Holy War Zone (Part 1) Expansion Of Vampire

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 3 May 2017

Jakarta, 15 Juni 2020…
Malam itu aku semangat sekali. Kalian tau kenapa? karena malam ini merupakan resepsi pernikahanku. Aku sudah bersiap dengan baju pengantinku. Aku diantar ke ke salah satu hotel bintang lima di jakarta. Ya Allah, betapa gugupnya aku. Padahal sejak dari rumah aku semangat sekali. Aku mencoba menenangkan diri dengan menarik napas. Huuu, Bismillah.

Akhirnya aku pun sampai di dalam ruang resepsi.Dan akupun melihatnya. Aku melihat wanita yang sangat aku cintai. Zyanaz Berliana namanya. Aku tidak menyangka sebelumya kalau dia yang akan menjadi istriku kelak. Berawal dari kebencian antara kami berdua, Akhirnya dari kebencian itu menumbuhkan benih-benih cinta di antara kami berdua. Dia tampak cantik dengan gaun pengantin itu. Dia bagaikan salju di musim dingin bagiku, begitu menenangkan hati. Dan aku sangat berterima kasih kepada Allah karena telah mengirimkan wanita se-Sholeha seperti dia. Syukron Ya Allah.

Aku pun mendekatinya. Terlihat senyumnya yang indah. Senyum yang selalu berhasil membuatku tenang. Aku duduk di sampingnya. Ya Allah, betapa bahagianya aku malam ini. Aku juga melihat kebahagiaan dari ibu dan ayahku. Kebahagiaan dari Ibu dan Ayah mantuku. Kebahagian dari keluargaku. Dan kebahagiaan dari orang-orang di sekitarku.

Di tengah kebahagiaan itu tiba-tiba alarm darurat berbunyi. Orang-orang mulai kepanikan ketika terdengar suara dari pusat pengamanan. “Peringatan!, Kita mendapat serangan. Diharapkan kepada seluruh orang agar mengung… Ahhkkkkk”. Suara itu semakin memperpanik suasana. Orang-orang berdesakan keluar dari ruangan resepsi. Tidak lama kemudian terjadi gempa bumi, dan gempa itu membuat tangga darurat rusak. Sehingga jalan keluar satu-satunya adalah dengan menggunakan lift. Kepanikan pun semakin menjadi-jadi ketika orang-orang berdesakan untuk keluar menggunakan lift. Aku pun menarik tangan Zyanaz dan langsung membawanya pergi ke tempat yang aman. Aku berpikir bahwa aku harus mengeluarkannya dari ruang resepsi.

“Zyanaz kamu harus keluar dari ruangan ini, aku akan membawamu masuk kedalam lift. Setelah itu kamu keluar dari tempat ini” kataku padanya. Dia mulai mencucurkan air mata. Oh, Aku paling tidak bisa melihatnya menangis. “Aku tidak mau pergi tanpa kamu, Aku… Aku takut Dastan” sambil memelukku. Sebenarnya aku sedih meninggalkannya sendiri. Tapi demi keselamatanya aku harus menghilangkan rasa sedihku. Sambil memegang pipinya, aku menatapnya dengan penuh kasih sayang. “Kamu jangan takut ya. Kamu juga tidak usah khawatir. Aku sayang sama kamu. Dan karena aku tidak ingin kamu terluka. Aku janji, aku akan menyusul kami. Sekarang kamu harus masuk ke lift dan keluar dari sini”. Dia pun akhirnya tenang, walaupun aku tau dia tidak mau pergi tanpa aku.
Aku pun membawanya masuk ke dalam lift. “Kamu hati-hati ya” kata Zyanaz sambil memelukku untuk yang terakhir kalinya. “Kamu juga hati-hati ya. Aku janji akan menyusul kamu nanti” kataku untuk menenangkannya. Pintu lift pun mulai tertutup, Aku memandangi wajahnya untuk yang terakhir kalinya. Wajah yang selalu membuatku bahagia, Wajah yang yang selalu membuatku semangat. Berat rasanya meninggalkan dia sendirian, tapi ini untuk keselamatanya sendiri.

Tinggalah aku sendiri di ruangan itu. Dan ketika pintu lift mulai tertutup, dan wajahnya mulai hilang dari pandanganku, aku hanya bisa berdoa untuknya. Lift pun akhirnya mulai bergerak, dan aku membalikkan tubuhku. Tidak lama kemudian terdengar suara seperti benda jatuh dari dalam lift. Aku kaget mendengar suara itu. Aku hanya bisa terdiam kaku, dan air matapun mulai keluar dari kedua mataku. Aku membalikan tubuhku dan mencoba dengan sekuat tenaga membuka pintu lift, tapi sulit untuk membukanya. Aku dengan cepat mencari benda agar aku dapat membuka pintu itu. Ketika aku berhasil membuka pintu, Betapa sedihnya aku ketika melihat itu. Rasanya hancur hatiku melihat apa yang aku lihat. Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat lift yang membawa Zyanaz jatuh. Aku hanya bisa terduduk pilu melihat itu. Aku menangis. “Tidaaaaaaaak” teriakku sekencang mungkin.

Aku hanya bisa menangis. Aku tidak percaya kalau Zyanaz telah tiada. Ditengah kesedihanku terdengar suara sirine polisi dan tembakan. Aku berdiri kemudian aku berjalan menuju ke arah jendela. Aku penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Ketika aku melihat apa yang terjadi betapa kagetnya aku melihat itu. Aku melihat makhluk yang aneh menyerang ke arah polisi. Mereka mengigit para polisi dan orang-orang di sekitar mereka. Dengan menggukan alat bantu, aku memperjelas untuk melihat itu. Sungguh mengerikan, Mereka menghisap darah manusia. Dan mereka kebal terhadap sejata. Melihat itu aku langsung berfikiran “Apakah mereka Vampire?”. Tapi jika mereka vampire, Darimana mereka berasal?. Ah, Tidak ada waktu untuk memikirkan itu.

Ketika aku melihat seorang polisi yang dihisap darahnya oleh para vampire, tiba-tiba saja vampire itu melihat ke arahku. Menyadari keberadaanku, vampire itu langsung menuju ke arahku. Aku ketakutan, Dan mencoba untuk bersembunyi. Tapi vampir telah menyadari keberadaanku. Dia mencekikku dan aku tidak bisa bernapas. Aku mulai putus asa, aku tidak tau harus berbuat apa lagi. Mungkin ini sudah takdirku, takdir untuk mati. vampire itu memperlihatkan gigi taringnya yang siap untuk menghisap habis darahku. “Maafkan aku zyanaz aku tidak bisa hidup untukmu. Tunggu aku, aku akan segera menyusulmu, seperti janjiku”.

Dalam keputusasaanku,Tiba-tiba ada yang menusuk vampire itu dari belakang. Vampire itu memuntahkan darah hitam dan mati seketika. Aku pun jatuh dari cekikan vampire itu dan langsung mengambil napas. Ketika napasku mulai teratur aku melihat seorang yang memakai pakaian yang aneh. “Siapa kau?” tanyaku. Dia pun melihatku. “Jangan ke mana-mana, tetap di sini.” jawabnya. Dia langsung keluar meluncur ke bawah dari dalam bangunan. Aku pun melihat sayap besarnya. Sebenarnya Makhluk apa mereka?. Mereka berjumlah sangat banyak. Dan aku seperti berada di Zona perang.

Mereka menyerang para vampire itu. Gerakan mereka sangat cepat dan gesit. Tanpa ampun, mereka menebas kepala para vampire itu. Para vampire juga tidak tinggal diam, Mereka juga membalas serangan dari makhluk bersayap itu. Aku melihat ada beberapa makhluk bersayap itu yang berhasil dijatuhkan oleh para vampire. Para vampire melompat dan merobek tubuh makhluk bersayap itu. Makhluk bersayap yang lain, mencoba menyelamatkan orang-orang. Mereka membawa orang-orang itu ke dalam suatu portal. Entah portal apa itu. Tapi yang jelas makhluk bersayap itu pasti ingin menyelamatkan manusia dari serangan para vampire. Aku juga melihat ada portal lain yang terbuka, dari dalam portal itu keluar lebih banyak makhluk bersayap itu.

Salah satu dari makhluk bersayap itu memakai mahkota. Mungkin saja itu raja mereka. Dia memakai pakaian kebesarannya dan ia terlihat berwibawa. Ia memegang pedang yang besar, dan dengan pedang itu ia menebas para vampire itu. Ia juga memberi komando kepada para pasukannya untuk menyerang para vampire.

Setelah sekitar 4 jam pertarungan antara para vampire dan makhluk bersayap itu, para vampire mulai terdesak. perlahan-lahan para vampire itu mundur. Para makhluk bersayap mengejar para vampire, dan yang tidak berhasil lolos ditebas kepalanya oleh mereka. Tidak lama kemudian datang salah satu dari makhluk bersayap itu. Aku masih agak ketakutan ketika dia mendekat. “Tidak usah takut. Aku akan menyelamatkan kalian” katanya sambil mendekatiku. Aku tidak langsung percaya dengan apa yang dikatakannya. Dalam rasa ketakutanku itu aku teringat bahwa Zyanaz berada dalam lift yang jatuh tadi. Aku langsung menuju ke arah lift tadi. Air mataku kembali mengalir. Aku menyesal, kenapa aku membiarkannya masuk ke dalam lift itu. Sekarang aku hanya bisa menangis.

Makhluk bersayap itu mendekat padaku, kemudian ia melihat ke arah lift yang jatuh itu. “Semoga ini bisa membantu” katanya kepadaku. Ia mengulurkan tangannya ke arah lift itu dan dari tangannya keluar cahaya. Dia mencoba mengangkat lift itu, dan akhirya lift pun terangkat. Ia mengulurkan tangan yang satu lagi untuk membuka pintu lift. Pintu pun terbuka dan terlihatlah pemandangan para mayat, salah satunya adalah Zyanaz. “Cepat! aku tidak bisa menahan ini terlalu lama” katanya sambil menahan lift agar tidak jatuh lagi. Aku pun membongkar tumpukan mayat itu. Dan tidak lama kemudian aku menemukan tubuh Zyanaz yang telah terbujur kaku. “Bantu aku mengeluarkan mayat-mayat itu” pintanya sambil perlahan-lahan mengeluarkan mayat-mayat itu dengan kekuatannya. Aku membantunya, tapi aku mendahulukan mengeluarkan tubuh Zyanaz. Kemudian aku mengeluarkan korban yang lain dari dalam lift. Setelah selesai mengeluarkan para korban dari dalam lift, aku langsung menghampiri tubuh orang yang kucintai. Sedangkan makhluk bersayap itu kembali menjatuhkan lift itu.

Aku memeluk tubuhnya yang sudah tak bernyawa lagi. Betapa hancurnya hatiku melihat kondisinya sekarang. Melihat kesedihanku, makhluk bersayap itu mendekatiku. “Aku turut berduka atas kematian istrimu” kata bela sungkawanya padaku. “kenapa? kenapa semua ini harus terjadi” sambil menangis. “Ini sudah takdir dari Tuhan. Percayalah dia telah tenang di alam sana” hiburnya padaku. “Sekarang kita bawa mayat mereka untuk dikuburkan. Aku menatapnya untuk yang terakhir kalinya, sebelum akhirnya makhluk bersayap itu mengangkat semua tubuh mereka terbang ke tempat Penguburan. Aku juga ikut terbang bersamanya, agar aku terhibur. Tapi itu tidak sama sekali menghiburku.

Sesampainya di tempat Penguburan, dengan kekuatannya ia menggali kuburan untuk para korban. Dan satu persatu tubuh para korban dimasukan ke dalam liang lahat, aku melihat tubuh Zyanaz dimasukan ke dalam kubur. Sedih rasanya ditinggal olehnya, tapi aku harus mengikhlaskan kepergiannya. Tanah kuburan perlahan-lahan tertutup. Ketika semua selesai, Aku memberi tanda berupa kayu di kubur Zyanaz. Dan untuk yang terakhir kalinya aku memeluknya, walaupun hanya kayu yang kuberi sebagai tanda untuk kuburnya.

Makhluk bersayap itu mendekatiku “aku akan ke zona aman. Jika terus bertahan di sini, ada kemungkinanan kita bisa diserang oleh para Vampire”. Makhluk bersayap itu membalikan tubuhnya dan membuka sebuah portal. Aku dibawa masuk kedalam portal. Di dalam portal aku melihat cahaya putih yang sangat terang. Cahaya yang sangat menyilaukan mata. Ketika aku membuka mataku, aku sungguh takjub dengan apa yang aku lihat. Ini terlihat seperti surga. Sungguh indah dan membuat hati tenang. “Selamat datang di Dimensi Difernia”.

To be Continued…

Cerpen Karangan: Muhammad Ridho Kayambo
Facebook: Moehammadridho

Cerpen Holy War Zone (Part 1) Expansion Of Vampire merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lubang Hitam Perubah Takdir

Oleh:
Seorang gadis cantik bernama Bulan adalah istri seorang artis tampan asal korea. Kisah cinta mereka begitu berliku sampai akhirnya berakhir dengan kematian Bulan yang tragis karena kesalahan kecil suaminya.

Bayangan Dalam Sinar

Oleh:
“Daaar!!!” bunyi gledeg menggeram seperti singa yang mengaum kelaparan. Cuaca berubah seketika ketika terlihat kilatan cahaya berbenturan satu sama lain dengan hebatnya. Angin kencang yang terus menghantam diselingi debu-debu

Sinar Bulan Pertama

Oleh:
Malam terasa begitu dingin tanpa ada penerangan dari lampu di sekitar sini, tempat ini adalah sebuah lorong yang kanan dan kirinya terbentang tembok yang sangat tinggi hingga cahaya rembulan

Irene Si Peri Yang Baik Hati

Oleh:
“Irene.. tolong ibu sebentar nak!!” panggil ibu Irene. “tolongin apa bu?” tanya Irene. “tolong antarin kue ini ke Ratu Peri Ranty.” pinta ibu Irene. “Iya bu.. Irene pergi dulu

Sahabat Beda Dunia

Oleh:
Clara, Fanny dan Kalista adalah 3 sahabat yang sangat akrab. Mereka sudah bersahabat sejak masih kecil. Suatu hari, Clara dan Kalista menerima kabar buruk. Yaitu, karena Fanny kecelakaan mobil.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Holy War Zone (Part 1) Expansion Of Vampire”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *