Indera Keenam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 25 May 2014

Embun pagi masih berbaring di kelopak-kelopak mawar. Wangi bunga-bunga di taman berpadu dengan bau rerumputan. Kicauan burung-burung pun terdengar dari jauh. Sungguh pagi yang indah.

“Hi, Zack!” Seorang mahasiswi menyapaku.
“Hi. How’s things?”
“Everything is nice.” Jawab Cece riang. “Ke kantin, yuk! Belum sarapan, nih.”

Di kantin, tampak Defra dan Mira sedang melahap sarapan pagi masing-masing. Mereka langsung menyapa aku dan Cece lalu memberi isyarat agar kami semeja dengan mereka.

“Tadi lagi ngomongin apa, sih?” Cece membuka percakapan.
“Biasa. Ngomongin para penggemar rahasia gue.”
“Ih! Kepedean banget,” tukas Mira dengan wajah penuh kerut. “Kita cuma ngebahas si misterius itu, Jiwa yang Fana.”
“Oh, ya? Jadi kalian udah pada tahu siapa JF sebenarnya?”
“Belum, sih.” Ujar Defra datar. “Tapi menurut insting gue, JF itu si Prisca. Dia itu kan hamba Facebook banget.”

Sejak sebulan yang lalu, tidak sedikit teman-temanku yang membahas siapa Jiwa yang Fana sebenarnya. Oleh sebab itu, banyak yang berspekulasi bahwa Jiwa yang Fana adalah Defra, Mira, Prisca, bahkan Awan.
Well, mereka salah. Jiwa yang Fana bukanlah salah satu dari keempat nama tadi. Jiwa yang Fana adalah orang yang patut dikasihani karena sudah dua kali dikhianati pacar sendiri. Jadi bukanlah hal yang mengejutkan bila ia sengaja menciptakan sebuah akun Facebook yang menurutku tidak bermanfaat. Karena akun itu hanya ia gunakan untuk mencerca orang-orang yang ia benci.
Sampai hari ini, Jiwa yang Fana masih menjadi topik hangat yang sering dibicarakan di kelasku. Menurut pengakuan beberapa temanku, Jiwa yang Fana sering mengusik mereka dengan mengirimkan pesan-pesan menyebalkan ke inbox masing-masing.
Sehubungan dengan hal itu, kecurigaan antara satu sama lain mulai menyeruak. Ya, teman-temanku mulai berspekulasi bahwa Jiwa yang Fana adalah si anu, si itu, dan seterusnya. Mereka tidak sadar bahwa memang itulah tujuan utama Jiwa yang Fana. Si misterius itu ingin melihat mereka saling mencurigai dan pada akhirnya saling membenci.

“JF itu si Prisca?” Suara Cece yang terdengar agak keras membuyarkan lamunanku. “Zack, menurut lo gimana? Dari tadi diem aja.”
“Ummm,” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. “Mungkin JF itu cuma hantu Facebook.”
“Hahaha!” Tawa cempreng Mira meledak. “Hari gini percaya hantu? Yang bener aja.”
“Hai, semua!”
“Hai.” Defra dan Mira melambaikan tangannya.

Aku dan Cece berbalik seratus delapan puluh derajat lalu kudapati seorang gadis yang sedang tersenyum. Namanya Silvi. Ia tipikal gadis yang cerdas dan modis. Sayangnya, ia banyak menyimpan dendam di dalam hati sehingga tanpa ia sadari rasa benci telah mengotori hatinya. Dialah Jiwa yang Fana

“Sarapan, yuk!” Ajak Cece ramah.
“Oh, lanjut aja. Gue udah sarapan di rumah.” Sahut Silvi sembari mengukir senyum.

Sarapan bareng kalian? No way! apalagi kalo deket-deket sama cowok yang udah nolak cinta gue. Itu elo, Zack. Dan satu lagi. Gue illfeel banget sama sohib lo itu. Asli, lebaynya nggak ketulungan. Heran, deh. Masa cowok setengah bule kayak lo mau temenan sama cewek udik kayak gitu. Dasar bule bego’.

Jam tanganku menunjukkan pukul 07.25 WIB. Lima menit lagi perkuliahan dengan Mr. Danu akan dimulai. Aku dan ketiga temanku segera meninggalkan kantin. Di gedung perkuliahan, kami berpapasan dengan seorang cowok yang wajahnya sangat kebapakan, namanya Awan. Ia menyapa kami hangat. Di antara kami berempat, hanya Mira saja yang tidak merespon sapaan cowok itu. Saat kulihat sepintas lalu, raut wajahnya tampak seperti kulit pisang yang sudah terlalu matang.

Sok ramah! Di luarnya aja yang kayak malaikat, tapi dalemnya brengsek banget.

Suara hati Mira mengingatkanku pada sebuah peristiwa. Waktu itu seluruh temanku berkumpul di sebuah ruangan untuk membahas rencana rekreasi ke Danau Toba. Di depan kelas, Prisca dan Digo menyampaikan informasi yang terkait dengan acara rekreasi tersebut.

Menurut kesepakatan awal, hanya tiga orang yang tak bisa mengikuti acara rekreasi itu. Namun, saat diskusi kedua berlangsung, jumlah teman-teman yang tidak ikut bertambah. Singkatnya, acara rekreasi tersebut menemukan dua option. Batal atau lanjut.

Untuk memperjelas dua pilihan tersebut, Digo angkat bicara. Katanya, kalau ingin batal atau lanjut, alasannya harus logis. Tujuannya agar dikemudian hari tidak ada kata-kata negatif tentang keputusan final dari rencana tersebut. Baik kata-kata itu datang dari cowok-cowok atau sebaliknya.

Tiba-tiba, Awan memukul meja. Seisi ruangan mendadak hening. Ia tersinggung atas apa yang baru saja ditegaskan Digo. Dari delapan belas cowok di kelas, hanya ia dan Leo yang tidak ikut rekreasi. Jadi bisa dipastikan bahwa kata-kata Digo telah memojokkannya dan Leo. Gara-gara ia tidak ikut, acara rekreasi bersama menemui kendala.
Awan memuntahkan kekesalannya. Di depan teman-teman, ia menunjuk Digo dengan sikap kurang ajar lalu berkata bahwa Digo seorang g*y. Aku sedikit tersentak.

Karena pernyataan Awan barusan, tidak sedikit teman-temanku yang menempelkan tangan di dada masing-masing. Bahkan beberapa cewek ada yang menangis. Mereka shock, sekaligus tak menyangka bahwa seorang Awan yang mereka kenal sangat ramah bisa mempermalukan orang di depan umum. Meskipun demikian, kalau Digo memang seperti yang ia katakan, apa hubungannya dengan rekreasi bersama?

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala detik itu. Dari apa yang telah kulihat, jelas sekali bahwa Awan mempunyai sentimen pribadi pada Digo. Aku tahu itu.

Prisca, Silvi, dan beberapa cewek pun angkat bicara. Dari tigapuluh orang yang ada di dalam ruangan, hanya Awan yang salah paham. Oleh sebab itu, mereka meminta Awan untuk segera meminta maaf pada Digo.

Sementara itu, Digo hanya tersenyum menanggapi kata-kata Awan tadi. Aku masih ingat bagaimana ekspresi wajahnya saat itu. Ia tampak tenang dan tegar. Ia bahkan tidak bergeming sedikitpun sehingga keinginanku untuk menyaksikan sebuah baku hantam antara dia dan Awan tidak kesampaian. Heran juga melihat Digo tidak marah sedikitpun. Lagipula, apa yang dikatakan Awan tentangnya sama sekali tidak benar. Kalau aku jadi Digo, sekujur tubuh Awan pasti telah lebam dan membiru.

Lokal B5 sudah terlihat. Aku menyudahi ingatanku tentang tuduhan Awan pada Digo karena sebentar lagi aku harus berkonsentrasi di dalam kelas. Hari ini aku harus mengikuti ujian tengah semester dan berita buruknya persiapanku masih nol persen. Tadi malam aku sengaja begadang. Salah satu stasiun televisi menyiarkan pertandingan seru antara Real Madrid dan Barcelona sehingga aku merasa wajib untuk mengikuti pertandingan tersebut sampai pukul empat dini hari.

Mr. Danu memasuki ruangan. Ia membawa lembaran-lembaran soal. Tanpa aku kehendaki, pikiran teman-temanku mulai terbaca. Mira, salah satu temanku yang tidak ada persiapan sama sekali untuk menghadapi ujian semester kali ini, bahkan berharap agar sebentar lagi terjadi gempa bumi.

“Hei. Awan sama Silvi kok belum masuk juga?” Tanya Cece setelah Mr. Danu membagikan lembaran-lembaran soal pada seluruh mahasiswa.
“Nggak tahu.”
“Aneh. Orang mau Mid Test mereka malah keluyuran.”
Aku angkat bahu. Mereka mau datang atau tidak, itu bukan urusanku.

Bzzzt! Aku melihat gagang pintu. Pada saat bersamaan, terdengar bunyi tetesan air dari keran yang bocor.
Hidup itu brengsek! Ini hari ulang tahun gue. Nggak ada satu pun yang inget apalagi ngucapin selamat. Nyokap, Bokap, temen, sama aja. Nggak ada yang peduli. Kalo udah gini, buat apa gue hidup? Buat Zack? Cowok itu bahkan nggak pernah melirik gue setelah gue bilang kalo gue suka sama dia.

Bzzzt! Samar-samar aku melihat seseorang yang menaiki tangga.
Aku pikir kejadian ini tidak akan terulang lagi. Waktu di SMA, aku pernah dikucilkan karena kata teman-temanku aku tidak selevel dengan mereka. Ribet, udik, nggak menarik, semuanya ada padaku. Sekarang, ketika aku telah menjadi seorang mahasiswa, aku kembali dikucilkan. Padahal tidak mudah bagiku untuk keluar dari masalahku saat SMA dulu lalu menjadi pribadi yang lebih menyenangkan.
Teman-teman di kampus banyak yang bilang kalau aku sering sekali salah paham dalam menafsirkan sesuatu. Semuanya juga makin memburuk setelah apa yang kulakukan pada Digo. Teman-teman menjauhiku, juga Leo. Ia bahkan menaruh empati pada Digo setelah aku mempermalukan cowok sok keren itu. Dunia memang tidak adil.
Dulu Leo begitu akrab denganku. Tapi semuanya berubah setelah ia satu kos dengan Digo. Ia sahabatku satu-satunya dan hanya dia yang bisa memahami pola berpikirku. Memangnya Digo itu pakai apa, sih? Sampai-sampai ia begitu disukai banyak orang? Bahkan di kampus pun banyak sekali dosen yang mengenalnya. Aku benci dia!

Itu suara Silvi dan Awan!

Ntar kalo mayat gue ketemu, kayaknya nggak ada yang bakal nangis deh.

Bulu-bulu halus di tengkukku meremang.

Mungkin tempatku bukan di sini. Lebih baik kuakhiri semuanya.

“Stop!” Suaraku menggelegar.

Denyut jantungku berpacu dengan helaan nafasku yang agak terengah-engah. Semula, aku hanya bisa mendengar suara-suara. Tapi sekarang, secara tiba-tiba aku mulai bisa melihat sesuatu yang berada di luar jangkauan indera penglihatanku.
“Zack?” Cece tampak kaget.
“Nggak ada waktu lagi! Silvi dan Awan mau bunuh diri!”
“Tenang, Zack. Tenang.” Mr. Danu mendekatiku. “Mungkin kamu sedang berhalusinasi.”
“No. Absolutely not, Sir.”
“Duduklah dan…”
“Maaf, Pak!” Kutepis tangan Mr Danu yang baru saja meraih bahuku agar aku merasa lebih baik. “Look! We need to move. Periksa semua toilet dan atap gedung di kampus ini. Silvi dan Awan mau bunuh diri!”
“Kenapa lo bisa tahu?” Tanya Cece sangsi.
“I’ll tell you later,” sahutku lantang.

Dari gedung B, aku dan beberapa orang temanku mulai berpencar. Mereka kuinstruksikan untuk memeriksa setiap sudut kampus setelah kupecah menjadi beberapa kelompok.

Rendi dan Defra ikut denganku. Dari gedung B, kami langsung bergerak ke gedung E. Jaraknya lumayan jauh sehingga kami harus mencapainya dengan berlari. Sudah tidak ada waktu lagi. Terlambat sedikit saja, kampus ini bisa geger oleh dua peristiwa bunuh diri.

Trrrt. Ponselku bergetar.
“Halo! Zack, Silvi udah ketemu.” Suara Cece terdengar samar.
“Syukurlah. Gimana keadaannya?”
“Dia baik-baik aja. O ya, Awan udah ketemu?”
“Belum.”
“Siapa?” Tanya Rendi dengan nafas ngos-ngosan setelah panggilan dari Cece berakhir. Cowok berkacamata itu baru saja berhenti di di depan anak tangga.
“Cece,” jawabku antusias. “Silvi udah ketemu.”
Sekarang, hanya Awan yang harus ditemukan. Semoga masih ada waktu.
Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan dan sepertinya berasal dari luar. Aku, Rendi, dan Defra saling bertatapan. Kami pun langsung menuruni tangga, melewati koridor, lalu mendapati kerumunan orang-orang di depan gedung F. Gedung perkuliahan tersebut berlantai enam dan posisinya berhadapan langsung dengan gedung E.

Detik itu, kekhawatiranku mencapai puncak. Apa yang aku takutkan telah terjadi. Awan tergeletak dengan kondisi yang mengerikan. Tengkoraknya pecah, salah satu indra penglihatannya lepas, dan cairan merah keluar dari beberapa anggota tubuhnya yang remuk. Sementara itu, tidak jauh dari mayat Awan, kudapati satu mayat lagi. Digo.
Tanpa kuinginkan, apa yang dipikirkan oleh orang-orang yang berada di sekitarku mulai terdengar.

Kayaknya tuh cowok pengen populer. Bunuh diri aja musti milih di kampus.

Ya, Tuhan. Tega sekali dia. Padahal cowok yang tadi itu kan hanya ingin menyelamatkannya. Kenapa ia malah mencelakai cowok itu?

Tidak jauh dari mayat Digo, tampak Leo yang berdiri dengan kepala tertunduk.

Ini salah gue, Go. Seandainya gue bisa cegah elo, pasti lo nggak bakal deketin Awan. Lo emang bodoh. Awan udah bikin nama lo jelek tapi lo malah bilang kalo lo udah maafin dia. Sekarang lo lihat sendiri kan? Niat baik lo buat nyelametin dia malah bikin lo kayak gini.

Bhuk! Seseorang memukul bahuku. “Woi! Udah mimpi apa aja lo?”

“Eh?” Kugosok-gosok kedua mataku untuk memastikan siapa yang sedang bicara denganku.
“Ditanyain malah bengong.” Cece menautkan kedua alisnya. “Tumben lo ketiduran di kelas.”
“Eh? Gue ketiduran? Hahaha.”
“Ketawa lagi,” Cece mencibir. “Ke kantin lagi, yuk. Masih laper, nih.”
“Lho? Emangnya Mr. Danu nggak dateng?”
Cece menggeleng. “Kata Defra, Mr. Danu ada urusan mendadak. Jadi, Mid semesternya diundur.”
“Wow! Good news!”
“So, what are you waiting for? Ke kantin, yuk.” Cece menarik lengan bajuku dan dengan terpaksa aku mengikuti keinginannya.

Ini ulang tahun terakhir gue. Seandainya Zack tahu….
Suara itu? Silvi.

Besok, suasana kelas ini pasti jadi lebih baik. Mereka tidak butuh aku. Bahkan Leo, sahabat sekaligus orang yang kusukai.
Bzzzt! Bagaikan kilat yang menyambar-nyambar, ada sesuatu yang tergambar di benakku. Dua jiwa telah menutup lembaran hidupnya dengan cara yang tragis. Seketika tubuhku lemas dan semuanya berubah gelap.

TAMAT

Cerpen Karangan: Sugito Amri
Facebook: rogeo_kutcher[-at-]yahoo.co.id

Nama: Sugito Amri
TTL: 02 Pebruari 1992
Hobby: Menggambar
Alamat: Bukittinggi, SUMBAR.

Cerpen Indera Keenam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Titisan Leluhur (Part 2)

Oleh:
Pada saat itu, keduanya begitu merasa bahagia dan keduanya saling mengungkapkan perasaan mereka untuk yang pertama sekali secara langsung berhadapan empat mata. Wahyu dan Laras berjanji akan saling setia.

Different World (Part 2)

Oleh:
“Nes, kamu kenapa?” tanya Steve. “enggak aku gak kenapa-kenapa” jawabku dengan nada lesu. “Oh ya udah aku ke kamarku dulu ya. Aku mau tidur siang bentar” jawab Steve. “oke,

Tubuhmu Membiru

Oleh:
4 November, 3025 Suara-suara itu masih terdengar. Tidak sedikitpun membuat lamunanku buyar, justru membangkitkan hasratku yang besar, bergemuruh bagai suara tuntutan yang harus dibayar. Aku berdiri di sini, di

Gadis Pemimpi

Oleh:
Di jalan suaka indah terdapat beberapa rumah yang sudah tak berpenghuni. Alhasil tempat ini dimanfatkan satu kelurahan warga asing alias HANTU! Salah satu rumah mewah nan megah, ada satu

Wireless Charging

Oleh:
Pada suatu malam yang dingin seorang mahasiswa bernama aji sedang berdiri di balkon rumahnya sambil menghisap asap rok*k sambil memikirkan nasib sahabatnya yang tadi pagi dimarahi oleh dosennya karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *