Halusinasi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 24 August 2016

Ada seorang anak bernama Awan, ia tinggal di sebuah desa terpencil yang jauh dengan namanya teknologi. Pada suatu ketika awan disuruh orangtuanya untuk mencari rumput untuk sapi di rumahnya. Ia pun berangkat untuk mencari rumput.

Di perjalanan awan melihat hamparan sawah dan rerumputan, sejenak ia berpikir “sapi-sapiku saja yang kubawa kesini, jadi pulang aku enteng gak bawa beban” begitulah pikirnya.

Awan dengan tergesa gesa pulang dan mengambil sapinya. Setelah sapinya diambil Awan membawa sapi tersebut ke hamparan rumput yang luas tadi. Tetapi hamparan tersebut tidak kunjung terlihat. Awan pun terus mencari hamparan rumput dengan menaiki sapinya. Di tengah perjalanannya ia bertemu dengan seorang yang sudah tua berdiri dengan tongkat di pinggir jalan. Awan menghampiri orang tua tersebut lalu bertanya akan hamparan rumput yang luas tadi. Orang tua tersebut bertanya kepada Awan “kenapa kau anak muda mencari hamparan rumput tersebut?” kata orang tua itu dengan penasaran. Awan “Saya mau memberi makan sapi saya ini kek” dengan mengelus sapinya. Orang tua tersebut menjelaskan bahwa hamparan rumput tersebut hanyalah bayangan, dan apabila ada orang yang melihatnya kemudian mengambilnya maka yang mengambil akan mempunyai banyak keuntungan. Awan pun hanya bisa terdiam dan berterimakasih kemudian pulang dengan rasa kekecewaan.

Sesampainya di rumah, awan ditanya oleh ibunya “wan, sapinya gimana? Sudah diberi makan banyak?” Awan hanya bisa terdiam. Ibunya pun melihat Awan, kemudian awan bercerita tentang hamparan rerumputan yang diceritakannya tadi, sampai cerita yang dikatakan orang tua di pinggir jalan tadi. Ibunya pun mengangguk, dan besoknya ia dan ibunya menyusuri hamparan yang dilihat anaknya saat itu, dan mereka berdua menemukannya. Ibunya berkata kepada Awan “ambilah sapinya kesini nak, ibu akan menjaga hamparan rerumputan yang luas ini agar tidak hilang” Awan “Baiklah bu” dengan berjalan meninggalkan ibunya.

Sesampainya di rumah Awan bergegas mengambil sapinya yang kelaparan dan membawanya ke hamparan rumput yang telah dijaga ibunya itu. Tetapi sesampainya disana Awan sangat terkejut akan kehilangan hamparan rumput yang luas itu, dan Awan juga melihat Ibunya yang tertidur di tepi jalan. Awan srjenak berfikir “Kenapa bisa begini ya, ketika saya membawa sapi kesini hamparan tersebut hilang, tetapi ketika saya tak membawa apa-apa hamparan tersebut jelas terlihat. Dan Ibuku pun dibuat tertidur di tepi hamparan tadi” begitulah pikir Awan. Setelah itu awan bergegas membangunkan ibunya dan ibunya sangat terkejut akan kehilangan hamparan yang baru saja dilihatnya. “Hamparanya pindah kemana wan?!” dengan nada terkejut. “Pindah ke mimpi” kata Awan dengan nada kesal. Kemudian mereka pun mencari rumput seadanya untuk memberi makan sapi dan keesokan harinya, Awan teringat dengan perkataan orang tua di pinggir jalan dengan membawa tongkat dan Awan kembali ke hamparan rumput tersebut dan Awan pun mengerti perkataan dari Orang tua tersebut. Bahwasanya dalam hidup kita harus usaha, kita tidak boleh mengambil jalan pintas. Rumput dicari, bukan sapinya yang digiring ke rerumputan. Begitulah artinya Awan pun mengambil rumput dan dibawalah pulang untuk sapinya.

Cerpen Karangan: Wibowo
Facebook: Facebook.com/wibowo.capung
Nama: Wibowo
Pin: 5FE111E2
Asal daerah: Kendal Jawa Tengah.

Cerpen Halusinasi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Trapped In A Fairy Tale

Oleh:
“Masuk… masuk, kanan pak. Kanan, stop udah pak, taruhnya disitu aja” Ucap nyonya rumah kepada tukang kebunnya, Deno namanya yang sedang mengangkat sebuah meja lampu kecil ke dalam kamar

Payung Merah (Part 1)

Oleh:
Kamis sore disambut dengan rintik hujan yang cukup deras. Awan gelap bergulung-gulung dengan petir yang sekali-kali menyambar lemah. Jutaan rintik-rintik air mengguyur daerah kecamatan, termasuk tempat sekolahku. Rintik-rintik air

Gadis Incaran

Oleh:
“Awww,” kataku lirih sambil perlahan membuka kedua mataku, aku baru saja terbangun dari pingsan. Masih bisa ku rasakan perihnya bekas pukulan di pelipis kananku. Aku terpaku dalam keadaan yang

Pilu

Oleh:
Air mata itu menetes lagi di kedua pipimu dan terburu-buru kau menghapusnya. Seakan takut dilihat orang. Padahal tak ada satu pun yang memperhatikanmu. Hanya aku. Kau bergegas lari ke

Joana (Part 2)

Oleh:
Aku terus berpikir apa yang sedang terjadi. Setelah bel istirahat berbunyi lola mengajakku untuk ke kantin bersama namun aku menyuruhnya pergi duluan nanti aku menyusul, sebenarnya aku ingin berbicara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *