Halusinatoris

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 22 October 2021

Bau khas pesta malam Jumat menguar ketika aku membuka pintu unit apartemen.

“ASSALAMUALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH.”
Mereka membubarkan diri kelabakan mendengar teriakanku yang membahana. Aku masih berdiri dengan kedua tangan di pinggang memerhatikan mereka yang terbang lalu lalang ketakutan.

“Siapa dalang kerusuhan malam ini, heh?”
Aku bertanya santai tapi respon mereka tidak santai. Mereka menegang, angin yang tadinya menghembuskan bau-bauan khas kini berhenti.

Mereka juga berhenti dari kepanikan. Berdiri berjejer menghadapku. Ada tiga makhluk yang aku kenal dan satunya lagi asing di mataku.

“Siapa?”
“Manda, kita cuma mau menyambut teman baru. Dia–”
“Ah teman baru ya. Terus kalian ajak tinggal di sini. Bagus ya, udah kayak kos-kosan aja apartemen gue.”
Kun yang ucapannya aku potong malah mengkerut.

“Kak Manda, kasian Kak Bri nggak ada temennya.”
“Heh bocah, lo kira unit gue tempat menampung makhluk nggak punya temen kayak kalian?”
Miya makhluk remaja itu terdiam mendengar tanyaku.

“Udahlah, Man. Nampung satu lagi nggak nyusahin kamu juga kan.”
“Enteng banget lo Ci ngomong nggak nyusahin gue. Tiap kalian keliaran dan balik lagi ke sini selalu bawa makhluk aneh. Kalo nggak gue paksa usir, udah jadi panti asuhan nih unit.”
“Beresin nih ruangan. Nggak mau tau, gue keluar kamar udah beres semua pokoknya.”

Aku hendak berlalu ke kamar.
“Manda.”
“Apa?” sahutku sewot.
“Salam kenal ya.”
Makhluk berwujud lelaki dengan tinggi tidak biasa itu tersenyum padaku.
“Salam kenal sana sama bapak lo.”

Aku berlalu masuk ke kamar. Tempat di mana mereka tidak boleh memasuki areaku. Tempat terlarang bagi mereka. Kalau berani masuk tanggung sendiri akibatnya.

Lima tahun terakhir aku menempati unit ini. Selama itu juga Kun dan Poci ada di sini. Miya makhluk remaja itu baru setahun terakhir ada di unit ini.

Selesai membersihkan tubuhku, ada kewajiban terakhir yang harus aku kerjakan sebelum hari berganti. Di kamar ini aku rutin menjalani ritual ibadah di sini dibanding ruang lainnya di unit ini. Kun dan Poci seolah tahu kamarku adalah tempat terlarang bagi mereka. Alasannya karena malam itu lima tahun lalu mereka berdua mencoba menerobos kamarku. Tapi malah berakhir buruk, mereka merasa hawa panas ketika melewati tempat biasa aku bersujud. Semakin aku dekat dengan Tuhanku semakin mereka segan denganku. Aku punya Tuhan yang Mahabesar dibanding mereka. Jadi untuk apa aku takut dengan mereka.

“Minggir, Ci. Gue mau nonton jangan gangguin gue deh.”
“Man, besok aku ikut kamu kerja ya.”
“Nggak ada. Poci minggir ihhh.”
“Manda, plisssss.”
“Minggir nggak lo, gue sambit palak lo mau?”

Dia melompat menjauhi televisi berakhir berdiri di samping Kun.

“Lo ikut gue karena mau cengin penghuni sana kan. Kebaca banget lo, Ci.”
Dia malah memberengut melihatku.

“Woi siapa nama lo?”
Atensi keempatnya fokus padaku.
“Brisena.”
“Turunan bangsawan mana lo?”
“Loh Kak Manda tau Kak Bri turunan bangsawan?”
Kun dan Poci juga menatapku penasaran.
“Nebak doang. Lo Jawa asli?”
Bri tersenyum mengiyakan tanyaku.

“Kenapa lo nyasar ke sini?”
“Itu… aku mengikuti seseorang hingga sampai ke gedung ini. Lalu bertemu Poci di pos satpam.”
“Lo patroli, Ci?”
Poci menatapku datar.

Ponselku berdering nyaring di atas nakas di kamarku. Aku bangkit meninggalkan mereka berempat yang tengah fokus menonton ulah manusia mengganggu kaum mereka.

“Assalamualaikum. Iya, Ma?”
Sudah lama aku tidak bercengkrama dengan keluarga di pulau seberang sana. Sejak aku memutuskan merantau biasanya hanya akhir pekan ibuku akan menelepon. Mungkin kali ini saking kangennya denganku beliau menghubungiku. Lama aku mengobrol dengan ibuku hingga pada akhirnya aku diminta untuk pulang ke rumah pekan depan. Ada hal penting yang harus dibahas bersama keluarga besar.

Aku membuka pintu unit dengan perlahan. Perjalanan melelahkan dari pulau seberang. Juga pembahasan keluarga besar tentang kematian kakek dari pihak ibuku. Kakek yang tidak pernah aku tahu wajahnya, tidak pernah aku temui sosoknya. Kedua orangtua ibuku memang Jawa tulen. Hanya saja ibuku sedari kecil sudah menetap di Sumatera.

Hanya ada Bri yang duduk di sofa menghadap layar televisi yang mati. Ketiga lainnya pastilah sedang berkeliaran entah ke mana.

Aku mengambil tempat di sisi Bri. Dia menoleh sejenak dan tersenyum.
“Sudah pulang?”
“Siapa?” tanyaku.
“Siapa apanya?”
“Siapa yang lo ikuti sampe bisa ke sini?”
Dia menatapku sebentar, “Kamu.”
Aku hendak meringis tertawa.

“Siapa yang nyuruh lo ikutin gue?”
“Aku sendiri,” jawabnya mantap.
“Kenapa gue?”
Dia diam.

“Kenapa gue, Bri?”
Dia tetap diam.

“Kenapa mesti gue yang harus lo ikuti, Brisena? Gue bahkan nggak kenal dekat dengan kakek gue. Kenapa mesti gue yang harus jadi pengganti kakek gue untuk lo ikuti, lo jaga?”
“Kenapa?” tanyaku lirih. “Banyak cucu kakek yang bisa lo ikuti, kenapa mesti gue?”
Aku mulai berurai air mata. Puas rasanya meluapkan sesak yang kutanggung sendiri.

“Karena kamu cucu perempuan yang paling muda. Harus ada penjaga yang bisa melindungi kamu, Amandeepa.”
Aku sadar hari di mana Bri datang ke unit ini adalah hari keempat puluh kakek berpulang. Urusannya telah selesai dengan kakek makanya ia mencariku, mengikuti aku sebagai manusia baru yang ia jaga.

“Thanks. Gue mau tidur.”
Aku menuju kamar merebahkan diri di atas kasur. Aku lelah dengan semua kenyataan yang kuketahui.

Kurasakan aku berada di pemakaman yang ramai pelayat. Entah siapa yang dikuburkan. Tapi aku mengenali wajah-wajah pelayat di sana. Tangis pilu mengiringi prosesi penguburan. Aku memejamkan mata mencoba mengerti keadaan yang sedang terjadi.

Ketika membuka mata sinar mentari menerangi kamarku. Siluet seorang berdiri membelakangi jendela kamar yang terbuka. Aku mengucek mata dan siluet itu menghilang.

Aku beranjak dari kamar berhenti sejenak meneliti ruang televisi, semua nampak kosong hanya ada perabotan rumah tangga biasa. Tak ada kehidupan lain di sana. Aku mengelilingi setiap ruang. Mencari mereka yang biasa aku temui berkeliaran di dalam unitku ini.

Aku terduduk di sofa merenungi hari-hari kebelakang. Mengingat kembali percakapanku dengan Brisena yang kuingat baru terjadi semalam.

Dering ponsel di kamarku berbunyi nyaring. Dari ibuku.

“Mbah Lanang meninggal.”
Kata ibuku setelah bertukar salam.

Jadi, mereka itu nyata atau halusinasiku saja?

Cerpen Karangan: Galiot Sastra

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 22 Oktober 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Halusinatoris merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Vampire Twins (Part 1)

Oleh:
Kedua insan ini sedang duduk di sofa rumahnya. Mereka adalah Ravelin dan James, mereka adalah dua orang vampir kembar. Tapi, James lebih dulu lahir dan usia mereka berbeda 2

Daisuki, Hatori Sama

Oleh:
“Meong,” aku menjilat pipi majikanku, membangunkannya dari tidur panjang. Ia menggeliat lalu mengelus kepalaku, aku melanjutkan menjilat pipinya yang putih bak susu. “Sudah pagi, ya?” ia membuka matanya yang

Ingatan Yang Hilang

Oleh:
Aku Ross Mochammad Alifano berumur tiga belas tahun, berkepribadi baik, sopan dan jujur. Pada suatu pagi yang berkabut tipis di depan rumah aku melihat seorang gadis cantik berambut pirang

Burung Api Phoenix

Oleh:
Phoenix!!. Begitu setiap orang memanggilku, aku adalah seekor Burung Abadi yang legendaris. Sekujur tubuhku diselimuti oleh Api yang panas dari kaki, kepala, kedua sayapku, dan juga ekorku. Hehe… Hebat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *