Hell

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 25 October 2017

Banyak orang yang mengatakan neraka adalah tempat berapi dimana orang jahat disiksa selama-lamanya setelah mati. Bagaimana menurut kalian?
Menurut pendapatku secara pribadi, aku sama seperti orang lain. Dalam pandanganku, neraka penuh api itu sangat cocok untuk orang-orang yang berbuat jahat kepada orang lain.
Tapi pandangan itu berubah sejak hari itu..

Aku bekerja di sebuah perusahaan di daerah Kota Tangerang. Jarak antara kantor dengan rumahku cukup jauh, kurang lebih satu setengah jam dengan medan yang cukup berbahaya karena banyak dilalui oleh truk besar.

Hari itu, aku pulang larut malam karena banyaknya laporan yang harus diselesaikan. Setelah beres-beres dan mematikan lampu ruang kantor, aku langsung menuju ke tempat parkir.
Selesai memasang earphone dan menyetel musik dengan volume yang memadai, aku pun menyalakan mesin sepeda motor dan langsung menuju ke rumah.

Awalnya perjalananku mulus, tanpa ada kendala. sampai di sebuah jalur yang gelap dan jalanannya cukup rusak, ada sebuah truk yang berjalan cukup cepat, tapi tidak terlalu cepat. Aku pikir truk ini begitu menghambat. Setelah memastikan bahwa jalur sebaliknya sudah aman, aku pun segera memacu sepeda motorku dan mulai menyusul truk tersebut.
Tapi naas, sepeda motorku terjerumus ke dalam sebuah lubang yang cukup besar dan aku kehilangan kendali. Aku pun terjatuh tepat di bawah truk tersebut.
Pemandangan terakhir yang kulihat adalah mendekatnya roda truk yang besar ke arah wajahku dan setelah itu semuanya gelap.

Aku tersadar di tempat aku jatuh. Aku ingat tentang kejadian yang menimpaku dan aku sadar kalau aku sudah mati. Tapi di mana ini? Ini bukan neraka maupun surga seperti yang diceritakan orang-orang sewaktu aku masih hidup.
Ini sama seperti dunia biasa, lengkap dengan udara dingin, gelapnya langit malam, dan jalanan rusak dan gelap yang aku lalui.
Sepeda motorku? Masih ada di sana. Masih tergeletak di sana tanpa ada lecet sedikitpun.

Eh? Kenapa tidak ada lecet? Aku langsung memeriksa tubuhku. Tidak ada lecet sama sekali juga. Jika begitu, kenapa sepeda motorku juga ada di sini? Apa aku belum mati? Banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam benakku.

Setelah termenung sejenak, aku langsung membangunkan motorku yang terjatuh dan berkendara ke rumah. Kondisinya sangat sepi. Tapi aku tidak terlalu mempedulikannya. Terlalu banyak pertanyaan dalam pikiranku yang belum terjawab.
Begitu pula pada saat aku sampai di jalanan yang sudah cukup terang karena diterangi lampu jalanan. Kenapa lampu jalanan ini menyala? Apa mungkin ada yang mengoperasikan listrik di dekat sini? Begitu pula saat sampai di rumah. Listrik dan air masih menyala. Tapi karena hari sudah terlalu larut dan aku mulai mengantuk, aku pun menyudahi hari itu.

Keesokan harinya, keadaan masih sama. Aku pun mencoba untuk menyalakan tv dan melihat apakah ada saluran televisi yang bekerja. Seharusnya, dengan kondisi “dunia” yang sepi seperti ini, listrik, air, tv, dan internet tidak dapat digunakan. Tapi, setelah aku mengetes segala sesuatu, semuanya bekerja dengan sempurna.
Apa maksudnya ini? Bagaimana mereka dapat berfungsi tanpa ada orang yang mengoperasikannya? Atau jangan-jangan..

Aku mencoba berkeliling, mencari makhluk hidup yang dapat kutemukan. Tanaman ada di sini, tapi binatang dan manusia tidak dapat kutemukan sama sekali.

Aku mencoba pergi ke sebuah restaurant cepat saji yang berada di daerah Karawaci. Semua makanannya tersedia dan seperti baru dimasak. Aku mencoba mengambil sebuah ayam goreng tepung dan memakannya dan setelah memastikan bahwa seluruh ayam tersebut masih baru, aku mencoba membuang semua ayam itu.

Aku juga membalikkan hampir seluruh meja, memecahkan kaca, dan membuang banyak sekali alat-alat masak ke jalan. Jika teori yang ada dalam pikiranku benar, maka benda-benda ini akan kembali seperti semula pada saat aku pergi meninggalkan tempat ini.

Aku mencoba berkeliling selama beberapa jam dan kembali lagi ke restaurant tersebut. Kondisinya masih sama, berantakan akibat ulahku.

Setelah memastikan bahwa teoriku salah, aku langsung menuju ke restaurant lainnya, mengambil makanan dan segera pulang. Kalau begini aku harus menghemat bahan makanan takut sewaktu-waktu bahan makanan akan habis.

Hari itu pun berlalu dengan banyaknya pertanyaan yang masih membayangi kepalaku. Setelah makan, aku segera tidur

Aku kembali lagi ke restaurant tempat aku mengacak-acak segala sesuatu. Semuanya terlihat baru. Masakannya terlihat seperti sebelum aku mengacak-acak tempat tersebut.

Apa maksudnya ini? Karena takut, aku lari keluar dan berteriak sekeras-kerasnya, berharap ada orang yang mendengar. Jelas tidak ada yang menjawab.

Pada poin ini, aku mulai putus harapan. Bagaimana caraku keluar dari dunia tanpa makhluk hidup ini?
Saat sedang memikirkan hal itu, sebuah menara tinggi terlihat olehku. Itu jalan keluarku..

Setelah mempersiapkan mental, aku memandang sekeliling untuk terakhir kalinya lalu melompat dari lantai 25 gedung tadi. Aku pikir, dengan melakukan ini aku dapat terbebas dari dunia ini. Aku tidak akan terjebak di dunia yang konyol ini!

Aku terbangun di tempat aku terjatuh. Tidak ada luka atau lecet sama sekali. Hari masih pagi pada saat aku terbangun. Dan semuanya masih sama, Sepi.
Setelah itu, aku melakukan banyak “cara” untuk dapat keluar dari dunia tersebut seperti melompat dari gedung tinggi, meminum racun, menggantungkan diri pada sebuah pohon. Semuanya selalu berakhir sama. Aku terbangun di tempat aku tewas, tergeletak di tanah tanpa lecet sedikitpun, dan hari selalu masih pagi ketika aku bangun.

TIDAK ADA CARA UNTUK KELUAR DARI DUNIA INI..

Jika kalian masih berpikir neraka adalah tempat yang ramai dimana orang disiksa selama-lamanya, kalian salah. Entah sudah berapa lama aku di sini. Entah sudah berapa kali aku berusaha keluar dari dunia ini. Aku bahkan tidak tahu apa aku masih waras atau apa.

Yang jelas, setelah menulis semua ini, aku akan mencoba pergi ke suah gunung berapi aktif yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta. Mungkin jika aku melemparkan diriku kedalam lava yang panas, aku tdak akan terbangun lagi di tempat ini.

End

Cerpen Karangan: Death21
Facebook: facebook.com/profile.php?id=100010908880806

Cerpen Hell merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kontes Memasak Endemmo

Oleh:
“Selamat pagi, Itzel! Aku punya kabar baik untukmu!” ujar Silvana di pagi yang cerah itu. Ia datang ke toko roti Itzel dengan semangat hari ini. “Nanti saja, sedang banyak

Lexarion (Part 1)

Oleh:
Desing kipas angin menderu kencang. Menggema hingga ke setiap sudut ruangan. Seorang gadis sedang menikmati semilir angin dari kipas angin yang menggantung di plafon kamarnya sambil merebahkan diri di

Giofeny Live For Love

Oleh:
Pada suatu hari di sebuah smp junior high school di jakarta terdapat kelas yang hanya berisi murid yang pintar dan kaya saja. Tetapi ada satu murid yang bernama Feny

Sisi Lain Dunia (Part 2)

Oleh:
“Otak kiri adalah bagian yang berguna untuk pemahaman dan semacamnya yang sulit dan biasanya saat bertanya, bingung, kesal, dan masih banyak lagi. Sedangkan otak kanan adalah yang berguna untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *