Hunting My Sister

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 18 May 2016

Sebuah cahaya muncul dari balik sebuah pohon besar yang mereka temukan. Para pemburu itu sesegera mungkin menghampiri pohon besar itu. Salah seorang pemburu yang bernama Hidra menyentuh cahaya itu dan seketika ia terbawa oleh pusaran cahaya yang tiba-tiba muncul. Ketika terbangun Hidra telah berada di tepi sungai yang sangat indah. Hidra melihat ke sekelilingnya terdapat gunung-gunung, pohon-pohon, bunga-bunga, dan binatang-binatang yang sangat cantik dan unik. Ia merasa ini bukan dunia manusia lagi. Dari kejauhan Hidra mendengar suara seseorang. Ia berjalan mencari sumber suara tersebut. Dilihatnya dua wanita yang menyerupai manusia sedang berjalan ke tepi sungai.

“Aku sangat membenci menteri ayahku, ia selalu mencoba meramalkan masa depanku,” kata wanita yang menggunakan mahkota indah dan sepertinya ia adalah tuan putri.
Wanita yang satunya lagi hanya diam mendengarkan putri itu marah-marah.
“Hai Kiran apa kau mendengarkanku? Kau ini temanku seharusnya kau mengerti aku!” putri itu marah.
“Telingaku sudah sakit mendengarkan teriakan marahmu yang tidak jelas itu,” wanita bernama Kiran menjauh dari sang putri.
“Apa sekarang kau tidak peduli lagi denganku?” kata sang putri.
“Bukan seperti itu Calista,” belum selesai Kiran berbicara putri bernama Calista itu pergi.
“Baiklah, aku kira kau teman baikku,”

Calista pergi menjauh. Hidra mengikuti Calista yang ke mana ia pergi dengan sembunyi-sembunyi. Sampailah mereka di sungai yang terdapat air terjun yang berwarna hijau berkilau. Calista merendamkan dirinya ke dalam sungai. Melihat cantiknya sang putri. Hidra ke luar dari tempat persembunyiannya. Sang putri tersentak dan takut melihat seorang manusia ada di alamnya. Calista ke luar dari air dan berlari menjauh, Hidra mengejar putri itu. Sang putri terjatuh dan pemburu Hidra mendapatkan putri itu. Dua bulan setelah kejadian itu diketahui putri Calista tidak pernah lagi ke luar dari kamarnya. Ia terus mengurung diri.

“Di mana dia?” Tanya raja kepada pelayan Calista.
“Di sana yang mulia,” kata pelayan itu.
Raja mendekati putrinya. “Calista ada apa denganmu?”
“Ayah.. maafkan aku,” putri Calista menangis dan memeluk ayahnya.
“Tidak, kau tidak pernah salah. Apa pun itu kau tidak pernah bersalah,” kata Raja. Purti Calista terus menangis.
“Sekarang ayo keluar dari kamarmu kita akan merayakan ulang tahun perdana menteri,”

Calista mendengarkan ayahnya dan bersiap untuk perayaan itu. Ia ke luar dari kamarnya dihirupnya udara segar yang berada di luar kamarnya. Ketika sampai di aula dilihatnya banyak tamu yang datang. “Itu dia tuan putri Calista,” kata salah seorang tamu. Sang raja mendekati putrinya dan kagum pada kecantikan putrinya.
“Lihatlah.. bukankah tuan putri kalian sangat cantik..,” kata raja dengan gembiranya.
“Kecantikan itu telah mencemari bangsa kita raja,” kata perdana menteri istana dengan tegasnya. Suasana seketika diam, semua yang berada di perayaan itu kaget mendengar pernyataan lancang perdana menteri.

“Aku telah melihat semuanya mulia, apa yang terjadi pada sang putri. Ramalanku tentangnya benar,” perdana menteri mendekati raja dan sang putri.
“Dia telah ternoda oleh seseorang yang bukan dari bangsa kita yang mulia, dan aku melihat di dalam dirinya ada dua nyawa yang sedang tumbuh berkembang,” kata perdana menteri menunjuk sang putri.
“Apa yang kau katakan perdana menteri, lancang sekali kau,” raja itu marah dan mendorong perdana menteri itu.
“Aku tahu semuanya yang mulia, kau tahu aku punya pengelihatan khusus bukankah karena kemampuanku itu kau menjadikanku perdana menterimu? Tanya kepadanya yang mulia,”

Para tamu mulai resah mendengarkan pernyataan. Raja memandang putrinya.
“Katakan apa yang terjadi, kenapa waktu itu kau pulang dengan menangis?” kata raja.
“Itu benar Ayah dia berada di sini, dia..,”
“Pengawal. Cari dia dan bunuh. Perdana katakan apa lagi yang terjadi pada putriku, apa benar tentang ramalan itu?”
“Itu benar,”
Malam itu semua prajurit dikerahkan untuk mencari Hidra. Tetapi saat Hidra ditemukan ia sudah tidak bernyawa lagi.
Kerajaan Feary telah tercemar, akan banyak kutukan yang akan menimpa.

Sepuluh tahun berlalu setelah malam perayaan itu. Hati-hati! Jura bangun dari tidurnya. Saat itu jam menunjukkan pukul satu malam, keringat mengalir di wajahnya entah kenapa mimpi buruk selalu ia alami baru-baru ini. Seseorang seperti dirinya sangat ingin membunuhnya. Dari luar kamar terdengar suara langkah kaki yang berjalan menuju kamarnya. Rasa takut semakin ia rasakan, tidak biasanya ada penghuni asrama yang ke luar tengah malam seperti ini.

“Yuri.. bangun ada seseorang,”
“Ada apa Ju?” kata teman sekamar Jura yang bernama Yuri. Yuri juga mendengar suara langkah kaki itu. Jura sering mengatakan tentang mimpi-mimpi anehnya itu kepada Yuri sehingga ia juga merasa takut jika hal itu benar terjadi.
“Apa itu dia?” kata Yuri takut.
“Diamlah,” suara itu semakin dekat dan dekat.
“Bolehkah aku meminjam selimutmu Jura,” seseorang di balik pintu berbicara dan terus mengetuk pintu.
“Mika apa itu kau?” Tanya Jura.
“Aku boleh masuk,” Mika membuka pintu kamar Jura.
Jura dan Yuri menghela napas lega karena semua dugaannya tidak benar.
“Silahkan,”

Pagi harinya semua murid di asrama itu bersiap untuk berangkat ke sekolah.
“Jura..,” seseorang memanggilnya di belakang. Jura menoleh dilihatnya sahabatnya Mika, Yuri, Flora, dan Gian berlari mendekatinya.
“Kenapa kau pergi sendiri saja? Apa kau tidak ingin berangkat bersama kami lagi?” Tanya Mika.
“Maaf, aku diberi tugas membersihkan halaman belakang sekolah oleh kepala asrama,”
“Aku tidak percaya bagaimana kau bisa masuk ke sekolah ini. Padahal untuk masuk ke sekolah ini kau harus memiliki kekuatan khusus,” sindir Gian.

“Hei.. apa maksudmu berkata seperti itu padanya?” bantah Flora.
“Aku hanya penasaran?” Gian terdiam.
Mereka sampai di gerbang sekolah.
“Maaf aku harus pergi sekarang,” kata Jura.
“Heh..,” Mika, Yuri, dan yang lainnya mengeluh.
“Nanti aku akan mencari kalian, oke,” Jura pergi meninggalkan teman-temannya.

Halaman belakang sekolah yang sangat sepi dan kotor. Daun-daun kering dari pohon-pohon besar yang menggugurkan daun-daunnya. Cahaya matahari pun tidak banyak masuk itu sebabnya semua daun itu tidak kering. Jura mengambil sapu dan mulai membersihkan semuanya.
“Kau baik-baik saja?” Jura kaget mendengar suara itu.
“Oh.. kepala asrama kau mengagetkanku, aku baik-baik saja,”
“Baiklah aku pergi,”
Jura melanjutkan pekerjaannya. Saat itu terdengar suara langkah kaki.
“Kepala asrama kau masih di sini?” Jura mengira kepala asrama masih mengawasinya.

“Apa kabar?” suara yang berbeda dengan suara kepala asrama. Jura berbalik, dilihatnya seorang gadis yang mirip dengannya bahkan lebih cantik. Jura teringat mimpi-mimpi yang penah dialaminya.
“Kau,” Jura menunjuk gadis itu.
“Kau mengenalku?” gadis itu mendekat.
“Siapa kau?”
“Kau pasti mengenalku, adikku,” kata gadis itu.
“Tidak,” bantah Jura.
“Aku Hera dan kau adikku Jura,”

“Hera?”
“Aku datang untukmu ikutlah denganku,” kata Hera.
Jura merasa ada hal yang aneh pada gadis yang benama Hera itu. Matanya terlihat sangat kejam ada aura yang jahat padanya.
Saat itu bel berbunyi.
“Maaf aku harus pergi,” Jura pergi meninggalkan Hera di tempat yang sepi itu.
“Kita akan bertemu lagi,” tanpa menghiraukan pernyataan itu Jura berjalan dengan cepat.

Dengan jantung yang berdebar-debar Jura meminta izin untuk masuk kelas kepada guru yang telah lebih dulu berada di dalam kelas. Jura duduk di sebelah Yuri.
“Aku bertemu dia,” kata Jura dengan nada takut.
“Siapa?” tanya Yuri penasaran.
“Yang ada di dalam mimpiku, gadis yang mirip denganku,”
“Kau bohong,” Yuri tidak percaya.
“Sungguh, namanya Hera, katanya dia adalah kakakku. Aku sangat takut,”

Percakapan mereka berhenti, sekarang Yuri juga ikut merasa takut.
“Halo Ms. Jura sepertinya kau tidak memperhatikanku dari tadi, apa kau sudah tidak menghargaiku lagi?” Ms. Suzie mendekat pada Jura.
“Maaf, Ms. Suzie aku tidak bermaksud seperti itu. Kau tidak akan menyangka apa yang akan ku katakan,”
“Diamlah, bagaimana mungkin orang sepertimu masuk ke sekolahku ini, kau bukan hanya tidak memiliki kekuatan tapi kau juga tidak memiliki sopan santun kau tahu itu,” kata Ms. Suzie panjang lebar.

“Aku minta maaf,”
“Sudahlah, kau sudah sering melakukan itu,” Ms. Suzie kembali ke mejanya.
“Tenanglah,” kata Yuri.
“Baiklah anak-anak minggu depan aku akan melaksanakan ujian konsentrasi untuk kalian, jadi berlatihlah di rumah,”
Hari itu kelas sudah selesai. Biasanya para murid pergi ke perpustakaan atau ke lapangan olah raga. Mereka akan boleh pulang pada pukul empat sore. Jura dan teman-temannya memutuskan untuk pergi ke perpustakaan.

“Jura ada apa? Ayo ceritakan pada kami!” pinta Flora.
“Dia bertemu dengan saudaranya,” jawab Yuri.
“Yuri aku serius, ada apa?” kata Flora tidak percaya.
“Dia benar, aku bertemu dengan seorang gadis yang sangat mirip denganku. Seperti kembaranku. Dan dia berkata akan menemuiku lagi,” jawab Jura.
“Bukankah itu bagus, kau bisa bertemu dengan keluarga yang hilang,” pendapat Mika.
“Aku takut, sepertinya dia tidak bermaksud baik,”
“Kau hanya tidak terbiasa jika kau bertemu dengannya lagi, perkenalkan kepada kami,” ujar Gian.
“Semoga saja,”

Sore itu setelah pulang sekolah. Jura berangkat ke tempat kerjanya, yaitu di sebuah kafe yang tidak jauh dari asramanya. Itu semua keinginannya sendiri, ia merasa tidak enak menikmati fasilitas di sekolah itu secara gratis karena hanya dia satu-satunya murid yang tidak memiliki kemampuan yang diperbolehkan sekolah di sana. Dan karena tidak memiliki keluarga Jura membuat kesepakatan dengan kepala asrama bahwa ia akan bekerja dan menghasilkan dana untuk kelangsungan sekolah itu.

“Apa kau ingin ke rumahku setelah pulang kerja nanti?” sekali lagi suara itu muncul tiba-tiba.
“Kau, apa yang kau inginkan?” untuk kali ini Jura benar-benar takut menghadapinya.
“Aku ingin kau datang ke rumahku, atau kau boleh menyebutnya rumahmu,” Hera tersenyum. Ia berjalan mendekati Jura.
“Kau.. tidak akan menolaknyakan?”
“Baiklah,” jawab Jura.
“Aku akan menunggumu di sini nanti,” tegas Hera.
“Baiklah,”

Jam menunjukan pukul sembilan malam. Saat itu Jura telah selesai bekerja, itu artinya ia sudah waktunya pulang.
“Jura kenapa kau masih di sini, apa kau takut?” kata salah seorang teman kerjanya.
“Aku akan pulang,”
“Hei.. kau ini sudah delapan belas tahun sebaiknya kau cepat-cepat pulang banyak orang yang menginginkan gadis seperti dirimu di luar sana,”
“Aku tahu,” memang banyak. Jura mengingat Hera, gadis yang sangat menginginkannya.
“Baiklah aku pulang,” Tidak biasanya Jura merasa takut mendatangi suatu tempat pada malam hari. Ia selalu mengawasi setiap orang yang melewatinya, ia berharap semoga gadis itu lupa dengan janjinya. “Aku tidak akan lupa,” Hera.
“Kau, bagaimana kau tahu? Sudahlah,” mereka pergi.

Sesampai di rumah Hera. “Ini rumahku, silahkan,”
Jura masuk, dilihatnya sekeliling tempat. Cahaya dari lampu yang seadanya memberikan kesan yang seram.
“Kau tinggal sendirian,” Jura melihat Hera tidak ada lagi di sampingnya.
“Hera kau di mana?” panggil Jura. Jura mendengar suara tangisan dari suatu ruangan. Jura mencoba mencari asal tangisan itu. Suara itu semakin lama semakin terdengar jelas dari dalam sebuah kamar yang berada di sampingnya. Jura membuka pintu kamar itu. Dari dalam kegelapan dia melihat Hera duduk di depan sebuah perapian.
“Hera kau kenapa?” Jura mendekati Hera.
“Ini semua salahmu,” kata Hera.

“Apa maksudmu?” Hera menghidupkan lampunya. Betapa kagetnya Jura melihat sepasang sayap berada di punggung Hera.
“Kau..,” ucap Jura takut.
“Lihat lukisan itu! Dia Ibuku dan itu adalah negeriku. Sekarang semuanya hancur,” Hera berdiri menatap dekat lukisan itu.
“Apa hubungannya denganku?” tanya Jura.
“Ibuku melahirkan seorang manusia yaitu kau Jura, saat itulah negriku hancur. Kutukan terus berdatangan untuk Ibuku dan keluarga kerajaan. Dan sekarang tugasku menghilangkan kutukan itu,” ujar Hera.

“Apa yang akan kau lakukan padaku?” tanya Jura.
“Menurut Kitab Calister untuk menghilangkan kutukan keluarga kerajaan, hal yang menyebabkan harus disembahkan ke air terjun Kesucian, dan untuk itu aku diperintahkan oleh perdana menteri kerajaan untuk membunuhmu dan memberikanmu pada air terjun Kesucian. Kau bersedia?” jelas Hera.
“Omong kosong apa ini, aku harus pergi sekarang,” Jura ke luar dari kamar itu. Sesampainya di ruangan tamu ia melihat buku yang sama seperti yang diceritakan Hera. Jura mengambil buku itu. Dan berlari meninggalkan rumah itu.
“Aku akan datang lagi Jura,” terdengar suara yang bergema dari rumah itu.

Sesampainya di asrama Jura melihat jam menunjukkan pukul sebelas malam. Ia membuka pintu kamar dilihatnya Yuri sudah tertidur. Ia membaringkan tubuhnya dan berusaha melupakan apa yang telah terjadi. Jura melirik pada buku yang diambilnya. “Calister,” Satu minggu setelah kejadian itu. Seperti biasanya Jura berangkat sekolah dengan teman-temannya. Setelah kejadian itu Hera tidak pernah lagi menemui Jura dan ia berharap tidak akan pernah lagi. Jura ditugaskan oleh kepala asrama untuk menyusun buku-buku di perpustakaan sebelum jam pelajaran dimulai. Melihat semua buku-buku itu Jura teringat buku yang diambilnya di rumah Hera. Ia selalu membawa buku itu ke mana saja tanpa pernah ingin membacanya. Kali ini ia benar-benar penasaran dengan isi buku itu. Jura beranjak dari tumpukan-tumpukan buku yang belum selesai disusunnya. Ia mengambil tasnya dan mengeluarkan buku kitab itu.

“Kitab Calister,” Jura mulai membaca.
Setelah hampir seper empat halaman terbaca, Yuri datang memanggil Jura.
“Jura sudah waktunya masuk, kita akan melaksanakan ujian hari ini,” ajak Yuri.
“Aku harus pergi, dia benar-benar ingin membunuhku,” Jura menangis.
“Siapa? Siapa yang akan membunuhmu?” Tanya Yuri.
“Gadis yang ku temui minggu lalu,”
Dari luar perpustakaan terdengar suara keributan.

“Dia datang,” ujar Jura.
“Ayo kita lihat!” mereka pergi.
Jura kaget melihat Mika, Flora, dan Gian bertarung melawan Hera.
“Aku membutuhkan tenaga,” ujar Hera. Hera menghampiri Gian dan membawanya terbang.
“Gian,” panggil Jura. Saat itu Gian dalam keadaan sangat lemah.
Hera menggigit tangan Gian. “Apa? Kau adalah Feary,” Hera merasa kesakitan, ia merasakan darah Gian bukan darah manusia.
Hera menjatuhkan Gian. Gian disambut oleh Mika dari bawah.
“Gian kau baik-baik saja?” tanya Mika.
“Aku baik-baik saja,”
Jura dan Yuri berlari menghampiri Gian.

“Apa maksudnya feary?” tanya Jura penasaran.
“Kami mohon maaf tidak memberitahumu selama ini, kami adalah feary-feary yang diperintahkan oleh Ibumu Putri Calista untuk melindungimu. Karena menurut ramalan kau akan dibunuh oleh saudara fearymu, itu merupakan kutukan untuk Hera karena ia lahir bersama anak manusia. Jika ia tidak bisa membunuhmu maka ia akan merasakan kutukan itu selamanya,” ujar Yuri.
“Bukankah Hera hanya ingin menyucikanku?”
“Semua itu hanya tipu dayanya. Ia akan membunuhmu setelah itu ia akan menyucikan dirinya di air terjun Kesucian,” ucap Flora.
“Semua itu bukan salahmu Jura, kita bisa menghentikan semua kutukan yang ada pada kerajaan maupun pada Hera jika kau juga memakai mahkota seperti yang dipakai oleh Hera itu,” ucap Mika.

“Tapi para feary tidak menginginkan hal itu terjadi. Oleh karena itu Hera akan membunuhmu,” lanjut Mika.
“Jika Hera mendapatkanmu dan menyucikan dirinya di air terjun, maka hanya kutukan untuknya yang akan musnah tapi kutukan untuk kerajaan akan abadi untuk selamanya. Sekarang kau mengerti,” tambah Yuri.
“Kenapa kalian masih di sini ayo selamatkan mereka,” ajak Jura.
“Ayo kita pergi sebelum Hera pulih kembali,”

Sesampainya mereka di kerajaan feary. Mereka masuk ke istana itu.
“Tuan putri dia sudah datang,” panggil seorang pelayan. Saat seorang perempuan yang cantik ke luar.
“Kau datang,” ia memeluk Jura.
“Menjauhlah darinya Ibu,” ternyata Hera sudah sadar kembali.
“Akan ku ambil mahkota itu,”
“Tidak Ibu, jangan lakukan hal bodoh itu,” bantah Hera.
“Tidak Hera dia adalah penyelamat kita, kau jangan terlalu termakan oleh ucapan perdana menteri. Ia bermaksud jahat pada kita Hera,” jelas Calista.
“Tapi Bu,”

Calista memakaikan mahkota kerajaan itu di kepala Jura. Seberkas cahaya terang muncul dan mengubah segalanya. Beberapa tahun kemudian kerajaan feary menjadi seperti semula dengan dua tuan putri yang memimpinnya. Portal untuk manusia masuk telah disegel selama-lamanya. Sejarah baru akan dimulai di kerajaan itu.

Cerpen Karangan: Dea Safarina
Facebook: Dea Safarina

Cerpen Hunting My Sister merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Matematika

Oleh:
Pelajaran itu lagi. Ya Matematika adalah pelajaran ke tiga hari ini, Bu shan menjelaskan tentang peluang secara panjang dan lebar. Kepalaku rasanya mulai pusing dan nyut-nyutan mendengarnya, semakin lama

Tarian Bella Si Peri

Oleh:
“Bentar lagi ujian ballet nari nih”, kata teman-teman Bella. Bella cemberut. Ya, sebentar lagi sekolah ballet peri, akan mengadakan ujian. Pada ujian itu, akan dipilih murid yang berbakat untuk

Story of The Arthur Pendragon

Oleh:
Kau percaya pada neraka? Pada Karma dan segalanya? Well Arthur tidak percaya akan itu semua. Karena, hatinya sudah terlalu lelah menunggu saat-saat karma melaksanakan tugasnya dengan baik sedang sang

Mata Tembus Pandang

Oleh:
Lelaki itu memandangiku, dari wajahnya dia terlihat seumuranku tapi sedikit lebih dewasa, wajahnya lumayan tampan, tapi bajunya serba hitam, ditambah matanya yang tajam dan memperhatikanku, membuat aku risih. Umurku

Negeri Islamcholic

Oleh:
Adriana fatin fatimah siswi kelas 5 sekolah bunga bangas, Ia bingung dengan tugas yang diberikan oleh ibu alsa, wali kelasnya. “Kalian harus berimajinasi untuk mengunjungi negeri. Tapi bukan sembarang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *