Hutan Misteri (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Lingkungan, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 11 January 2016

Senja baru saja turun, di kejauhan masih ada semburat merah muda yang cantik. Di tepi jalan terdengar bunyi mesin mobil di mana-mana. Fuhh… aku menghembuskan napas berat melihat pohon-pohon yang berserakan di pinggir jalan. Pohon-pohon yang hidup puluhan tahun itu kini sudah tergeletak tak berdaya. Mereka sudah mati. Aku merasa terenyuh, hatiku pilu melihat pohon-pohon yang tak berdosa itu ditebang satu persatu. Dasar para manusia serakah, lebih mementingkan bisnis dari pada menjaga alam. Lihat saja jika hutan sudah banyak yang gundul, akan terjadi bencana alam di mana-mana. Baru tahu rasa. Umpatku dalam hati.

Aku harap supaya manusia-manusia serakah itu dihukum oleh Sang Penguasa karena telah merusak alam ciptaan-Nya. Ku goes kembali sepeda yang dipakai untuk berangkat ke sekolah tadi pagi. Aku bersyukur karena di dekat desaku masih ada hutan yang dilindungi para warga. Desa kami mempunyai peraturan yang sangat tegas untuk tidak sembarang menebang hutan. Itu semua dilakukan demi kelangsungan hidup manusia. Karena bagaimana pun juga hutan adalah paru-paru dunia yang harus selalu dijaga.

Sebetulnya alasan yang lebih utama tidak diperbolehkan menebang hutan di desaku: agar Hutan Misteri tidak marah pada kami, warga desa. Hutan misteri terletak di pinggir desa. Kenapa disebut sebagai Hutan Misteri, karena hutan tersebut memiliki misteri yang terkandung di dalamnya. Menurut Nenek Moyang kami, hutan itu dijaga oleh seorang Ratu pohon yang turun dari langit dan diutus untuk menjaga hutan itu dari tangan para manusia serakah yang tidak bertanggung jawab.

Bahkan dahulu pernah ada dua orang pria yang ingin menebang pohon di hutan. Salah satu dari mereka masuk ke dalam hutan. Yang lain menjaga di luar. Sudah lama sekali pria itu tak juga muncul. Temannya baru ingat tentang mitos yang terkandung di dalam Hutan Misteri. Maka ia pun memutuskan untuk meminta bantuan warga agar mencari temannya. Para warga sudah mencarinya, tetapi tidak ada tanda-tanda ada orang yang masuk ke dalam hutan itu.

Dari situlah warga mulai mempercayai mitos itu. Dan sampai saat ini tidak ada yang berani menebang hutan sembarangan lagi. Sebelum ke desa, aku harus melewati hutan itu. Aku barhenti tepat di depan hutan. Ku pandangi hutan yang tinggi pohonnya. Pohon itu sangat tinggi menjulang ke langit. “Selamat sore Humis.” aku menyapa hutan itu dengan sebutan Humis. Angin kecil yang santai menerpa ranting-ranting dedaunan. Seakan hutan itu balas menyapaku. Aku tersenyum. Aku yakin hutan ini memang mempunyai misteri di dalamnya.

Baru beberapa menit bel istirahat berbunyi, kantin sekolah sudah ramai dipenuhi oleh puluhan, bahkan ratusan siswa. Ku cari meja yang biasa tempat aku dan sahabat-sahabatku nongkrong. Sesuai dugaanku, meja itu sudah dipenuhi tiga sahabatku itu.

“Virgo!” panggil seorang perempuan berambut panjang lurus yang dicat kemerahan, mengingatkanku pada rambut para selebriti Korea. Wajah yang dirias rapi dengan make-up. Sangat berlawanan dengan wajahku yang pucat dan sederhana. Namanya Gemini. Aku menghampiri mereka.

“Kamu dari mana? Kok baru datang?” tanya cowok berambut cepak, mata mencorong tajam. Tapi tetap terlihat manis. Dengan hidung mancung dan bibir yang tipis. Belum lagi tubuhnya yang langsing dengan otot-otot yang bersembunyi di balik seragam sekolah. Dia adalah Aries, salah satu sahabatku -Termasuk orang yang ku sukai. Dan yang duduk di sampingnya bernama Leo. Dia tinggi besar dan ganteng. Tak jauh beda dari Aries. Leo juga sahabatku. Kami berempat bersahabat sejak masuk ke sekolah ini. Dari situlah aku mulai mengenal yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Maaf, tadi aku ke toilet sebentar.” ucapku sembari duduk di samping Gemini. Aku langsung memesan makanan.
“Oh ya, Vi. memangnya di dekat desamu ada hutan yang bernama Hutan Misteri?” tanya Gemini.
“Iya. Kenapa?”
“Nama yang sangat aneh. Pasti ada suatu misteri yang tersimpan di dalamnya?” sesekali Gemini menyeruput minuman yang dipegangnya.
“Menurut mitos yang ada, hutan itu bukan hutan biasa…” belum sempat ku teruskan ucapanku. Gemini sudah memotongnya.
“Bukan hutan biasa? Maksudmu apa?” tanya Gemini tampak tertarik dan memusatkan perhatiannya padaku.
“Yeah, hutan itu tidak akan membebaskan manusia-manusia perusak alam.” jelasku.

Tiga sahabatku memandangku dengan raut wajah kebingungan.
“Tunggu-tunggu, maksudmu bagaimana? Aku tidak mengerti” ucap Aries.
Akhirnya dia angkat bicara juga. Memang Aries termasuk orang yang pendiam dan jarang banyak bicara di antara kita. Apakah Aries juga tertarik dengan ceritaku? Pikirku dalam hati.

“Jadi, jika ada manusia yang selalu merusak alam. Jika sudah memasuki hutan itu. Maka ia tidak akan pernah bisa keluar”
“Itu sih hanya mitos. Lagi pula tidak mungkin zaman modern begini ada hal semacam itu. Kita anak IPA, percaya dengan data dan fakta. Bukan mitos murahan seperti itu” seru Leo dengan nada meremehkan. Aku tak terima dengan perkataan Leo. Itu artinya dia telah menghina nenek moyang desaku.
“Eh, Leo! Kalau bicara jangan sembarangan. Itu bukan mitos tahu, tapi fakta. kalau kau memang tidak percaya. Buktikan saja sendiri”
“Oke, akan aku buktikan bahwa itu semua bohong. Berhubung aku tidak begitu suka dengan tanaman. Aku akan membuktikan bahwa besok aku bisa ke luar dari hutan itu dengan selamat” mengibaskan tangannya meremehkan.
“Besok siang kita bertemu langsung di depan hutan itu”
Seusai bicara begitu, Leo beranjak pergi dari kursinya.
“Uhh… ternyata Leo keras kepala juga” aku berdecak kesal.
Aries hanya tersenyum padaku, ia merasa geli melihatku marah dengan memanyunkan bibir. “kemarin-kemarin ke mana? Baru sadar kalau Leo keras kepala” ujarnya. Aku hanya diam tak menjawab ucapannya.

Siang itu matahari hampir berada di atas kepala-kepala penghuni bumi. Memancarkan teriknya ke segala penjuru ruang hingga masuk ke celah-celah kecil ranting dedaunan. Aku menunggu tepat di depan tempat yang kami janjikan. Tak berapa lama kemudian datanglah Aries bersama Leo. Lalu disusul dengan Gemini. Tanpa bicara, Leo langsung memandu kami semua untuk masuk bersamanya.

“Tunggu, Leo!” cegahku sebelum Leo melangkahkan kakinya. “Ibu bilang, lebih baik kau jangan nekat. Aku tahu kau bukan termasuk orang yang suka dengan tanaman. Dan termasuk orang yang sering merusak tanaman. Jadi, kau jangan berani masuk ke dalam hutan itu!”

Leo berpaling sebentar, lalu ia melangkah kembali mendekati sebuah tanaman kecil yang berada di sekitar hutan. Leo berjongkok dan membelai-belai tanaman itu. Awalnya ku pikir Leo hanya memegangnya saja, tetapi kemudian ia mencabut tanaman itu dengan paksa sehingga tanaman tersebut menjadi rusak. Kami terperanjat, beraninya Leo melakukan hal itu. Bersamaan dengan itu angin yang tadinya tenang mendadak menjadi kencang.

Aku terpengarah, ku lihat air muka Leo yang berubah ketakutan. Rambut kami bergoyang-goyang diterpa angin. Pohon-pohon itu seakan memperingatkan Leo atas perbuatannya yang telah membuat Hutan Misteri marah. Angin kencang itu perlahan-lahan berubah kembali tenang. Aku segera memarahi Leo “Lihat! Itu karena perbuatanmu Hutan Misteri menjadi marah. Cepat, lebih baik kau segera meminta maaf sebelum kau dihukum!”

“Itu cuma kebetulan angin yang lewat” elak Leo. Dasar Leo, sudah jelas-jelas salah, masih tidak mau mengaku.
“Lagi pula lihatlah, aku baik-baik saja aku akan tetap masuk ke dalam hutan untuk membuktikan bahwa di dalam hutan ini tidak ada apa-apa”
“Jadi, siapa yang akan ikut bersamaku?” tanyanya mengangkat sebelah alis tebalnya.
Hening. Aku, Aries, dan Gemini saling pandang. Lalu Aries menghampiri Leo.

“Leo, benar apa yang diucapkan Virgo. Lebih baik kau jangan nekat masuk” Aries mencoba menasihatinya.
“Iya, Leo. Kita tidak ingin ada sesuatu yang buruk terjadi padamu” timpal Gemini.
Ada semburat kekecewaan di wajah Leo “jadi kalian berada di pihak Virgo? Ya sudah. Aku bisa pergi sendiri tanpa kalian. Dan aku akan ke luar dari hutan dengan selamat”
Tanpa mengindahkan kami, Leo masuk ke dalam hutan. Kami menatap punggung Leo. Perlahan sosoknya hilang bak ditelan rimbunnya hutan.

“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Gemini.
“Kita akan menunggunya sampai dia ke luar dari hutan. Jika dalam waktu dua jam dia belum ke luar. Kita akan menyusulnya masuk ke dalam hutan” jelas Aries tanpa mengalihkan pandangannya. Ia terus menatap lurus ke dalam hutan.

Kulihat Gemini. Wajahnya penuh dengan kecemasan. Ia memandangku dan mengangguk dengan lesu. Matahari semakin tinggi dan teriknya semakin panas. Leo belum juga ke luar dari hutan. Kami mulai mencemaskannya. Mungkin telah terjadi sesuatu padanya. “Sudah lebih dari dua jam Leo belum juga ke luar. Aku khawatir ada sesuatu yang terjadi padanya.”

Aku merangkul Gemini dan menatap Aries. Aries menajamkan tatapannya, “Baiklah, kita akan menyusulnya masuk ke dalam hutan” lalu tanpa diperintah, ia bergegas masuk. Aku dan Gemini mengikutinya dari belakang. Awalnya aku ragu, karena seumur hidup aku belum pernah masuk ke dalam Hutan Misteri. Bagaimana jika di dalamnya banyak berkeliaran hewan buas. Bagaimana jika ada hantu di dalamnya, dan bagaimana jika kami tidak bisa ke luar lagi.

Gambaran itu terus mengusik pikiranku. Aku berusaha membuang bayangan itu. Aku tidak boleh berpikiran buruk dahulu. Kami pasti bisa ke luar membawa Leo dengan selamat. Setelah berada di dalam hutan. Kami terdiam, melihat sekeliling. Ternyata hutan ini tak jauh dari kesan hutan-hutan biasanya. Tak ada yang berbeda. Atau yang dikatakan Leo memang betul bahwa mitos itu bohong.

“Leo…!!!” teriak Aries. Suaranya menggema di angkasa. Tak ada jawaban selain suara kicauan burung.
Gemini memegang erat lenganku. “Vi, aku takut”
“Sama, Mi. Aku juga takut”

Aku dan Gemini terus mengikuti langkah Aries. Dan kami semakin dalam masuk ke hutan. Aries terus berteriak memanggil Leo. Aku juga ikut membantunya berteriak. Sudah berapa lama dan dalam kami masuk ke dalam hutan mencari Leo, namun hasilnya nihil. Tak ada tamda-tanda adanya Leo.
“Jangan-jangan Leo dibawa sama makhluk penunggu hutan” ucap Gemini tiba-tiba.
“Kalau bicara jangan aneh, ah!”

Gemini memandangku heran, “loh, Vi. Kan kau sendiri yang bilang bahwa jika ada manusia yang suka merusak alam sekalinya masuk ke dalam hutan ini tidak akan pernah bisa ke luar. Dan tadi sebelum masuk ke dalam hutan kan Leo merusak tanaman. Jadi mitos itu memang nyata… Aku takut. Kita pulang saja”
Aku tak bisa menjawab. Ku pandang Aries untuk meminta jawaban. Ia memandangku balik. “Mi, kita tidak mungkin kembali tanpa Leo. Meskipun Leo keras kepala dan susah diatur. Tapi dia tetap sahabat kita. Kita harus menolongnya. Kau jangan takut. Kan ada aku,” ucap Aries.

Aku tertegun mendengar ucapannya. Sungguh bijak. Kemudian kami pun meneruskan pencarian hingga semakin jauh masuk ke dalam hutan. Tak terasa matahari semakin turun ke arah barat. Hari sudah semakin gelap. “Sudah mau gelap. Apa yang harus kita lakukan?” tanyaku mulai cemas.
“Baiklah. Pencarian hari ini sampai di sini saja. Kita lanjutkan besok. Sekarang ayo kita pulang” kata Aries.

Pada saat kami akan berbalik, tiba-tiba terdengar teriakan seorang yang tak lain adalah suara Leo.
“Itu suara Leo… Ayo cepat kita ke sana?” ucap Aries buru-buru lari ke arah sumber suara.
Aku dan Gemini ikut mengekor di belakangnya. Entah bagaimana awalnya. Kami semua terpeleset jatuh ke dalam lubang. Teriakan kami menggema di dalam lubang. Sesaat ku rasakan tubuhku terbentur sesuatu yang keras -sakit. Kemudian semuanya gelap. Hanya ada aku dan kegelapan.

Aku merasakan sesuatu menepuk-nepuk pipiku. Samar-samar aku mendengar suara Aries memanggil namaku. Aku mengerjap-ngerjap mata untuk melihat sekeliling.
“Syukurlah kamu sadar juga” terdengar nada suara Aries lega.
“Kita ada di mana?” tanyaku setengah sadar.

Aries menatap ke semua arah.
“Entahlah, aku pun tak tahu. Sepertinya kita terjatuh ke jurang. Dan sekarang kita tersesat”
Aku tak begitu merespon ucapan Aries. Yang ku rasakan hanyalah kepalaku yang sangat sakit. Tapi semua itu sirna saat aku teringat ada yang hilang di antara kami. Gemini!
“Di mana Gemini?”

Wajah Aries mendadak pucat. Ia baru menyadari bahwa Gemini telah hilang.
“Kita harus mencari Gemini!” ujarku berusaha bangun. Tapi tak mampu. Jika saja Aries tak menahan tubuhku. Mungkin aku sudah jatuh tersungkur ke tanah. Kakiku tak kuat berdiri. Lemas rasanya. “Sekarang hari sudah gelap. Percuma jika kita mencarinya dalam keadaan gelap seperti ini. Lebih baik kita sekarang istirahat. Besok aku akan mencari jalan keluarnya,”

Meskipun itu tidak membuatku tenang. Tapi benar apa yang dikatakannya. Kami tidak mungkin mencari Gimini dan Leo dalam keadaan gelap gulita tanpa diterangi cahaya. Malam itu kami tidur di bawah sebuah pohon. Saat aku bangun, ku sadari kepalaku menyender di bahu Aries. Spontan aku terbangun dan menjauhi kepalaku dari bahunya. Gerakanku yang cepat membuat Aries terbangun. Ia menguap lebar. Ku pandangi wajahnya. Ya ampun dia terlihat sangat tampan ketika bangun tidur. Ia menengok ke arahku. Buru-buru ku alihkan pandangan. Sebelum ketahuan bahwa aku diam-diam mencuri pandang padanya.

“Kau sudah bangun?” Aku hanya tersenyum.
“Bagaimana kepalamu? Apakah masih terasa sakit?”
“Sudah lebih baik. Bahkan jauh lebih baik jika berada di dekatmu” aku segera menutup mulut. Aduh… aku ini memang payah. Bisa keceplosan seperti ini.
“Maksud kamu apa?”
“Sudahlah lupakan saja. Daripada kita diam terus di sini, lebih baik kita mempercepat pencarian”
Aries mengangkat alisnya. “Ayo,” ia membantuku berdiri.
Kami pun melanjutkan pencarian yang tadinya hanya mencari satu orang kini menjadi dua orang. Aku harap mereka baik-baik saja.

“Kamu cari sebelah sana. Aku kesitu. Tapi jangan jauh-jauh” perintah Aries menunjuk ke arah yang disebutnya.
Aku hanya menurutinya. Saat sedang mencari. Aries memanggilku.
“Vi.. Virgo. Cepat ke mari!” teriaknya pelan.
“Ada apa?”
“Lihat itu!” tunjuknya ke arah yang ada di balik semak-semak.

Aku pun mengintip. Mataku terbelalak. Mulutku menganga lebar setelah melihat sebuah kota. Kota yang sangat indah. Di kejauhan terlihat sebuah taman yang sangat luas berada di tengah-tengah kota. Di taman itu ada sebuah pohon indah, berwarna cemerlang. Pohonnya begitu besar, rindang, dan indah. Aku terperanjat melihat empat orang berperawakan tinggi besar menggotong sebuah kandang besar yang terbuat dari jeruji besi.

Di dalamnya terdapat seseorang yang tertidur atau mungkin pingsan. Ku perhatikan dengan seksama. Astaga seseorang yang berada di dalam kandang itu adalah Gemini. Tetapi yang membuatku tercengang, empat orang itu bukanlah manusia, melainkan… melainkan…. Aku hampir saja menjerit jika Aries tidak segera membekap mulutku. Ku pandangi Aries dengan ketakutan. Aries menempelkan jari telunjuk ke bibirnya sebagai isyarat bahwa aku harus diam. Setelah mereka pergi jauh. Barulah Aries melepaskan tangannya dari mulutku.

“Me… Mereka bukan manusia!” ucapku gemetaran karena takut.

Bersambung

Cerpen Karangan: Irma Erviana
Facebook: Irma Erviana Jauhari

Cerpen Hutan Misteri (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Eunoia

Oleh:
Aku tersadar dengan enggan ketika merasakan ada tangan yang mengusap rambutku dengan pelan. Aku mencium aroma tubuh seseorang yang sekarang sedang duduk di samping ranjangku. Aku belum membuka mata.

A Mysterious Boy

Oleh:
“Bu, aku tahu ini hari pertamaku, tapi kan aku ingin pergi sendiri.” Dengusku kesal. Ibuku hanya tersenyum matanya masih fokus dan tetap berkonsentrasi dengan laju mobilnya. Aku terdiam dengan

The Adventure Princess Sofia

Oleh:
Pada suatu hari, di kerajaan Crystal Palace hiduplah seorang putri bernama Sofia, ibunya bernama Miranda dan ayah nya bernama Vernando. Sofia adalah putri tunggal, Sofia tinggal di castle bersama

Boyband Westlept (Antara Ada dan Tiada)

Oleh:
Merenda mimpi menjadi kenyataan adalah obsesi setiap insan yang bernyawa. Berbagai usaha pasti dilakukan untuk mencapai mimpi tersebut. Meski peluh mengering dan raga tak lagi menunjukan ketegarannya, hal itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *