah bisa tenang. Tapi hmmm… ini bisa dibilang gila tapi alien sudah menguasai Bumi (BOOM). Tapi untungnya alat pembuat atmosfer sudah dibuat

Hysteria

Oleh:
Ayah kau telah berhasil mengubahku sekarang derita adalah bahagiaku dan bahagiaku adalah derita. Terimakasih untuk itu, kau benar selama hidup aku akan selalu mendapat cobaan dan cobaan selalu mendatangkan

Hidup Memberi Pilihan

Oleh:
Tahun 2020 hiduplah dua anak. Mereka tinggal di sebuah kota tua di Utara Indonesia yang bernama Bukit Senegal. Mereka berdua kembar. Mereka bernama Rini dan Riski. Mereka terlahir sebagai

Arkhan Si Kesatria

Oleh:
Pada suatu masa terdapatlah sebuah kota kerajaan yang bernama Hunts yang diserang oleh sekelompok setan api. Kelompok tersebut dipimpin oleh masternya yang bernama Dray. Wujud Dray berupa setan dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *