Imprecnable (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 26 May 2016

Angin bertiup kencang menerpa pohon-pohon besar di malam yang amat gelap itu. Seorang wanita berlari dengan menggendong seorang bayi perempuan. Sementara bayinya terus menangis wanita itu tetap meneruskan pelariannya hingga sampailah ia di sebuah pondok di dekat air terjun yang sangat besar. Di ruangan yang gelap wanita itu meraba-raba semua tempat. Ia menyentuh sebuah benda dan seketika ke luar cahaya dari pondok tua itu. Ia mengambil sebuah benda yang tidak asing lagi baginya, sebuah cermin yang amat besar. Ia mencari-cari sesuatu di dekat cermin besar itu.

“Ini dia, maafkan Ibu sayang hanya ini yang bisa Ibu berikan padamu. Dengan ini kita akan terus terhubung ketika kau telah berada di duniamu yang lain,” kata wanita itu dan ia menaruh bayinya di dekat cermin yang besar. “Bawa dia ke tempat keluarganya yang lain,” perintah wanita itu.
Seketika sebuah cahaya terpancar dari cemin itu dan menarik bayi wanita itu jauh dari kehidupan ibunya yaitu di Bumi. “Benda itu akan menjagamu dan orang-orang sekitarmu Asrah,”

Hari yang gelap itu menghilang seketika, tangan-tangan besar yang lembut dan hangat menggendong seorang bayi yang telah mereka nanti-nanti selama ini. Asrah adalah nama yang sama yang diberikan oleh kedua ibu bayi itu.
“Apa dia cantik sepertiku?” kata Amy, wanita yang akan menjadi ibu dari Asrah.
“Tentu, apakah Aksa akan menyukai semua ini?” ucap Cevin yang akan menjadi ayah Asrah setelah ini.
“Aku berharap seperti itu. Maafkan aku, aku tidak bisa saudara untuknya,”
“Setidaknya kita telah berusaha,”
Mereka meninggalkan panti asuhan dan membawa seorang bayi perempuan cantik untuk dirawat oleh keluarganya.

Sesampainya di rumah terlihat seorang anak laki-laki sedang bermain ayunan di halaman rumah Amy.
“Aksa.. ayo masuk!” panggilan Amy kepada anak laki-lakinya yang baru berusia tiga tahun.
“Ibu siapa dia?” tanya Aksa.
“Dia akan menjadi saudaramu,” kata Cevin ayahnya.
“Cantik.. siapa namanya Bu?”
“Asrah,”

Di dunia lain, semua Kerajaan berkumpul di istana besar. Para Raja dari Sembilan daerah terpisah memusyawarahkan siapa yang akan memerintah Kerajaan besar setelah Raja Assya turun jabatan, karena semua tahu bahwa Raja Assya dan Ratu Nora tidak memiliki pewaris tahta untuk Kerajaan. Setiap Raja dari Sembilan daerah mengusulkan putra-putra mereka untuk menjadi pengganti pemimpin Kerajaan besar. Namun suasana menjadi ricuh karena semua pemimpin ingin putra mereka untuk menjadi Raja Kerajaan besar. Dan tidak ada yang ingin mengalah satu pun.

“Bagaimana mungkin aku akan menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin jika aku belum mengetahui kemampuan dari anak-anak kalian mereka baru berusia tiga tahun. Jadi sebaiknya hal seperti ini tidak bisa ku putuskan dengan cepat,” kata Raja Assya.
“Jadi kau meragukan kemampuan dari putraku,” ucap salah seorang Raja Kerajan Sembilan Cahaya.
“Apa kau mengerti perasaanku? Kalian beruntung memiliki putra yang bisa memimpin Kerajaan kalian masing-masing, tapi aku.. sebaiknya kalian latih putra kalian, jika suatu saat nanti benar-benar akan diperlukan penggantiku,” Raja Assya pergi dari ruang itu.

“Bagaimana hasilnya?” tanya Ratu Nora yang sedang menghias dirinya.
“Tidak ada hasil,”
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Ratu Nora.
Raja Assya membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata. Saat itu Ratu Nora bangkit dari meja hiasnya.
“Suamiku jika suatu saat nanti kita memiliki keturunan akankah di menjadi kuat?” Ratu Nora juga membaringkan tubuhnya.
“Jika itu anakmu pasti akan menjadi kuat,” mereka berdua mulai benar-benar memejamkan mata dan masuk ke alam mimpi.

Di dalam mimpi Ratu Nora melihat seorang gadis cantik yang duduk di singgasana suaminya. Gadis itu berjalan ke arah Ratu Nora dan kemudian ia menarik tangan Ratu Nora. Ia berkata ingin Ratu Nora ke suatu tempat. Ratu Nora mengiyakan ajakan gadis yang bekulit putih keabu-abuan itu. Rambut panjang, gaun yang indah hiasan rambut yang bekilau-kilau sungguh gadis yang cantik. Selama perjalanan ke tempat itu, Ratu Nora tidak sadar jika ia sudah memasuki area hutan dengan cahaya matahari yang mulai menghilang karena banyaknya pohon besar yang menutupinya. Sejauh perjalanan tidak ada kata-kata yang terucap di antara mereka berdua.

Suara riak air yang amat keras terdengar saat mereka sampai di air terjun besar. Tempat yang baru-baru ini ia kunjungi. Gadis itu melepaskan pegangannya terhadap Ratu Nora, ia berlari mendekati jurang air terjun tersebut. Gadis itu menari-nari dengan riang seketika Ratu Nora tersenyum melihat gadis cantik itu tersenyum dengan cerianya. Angin yang sejuk menerpa kawasan hutan menambah indahnya suasana kedamaian mimpi Ratu Nora. Tidak lama setelah itu, gadis cantik yang sedang menari-nari itu berhenti dan menoleh ke atas langit.

Awan gelap menyelimuti daerah itu, gadis yang bersama Ratu Nora melambaikan tangannya dan berjalan mundur hingga ia sampai di batas tebing. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya, melihat kejadian tersebut Ratu Nora sangat terkejut ia berlari ke tepi tebing. Dilihatnya dasar air terjun yang penuh dengan cahaya dan sangat menyilaukan mata. Ratu Nora menutup matanya dan menjauh dari tepi tebing. Ketika ia membuka mata dilihatnya jendela kamar yang terbuka lebar. Cahaya matahari yang sama menyilaukan matanya. Saat itu seorang pelayan istana datang mengantarkan sarapan padanya.

“Di mana suamiku?” tanya Ratu Nora.
“Raja telah berangkat untuk kegiatan berburunya,” kata pelayan itu.
Ratu Nora bangkit dari tempat tidurnya.

Setelah enam belas tahun dibesarkan oleh keluarga Amy tumbuh menjadi remaja yang cantik dengan kulit putih, tubuh ramping, dan rambut hitam panjang dengan sedikit poni di depannya. Hari ini adalah ulang tahunnya yang keenam belas. Ini adalah ulang tahun yang paling spesial untuknya karena tahun ini kakak laki-lakinya Aksa akan pulang dari luar Negeri. Sejak Sembilan tahun yang lalu Aksa memutuskan untuk bersekolah di luar Negeri dan tinggal bersama paman dan bibinya. Entah kenapa pada tahun terakhir ia akan lulus senior high school ia memutuskan untuk melanjutkan studinya di tanah kelahirannya.

“Ibu mana kakak?” tanya Asrah.
“Ternyata dia pulang besok sayang, maafkan ibu tidak memberitahumu ibu takut kau tidak akan bahagia di hari ulang tahunmu jika ibu mengatakan ini,”

Keesokan harinya saat bangun tidur Asrah melihat kalender yang tergantung di kamarnya, ternyata hari ini Asrah akan mengadakan masa orientasi di sekolah barunya. Setelah sarapan pagi ia sesegera mungkin naik ke mobil untuk diantar ke sekolah. Rasa takut yang dirasakan tidak terbendung lagi, bagaimana tidak baru hari pertama masuk sekolah ia sudah terlambat satu jam. Hal seperti inilah yang akan membuat pengalaman pertama masuk sekolahnya jadi menakutkan, bayangan senior yang akan marah padanya selalu menghantui. Ketika sampai di sekolah dilihatnya beberapa orang murid baru dengan menggunakan atribut lengkap untuk ospek berdiri di depan pagar sekolah.

“Permisi.. kenapa kalian berdiri di luar?” Tanya Asrah kepada salah seorang murid perempuan.
“Kamu tidak tahu, kalau sekolah ini punya peraturan yang sangat ketat, karena kita terlambat kita harus dihukum,” jawab murid itu.
“Ini semua terjadi semenjak dilantiknya ketua osis baru yang super jenius, padahal waktu kakakku sekolah di sini nggak ada peraturan yang seperti ini,” kata salah seorang murid lainnya.

Semua berakhir di sini, hari-hari indahku di sekolah nanti akan sirna oleh hukuman. Saat itu seorang senior datang dan memberikan petunjuk ke mana kami akan pergi. Kami yang terlambat ini dibawa ke sebuah ruang kelas, karena sangat takutnya aku tidak mau memalingkan pandanganku ke mana-mana. Hanya menunduk tanpa sebab yang jelas.

“Ini mereka,” kata senior yang mengantar kami. Bagaimana ini aku bisa kehabisan napas jika di sini terus.
“Hai kamu,” panggil senior yang berdiri di depan kami.
“Kamu bisa dengar suaraku?” kata senior itu mengulang.
Seorang murid yang berdiri di sampingku menarik lengan baju kananku.
“Hei kamu dipanggil,” katanya. Darah dari ujung kepala sampai ujung kakiku mengalir dengan cepatnya. Aku mengangkat kepala dan melihat kakak senior itu.
Dia, itu kan kakakku kenapa dia ada di sini? Apa dia memanggilku? Asrah menatap lama kakaknya Aksa. Dilihatnya kakaknya mengangkat alir mata seperti mempermainkan adiknya.

“Jalan ke sini!” kata Aksa. karena takut ada hal lain yang akan terjadi padanya, Asrah tidak mengindahkan apa yang dikatakan kakaknya.
“Itu pasti bukan aku,” ucapnya.
“Itu kamu, adikku tersayang,” Aksa mendekati tempat adiknya berdiri.
“Baru hari pertama sekolah kamu sudah membuatku marah bagaimana hari-hari berikutnya?” lanjut Aksa.
Askah hanya bisa menundukkan kepala melihat sikap kakaknya yang berbeda. Melihat semua murid lain menatap aneh pada mereka berdua, Aksa menghentikan pembicaraannya dan pergi. “Kalian yang urus mereka!” kata Aksa berbalik dan pergi.

Bel istirahat berbunyi, Arsah tidak terlalu mengenal murid-murid baru di sini sehingga ia harus menyendiri dulu. Asrah melihat seorang murid laki-laki berjalan melewati sebuah lorong di ujung kelas. Penasaran kemana murid itu pergi Asrah mengikutinya. Karena jarak Asrah cukup jauh ia harus berlari mengejar murid yang sudah tidak kelihatan lagi. Akhirnya ketemu, murid itu sedang besandar di dinding dan di depannya terdapat sebuah taman yang sangat cantik. Arsah tersenyum melihat betapa cantiknya bunga-bunga dan beberapa pohon di tanam dengan sedemikian rupa.

“Sepertinya kau menyukai semua,” Asrah kaget karena murid itu mengetahui kehadirannya.
“Bukankah bel masuk sudah berbunyi, kenapa kau masih di sini?” tanya Asrah.
“Kau sendiri?” murid itu membalikkan tubuhnya dan menatap Arsah.
“Aku tidak ingin masuk, hanya itu,” berjalan mendekati murid itu.
“Karena setelah ini kakakmu akan masuk ke kelas?” Asrah menghentikan langkahnya.

“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Aku tahu, hanya itu,” jawab murid itu. Asrah mengerutkan kening karena murid itu meniru cara bicaranya.
“Baiklah aku pergi,”
Beberapa langkah meninggalkan tempat itu Asrah memanggil murid itu.
“Tunggu, siapa namamu?”
“Dirga, hanya itu,” kata murid itu tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.
“Dirga, berhentilah meniru caraku berbicara.. apa kamu dengar?” Dirga tidak merespon sama sekali apa yang dikatakan oleh Asrah. Asrah tersenyum melihat tingkah orang yang baru dikenalnya itu.

Setelah Dirga pergi suasana di sana terasa sunyi. Di dalam hatinya Asrah masih sedih karena sikap kakaknya yang berubah drastis. Apa yang telah terjadi? Penyataan itu selalu muncul di benaknya. Asrah merasakan sebuah getaran di dalam tasnya. Ia segera memeriksanya. Asrah mengeluarkan sebuah cermin yang terlihat kuno. Cermin itu mengeluarkan cahaya, Asrah mengusap cermin itu dan muncul seorang wanita dengan mahkota di atas kepala, seperti seorang Ratu.

“Ada apa aku merasakan kalau kamu sedang sedih?” kata wanita itu, yang merupakan ibu dari Asrah yaitu Ratu Nora dari Kerajaan Sembilan cahaya.
“Tidak Bu, aku tidak sedang sedih. Aku bosan.. hanya itu,” ucap Asrah.
“Kau ingin ibu menghiburmu?” kata Ratu Nora dengan senyumnya yang indah.
“Baiklah, silahkan Ratuku,”

“Lihatlah ke depan ok,” sang Ratu memainkan sesuatu seperti sisir rambut. Dan seketika bunga-bunga dan rerumputan yang ada di taman itu menari-menari dengan indahnya.
Asrah sangat senang melihat semua itu. Akan tetapi, di dalam hatinya masih sedih memikirkan apa yang akan terjadi nanti di rumah jika ia bertemu dengan kakaknya.
“Kau suka?” tanya Ratu Nora.
“Tentu. Terima kasih ibu tapi sekarang aku harus pergi,”
“Baiklah,” cahaya pada cermin yang dipegang Asrah menghilang bunga–bunga yang menari tadi telah kembali seperti semula. Asrah memperhatikan ke sekelilingnya dan meninggalkan tempat yang indah itu.

Setelah melalui beberapa lorong akhirnya Asrah sampai di pekarangan sekolah yang cukup besar itu. Dilihatnya semua sudah pulang, hanya ada beberapa murid yang tersisa itu pun adalah aktivis di sekolah itu. Ia pergi ke kelas di mana ia meninggalkan tasnya. Saat masuk ke ruangan kelas itu ia melihat Dirga ada di kelas itu dengan earphone di telinga ia pasti sedang mendengarkan music. Dirga melirik padanya. Saat itu jantung Asrah mulai berdebar-debar.

“Aku ingin mengambil tasku,” ucap Asrah gugup.
“Tentu,” balas Dirga.

Di perjalanan pulang Asrah terus memikirkan kenapa ia salah tingkah jika bertemu pria itu. Sesampainya di rumah dilihatnya kakaknya duduk di ruang tamu sedang menonton televisi. Saat itu ibunya ke luar dari kamar.
“Ibu, lihat kakak!” pinta Asrah.
“Sedang menonton,” jawab ibu.
“Dia sudah keterlaluan padaku,” Asrah memeluk ibunya.
“Dia bukan ibumu, jadi jangan mengadu padanya,” ucap Aksa.

“Aksa apa yang kau katakan, kenapa setelah kembali sikapmu berubah seperti ini?” ucap ibu.
“Apa itu salahku, jika ibu mengetahui semuanya pasti ibu akan bersikap seperti ini juga,”
“Katakan, mengetahui apa?” ibu penasaran.
“Sudahlah Bu,” Aksa beranjak dari depan televisi dan masuk ke kamarnya

Satu minggu setelah kejadian itu. Masa orientasi siswa pun telah habis. Sekarang Asrah akan menikmati harinya sebagai murid resmi di sekolahnya. Pagi itu sesampainya di kelas yang ditentukan untuk ia melihat Dirga juga masuk ke kelas itu.
“Apa dia sekelas denganku, luar biasa,” Asrah sangat gembira dengan kenyataan itu.
“Ikut aku,” dari belakang Asrah melihat kakaknya berdiri.
“Kakak, bukankah masa orientasi sudah habis?” Aksa menarik tangan Asrah, dan tidak sengaja Dirga melihat hal itu saat akan ke luar dari kelas. Dirga mengikuti ke mana Asrah dibawa oleh kakaknya. Mereka sampai di halaman belakang sekolah. Aksa melepaskan tangan adiknya. Dirga bersembunyi di balik lemari yang berada di sana.

Bersambung

Cerpen Karangan: Dea Safarina
Facebook: Dea Safarina

Cerpen Imprecnable (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lemari Ajaib

Oleh:
Nayla baru saja mempunyai kamar baru. Kamarnya bernuansa biru, karena Nayla sangat menyukai warna biru. Dan ia dibelikan ayahnya sebuah lemari berukuran sedang. Saat malam hari, Nayla mendengar suara

Eunoia

Oleh:
Aku tersadar dengan enggan ketika merasakan ada tangan yang mengusap rambutku dengan pelan. Aku mencium aroma tubuh seseorang yang sekarang sedang duduk di samping ranjangku. Aku belum membuka mata.

Ilusiku

Oleh:
Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran orang lain yang selalu menatapku sinis seakan aku hanyalah virus cilik yang bisa mengancam nyawa mereka sewaktu-waktu. Padahal, aku hanyalah gadis biasa-lebih tepatnya

Lukisan Api Niestre

Oleh:
Malam berselimut asap pekat di sebuah kota. Suara bising mesin-mesin kendaraan berlalu-lalang, Gemerlap cahaya warna-warni lampu kota telah membutakan penduduk yang berdesakan tinggal di dalamnya. Angin malam menyerbak, membekukan

Hantu Goblin

Oleh:
Suatu malam, ada seorang gadis dan saudara perempuannya ke taman. Suasana taman yang remang remang sepi, membuat mereka ingin kembali ke rumahnya. Sebelum pulang ke rumah, di jalan, mereka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *