Gunung Yang Lapar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Petualangan, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 9 February 2021

Satu bulan lalu sebuah gunung misterius muncul di tengah hutan (tak berpenghuni) yang terletak di dekat kota yang ditinggali Radja. Selama satu bulan, pemerintah melakukan pembangunan kawasan destinasi wisata baru di gunung yang tiba-tiba muncul secara misterius itu. Orang-orang menamai gunung itu dengan sebutan Gunung Lapsara. Menurut rumor yang beredar, nama gunung itu diberikan oleh salah satu orang yang tinggal di hutan yang ada di kakinya. Dan beberapa hari terakhir ini, orang yang menamainya menghilang entah ke mana. Wajah pria itu bahkan terpampang pada halaman pertama koran yang sering Radja baca.

Radja memiliki hobi mendaki gunung. Bukan hobi tapi dia sudah kecanduan mendaki gunung. Bagi pemuda yang masih berstatus mahasiswa itu, mendaki gunung rasanya sudah sama seperti menghisap rokok batangan—sangat nikmat. Sudah banyak gunung yang didaki oleh Radja. Dia juga sudah banyak mengunggah foto kegiatan mendakinya pada akun media sosial pribadinya.

Sayangnya, pemerintah tidak mengizinkan orang-orang untuk mendaki Gunung Lapsara. Mereka bilang kalau gunung itu belum diteliti oleh para ilmuwan. Mereka belum bisa memastikan seberapa bahaya gunung misterius itu jika didaki.

Wisata yang hendak dibangun di wilayah sekitar gunung itu sekarang masih ditunda. Beberapa alat berat masih tertinggal di sana, dan tidak ada pekerja yang terlihat. Hanya beberapa satpam yang terlihat sedang berjaga. Tapi, itu bukan masalah bagi Radja dan teman-temannya. Sedikit gerakan seperti seorang pencuri sudah cukup untuk mengelabui seorang satpam amatir. Mereka sudah membawa perlengkapan dan perbekalan untuk mendaki Gunung Lapsara secara ilegal.

Jika para ilmuwan tidak mau menelitinya, maka aku yang akan meneliti gunung ini lebih dulu, begitu pikirnya saat menginjak tanah di Gunung Lapsara. Tidak ada gunung yang tidak bisa didaki oleh Radja, si pendaki profesional, dia terus memuji dirinya sendiri.

Radja, Johnny, dan Bagas sudah mendapatkan rute yang cocok untuk mendaki gunung itu. Mereka tidak tahu Gunung Lapsara adalah gunung api yang aktif atau bukan gunung api sama sekali. Tapi, Radja sudah sangat ahli dalam masalah mendaki gunung, bisa dibilang pria jangkung itu sudah profesional—seperti pujiannya pada dirinya sendiri. Dia dengan mudah menemukan jalur dan rute yang pas untuk mendaki gunung yang misterius itu.

Entah sudah berapa meter ketinggian yang sudah mereka daki. Mereka sekarang berada di tengah-tengah hutan yang ada di gunung. Radja tidak tahu jenis pohon apa yang tubuh di gunung itu. Nilainya sangat buruk dalam pelajaran biologi. Pohon-pohon yang tumbuh di gunung memiliki batang coklat yang cukup tebal dan silindris, tapi sangat pendek, sangat tidak lazim. Sejauh ini, tidak terlihat binatang apa pun di gunung. Hanya pepohonan tanpa semak belukar yang biasanya mudah ditemukan di gunung.

Radja mendengar salah satu temannya yang berjalan di belakangnya terengah-engah. “Kamu enggak kenapa, Bagas?” Johnny bertanya. Radja menghadap ke belakang. Dia melihat Bagas, temannya yang sedikit berisi dan memakai kacamata sedang dibantu oleh Johnny untuk berjalan.

“Radja,” —Bagas terengah-engah— “bisa, enggak, kita balik saja? Gunung ini kelihatannya enggak habis-habis, kita sudah jalan selama lima jam.”
“Enggak!” hardik Radja. “Aku enggak mau menyerah di sini! Aku akan buktikan pada dunia kalau Radja adalah pendaki nomor satu. Tenang saja, puncak sudah hampir terlihat,” dia menunjuk ke arah sebuah cahaya matahari siang yang ada di ujung jalan.

Teman-temannya terlihat seperti merasa terpaksa mengikuti ambisi Radja. Mereka terus berjalan mendaki. Waktu pun tidak terasa, matahari terlihat sudah hampir terbenam. Puncak tidak kunjung terlihat. Radja merasa kalau dia dan teman-temannya terus berjalan di tempat yang sama dan di jalur yang sama selama berjam-jam. Sejauh mata memandang, pohon-pohon yang terlihat hanyalah pohon dengan jenis yang sama, dan jumlah mereka sangat banyak. Padahal mereka dari tadi berjalan lurus.

“Johnny, Bagas, kalian merasa ada yang aneh?” Radja bertanya.
“Dari tadi,” jawab Johnny.
“Dari tadi, kita terus berjalan di tempat yang sama,” kata Radja. “Ada yang janggal dengan gunung ini. Dari tadi sejauh mata memandang hanya terlihat pohon yang sama. Dan puncak tidak kunjung sampai, seolah-olah gunung ini terus bertambah tinggi.”
“Kita kembali saja,” pinta Bagas dengan nafas terengah-engah.

Dengan berat hati Radja harus menyetujuinya. Firasatnya mengatakan keadaan akan bertambah memburuk. Mereka bertiga berjalan berbalik arah sekarang. Mereka menuruni gunung dengan menempuh jalur yang sama.

Hasilnya tetap sama, mereka terus berjalan di jalan yang sama. Lereng gunung tidak kunjung terlihat di mata Radja. Hari sudah mulai gelap, bahkan tidak terdengar suara binatang satu pun. Yang terdengar di telinganya hanya suara batang kayu yang saling menggesek satu sama lain.

Radja berjalan paling belakang sekarang, Bagas yang memandu. Radja sempat melamun saat berjalan. Tapi, lamunannya dihentikan saat Johnny berhenti tiba-tiba. Dia menabrak ransel besar Johnny. “Ada apa, John?” Radja bertanya.
“Sepertinya kakinya Bagas tersangkut,” kata Johnny.
“Teman-teman, tolong aku,” Bagas meminta tolong. Dia merintih kesakitan. Kakinya seperti digigit sesuatu.

Radja segera mendahului Johnny yang terdiam entah mengapa. Dia menghampiri Bagas yang kakinya tersangkut. “Sini, aku bantu,” katanya. Radja jongkok dan melihat kondisi Bagas. Kaki temannya dililit oleh akar tanaman yang berwarna hijau yang keluar dari tanah. Akar hijau itu melilit kakinya dengan lilitan yang sangat rapi. “Apa ini?” Radja kebingungan.

“Kenapa, Radja?” Bagas bertanya dengan gaya bicara orang yang sedang ketakutan. Kakinya tidak bisa berhenti bergerak. Dia benar-benar ketakutan. Kakinya gemetaran.
“Akan kucoba melepaskan benda aneh ini,” kata Radja.

Radja menggenggam akar itu. Dia menariknya dengan sekuat tenaga. Tapi, tidak ada hasil. Semua tenaga yang dikerahkan olehnya terbuang sia-sia. Akar hijau itu melilit kaki kanan Bagas dengan sangat kuat, lebih kuat dari sebuah baja.

Radja mulai kesal. “Johnny, bantu aku!” perintahnya. Dia menoleh ke belakang. Sial, pikirnya.

Johnny tiba-tiba terkubur ke dalam tanah. Tubuhnya seperti terisap. Radja tidak menduga kalau hal-hal ini akan terjadi jika mereka mendaki Gunung Lapsara. Johnny sudah terisap ke dalam tanah. Tidak ada suara yang terdengar. Seluruh anggota tubuhnya sudah berada di dalam tanah. Hanya tangannya saja yang terlihat.

“Ah… ada yang menarik kakiku ke bawah!” Bagas berteriak panik.
Pandangan Radja sekarang menuju ke kaki Bagas. Kaki kanannya sudah masuk ke dalam tanah. Kakinya terus bergerak ke dalam tanah seperti terisap. Radja segera berdiri.

“Radja, tolong aku!” Bagas terus berteriak.
Radja pun berlari mendahului Bagas. Dia meninggalkan Bagas yang (mungkin) sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Temanku yang satu ini mungkin akan bernasib sama seperti Johnny, pikir Radja.

“Kamu mau ke mana? Jangan tinggalkan aku!”
Radja tidak menghiraukan teriakan itu. Dia terus bergegas berlari ke bawah. Temannya itu sudah tidak terlihat dengan mata telanjangnya lagi. Tapi, stamina Radja terus terkuras. Dia terus berlari tanpa memikirkan staminanya.

Entah sudah berapa lama dia berlari sekarang. Dia tidak memikirkan aturan dasar dalam mendaki lagi, yang dipikirkan oleh pemuda itu sekarang adalah: lari, selamatkan dirimu, tempat ini sangat berbahaya. Tapi, lereng gunung tidak kunjung terlihat, dan awan mendung sudah menggumpal di atas kepalanya. Hujan pun turun dengan sangat deras.

Saat berlari dengan cepat di atas tanah yang becek, tiba-tiba kakinya tersandung sesuatu. Dia tidak bisa melihat apa pun. Pandangannya hampir dibutakan oleh suasana yang ada di gunung. Radja terjatuh ke dalam sebuah lubang yang cukup lebar dan dalam. Untungnya tangannya bergerak cepat, dia berhasil meraih batu pinggir.

“Kenapa bisa ada lubang?” dia bertanya dan berusaha untuk menahan bebannya hanya dengan satu tangan saja. “Sebelumnya tidak ada lubang di sini.”

Dia menoleh ke bawah. Di dasar lubang itu terlihat ada sebuah cairan berwarna hitam. Cairan hitam itu menggenangi isi lubang. Gelembung-gelembung yang dihasilkan cairan itu meletup-meletup. Cairan hitam itu mengeluarkan asap karena terkena air hujan. Radja berkaca-kaca, dia hampir menangis karena ketakutan. Tangan kanannya sudah mulai keram sekarang.

“Tuhan, tolong selamatkan hambamu ini.”

Tiba-tiba kedua pergelangan kaki Radja terasa dililit oleh sesuatu. Dia memeriksanya. Itu adalah akar yang sama seperti akar yang melilit kaki Bagas. Radja menangis. Akar itu keluar dari dasar lubang. Dia menarik Radja. Radja menahannya dengan sekuat tenaga.

Usahanya sia-sia. Tangannya sudah tidak kuat lagi. Tangannya langsung tergelincir, dan terlepas dari batu yang hampir runcing itu. Tubuhnya ditarik ke bawah oleh dua akar yang misterius ke dasar lubang. Dia berteriak histeris.

Setelah itu, teriakannya sudah tidak terdengar lagi.

Keadaan sunyi.

Cerpen Karangan: Dudek Dudek
Facebook: facebook.com/dduuddeekk

Cerpen Gunung Yang Lapar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rahasia Rumah Majikan

Oleh:
Aku meringkuk di balik selimutku yang hangat. Hmmm sangat menyenangkan. Tak ada yang membangunkanku sepagi ini. Namun harapanku pupus. Seseorang meneleponku. “Ih, siapa sih gak bisa liat orang bahagia

Miracle (Part 2)

Oleh:
Dia masih berusaha melontarkan banyak kata maaf padaku, tapi entah hatiku masih beku untuk menerimanya kembali. Bukan sebuah masalah perjodohan yang sedang ku perdebatkan dengan hatiku sendiri. Tatanan kebohongan

The Book of Secrets

Oleh:
Siang yang cerah diawal musim panas saat lonceng tanda pulang sekolah berbunyi dan semua murid akademi beranjak keluar dari kelas masing-masing. Seluruh sekolah riuh oleh gerombolan siswa yang bergegas

Si Jenius dan Gadis Pemberani

Oleh:
DAAR!! Sebuah bola api menuju ke seorang anak lelaki yang sedang berlari sambil gemetar dan kecapekan hingga seperti ingin terjatuh-jatuh berusaha menghindari bola api tersebut. Tiba-tiba ada sebuah tangan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *