Hatiku Berubah di Langit Malam (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 2 December 2020

Jika aku mendengarkan dengan seksama, aku masih bisa mendengar suaramu diantara pemandangan langit malam kota. Aku terus memastikan apa yang tersisa, di malam dimana jingga mewarnai segalanya. Aku mencoba menyimpan air mataku. Saat itu aku berharap kita bisa membawa keluarga kita yang tak tergantikan dan bertemu lagi disini.

Gelap cepat sekali merambati langit sore. Mega yang tadinya berwarna jingga cerah kini telah bertransformasi menjadi awan kelam. Aku masih memandangi ilalang yang dimainkan oleh angin. Seekor kunang-kunang baru saja terbang di hadapanku, menghindari gerakan rumput yang terus bergoyang di bawahnya. Lihatlah! Hewan kecil itu bahkan bisa terbang di kegelapan hanya dengan cahayanya sendiri, kenapa aku tidak bisa?

Kabar perceraian orangtuaku adalah alasan utama aku berada di sini. Aku memerlukan waktu untuk menyendiri. Sebelumnya, keluargaku adalah keluarga yang harmonis. Aku bahkan tidak pernah melihat orangtuaku marah. Ayah selalu membagi waktu untuk keluarga walaupun ia sibuk dengan pekerjaannya. Ibu juga begitu, walaupun ia memilih menjadi wanita karier tapi ia masih seorang Ibu yang selalu memberi kasih sayang dan mengerti suami dan anaknya. Tapi satu per satu kebahagiaan mulai pudar sejak dua bulan lalu. Tidak ada yang tahu penyebabnya tapi Ayah yang aku kenal sekarang bukanlah Ayah yang dulu. Dia telah berubah menjadi monster yang ganas hingga terus menghancurkan keharmonisan keluarga yang selama ini kami bangun.

Kunang-kunang itu masih berkedip di depanku. Aku ingin menjadi kunang-kunang saja kalau bisa. Aku ingin pergi dari puing-puing kehidupanku yang telah hancur dan memulai lagi dari awal sebagai kunang-kunang. Aku tidak peduli lagi pada Ibu ataupun Ayah, mereka sama saja, selalu meneriaki kesedihan dan luka padaku. Mereka tidak lagi menyayangiku. Aku membenamkan wajah dengan kedua tangan memeluk lutut. Setetes air mulai menetes dari sudut mataku.

Kunang-kunang itu tiba-tiba hinggap di lututku, cahaya yang sangat terang menyilaukan mataku. Aku tidak tahu dari mana asal cahaya itu dan apa yang terjadi. Semua berlangsung begitu cepat. Ketika aku membuka mata, aku sudah berada di bawah pohon raksasa berdaun ungu dengan akar yang timbul ke permukaan tanah.

“Dimana aku?” aku memandang sekeliling dan menemukan seseorang berpakaian aneh menatapku dengan alis bertaut sama bingungnya dari sisi lain pohon raksasa.
“Bagaimana caramu muncul di sana secara tiba-tiba?” tanyanya masih dengan alis bertaut.
Aku bingung menjawab pertanyaanya, aku sediri tidak tahu apa yang terjadi. Karena aku tak kunjung menjawab dia bertanya lagi “Apa kamu memiliki kekuatan ajaib?”.
Aku menggeleng perlahan lalu tertegun melihat pedang berkilat yang entah sejak kapan berada di genggaman orang itu, keringatku mulai menetes. Aku melangkah sekali ke belakang lalu siap berlari ketika kakiku tersandung akar dan tubuhku jatuh terjerembab.

Aku belum sempat melakukan apa-apa tapi orang itu sudah tiba di dekatku dengan pedangnya. Aku mencoba menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Apakah hidupku harus berakhir seperti ini? Dalam kejadian aneh yang tidak aku mengerti! Apakah aku akan menjadi arwah penasaran? Aku tidak bisa membayangkan pedang itu terulur dan merobek kulitku dengan mudah, lalu darah mengalir dengan derasnya membasahi tubuhku dan-
“Hei, apa aku terlihat begitu menyeramkan bagimu?”
Apa dia bilang? Aku memberanikan diri untuk mengangkat wajah dan menatapnya.
“Lihat, aku tidak menyeramkan bukan? Sekarang apa kau ingin tetap disitu? Ayo bangun!”
Aku menerima uluran tangannya. Aku hampir menganggap ini mimpi kalau saja sikuku yang terbentur tanah tidak terasa sakit. Tapi sepertinya ini bukan salah satu mimpi aneh yang belakangan ini sering menghampiriku.

“Minumlah dulu supaya lebih tenang!” ucapnya sambil menyodorkan cawan kecil berisi air.
Aku menerimanya dengan ragu, tapi aku mecoba berpikir positif. Aku segera menghabiskan air itu. Tenggorokanku kini terasa lebih lega, suaraku pun kembali kutemukan setelah menghilang karena kekagetan tadi.
“Mmm, terima kasih!”
“Ahh.. kau merasa lebih tenang bukan, jadi dari mana asalmu?”
Aku menyebutkan alamat rumahku tapi dia terlihat bingung, aku memperjelas dengan menyebutkan kota asalku tapi ia masih terlihat bingung. Menyebalkan sekali, dia memang tidak tahu atau sedang bersandiwara, atau wajahnya memang seperti itu?

“Kenapa kau tidak tahu apa-apa? Memang dimana letak tempat ini?” tanyaku kesal.
Aku lupa untuk bernapas selama beberapa detik mendengar jawabannya. Orang itu baru saja mengatakan aku berada di semacam dunia dongeng yang tepatnya di Kerajaan Cha. Kini aku benar-benar menepuk pipiku supaya segera terbangun dari mimpi anehku.
“Jadi kau tidak bisa menjelaskan bagaimana bisa kau muncul di tempat ini secara tiba-tiba?”

“Hei kau tidak gila hanya karena mendengar kenyataan bukan? Emm.. biar kutebak! Kau tidak tahu bagaimana cara untuk kembali kan!”
Tunggu, apa harapanku terkabul? Aku berda di dunia tanpa Ayah ataupun Ibu yang berarti aku bebas dari semua masalahku.
“Yeeee…” Aku melompat girang.
“Ternyata kau benar-benar tidak waras” ujar orang itu sambil berjalan pergi.

Aku mengejar orang itu, aku punya alasan cukup baik untuk melakukan hal ini. Pertama, aku sama sekali tidak tahu tempat ini dan orang itu bisa jadi penujuk jalan bagiku. Kedua, ini sudah malam dan aku takut gelap. Ketiga, sekaligus alasan yang paling penting karena menyangkut kelangsungan hidupku kedepan, yaitu aku belum makan dari pagi dan mungkin orang itu memiliki makanan untukku.

Aku mengikuti orang itu sampai ke perkemahannya, sebenarnya tidak layak disebut perkemahan karena hanya ada api unggun dan bangunan kecill yang beratapkan daun, itu pun hanya seukuran mesin cuci di rumahku. Dia duduk menghadap api unggun, memunggungiku.

“Kau tahu sebenarnya tidak masalah jika aku tidak bisa kembali. Aku bisa tinggal disini, aku hannya perlu sedikit belajar darimu. Ngomong-ngomong siapa namamu tadi?” aku kini telah menjejerinya. Jangan salah paham ini salah satu strategi agar ia mau memberiku makanan.
“Apa yang kau bicarakan? Ini hutan liar, kau tidak akan bisa tinggal disini. Kecuali jika kau ingin menjadi santapan harimau atau serigala, mereka berkeliran dimana-mana. Dan kenapa kau menanyakan namaku seakan-akan itu penting bagimu?”
Huh, ternyata orang ini lebih menjengkelkan dari yang kukira. “Jadi itu alasanmu membawa pedang! Kalau begitu aku bisa mencari senjata juga. Dan bukankah lebih baik kita saling mengenal, yaa ada pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak sayang, mungkin jika kita saling mengenal kita bisa menjadi teman.” Dia diam memandangi api di depannya, apa dia tidak mendengarkanku?

“Baiklah.. namaku Haruna Kiki Rayna, siapa namamu?”
“Aku tidak mengerti, mengapa namamu begitu panjang. Apa orang tidak bingung bagaimana memanggilmu?”
“Mudah saja, kau bisa memanggilku Haruna, dan aku bisa memanggilmu..” aku menunggu dia menjawab.
“Elang, mereka biasa memanggilku Kesatria Elang”
“Wow, jadi kau seorang kesatria. Sepertinya aku sedikit tidak mempercayai hal itu kecuali jika kau mau berbagi makanan denganku” aku mengakhiri kalimatku dengan senyuman.
“Oh, jadi kau hanya menginginkan makanan dariku!” dia mengatakannya seolah-olah aku pencuri yang tertangkap basah. Aku hanya tersenyum konyol menanggapinya. “Kau bisa ambil sebagian buah di dalam sana”
“Terima kasih banyak”

Malam ini aku tidak bisa tidur dengan nyenyak walaupun perutku sudah terisi penuh, langit diatas sudah melukiskan bintang dan bulan yang sangat indah untukku. Aku memikirkan hari-hariku ke depan, apa semua akan baik saja? Begitu banyak hal yang aku pikirkan, tapi kali ini aku sama sekali tidak teringat orangtuaku. Mataku mulai terpejam ketika api unggun perlahan padam.
Dari dalam tempat tidur daunnya seseorang memperhatikanku. Ia masih mengira-ngira darimana asalku? Kenapa aku bisa disini? Dan kenapa aku tidak ingin kembali? Malam ini penuh dengan pertanyaan bagi kami, tapi Elang tahu. Suatu hari semuanya akan terjawab. Elang mengalihkan pandangan dari wajah teduh gadis itu untuk memejamkan matanya juga.

Aku mengelap keringatku untuk kesekian kalinya, sepertinya aku harus terbiasa berjalan jauh mulai sekarang, pasalnya si orang menjengkelkan yang menyebut dirinya Kesatria Elang itu mengajkku mencari sungai yang banyak ikannya dan tidak memberikan kesempatan untuk istirahat padaku.

“Lang! apa sungainya masih jauh?”
“Kau tahu? Aku merasa aneh mendapat panggilan itu”
“Aku sudah tidak kuat lagi. Apa kita bisa istirahat sebentar? Kakiku terasa sangat sakit”
“Jangan mengeluh!”
Itu jawaban yang dilontarkannya ketika sudah merasa kesal dangan keluhanku dan seingatku dia sudah mengatakannya sebanyak tigapuluh dua kali sejak perjalanan ini dimulai.

“kau ini ingin mengajakku ke sungai atau ingin mudik? Seharusnya kau membuat perkemahan dekat sungai saja agar tidak perlu berjalan jauh hanya untuk mencari ikan dan mengambil air. Kalu begini terus aku menyesal mau mengikutimu”
“Bagus jika kau menyesal, kau bisa tinggal di sini tanpaku. Kita berpisah saja mulai dari tempat ini”
“Apa? Kau serius?” Elang kini sudah berlari menjauhiku, aku sempat mendengar kalimat terakhirnya.
“Kau sudah sampai! Lihatlah ke depan!”

Cerpen Karangan: Anisa Melianti
Blog / Facebook: Anisa Melianti

Cerpen Hatiku Berubah di Langit Malam (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


GARIS (Part 1)

Oleh:
Jumlah pengangguran di Indonesia ini masih cukup banyak. Baik mereka yang berpendidikan maupun tidak. Dan yang menimbulkan ironi dalam benakku adalah, lulusan sarjana yang menganggur dan melapuk. Tidak untuk

Bersauh

Oleh:
“Jadi, apa pedulimu dengan tempat ini, Nak?” tangannya gemetar memegang pagar besi setinggi perut di depannya. Matanya layu. Kutebak mata itu sebentar itu akan menutup. Tetapi, jelas terlihat nasionalisme,

Harapan Baru

Oleh:
“satu.. dua… tiga..” aku menghitung detik jam dinding kamarku sambil terbaring lemah di tempat tidurku. Semenjak aku mengalami kecelakaan 3 tahun yang lalu, aku mengalami penderitaan yang amat berat.

Dilarang Mimpi

Oleh:
Suatu hari yang cerah, sangat pas untuk menikmati segelas teh hangat di teras ini, dan sambil membaca koran. ditambah lagi kicauan-kicauan merdu oleh burung-burung pagi saat itu. Suasana yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *