Hatiku Berubah di Langit Malam (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Petualangan
Lolos moderasi pada: 2 December 2020

Ternyata dia mengajakku keluar dari hutan dan menuju sebuah desa yang kini berada di depanku. Aku tidak menyangka ternyata dibalik sikap menjengkelkannya dia baik juga. Apa itu ciri khas dari seorang kesatria? Aku tidak ingin memikirkan hal itu saat ini. Suasana ramai di desa ini lebih menarik perhatianku. Cerobong asap di perumahan itu mengeluarkan asap yang dengan lembutnya mengambang di udara. Bau harum dan manis buah menyebar di seluruh desa. Orang-orang sibuk menghias desa dengan lampion dan menyusun makanan di meja besar yang tersusun di pinggir jalan. Apakah akan ada acara besar?

“Hei, kenapa kamu tidak mengenakan gaun? Apa kamu tidak ikut pesta?” tanya seorang gadis berwajah tembam padaku.
“Pesta? Apa aku bisa ikut juga?”
“Tentu saja, kami menerima tamu dari manapun untuk memeriahkan acara ini. Kamu bisa mendapatkan gaun dari pondok itu, cepatlah karena pesta akan segera dimulai!”

Aku menuruti apa yang dikatakan gadis itu, sejenak aku tidak yakin dengan gaun ala desa itu yang modelnya tidak terlalu aku suka. Ya, siapa pula yang suka baju berbahan kain tenun kaku berwarna coklat muda dengan hiasan renda yang membuat kulit gatal saat mengenakannya. Ini lebih pantas disebut pakaian kurcaci di dongeng Snow White, atau lebih parah lagi. Aku memutuskan untuk mendobelnya dengan seragam sekolah yang kukenakan dari kemarin dan menambahkan hiasan dengan pita rambutku.

Pesta dimulai saat senja, aku baru tahu ini pesta perayaan hasil panen ketika orang yang berada di dekatku mengatakannya pada anaknya yang terus bertanya. Pikiranku hampir kembali ke rumah ketika aku melihat orang yang tak asing bagiku, aku segera menghampirinya.

“Hmm.. siapa sangka Kesatria Elang ynag menjengkelkan juga suka pesta?” Elang melirikku sebentar lalu melanjutkan gerak tangannya untuk mengambil makanan, ia melahapnya dengan cepat.
“Aku hanya mencari makanan” katanya di sela kegiatan mengunyahnya.
“Apa aku membuatmu marah? Wajahmu memerah kau tahu?” aku tertawa.
Elang mendelik padaku, sepertinya dia akan marah, tapi ia malah bertanya “Kau belum mengatakan alasanmu tidak ingin kembali?” aku kaget mendengrnya, seketika aku teringat Ayah dan Ibu. “Apa kau tidak suka tinggal disana?”
“Aku tahu kau pasti marah kan, itu terlihat sangat je-“
“Tidak perlu mengalihkan pembicaraan, itu hanya akan menunjukan bahwa apa yang aku katakan benar”
CHECKMATE bagiku. Aku bingung harus bagaimana lagi yang pasti aku tidak akan mengatakan kejujuran padanya, aku ingin melupakan hal itu dari kehidupanku saat ini. Tidak perlu ada Ayah atau Ibu, aku hanya perlu cahayaku sendiri, seperti kunang kunang.

“Apa kau ingin mnghindari masalah yang kau hadapi disana?” tepat sekali, perkataannya sesuai dengan apa yang ada di kepalaku. Dia seperti bisa membaca pikiranku. “Apa ini soal orangtua?”
Aku terpaku. Untuk yang kedua kalinya ia mengucapkan apa yang aku pikirkan. Tanganku semakin kebas dan mungkin wajahku sudah memucat dan berubah warna menjadi abu-abu. Elang masih menatapku tajam, tak ingin secuilpun kebohongan muncul di mataku. Saat itu aku yakin dia tak akan melepaskanku dari tatapannya itu sebelum aku jujur. Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa sakit.

Suasana tiba-tiba menjadi tegang ketika suara jeritan saling bersahut-sahutan. Elang sigap menghampiri sumber keributan itu. Aku menghembuskan napas lega ketika terselamatkan dari tatapan mematikan Elang. Tapi ketenanganku tak berlangsung lama karena kedatangan orang-orang bertubuh besar yang menjadi sumber kekacauan. Mereka adalah para penjarah, mereka datang untuk mengmbil semua hasil panen warga dan mengancam siapapun yang melawannya. Masing-masing dari mereka membawa senjata tajam dan mengacungkannya bahkan tak segan-segan menyabetkannya pada warga yang mendekat. Seorang lelaki terlihat penuh luka akibat sabetan senjata para penjarah itu, tapi lelaki itu masih mencoba mempertahankan hasil kerja kerasnya menggarap ladang untuk menafkahi istri dan kelima anaknya. Lelaki itu memeluk karung gandum terakhirnya yang belum diambil penjarah. Kelima anaknya menangis dalam pelukan ibunya berjarak agak jauh dari lelaki itu. Tapi jumlah penjarah itu terlalu banyak, seorang penjarah berkulit hitam merebut karung gandumnya dan dengan kejam menyabetkan senjata tajamnya membuat lelaki itu terkapar bersimbah darah. Kelima anaknya menjerit melihat sang ayah yang kini tak bergerak.
“Ayah” tanpa aku sadari kalimat itu mengalir dengan sendirinya dari hati kecilku.

“Cukup sudah!”
Aku menyibak orang-orang di depanku dan melangkah maju menghampiri para penjarah itu. Aku tidak tahu keberanian macam apa yang merasukiku. Tragedi yang menimpa lelaki itu menyadarkanku bahwa ayah adalah orang yang paling berani dan paling keras bekerja untuk keluarganya, lelaki itu bahkan tidak memikirkan dirinya, ia lebih memikirkan istri dan anak-anaknya. Itu memotivasiku untuk berani seperti seorang ayah.

“Hei kalian! Dasar pengecut, hanya bisa mengambil barang milik orang lain tanpa mau berusaha. Apa kalian tidak memikirkan usaha dan kerja keras warga desa ini merawat ladangnya untuk menafkahi keluarga mereka.”
Penjarah berkulit hitam yang tadi membunuh lelaki pemberani itu melemparkan karung gandumnya mendengar perkataanku. Dia mendengus dan menatapku tajam. Sebelum dia mendekat aku cepat-cepat melanjutkan kalimatku.
“Desa ini membuka gerbang bagi siapapun, kalian tidak perlu menjarah, bahkan kalian tidak perlu meminta, warga desa ini akan dangan senang hati memberikan makanan yang kalian perlukan. Tidak perlu ada kekerasan, kalian bisa bekerja sama dan hidup berdampingan. Jangan menjadi orang yang serakah dan egois, toh manusia tidak bisa hidup sendiri. Ada kalanya kalian membutuhkan bantuan orang lain.”
Penjarah berkulit hitam itu semakin marah dan mendekatiku. Aku tidak takut.
“Aku yakin jika kalian mau berdamai warga desa ini pasti akan memaafkan kalian.”

Penjarah berkulit hitam itu tinggal berjarak beberapa meter dariku, ia mengangkat senjatanya tinggi-tinggi, siap menebaskannya ke kulitku. Aku memejamkan mata siap merasakan sakitnya benda runcing itu saat mengenai kulitku. Aku telah berusaha, ya aku telah berusaha menyentuh hati kecil panjarah itu. Sekeras-kerasnya seseorang ia masih memiliki hati kecil yang tidak bisa ia bohongi. Walaupun usahaku gagal aku yakin kalimatku tadi sempat menyentuh nuraninya, mungkin akan ada suatu penyesalan ketik ia membohongi hati kecilnya sendiri. Sedetik kemudian bukan jeritanku sendiri yang aku dengar, tapi suara dentingan pedang yang beradu. Elang tiba-tiba sudah ada di depanku.
“Haruna, menjauhlah akan kuatasi yang ini” ucapnya pelan, ini pertama kalinya ia menyebutkan namaku dan aku menyukai caranya mengatakan namaku dengan intonasi pelan.

Aku segera mundur, mambiarkan Kesatria Elang beraksi melawan para penjarah itu. Rupanya selama aku berorasi dia telah menumbangkan sebagian besar penjarah-penjarah itu, aku kagum melihat kelihaiannya mengayunkan pedang dan menghindari berbagai macam serangan yang menyerbunya. Saat pertama kali melihatnya kukira dia murid siswa SMA biasa sepertiku, tinggi badannya mungkin hanya berbeda sekian senti dariku dan caranya berbicara juga tidak menggambarkan dia seorang kesatria. Atau usianya memang tidak jauh berbeda denganku?

Tinggal tiga orang penjarah yang tersisa termasuk pemimpin para penjarah itu, tapi mereka memilih untuk jujur pada hati kecilnya. Pemimpin para penjarah mengaku salah dan meminta maaf pada warga desa. Mereka sepakat mulai saat ini akan bekerja sama dan saling menolong.

Sisa-sisa kekacauan masih terasa di sekeliling desa, tapi setelah membersihkan kembali segala hal pesta masih bisa dilanjutkan walaupun dengan sangat sederhana. Warga menikmati makan malam bersama dengan sisa penjarah yang sudah bertobat, bahkan mereka kini tertawa bersama. Kebahagiaan mekar dengan cantiknya menghiasi wajah-wajah di meja makan yang beratapkan langit malam itu.

Elang menatap tiap wajah yang tersenyum malam itu yang membuatnya ikut tersenyum juga.
“Elang, kamu tidak marah denganku kan?” tanyaku ketika melihatnya tersenyum. Elang menoleh, merubah raut wajahnya.
“Aku tidak marah padamu aku hanya menbencimu” ucapnya ketus, tapi aku tidak menganggapnya serius.
“Jadi kau benci! Hati-hati ya, karena benci itu hanya memiliki sekat tipis dengan cinta!” Elang menaikkan alisnya yang artinya bertanya Benarkah?

Lagi-lagi di bawah lagit malam, aku berdiri sendirian di tepi desa, mendengrkan musik alam yang menenangkan. Aku memikirkan Ayah dan Ibu.
“Kau ingin kembali?” tiba-tiba Elang sudah ada di belakangku. “Bertemu lagi dengan kedua orangtuamu? Aku yakin kamu telah melupakan masalah yang kamu hadapi dengan mereka dan mereka sudah menyadari apa kesalahan mereka. Mereka merindukanmu, Haruna!”
“Dari mana kamu tahu semua itu?”
“Seperti katamu, hati kecil tidak bisa berbohong, dan aku bisa melihat semuanya di matamu.” Elang kini menatap mataku lagi tapi kali ini dia menatap mataku dengan lembut. “Kamu hanya perlu menyentuh hati kecil mereka, seperti yang kamu lakukan hari ini! Kembalilah jika kamu ingin kembali.”
“Caranya?”
“Berharaplah kamu bisa kembali, mereka akan mengabulkannya!”
“Kunang-kunang?”
“Ya, mereka ada disini.”
“Terima kasih Kesatria Elang, terima kasih atas semuanya”
“Itu bukan masalah, dan satu lagi Haruna! Aku rasa sekat tipis itu sudah hilang, kau tahu artinya kan? Haruna, kamu adalah satu-satunya orang yang mendengar pernyataan itu dariku. Berjanjilah untuk tidak melupakannya.”

Aku memeluk Elang ketike segerombol kunang-kunang terbang di sekitarku. Cahaya yang menyilaukan memisahkan kami ke tempat yang jauh berbeda, sisa-sisa kalimatnya masih melekat di telingaku. Malam masih menemaniku dengan ilalang yang melambai. Aku berlari menuruni bukit, menyibak ilalang dan diiringi cahaya kunang-kunang. Aku ingin cepat sampai di rumah dan memeluk kedua orangtuaku. Kini aku berani menghadapi masalah apapun yang akan kuhadapi. Ya, apapun masalah yang ada di depan, jalani saja dan nikmati liku-liku hidupmu, aku yakin sesuatu yang menakjubkan menunggumu di depan.

Cerpen Karangan: Anisa Melianti
Blog / Facebook: Anisa Melianti

Cerpen Hatiku Berubah di Langit Malam (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Vampire Night

Oleh:
“Hahh.. hh.. hh..” Suara napasku yang beradu cepat bersama langkah kakiku yang sedang berlari. Ku lewati pohon-pohon besar di depanku. Aku sudah tak peduli bagaimana penampilanku sekarang, yang aku

Peri Mimpi di Kamarku

Oleh:
Suara bising yang mengitari telingaku membuat aku terbangun dari tidur malam yang panjang. Kubuka pelan-pelan mataku yang masih sayu-sayu dan, astaga betapa kagetnya aku melihat seekor binatang besar yang

Petualangan 2 Sahabat

Oleh:
Basilia dan Aulia adalah 2 sahabat yang sama-sama gemar dengan petualangan. Pada suatu hari, basilia dan aulia sedang sangat asyik memasak di dapur rumah basilia. Pada saat itu, aulia

Pahlawan Kampung

Oleh:
“Mengapa tidak belajar?” Tanya Ibu kepada Rofa. “Bentar, lagi asyik nonton nih” jawab Rofa sambil asyik melihat televisi. Ya Rofa adalah anak yang cukup pemalas, hari harinya hanya bermain

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *