In The Illusion

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 10 December 2018

Dunia begitu kejam.
Tak peduli seberapa keras aku berusaha, dunia seakan-akan hanya menganggapnya sebagai angin yang berlalu.

Aku menyerah.
Aku sudah lelah. Aku sudah tidak kuat lagi. Buat apa aku terus berusaha sedangkan tidak ada yang membutuhkannya. Ini hanya diriku.

Sendirian dalam keputus asaan. Menatap langit malam yang begitu tenang, dengan taburan bintang-bintang yang menghiasinya.

Mati.

Kupikir aku takkan selamat. Selamat dari kematian ini. Kini aku berada di jembatan antara hidup dan mati. Semuanya hanya putih bercahaya. Tidak ada seorangpun dan apapun di sini. Di ingatanku pun tidak ada apa-apa. Tidak ada alasan kenapa aku bisa berada di sini. Hanya ada kata “Tolong” yang terus muncul.

Tolong…

Tak ada jawaban, tak ada gema. Hanya ada suaraku, yang nyaring.

TOLOOONGG!!!!

Bangunlah…
Sebuah suara muncul setelah lelah tak ada jawaban, aku pun berteriak dengan sangat kencang sampai rasanya tenggorokanku akan pecah.
Aku mengangkatkan kepalaku yang menunduk. Mencari-cari di sekitarku siapa yang membalas suara itu.

BANGUNLAH!
Suara itu lagi. Kini lebih jelas dan bernada tinggi. Suaranya serak… kasar.. ya! Serak! Suaranya serak. Ia berteriak padaku!

Tolong aku!!
Teriakku lagi menyahutnya. Air mataku pun terus menetes beriringan dengan teriakkan minta tolongku.

Bangunlah Di…
Sungguh.. aku nggak mau berada di sini! Aku nggak mau! Aku ingin kembali hidup. Entah kenapa, rasanya aku ingin bisa melihat lagi wajah itu. Senyum itu. Seseorang, seseorang yang kurindukan. Aku ingin mendengar lagi tawanya, candaannya, suaranya, suaranya yang… serak kasar… Aku merindukannya…
Tunggu! Serak kasar?

Hei kau dengar aku?!!
Ya! Suara seperti ini yang kurindukan! Kenapa aku baru menyadarinya Ya Tuhan…

Kau dengar aku?!! Hey!!!
Ya! Aku mendengarmu!!!! Tolong, selamatkan aku dari sini. Keluarkan aku dari sini!!

Diana…
D-Di-Diana… Itu namaku? Apa itu namaku?!!

Kumohon Di..
Hei.. Siapapun kau-
Kumohon Diana,…
Siapa kau?! Sebut namamu!
BANGUNLAH!
Sebut namamu!
BANGUNLAH DI…!
SEBUT NAMAMUU!!!
BAGUNLAH DIANA!
KUBILANG SEBUT NAMAMUUU!!!

INI AKU ANDY!!
Jantungku rasanya sudah berhenti berdetak. Dadaku terasa sakit.. Hatiku terasa sakit dan dingin. Entah kenapa dengan diriku ini, tiba-tiba saja aku membeo namanya.
A-Andy…

Seluruh tempat ini semakin bercahaya, dengan hitungan detik aku cahaya itu semakin terang juga semakin mendekat, membuat pandanganku semakin menyempit akibat pantulan sinarnya yang begitu bersinar terang.

Sinar mentari menyelinap dari sela-sela dedaunan pohon yang rindang ini. Menyentuh wajahku, memberikan kehangatannya di siang ini.

Seorang pria berbahu lebar dengan tubuh yang kurus namun cukup berotot itu tengah berada di sampingku, duduk bersandar pada batang pohon yang cukup besar di belakangnya, dengan pahanya yang menjadi bantal kepalaku. Wajah manis babyface itu menatapku dengan senyuman manis yang membuat siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona karenanya.

“Hey, bangunlah. Jangan tertidur. Kakiku bisa keram kalau harus terus terdiam menahan berat kepalamu, yang beratnya 2× lebih berat dari 1 mobil tronton..” ucapnya melebih-lebihkan.

Aku cemberut mendengarnya. Aku pun bangun dari posisiku, duduk menghadapnya yang berselonjor kaki dengan kaki kiri yang menekuk, menyisakan jarak satu setengah jengkal antar wajah kami, dan saling menatap satu sama lain. Iris matanya yang cokelat itu sangat meneduhkan pandangan. Rambut jagung cokelatnya bergerak-gerak ditiup semilir angin yang melewatinya. Poni yang menyamping ke kanannya itu hampir menyentuh matanya. Ia memiliki bulu mata yang panjang. Kulitnya putih sewarna peach. Bibirnya berukuran sedang dan berwarna merah muda itu bergerak, menuntut sebuah kalimat.

“Sebegitu jatuh cintanya kah kau padaku sampai memandangiku seperti itu..” Telunjuk tangan kanannya pun menunjuk wajahku yang memanas ini.

Dengan cepat kupukul tangannya yang menunjukku dan menariknya ke bawah. Menggenggamnya dengan perasaan salah tingkah karena tertangkap basah telah menatapinya dengan dalam.

“Jangan menggodaku! Atau kupukul kau dengan tinjuku yang kuat ini.” ancamku becanda sambil mengepalkan tangan kiriku di hadapan wajahnya.
“Hahahaha..” Ia pun tertawa lepas.
“Hahahaha..” Begitupun juga aku.
Tawa kami menghiasi dunia. Ikut terbawa oleh hembusan angin sejuk perbukitan yang berhembus. Menerbangkan beberapa dedaunan hijau pepohonan ini, kemeja putihnya juga dres selutut milikku, rambutnya begitupun juga rambut panjang hitam milikku.

Tak sengaja ia mendapati gelang-gelang yang melingkari pergelangan tangan kiriku. Ia pun menyentuh satu gelang sederhana berwarna cokelat dengan hiasan berwarna biru tua. Pada bagian berwarna putih kayu nya ada tulisan tangan yang tidak rapi berwarna biru tua,

” ‘Love Diana, From Andy’. Hmph, kau masih memakainya ya..” katanya dengan suaranya yang parau.
Aku tersenyum, “Hmm.. tentu saja. Ini sangat berarti bagiku.” Balasku antusias.
“Tapi, ini kan yang kuberikan waktu ulang tahunmu yang ke 6 tahun. Lihat saja tulisannya, berantakkan sekali. Kenapa nggak kau buang saja? Nanti bisa kubuatkan yang lebih bagus dan lebih rapi dari ini.” ujarnya sambil menatapku sekilas, merasa tak enak dengan tulisan kanak-kanaknya yang sangat tak cocok dengan dirinya yang sekarang ini.
“Biarkan saja. Kau tak usah malu begitu. Aku lebih suka yang ini dan nggak mau diganti.” Ujarku penuh penekanan. Ia mengerutkan halisnya, menuntut penjelasan. “Kenapa? Karena dari aku kecil hingga tua pun hanya pemberi gelang ini yang akan selalu ada di hatiku. Dan meskipun aku mati, aku tak akan pernah melupakannya. Hehehe…” jawabku polos dengan keceriaan yang terpancar dari wajahku.

Kulihat ia tersenyum, lalu kemudian berubah menjadi gelak tawa yang renyah, seakan-akan ucapanku adalah lelucon bagi diinya. Dapat kulihat kebahagiaan yang tulus dari wajahnya, membuatku ikut terkekeh karenanya.

“Dasar…” ucapnya pelan seraya meredakan tawanya. Pandangannya kini tertuju padaku.

Tangan kirinya terangkat. Mengelus-elus puncak kepalaku dengan sayang, merambat turun hingga ke pipi. Membuatku menunduk malu salah tingkah sekaligus menikmati sentuhannya. Saat tangannya mulai turun ke rahangku, mata kami pun saling bertemu. Sambil tersenyum ia berkata,
“Aku mencintaimu…”

Tak berselang lama setelah ia membisikan kalimat itu, dengan lembut ia mulai menutup jarak dan menciumku dengan lembut tepat di bibir berlapiskan lip gloss rasa strauberi milikku.

Tak sekedar bersentuhan, ia pun melumat bibirku dengan lembut dan cukup dalam. Sampai menyelinapkan bibir atasnya ke dalam mulutku dan menghisap bibir bawahku penuh perasaan.

Dunia pun menggelap, pandanganku mulai berubah, memburam, tidak jelas. Tidak ada dia di hadapanku. Pendengaranku mulai tak jelas, napasku mulai tersendat dengan tiba-tiba tanpa memberiku kesempatan untuk menghirup oksigen.

Tiba-tiba saja aku sudah berada di dalam air yang sangat dalam. Satu titik cahaya di hadapanku dengan perlahan mulai mengecil dan menjauh. Posisiku tepatnya adalah punggungku yang menghadap bawah. Tubuhku melayang, kedua tangan dan kakiku terangkat lemas ke atas.

Dadaku sesak. Air sudah memenuhi paru-paruku, pendengaranku, seluruh tubuhku! Aku pun mulai kehilangan kesadaran diriku seutuhnya. Namun, aku masih bisa merasakan tangan yang besar dan sangat kuat yang mencengkram pergelangan tangan kiriku sebelum akhirnya aku menutup mataku rapat-rapat.

…..

A-Andy….

…..

“Di! Di! Diana!”

Suara itu lagi yang disertai dengan tepukan di kedua pipiku. Dengan sendirinya mataku membuka secara perlahan. Dengan sedikit samar-samar aku bisa melihatnya, wajah khawatir yang basah itu tengah menatapku dengan serius, aku bisa melihat ketakutannya yang kemudian berubah menjadi lega setelah melihatku membuka mata.

“Huhh… huhh.. syukurlah..” ucapnya menghela dengan lega. Ia pun membantuku bangun dari posisi terlentangku.

“Syukurlah.. kau sudah sadar!” ucapnya lagi. Kali ini ia langsung memelukku di dalam pelukannya dengan sangat erat. Bajunya basah, sama seperti milikku. Kulitnya yang dingin bersentuhan dengan kulitku yang lebih dingin. Aku bisa mendengar degup jantungnya yang berdegup begitu kencang dan cepat. Hal itu entah kenapa malah membuatku merasa nyaman.

Inilah yang kurindukan..

Tanpa sadar tetes demi tetes air mataku pun bercucuran membasahi pipiku.
Kutarik tubuhnya mendekat, membalas pelukannya dengan sangat erat. Menangis sepuasnya di dalam sana, syarat akan kerinduan.

“Andy…. Andy… Aku takut.. aku takut Andy…” ucapku disela-sela tangisan. Aku pun tambah membenamkan wajahku di lehernya.
“Iya, aku tahu.. aku tahu..” balasnya dengan suaranya yang begitu serak. Ia bahkan mempererat pelukannya sehingga aku bisa merasa kehangatan tubuhnya menyelimutiku.

“Jangan takut lagi. Sekarang aku ada di sini.. Jangan pernah pergi dariku lagi Diana… Karena aku sangat mencintaimu…”

Aku sempat terlonjak dari lamunanku yang menikmati kenyamanan dan kehangatan pelukannya. Aku sedikit menengadahkan kepalaku, ingin melihat wajahnya. Namun Andy langsung memelukku lagi dengan erat, Sambil menciumi puncak kepalaku dengan lembut.

Hal itu tentu saja membuatku luluh. Aku pun balas memeliluknya dengan erat, menyembunyikan wajahku di lehernya.
Dan tanpa kusadari, 4 kata yang membuatku sedikit terlonjak pun keluar dari mulutku,

“Aku juga mencintaimu, Andy…”

~fin

Cerpen Karangan: Salsa Putri Aulia
Blog / Facebook: Salsa Putti Aulia SalTriLya II
Panggil saja aku ChaCha. Remaja biasa yang menyukai anime, film, musik, komik, cerpen, novel, yang lagi bereksperimen membuat cerpen & novel.
Moslem. Pessimist. Judes. Baperan. Dan.., gak Pede-an. Hehehe…

Salam kenal!

Cerpen In The Illusion merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Raja Yang Jatuh Cinta

Oleh:
Cinta memang sebuah hal yang lumrah bagi semua orang tak terkecuali bagi seorang raja. Sudah dua hari ini baginda raja uring-uringan di dalam istana, ia sedang bingung lantaran ia

Chip Robot (Part 2)

Oleh:
Aku terkejut saat melihat sepatu yang nampak baru berwarna cokelat itu pikirku langsung melayang dan berpikir itu adalah sepatu Kakakku yang pernah ditunjukannya. “hei, sepatu apa maksudmu?” tanyanya mengejutkanku.

Oreyn Love

Oleh:
“Suka?” “iya rey, gua suka lo. udah lama gua mendam perasaan ini. sakit rey ternyata. gua tau lo mungkin gak suka gua tapi gak papa. gua terima kok” kata

Vanila

Oleh:
Gemerincing angin bernyanyi dalam gelapnya malam. Pohon pinus yang menjulang tinggi seakan tertawa melihat satu Peri tertangkap untuk menjadi tumbal tuan besar Wolf-nya. Peri kecil berambut perak itu pun

Destiny

Oleh:
“Aku menunggu mu di lobby, sayang”. Aku tersenyum ketika membaca sebuah sms dari seseorang yang sangat aku cintai di sore itu. Segera aku membereskan berkas-berkas yang berserakan di meja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *