Imprecnable (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 26 May 2016

“Katakan apa yang kau ketahui tentangku?” tanya Asrah.
“Sebaiknya kau yang menceritakan semuanya padaku,”
“Kau tahu kalau aku bukan manusia?” tanya Asrah lagi.
“Dua tahun yang lalu di malam hari aku mendengar kau berbicara dengan seseorang, suara itu tidak terlalu jelas karena hujan turun deras waktu itu. Aku membuka pintu kamarmu dan aku melihat,” Aksa berhenti bicara.
“Dia ibuku, Ratu Kerajaan Sembilan Cahaya,” tambah Asrah.

Aksa kaget mendengar pernyataan adiknya begitu juga Dirga yang mendengar dari jauh.
“Sekarang kalian sudah tahu siapa aku, aku harap kalian bisa merahasiakannya,” ucap Asrah.
“Kalian, siapa maksudmu?” tanya Aksa. Di saat itu Dirga ke luar dari persembunyiannya.
“Kamu, sejak kapan kamu di sana?” Aksa kaget tentang bagaimana Asrah mengetahui ada orang lain selain mereka berdua.
“Aku harus pergi,” Asrah pergi meninggalkan tempat itu.

Di kelas Dirga terus memandangi Asrah yang duduk paling depan. Sesekali juga Asrah melirik ke belakang melihat laki-laki itu. Hari itu kelas selesai. Seperti biasanya Asrah pulang dengan bus. Ketika masuk ke dalam bus ia melihat Dirga duduk di kursi paling belakang. “Kapan dia naik?” ucap Asrah. Tidak ada lagi kursi yang kosong di depan dan di tengah. Ia memutuskan untuk duduk paling belakang dekat Dirga. Dirga terus memandangi Asrah.

“Kamu lihat apa? Kamu takut padaku?” tanya Asrah.
“Mana mungkin, terlalu percaya diri,” jawab Dirga. Dirga mengeluarkan ponsel dan earphonenya, ia mendengarkan lagu untuk menghilangkan kecanggungannya.
“Apa yang kamu dengarkan?” tanya Asrah penasaran.
“Ini,” Dirga melihatkan judul lagu yang diputarnya.
“Wah, kamu juga suka lagu-lagu ini,” ucap Asrah.
“Dengarkanlah,”

Sesampainya di rumah Asrah melihat kakaknya berdiri di depan pintu kamarnya.
“Kakak, sedang apa?”
“Aku.. bisakah kau menceritakan tentang semuanya kepadaku? Apa kau marah padaku?” tanya Aksa hati-hati.
“Tidak, tentu saja aku tidak marah. Akan ku tunjukkan semuanya masuklah,”
Melihat kamar yang begitu rapi dan bersih dengan hiasan-hiasan cantik membuat Aksa senang melihatnya.
“Jadi apa yang akan kau ceritakan, bagaimana jika sejarah kelahiranmu,” usul Aksa.
“Bagaimana jika ini?” Asrah menunjukkan sebuah cermin.

“Untuk apa itu?”
“Perhatikan!” Aksa memperhatikan apa yang dilakukan adiknya. Seketika muncul seorang wanita.
“Ibu..,” panggil Asrah. Aksa sangat kaget melihat semua itu.
“Dia.. seorang Ratu?” tanya Aksa.
“Perkenalkan saya Ratu Nora, senang bertemu denganmu,” salam Ratu Nora.
“Ibu duduklah,” ajak Asrah.

Mereka bercerita-cerita tentang Kerajaan Sembilan Cahaya dan tentang diri pribadi mereka. Hingga malam datang saat itu Ratu Nora harus pergi. “Ibu harus pergi putriku, hati-hatilah persiapan mereka sudah matang untuk perebutan itu. Dan kemungkinan tempat bertarung itu adalah bumi, kerena mereka akan mudah mendapatkan sumber energi,”
“Baik Bu, jika aku bisa aku akan melindungi semua orang yang aku sayangi, ibu juga hati-hati ya,” Ratu Nora telah pergi. Tinggal Aksa dan Asrah yang diam.
“Terima kasih, sebaiknya aku ke luar kau butuh istirahat,” pamit Aksa.
“Ya,”

Hubungan antara Aksa dan Asrah semakin dekat. Begitu juga hubungannya dengan Dirga. Seperti kepada kakaknya Asrah juga menunjukkan Ibunya dan menceritakan semua tentangnya kepada Dirga. Saat itu juga Dirga menunjukkan perasaannya kepada Asrah.
“Asrah, aku merasa ada yang aneh dengan perasaanku padamu,” ucap Dirga.
“Kenapa kamu jadi takut padaku?” balas Asrah.
“Bukan, coba rasakan ini,” Dirga meraih tangan Asrah dan meletakkannya di dadanya.
“Hei, apa yang.. ini sangat kuat,” Asrah merasakan detak jatung Dirga. Asrah melepaskan tangannya.

“Kau tahu artinya?” Dirga meminta pendapat Asrah.
“Maafkan aku, aku telah membuatmu takut,” ucap Asrah.
“Aku suka padamu, bukan takut. Walaupun aku juga takut jika kau pergi,” Dirga meraih lagi tangan.
“Bagaimana mungkin?” tanya Asrah kaget.
“Kau tidak percaya?”
“Maksudku bagaimana mungkin aku juga merasakan hal itu?” ucap Asrah.
“Aku sangat senang mendengar semua itu, terima kasih telah menghargai perasaanku,” ucap Dirga.

Beberapa lama setelah itu hari-hari Asrah semakin baik. Ia selalu tersenyum sama seperti senyumnya di waktu kecil. Akan tetapi di Negri Sembilan Cahaya terjadi kekacauan yang yang sangat besar. Para Pangeran dari kesembilan cahaya telah mempersiapkan diri untuk bertarung, merebutkan posisi Raja besar dari Negeri Sembilan Cahaya. Mengetahui hal itu Ratu Nora mengirimkan pesan kepada anaknya. Ketika sedang asyik membaca pesan-pesan yang yang dikirimi Dirga kepadanya, Asrah melihat cerminnya memancarkan cahaya. Berhati-hatilah anakku karena mereka akan segera datang. “Aku harus bisa menyelamatkan orang-orang yang aku sayangi,” ucap Asrah. Keesokan harinya Asrah berangkat ke sekolah. Ada aura yang aneh ketika memasuki gerbang sekolah yang dirasakannya. Walaupun begitu ia hanya menganggap itu hanya perasaannya saja. Ketika masuk ke kelas dilihatnya Dirga sedang berkumpul dengan teman-temannya. Entah kenapa melihat semua itu membuat Asrah menjadi sedih.

“Hai Asrah!” panggil Dirga.
“Hai!” balas Asrah. Dirga mendekati Asrah.
“Kau kenapa? Ada masalah?” tanya Dirga karena melihat ekspresi wajah Asrah yang tidak seperti biasanya.
“Tidak aku hanya.. sudahlah apa yang kamu bicarakan dengan mereka tadi?” ucap Asrah mengalihkan pembicaraan.

“Mereka orang aneh, mana mungkin akan ada pertarungan seperti itu,”
“Pertarungan apa maksudmu?” tanya Asrah penasaran.
“Pertarungan cahaya,” jawab Dirga.
“Siapa yang berkata seperti itu?”
Dari luar terdengar keributan. Semua murid di sekolah ke luar melihat keributan itu. Di saat yang lain ke luar Dirga melihat Asrah masih duduk di bangkunya.
“Asrah kau tidak ke luar?” tanya Dirga.
“Aku takut, sebaiknya kamu juga jangan keluar,” pinta Asrah.

Ternyata keributan bukan hanya di luar, salah seorang Pangeran dari Negeri Sembilan Cahaya masuk ke dalam kelas-kelas dan menghancurkan semua yang ia lihat. Pangeran itu menerbangkan sebuah meja dan mengarahkannya kepada Asrah dan Dirga. Dengan cepat Dirga menarik Asrah dan pergi menjauh. Pangeran itu berasal dari Kerajaan Green Light. Ia membuat semua dinding-dinding kelas ditumbuhi pohon-pohon seperti semak belukar. Pangeran itu hanya tertawa melihat kerusakan yang terjadi. Semua warga sekolah berlari ke sana ke mari menyelamatkan diri. Melihat teman-temannya pamit, Asrah menuntun teman-temannya ke tempat yang aman.

“Teman-teman ayo naik ke lantai dua, di sana lebih aman,” ajak Asrah. Hanya sebagian yang mau mengikuti Asrah, sebagian lagi ingin secepatnya ke luar dari sekolah itu. Namun mereka terjebak oleh akar-akar pohon yang dibuat Pangeran Kerajaan Green Light dan terjebak dalamnya.
“Asrah apa yang akan terjadi pada mereka?” tanya Dirga melihat teman-temannya terjebak. Ketika memperhatikan hal itu juga Asrah teringat kakaknya.
“Kak Aksa dia tidak ada, Dirga kamu pergilah bersama yang lain aku harus mencari kakakku,” ucap Asrah ia pergi meninggalkan rombongan yang akan naik ke lantai dua.
“Tapi bagaimana denganmu?” Dirga mencegah Asrah.
“Mereka bagian dariku, apa yang aku takutkan hanya saja kalian semua.. aku mohon jagalah mereka dan dirimu,” teriak Asrah.

Asrah mencari kakaknya di tempat-tempat yang sering ia kunjungi. Namun, ia tidak mendapati kakaknya berada di tempat-tempat itu. Asrah mengeluarkan cermin yang selalu ia bawa. Ia memerintahkan cermin itu untuk menunjukkan di mana kakaknya berada. Cermin itu menunjukkan bahwa Aksa berada di halaman belakang sekolah. Dengan segera Asrah berlari ke tempat itu.

“Kakak!” Asrah melihat kakaknya sedang duduk bersandar di dekat lemari tua.
“Apa yang terjadi kak?” tanya Asrah melihat kakaknya seperti kesakitan.
“Aku mencoba menyelamatkan diri dari pohon-pohon itu, tapi aku malah terkena racun dari salah satu tumbuhan itu,” ucap Aksa.
“Aku akan menyembuhkanmu,” ucap Asrah.

“Apa kau bisa?”
“Tentu,” Asrah memegang bagian tubuh kakaknya yang terkena racun.
“Kau tidak menggunakan kekuatan cerminmu?”
“Tidak, aku ingin mengetes kekuatan yang diberikan ibuku,” Luka Aksa menjadi sembuh setelah diusap oleh tangan Asrah.
“Hah, lukanya sembuh dan tidak ada rasa sakit, tapi Asrah rambutmu kenapa sebagian menjadi putih?” Aksa menyentuh rambut Asrah.
“Tidak apa-apa, mungkin itu hanya efek dari kekuatan ini. Kita harus segera pergi kak,” Asrah dan Aksa pergi menyusul Dirga dan rombongan yang yang lainnya.

Di lantai dua Asrah melihat Dirga dan teman-teman yang lainnya.
“Dirga kamu baik-baik saja?” tanya Asrah. Dirga memeluk Asrah.
“Kau baik-baik saja,” jawab Dirga.
“Ha.. apa yang kamu lakukan?” Ucap Asrah melepaskan dirinya dari pelukan itu.
“Maaf,” Dirga merasa malu.
Tidak lama setelah itu munculah cahaya baru yang dibawa oleh Pangeran Kerajaan Brown Light. Pangeran ini lebih kuat dari Pangeran sebelumnya. Ia menjadikan semua yang dilihatnya menjadi Tanah, bahkan Aksa hampir terkena oleh hal itu.

“Asrah apa yang harus kita lakukan?” tanya Aksa. Belum sempat lagi menjawab semua Pangeran dari Negeri Sembilan Cahaya telah sampai di tempat yang mereka tentukan. Tapi Asrah merasa ada yang aneh dari semua yang terjadi. “Aku harus menemui mereka semua, kalian tetaplah disini aku harus mencari sesuatu,” ucap Asrah.
“Tidak kau tidak boleh pergi lagi, aku mohon,” pinta Dirga dan menahan Asrah.
“Aku harus pergi,” tegas Asrah.

“Pergi ke mana? Ke tempat itu, aku melarangmu,”
“Dirga, aku akan baik-baik saja,” meyakinkan Dirga.
“Baiklah, kalau begitu aku harus ikut,” pasrah dengan semuanya Asrah mengizinkan Dirga pergi bersamanya.
“Asrah baik-baiklah, dan jangan terlalu banyak menggunakan kekuatanmu itu, aku punya firasat buruk tentang itu,” ucap Aksa.
“Baiklah kak, aku pergi dulu,” Asrah dan Dirga pergi.
“Semuanya ayo kita ke Labor IPA ruangan itu tidak rusak tadi aku lihat,” komando Aksa dan mereka semua pergi.

Sesampainya Asrah dan Dirga di tempat perkumpulan Pangeran-Pangeran itu, tidak mereka temukan Pangerang yang saling bertarung. Pangeran-Pangeran itu hanya membuat kerusakan-kerusakan sesuka hati mereka. Asrah berniat untuk menanyai semua itu kepada salah seorang Pangeran. Tapi Dirga menghentikannya.
“Tidak kau jangan ke sana!” ucap Dirga.
“Dirga tolong pegang ini, jangan sampai diambil mereka,” Asrah menitipkan kaca yang menghubungkannya dengan Negeri Sembilan Cahaya kepada Dirga dan berlari secepatnya.
“Asrah,” teriak Dirga, namun Asrah tidak mendengarkan itu. Dirga melihat cermin itu, di cermin tertulis sesuatu.
Hati-hati Asrah ternyata semua itu hanyalah tipuan dari Kerajaan Blue Light, mereka ingin mengambil kekuatan agung yang ada pada dirimu.
“Asrah, dia dalam bahaya,” ujar Dirga.

Asrah bertemu dengan Pangeran yang pertama kali ia temui yaitu Pangeran Negeri Green Light. Pangeran itu melihat Asrah berlari mendekatinya, ia mengeluarkan sulur-sulurnya dan akan melilitkannya pada Asrah. Asrah melihat Pangeran itu menyerangnya dengan segera ia menangkis serangan itu dan mendekati Pangeran itu.

“Aku ingin bertanya padamu, bukankah kalian ke sini untuk bertarung merebutkan kursi Raja?” tanya Asrah.
“Kursi Raja, untuk apa itu diberikan kepada Pangeran Kerajaan Blue Light kami ke sini untuk besenang-senang,” ucaPangeran itu.
“Besenang-senang apa maksudmu?”
“Ini semua hanya tipuan yang dibuat oleh Pangeran Blue Light, ia ingin mencari sesuatu di tempat ini, dan memerintahkan kami untuk menghancurkan tempat ini. Itu saja,”
“Sekolahku ini, apa yang dicarinya?” tanya Asrah.
“Ini Putri,” Pangeran Blue Light datang. Asrah melihat Dirga berada dalam kuasa Pangeran itu.

“Dirga, kenapa kamu menginginkan dia?” tanya Asrah pada Pangeran Blue Light.
“Bukan orang ini tapi.. berikan padaku!” Dirga memberikan cermin yang dititipkan oleh Asrah padanya.
“Cerminku,” Asrah melihat Pangeran itu mengambil cerminnya.
“Ini adalah cermin pusaka Kerajaan Sembilan Cahaya dan yang mengetahui tentang semua itu hanya Ratu Nora, bukankah dia ibumu putri?” ucap Pangeran.
“Apa yang akan kamu lakukan pada temanku itu?” melihat Dirga masih dalam pengaruh jahat.
“Dia? aku akan sangat senang melihat kau menangis kehilangan orang yang kau sayangi. Lihatlah ini!” Pangeran menyerang Dirga dengan kekuatan es yang dimilikinya. Dirga tidak sadarkan diri, Asrah secepatnya berlari ke tempat Dirga.

“Dirga bangunlah.. apa yang telah ku lakukan padamu? Bangunlah..” Asrah menagis memeluk Dirga.
“Bagaimana kalau selanjutnya aku melihatmu seperti itu? Atau kau ingin sesuatu yang lebih spesial?” Pangeran Blue Light menyerang Asrah menggunakan kekuatan cermin.
“Tidak, aku akan membalas apa yang telah kau lakukan,”
Di dalam diriku ada kekuatan, aku sering merasakannya hanya saja takut. Tapi sekarang aku mohon keluarlah.
“Apa yang dia lakukan? Jangan-jangan..,” ucap Aksa yang dari tadi menyaksikan semuanya. Asrah mengeluarkan kekuatannya, namun semua itu berdampak pada fisiknya kulit, rambut, pakaian semuanya berubah menjadi putih.

“Asrah..,” teriak Aksa mengetahui adiknya menjadi dirinya yang sebenarnya.
“Apa itu kekuatan pusaka yang sebenarnya? Ternyata ada di dalam dirinya,” ucap Pangeran Blue Light.
“Aku akan menghancurkanmu lebih dari yang apa kamu lakukan padaku,” ucap Asrah. Ia mengeluarkan kekuatan yang paling besar dari dirinya dan menyerang Pangeran itu.
Hanya sekali serangan Pangeran itu sudah tidak berdaya lagi. Karena juga tidak bisa mengendalikan dirinya dengan kekuatan yang dimilikinya fisik Asrah menjadi lemah, ia terjatuh dan berusaha menahan sakit. Aksa segera menghampiri adiknya yang kesakitan.

“Apa yang harus ku lakukan?” tanya Aksa. Tiba-tiba ia melihat cermin yang dimiliki Asrah bercahaya. Ia mengambil cermin itu.
“Apa yang harus ku lakukan dengan benda ini?” Saat itu ia teringat apa yang dilakukan Asrah saat ingin memanggil ibunya. Aksa melakukan hal sama, dan munculah cahaya yang sama seperti waktu itu. Ratu Nora datang bersama suaminya Raja Assya.
“Apa dia putri kita?” tanya Raja Assya.
“Ya, sebaiknya kau bantu menyembuhkannya,” Raja Assya dan Ratu Nora mendekati Asrah.
“Aku harus membawanya ke Kerajaan dulu, di sini kekuatanku tidak berfungsi,” ucap Raja Assya. Pernyataan itu membuat Aksa kaget.
“Jangan bawa dia pergi, aku mohon dia adikku,” pinta Aksa.
“Maaf,” ucap Ratu Nora.

Tiga bulan setelah kejadian itu.
“Apa dia masih belum kembali?” tanya Dirga pada Aksa.
“Belum,” jawab Aksa. Mereka berada di tempat pertama kali mereka mendengar tentang kebenaran Asrah yaitu halaman belakang sekolah.
“Kalian merindukanku?” suara yang sangat familiar bagi mereka. Seorang gadis yang telah bangun dari tidur panjangnya Asrah. Gadis itu mendekati dua laki-laki yang ada di depannya dan memeluk keduanya.
“Aku tahu kau akan kembali,”
“Tentu.”

Cerpen Karangan: Dea Safarina
Facebook: Dea Safarina

Cerpen Imprecnable (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Save Picky Land

Oleh:
“Michael, ayo cepat!” Seru Michelle. “Iya-iya, sabar!” Michael mengiyakan seruan Michelle. “Lama! Cepat dong!” Seru Michelle. “SA-BAR!” Seru Michael. Michelle tertegun. “Ayo.. Lama!” Maki Michelle. “Ihh.. Sabar!!” Emosi Michael

Menaklukkan Naga (Part 1)

Oleh:
Puluhan tahun sudah, wilayah Kerajaan Upperhill diteror oleh seekor naga, yang datang dari balik Pegunungan Berkabut. Orang-orang memanggilnya Madfire. Sebagaimana jenisnya, Madfire adalah seekor naga yang kejam. Ia gemar

Negara Negeri Dongeng

Oleh:
Jam pelayar melepas kejenuhan setelah berhari hari mengarungi laut dan bertengger sejenak melepas penat disini, Marseilles le port tepatnya. Seperti biasa, Parman, pria yang sudah tak tampak muda lagi

Rahasia Dari Rahasia

Oleh:
Pada suatu ruang dan waktu, tinggal seorang gadis berusia 70 tahun dan seorang perjaka. Namanya saya enggak tahu karena saya belum pernah lihat KTPnya. Mereka tinggal dengan ketiga anaknya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *