Impian Firaun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sejati, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 3 May 2017

Padang gurun terhampar, kedua belah pihak bertarung. Petarungan sengit untuk membela Negeri kebanggaanku, Mesir. Mereka terlalu kuat, ribuan pasukanku tak mampu melawan mereka. Tumpah darah terjadi, melihat pasukanku berjatuhan satu per satu.

“Arrrrghhhh!!!”
Amarahku tak tertahan, kuluapkan semua di pedangku. Mengejar musuh, tapi mereka terlalu kuat. Pedang tertusuk ke perutku, kesadaranku menghilang, dan darah tercucur.
Ku terjatuh, menggennggam pedang di tangan. Bagaimana seorang Firaun dapat terjatuh di hadapan lawanku?

“Celaka! Jangan sampai ia terbunuh! Cepat bawa dia ke sana!”
Jendral berkumpul dan membawakuke Oasis terdekat. Berusaha untuk mengamankanku agar tak terbunuh oleh lawan. Mereka meletakanku di bawah pohon kurma, memberikan obat di lukaku, tapi luka itu terlalu dalam.
“Firaun, kami mohon tetaplah kuat, kami akan memanggil tabib, jadi tunggulah sebentar.”
Langkah kaki mereka pun menjauh, mereka dengan sigap berlari mencari sang tabib. Setengah sadar kubuka mataku, menatap sekitar tempat kuterbaring. Aku melihat buah kurma matang berjatuhan di sekitaran, banyak pohon hijau di sekitarku, dan sebuah mata air kecil di depan tempatku terbaring.
“Ah, sudah kuduga, aku berada di Oasis.”- tawa kecil muncul di wajahku.
“Sudah kalah ya? Tak kusangka aku kalah, mungkin petualanganku hanya sampai di sini saja… Mana mungkin luka ini dapat disembuhkan.”

Sambil menahan sakit, aku berjalan ke depan mata air kecil itu. Menatap bayangan di air jernih itu, aku ambil air di genggaman tangan dan meminumnya. Lega sekali dahagaku, tapi tanpa kusadari tetesan darah lukaku belum berhenti. Aku memutuskan untuk membasuhnya sedikit. Ya memang, luka ini sangat sakit sekali.
Selesai kubasuh luka ini, ku tak sanggup berdiri lagi. Aku terkapar di pinggiran mata air. Kesadaranku mulai menghilang, munculah ingatan ingatan akan masa kejayaan Negeriku.

“Andai saja dahulu negeri seberang tidak menyerang, pasti sampai sekarang impianku masih terwujud. Aku hanya ingin membangun Negeri yang kuimpikan, tanpa perang, makmur dan sejahtera. Mesir sudah mencapai titik kejayaannya, tapi kemudian semua itu hilang sekejap ketika negeri seberang menghampiri.
Perang terjadi di mana mana. Takut, putus asa, kegelapan, semua itu meliputi Negeriku sekarang. Bahkan sekarang aku tak mampu berbuat apa pun lagi. Rakyatku sedang berjuang di luar sana dan aku hanya terkapar sambil menunggu waktuku habis.”
Dengan suara lemah aku mengatakan hal itu. Entah kenapa tapi hal itu tiba tiba terlontar dari mulutku. Kulihat luka itu kembali, dan sekarang luka itu kembali berdarah. Darah yang keluar lebih banyak dari sebelumnya dan munculah rasa sakit yang luar biasa.

“Mungkin memang benar, ini adalah saat saat terakhirku. Percuma menunggu sang tabib datang, sedikit lagi aku sudah mencapai batasku. Di sini sungguh tenang ya. Andai dia bersamaku, dia yang kucintai, dia satu hal yang berharga untukku, istri tercintaku, Nefertari.”
Kulihat gelang emas pemberian istriku yang ada di tanganku, kupegang itu dan air mataku menetes. Pandanganku sudah membuyar dan aku memejamkan mataku. Aku merasa sangat damai, aku merasa dia yang kucinta ada bersamaku. Mungkinkah aku akan menyusulnya?

“Wahai Anubis, mungkin kau dapat menjemputku sekarang, dan tuntunlah aku ke hidup setelah kematian. Aku siap menghadapinya.
Wahai Osiris, terimalah kedatanganku dan berikanlah “Ramesseum Tentyris” ku yang kedua. Aku ingin sekali bertemu dengan dia lagi.”
Senyum kecil di wajahku dan kuhela nafasku. Ya, mungkin itu nafas terakhirku. Kuharap semua ini hanya mimpi. Kugenggam erat gelang pemberian cintaku. Semua pandangan menjadi warna putih, cahaya putih menghampiriku. Sampai jumpa Negeri tercintaku, Mesir.

Entah kenapa, tapi aku merasa ringan. Aku membuka mataku dan melihat sekelilingku. Tempat ini tidak asing bagiku. Kukelilingi tempat itu.
“Halooo? Apakah ada orang di sini?”
Teriakanku bergema di tempat itu. Ada banyak ruangan, tempat ini terlihat seperti kuil yang kubangun dahulu. Kujelajahi kembali tempat itu.
“Tidak salah lagi. Ini seperti kuil “Ramesseum Tentyris” yang kubangun dahulu. Tapi kenapa tidak ada orang di sini? Bukankah seharusnya aku sudah mati? Apakah ini hanya bayang bayang mimpiku?”

Aku teringat akan sesuatu! Kulihat luka di perutku, rupanya telah hilang. Ku berpikir, apakah mungkin ini kehidupan setelah mati? Jika ya, berarti dia yang kuncinta ada di sini. Ku berlari ke ruang utama, tempat dimana dahulu aku dan dia menghabiskan banyak waktu.
Tertampak seorang wanita, dia mengenakan pakaian khas ratu mesir. Kain tenun yunani putih dan gelang emas yang ia kenakan tampak tak asing bagiku. Ia berpaling ke hadapanku dan tersenyum.
“Selamat datang kembali sayangku, apakah kau senang melihat tempat ini lagi?”
Aku sungguh terkejut, rasa senang, dan haru pun muncul. Hati ku tak berhenti berdebar debar. Air mataku pun mengalir.
“Ya, pasti, aku senang sekali!”
Aku berlari ke hadapannya dan memeluknya erat. Aku pun menangis, setelah sekian lama aku dapat bertemu cintaku kembali di kehidupan setelah mati ini. Tangisanku seperti anak kecil yang bertemu dengan ibunya setelah bertahun tahun terpisah.

“Jangan menangis, aduh, masa Firaun menangis seperti anak kecil? Malu loh nanti. Hehehe… Kau belum berubah ya Ramses, masih sama seperti dulu pertama kali kita bertemu.”
Nefertari tertawa sambil mengelus kepalaku. Aku tak dapat menjelaskan perasaanku saat ini. Senyuman muncul di wajahku kembali, aku pun tertawa.
“Memangnya tidak boleh jika aku menangis di depanmu? Kau kan istriku… Hahaha, kau juga belum berubah Nefertari. Sikap kekanak kanakan mu masih ada, padahal kau ini ratu.”
“Ya tapi setidaknya aku tidak menangis, masa Firaun menangis… Kucubit kamu ya..”
“Aaaa, iya iya, maaf…”
Kami bedua bercakap cakap dan tertawa. Senang sekali rasanya. Nefertari mencubitku sambil tertawa. Memang dia memiliki sikap kekanak kanakan, tapi ketika ia serius memecahkan masalah, sikapnya itu berubah 180 derajat.

“Oh iya, lihat ini, gelang pemberianmu masih ada loh. Aku selalu menggenakannya kemana pun aku pergi.”
“Wah, hebat… Kupikir gelang itu akan rusak jika kau yang pakai.”
“Iya lah… Um, Istriku, kenapa aku bisa sampai di sini? Bukankah yang dapat sampai di sini adalah orang mati? Ini kan kehidupan setelah kematian. Apakah dengan begini aku sudah mati? Kalau aku sudah mati, bagaimana dengan rakyatku? Apa yang akan terjadi dengan Mesir? Apakah kan jatuh ke tangan musuh?…”
“Shhhhssst.”
Jarinya menutup mulutku, wajahnya yang polos menatapku lalu ia tertawa.
“Aduh, lagi lagi… Kau terlalu banyak bertanya terlalu banyak sekaligus Ramses. Baiklah, aku akan menjawabnya satu per satu. Pertama, ya, kamu sudah mati. Masa lupa, kan kamu tertusuk pas di medan tempur. Kedua kamu tak perlu khawatir, tadi Osiris mengirim pesan, katanya:
“Mesir akan tetap aman, akan ada pasukan penolong yang terjun ke medan perang. Mesir akan tetap berdiri tanpa penjajah, anak kalianlah yang akan memimpin pasukan itu. Anak kalian juga yang akan menjadi pemimpin Mesir dikemudian hari.”

Aku merasa lega, ternyata Negeri yang sudah kubangun tidak akan lenyap ke tangan negeri seberang. Disaat yang bersamaan aku juga terkejut, ternyata Osiris memutusan putraku, Amunher untuk menjadi pemimpin selanjutnya.
“Hm.. Jadi Amunher yang akan menjadi Firaun selanjutnya? Apakah ia bisa? Bagaimana kalau Mesir jatuh di zamannya?”
“Hei, sudahlah Ramses… Kamu ini kan sudah di kehidupan setelah kematian, kenapa kamu masih memikirkan semua itu? Tugas kita sekarang hanya mengawasi mereka. Lagian kita tidak dapat berbuat apa apa lagi di sini, mau ke Mesir lagi pun tidak bisa. Tidak usah repot repot pusingin mereka lagi lah.”
“Ya aku tahu, tapi tetap saja, kalau Mesir jatuh di zaman Amunher, itu berarti aku sudah menjadi ayah yang gagal.”
“Aaaa sudahlah!”
Tawa pun terlepas lagi. kami bercanda dan berbicara banyak hal tetang Mesir setelah Nefertari menginggal. Dia adalah ratu yang diagungkan pada masa dia hidup. Bersama, kita memimpin Mesir menjadi Negeri yang besar. Kupikir maut memisahkan kita dan kita takkan pernah bersatu lagi, tapi kenyataannya berbeda. Kini ku dapat bertemu dengan belahan jiwaku lagi. Tenang sudah diriku, petualanganku di Mesir memang sudah berakhir, tapi petualangan abadiku baru saja dimulai.

TAMAT

Glosarium :
Amunher: Anak pertama Ramses II dan Nefertari, nama lengkap nya adalah Amun-her-khepeshef. Dia adalah putra mahkota dan juga komandan pasukan Mesir.
Anubis: Dewa kematian Mesir, biasa digambarkan dengan wujud kepala Jackal dan badan manusia. Dalam kehidupan setelah kematian, Anubis akan mengantarkan orang mati ke hadapan Osiris.
Nefertari: Ratu Mesir yang memimpin di Dinasti ke 19. Namanya memiliki arti: Nefertari: pendamping indah.
Oasis: Daerah subur terpencil di tengah padang gurun.
Osiris: Dewa maut yang menghakimi manusia berdasarkan pahala yang dikumpulkan. Ia biasanya ditampilkan berkulit hijau dengan sebagian tubuhnya dibalut seperti mumi. Mengenakan mahkota unik dengan dua bulu burung unta di kedua sisinya, memegang artibut kait dan cambuk.
Ramses II: Firaun Mesir ke 3 yang berasal dari Dinasti ke 19. Ia sering dianggap Firaun terbesar dan terkuat dalam sejarah Mesir. Ia memimpin Mesir bersama dengan istri tercintanya, Nefertari.
Ramesseum Tentyris (Ramesseum): Kuil kompleks yang didirikan Ramses sebagai bukti kekuasaan dan kejayaannya.

Cerpen Karangan: Nethania Alysia
Blog: wishingstardust.wordpress.com
Semoga Anda Menikmati Tulisan Saya.. (Saya masih pemula)

Cerpen Impian Firaun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Adventure with my BFF

Oleh:
Sarah, Rain, Evellyn dan Ani adalah sepasang sahabat. Mereka gemar berpetualang dan juga pecinta alam, itulah dunia mereka. “Anak anak, Miss akan beritahu bahwa seminggu kemudian akan diadakan kemah

Think All About People

Oleh:
“Apakah kau tahu, hari ini ada murid baru yang akan masuk ke kelas kita. Katanya sih, dia cantik banget. Blasteran dari Brazil!,” bisik perempuan yang tengah duduk bergerombol dengan

Cinta dan Takdir

Oleh:
“Jay, lihat gadis itu!” Jill menunjuk ke arah seorang gadis berambut pendek cantik yang baru saja ditinggal mobilnya. “Aku ingin punya sahabat seperti itu. Dan mungkin ia bisa aku

The Salvation (Part 2)

Oleh:
Kedua tanganku disatukan dan diikat oleh seuntas tali tambang membelakangiku. Aku dikawal setiap sisinya oleh para pengawal bersenjatakan, benar-benar dianggap bak seorang buronan kelas kakap. Mendadak pengawal di belakangku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *