Hampa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 18 April 2018

Senja semakin mendekati klimaksnya, semburat awan yang semula putih kini menjadi kuning oranye sempurna. Suara uap air dalam ketel yang terus berhembus dan mendesak keluar, meramaikan suasana sore itu. Sesegera mungkin aku terbangun dari kegelapan mataku yang sedang duduk bersila lalu berlari tergopoh-gopoh ke dapur yang berada di bagian belakang rumah untuk mematikan kompor.

Kutuangkan air masak dalam sebuah cangkir. Kutuang beberapa mili air panas yang sebelumnya sudah kububuhkan bubuk kopi hitam arabika buatan Aceh yang dibeli oleh ayah tahun lalu.
Kuaduk sedemikian rupa dengan sendok agar semua tercampur rata. Setelah kulihat kali ini warna hitam kelam sudah mengisi cangkir ini hingga kedasar-dasarnya barulah aku menghidangkannya ke eyangku yang sudah lama menunggu masaknya kopi kesukaannya yang juga disebutnya “Kopi Eksotis” ini dengan tambahan pisang goreng berwarna kuning keemasan pada setiap sudut penghidangannya, yang sudah lebih dahulu aku hadirkan ke hadapan manusia renta itu.

Pertama, ia menyeruput bibir cangkir itu, terdengar oleh telingaku sebuah gesekan antara kedua bibir yang berbeda. Tingkat kekerasan itu serasa tidak padu di telingaku. “Aaaahhhh” mungkin seperti itulah begitulah suara klimaks yang dihasilkan setelah bunyi gesekan itu.

Setelah aku melihat manusia renta itu menikmati kopi harapannya, aku kembali ke sebuah Penenangan diri yang kusebut ritual penebusan dosa. Terdengar sebuah tertawaan yang keluar dari mulut keriput eyangku. “Masih saja kau melakukan ritual bodoh itu?” sentaknya. Aku tetap diam dan fokus terhadap ritualku. “Apa kau benar-benar yakin akan dosamu hilang setelah ini?”. Aku mulai terusik akan kata-kata itu.
Lalu eyang mengatakan sederet kalimat yang membuatku sangat terganggu dan lepas dari ritualku. “Manusia itu ibarat api yang selalu memakan kayu bakar. Dia bisa memakan terus menerus tanpa henti jika kayu bakar terus diberikan”. Aku berpaling sejenak ke hadapan eyangku yang sembari menyeruput kembali kopi hitam dalam cangkir itu.
“Aahhh…” sebuah suara tanda sebuah kenikmatan. “Akan kuceritakan sebuah kisah yang akan membuatmu semakin bersemangat dalam perjalanan menebus dosamu” celetuk eyang sambil meletakkan cangkir bergagang curva v itu.

Bukan cuma sekarang saja tindakan menentang kebenaran terjadi, dan bukan Cuma manusia saja yang bisa melakukan tindakan itu. Dulu, jauh sebelum sebuah benih pertama diletakkan di Bumi kita ini, jauh dimana kakekmu sudah lahir di dunia, jauh sebelum buyutmu direncanakan hadir di dunia ini. Diceritakan dalam sebuah kitab misterius jauh di pedalaman Negara Ashab, negara yang hanya muncul selama 1 hari dalam 200 tahun karena diberikan anugerah yang tidak biasa oleh Dewa, kisah ini sudah terjadi.
Ya, kitab misteri Negara Ashab, sebuah kitab yang bersampul putih bersih tanpa noda bak seperti baru. Tetapi pada kenyataannya, ketika kau membuka sampul buku yang terasa cukup tebal itu, kau akan menemukan sebuah fakta tentang buku yang sebenarnya sudah dikarang sejak lebih dari 1000 tahun itu.

Pada halaman awalnya ada sebuah kalimat yang berbunyi. logika yang disadarkan oleh pemikiran lintas rasional dan irrasional akan menghasilkan secarik kertas putih yang kosong nan suci.
Jika kita buka lembar selanjutnya, maka kita akan menemukan sebuah cerita legenda. Larik pertama cerita itu adalah, Sebuah alam semesta yang berbentuk bulat, sebulat bulan tapi lebih besar berjuta juta kali lipat dari matahari. Ini berarti dalam kisah ini dulunya alam semesta bersatu menjadi satu kesatuan.

Lanjutannya. 5 Penguasa bersayap yang memiliki kekuatan Cahaya, kegelapan, air, tanah dan udara di setiap ekor mereka sedang mengudara untuk menjalankan pemerintahan mereka. Tak sekalipun terbesit dalam logika mereka tentang sebuah malapetaka atau sebuah niat jahat. Tetapi, setiap Tupai pasti pernah jatuh, pemanah pasti meleset, hal itu lambat laun mulai memudar dalam jiwa dan raga mereka. Darsukhos si dewa penguasa kegelapan yang memulai semua malapetaka ini. Dalam bujuk rayu dan dalam sebuah hasutan manis
Ia membuat keempat penguasa lain lupa daratan dan lupa lautan. Dia membuat keempat penguasa dan dirinya lantas saling bergunjingan satu sama lain, layaknya anjing yang berebut tulang, mereka berebut sebuah tahta dimana di puncaknya ada sebuah hadiah yang disebut kekuasaan murni.

300 tahun sudah mereka saling melempar senjata, saling menjatuhkan, saling menghabisi dan saling meremukkan satu sama lain. Setelah mereka semua tersadarkan oleh ketukan batin mereka yang meronta untuk meminta belas kasihan agar semua ini dihentikan. Mereka sejenak duduk terdiam sambil melihat nanar ke semua arah. Hanya gelap, sunyi, bunyi ledakan, dan api. Semua tampak seperti kerikil kecil yang bertaburan di angkasa. Semua hancur, semua berserakan, semua tak beraturan dan semua menjadi kerikil. Hati kelima dewa itu meronta tanda sebuah tangisan air mata mengalir deras.
Kelima dewa yang hancur secara logika dan merana secara batin, membuat sebuah pertapaan seraya berharap dosa yang berada di jiwa raga mereka yang kumuh akan semua sampah yang disebut dosa itu suci secara keseluruhan. Mereka menanam benih-benih bunga yang disebutkan berasal dari surga paling atas, dengan wangi-wangiannya yang khas. Ditanamkannya mereka di sebuah padang yang luas, sehingga saat matamu memandang, hanya akan terlihat segerombolan bunga saja. 4 kelopak genap dan sebuah tangkai emas dengan sentuhan mahkota yang berwarna merah jingga adalah ciri khasnya untuk memikat mata makhluk manapun.

Sekali hirup dan kau akan serasa terbang melayang sampai kelangit ketujuh, tapi di otakmu akan terus dibayangi oleh sensasi digosok sebuah amplas kasar yang datang terus menerus. Karena disitulah sebenarnya kau sedang diuji oleh pertanyaan, masih sudikah engaku wahai makhluk yang berjiwa, melakukan sekali lagi dosa yang begitu kumuh dan kotor bak sampah yang berserakan diselokan?. Atau kau akan terus sudi melakukan dosamu itu hingga aku harus mengamplasnya berulang kali lagi?. Tak lama setelah kata-kata diucap, sebuah ingatan masa lalu dengan tidak segan memutar berbagai dosa yang telah kau lakukan di dunia fana ini. Dan seusai melakukan penyucian diri, mereka akan mempunyai sebuah lambang di lipatan di bawah dagunya. Sebuah tanda silang dengan lingkaran tepat di tengahnya

Bermilyar tahun setelah dewa menyucikan dirinya, hiduplah manusia, sebuah makhluk hidup yang dianggap paling sempurna karena memiliki akal pikir. Dan hanya dalam kurun waktu puluhan tahun setelah diciptakannya manusia. Mereka, para dewa, mendengar tangisan dari bunga-bunga surga itu. Rintihan kesakitan dan kesedihan mereka keluarkan saat mereka dibakar di neraka. Darsukhos yang paling terganggu dengan tangisan itu datang dan alangkah terkejutnya ia melihat milyaran bunga yang mereka tanam hangus semua di sini.

Berlarilah Darsukhos menemui keempat saudara dewanya. Setelah mereka melakukan perundingan yang melelahkan, Litsukhos yang niscaya sebagai Dewa Cahaya diutus dari langit untuk menyelidiki ada apakah gerangan sehingga bunga-bunga surga itu dibakar di neraka secara massal. Ia menyamar sebagai penggembala lengkap dengan sorban, pakaian putih lusuh, tongkat serta janggut hitam panjang dan bau seorang penggembala yang sejati.

Ia menyusuri terangnya malam yang tidak ada sebuah kegelapan sampai di sudut-sudutnya karena ramainya lampu yang disebut petromak. Ramai dan riuh bak sebuah semut mengerumuni tumpukan gula. Gegap gempitanya suasana membuatnya ling lung dan lupa diri bahkan sampai tak sadar. Ia sedang menikmati alunan gelombang kenikmatan duniawi dan bertanya tanya, beginikah kehidupan manusia yang membuat bunga-bunga itu dibakar?.

Belum genap 20 langkah ia menjejakkan kaki di dunia manusia yang gegap gempita itu, ia dihadang oleh seorang pria tinggi besar yang tidak bisa berdiri diam. Ke kanan, ke kiri, belakang, depan ia jajaki. Dengan sebuah botol beraroma khas mulut naga ia mendekati dewa yang menyamar itu. Perlahan pria itu menyentuh pundaknya. Sepatah kalimat ia katakan, “Ayolah bergabung di tempat kami, dijamin sekali masuk tak mau pulang!”.

Dengan sangat penasaran, dewa itu masuk. Belum 3 detik ia langsung disambut dengan lautan manusia yang sedang memadu kasih duniawi baik itu pedang dengan tameng atau pedang dengan pedang atau mungkin juga tameng dengan tameng. Semua memegang sebuah botol yang sama dengan pria tadi.
“Ayo nikmati sepuasnya! Jangan takut dosa, taman bunga pinggir kota akan bersihkan dosa-dosamu. Dan saat kau sudah bersih, kembalilah ke sini lagi dan nikmati dunia ini lebih intim” ujar laki-laki yang terhuyung-huyung itu. Tak tahan dengan tingkah polah tempat yang berbau mulut naga itu, ia langsung saja pergi berbaur di keramaian dan hilang. Yang tertinggal di sana hanyalah setetes air mata kepedihannya di tanah gersang penuh kepiluan, yang akhirnya menguap diangkat oleh panasnya hawa dosa di tanah tersebut.

Sejak saat itulah taman bunga itu hilang dan kembali lagi setiap 200 tahun sekali, karena para dewa murka akan semua tingkah perilaku manusia yang selalu mengulangi tulisan jelek pada lembarnya yang baru saja bunga surga berikan.
Dan diakhir kisah itu dituliskan secara gamblang. “Telah kuberikan kau 1 kayu bakar untuk kau bakar. Telah kuberikan 200 kayu bakar untuk kau hanguskan. Tapi akan tiba masa tidak ada kayu bakar untuk kau bakar dan hanguskan. Saat itulah kau harus membakar dirimu sendiri untuk terus menyala”.

“Jadi manusia itu tidaklah pantas untuk diampuni segala dosanya ya eyang?” tanyaku serius.
“Sebenarnya manusia itu sangatlah pantas untuk dimaafkan segala dosa-dosanya. Tapi yang perlu ditanyakan adalah pantaskah mereka dimaafkan dosanya untuk kesekian kali?” ujarnya sambil memilah pisang goreng mana yang akan dilahapnya. “Tapi aku merasa kita manusia seperti orang yang ada disebuah perempatan jalan yang diberhentikan oleh lampu merah. Benarkah kita berhenti di sana karena memang harus berhenti, atau kita berhenti karena kita suka akan warna merah?. Benarkah kita berhenti karena melihat dosa ataukah kita berhenti karena suka akan dosa?” tambahnya.
Aku tersentak oleh pembicaraan dengan eyang yang satu ini. Aku mulai berpikir, kenapa tidak dihapuskannya dosa kalau kita manusia selalu tidak bisa lepas dari yang namanya dosa?. Apakah semua ini blunder dari Tuhan tuk sengaja sekalian menguji kita, para manusia, akan apa yang kita harus jawab ketika dihadapkan kepada soal yang biasa disebut dosa?.

Mulai saat itu, pemikiranku serasa diamplas untuk mencari lebih dalam apa yang harus kita lakukan dengan dosa yang selalu membuat api yang melahap sebuah kayu bakar. Aku terjebak di sebuah lingkup pemikiran antara rasional dan irrasional dalam pikiranku. Aku serasa menghapus semua kenangan akan semua dosaku, aku serasa takut akan kembali melakukan dosa dan takut untuk kembali diberikan kayu bakar.
Pikiranku serasa kembali seperti kertas putih yang tidak tahu apa-apa. Sebuah logika yang disadarkan oleh pemikiran lintas rasional dan irrasional akan menghasilkan secarik kertas putih yang kosong nan suci.

Setibanya pemikiranku tersadar dari lamunan yang membuat kepalaku serasa sangat pusing dan membuat kepalaku berat, sangat berat hingga aku tak kuasa untuk berdiri dan bergerak ke ranjangku untuk menenangkan pikiranku di alam mimpi.
Tak kusadari aku sudah tergeletak lemas di lantai, tubuhku kaku, mataku melihat nanar ke arah luas, leherku seperti leher patung yang kaku karena terbuat dari campuran semen dan tanah serta air.
Dalam mata yang nanar aku melihat samar eyangku yang dengan santai menyeruput hingga tetes terakhir kopi hitam yang sensasional baginya itu. Aku begitu terkaget dalam ketidak berdayaanku melihat dagu bagian bawah eyang yang biasanya tersembunyi oleh lipatan itu adalah sebuah simbol silang dengan lingkaran tepat di tengahnya.

Cerpen Karangan: F Firmansyah
Pembuat cerpen yang masih pemula, salam cerpen!

Cerpen Hampa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Guardian Fairy

Oleh:
Laila adalah gadis biasa berumur 17 tahun yang tinggal bersama dengan paman dan bibinya, kedua orangtuanya telah meninggal. Saat Laila masih berumur 7 tahun, dia dan keluarganya mengalami kecelakaan

Lost World

Oleh:
“Kehidupan memang seperti roda berputar. Kadang kita merasa sangat bahagia namun tiba-tiba masalah muncul. Itu lah hidup.” Begitu kata orang-orang dulu. Namun pada masa yang kelam ini, tidak ada

Duniaku Setengah Komik

Oleh:
Ketika aku masih muda, orang-orang dewasa bilang “jika kau berharap sesuatu, tunggu sampai bintang jatuh” dan harapan itu akan menjadi nyata, menurutku itu bohong, penipu! Bagaimana bisa harapan menjadi

Elektrovalensi Jiwa

Oleh:
Sore itu, di atap gedung Sekolah menengah atas, dua orang remaja yang tak saling mengenal berdiri menatap satu sama lain. “Ada urusan apa?” Tanya Kevin dengan nada dingin disertai

Datangmu Di Malam Minggu

Oleh:
Malam ini malam minggu, bagi remaja remaja yang lain merupakan malam yang indah dengan berbagai acara apel, jalan bareng, ketemuan dan lain lain lah. Tapi tidak bagiku semenjak kekasihku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *