Indra Ke Enam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 31 March 2017

Sebisa bisanya mataku terbelalak, langkah gontaiku mengitari setiap sudut ruangan di dalam rumah. Ketertarikanku terhadap tidur di tengah malam membuatku terbiasa. Jelas saja, hari ini, aku kembali begadang. Menonton drama Korea yang selalu membuatku terbawa suasana. Dan tak henti hentinya ibu selalu menyuruhku untuk liburan di pulau kapuk.

“Sa, tidur!” Kata itu yang telah membuat hidupku berubah. Tapi, tak bagiku. Anak yang selalu seperti ini dengan sikap tak berubah.

Kali ini, aku masih mengusir kata ‘ngantuk’ dengan mencoba pergi ke gudang sendirian di pukul 01. 27 dini hari. Terasa suasana horor ketika mrlewati sebuah lorong pendek. Namun, membuatku semakin yakin dan berani agak agaknya.

Kriek, Pintu gudang yang mulai rapuh menandakan adanya umur tua di gudang itu. Kecintaanku pada sebuah boneka kayu yang terdiri rapi di meja kusam. Mainanku pada zaman kuno yang masih sempat kurapikan kutata di atas meja lagi dan mengembalikanya seperti semula.

Sesuatu yang mungkin tak kalian ketahui pada diriku jika aku mempunyai indra ke enam yang membuatku sering bertemu hantu. Tak jarang tidurku terganggu oleh roh yang bergentayangan di waktu tidur. Entah itu faktor kesengajaan jika orangtuaku membuka mata batin. Dan tampaknya roh Daruma San menghampiriku. Masih dengan wajah yang sama ketika ritual pemanggilan. Dengan baju putih compang camping.

“Kau!” Dengan bau busuknya yamg keluar dari mulut Daruma San.
“Ini!” Aku menampakkan sebuah jimat yang dipercaya bisa mengusir hantu itu. Daruma San pergi melayang.

Kisah hidupku dimulai dari cerita Indigo selanjutnya.

Cerpen Karangan: Fathiya Hasna Khairunisa

Cerpen Indra Ke Enam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Silver Light Legend

Oleh:
Mata Ane mengerjap, rembesan matahari memantul menusuk-nusuk iris cokelatnya. “Kamu sudah sadar, An?” suara gadis yang memunggungi Ane berbisik. “Tifa? Kita di mana? Kok, buminya terbalik, yah?” “Entahlah, waktu

Aku Melihat Ikan Paus Merah

Oleh:
Di desaku, pagi-pagi sekali para nelayan sudah turun melaut, beberapa ada yang membawa jaring besar, ada yang hanya membawa pancing. Ayahku, juga seorang nelayan, saban pagi ia turun melaut,

Pohon Berlian

Oleh:
Namanya Shaqueena Mardhiyyah. Biasa dipanggil Dhiyyah. Namanya cantik pemberian Almarhum dan Almarhumah orangtuanya. Memang Dhiyyah tinggal di tenda. Ia tinggal di hutan tetapi tak terlalu dalam. Sebenarnya, Dhiyyah harus

Karena Orangtuaku Sayang Padaku

Oleh:
“Di mana aku?” kanan-kiriku tak ada seorang pun, pada siapa aku bertanya? “Ah, mungkin di sana,” kataku pada diriku sendiri. Dalam gelap aku menyusuri lorong gelap yang lembab ini.

The Dark Memory

Oleh:
Perkenalkan namaku Aliana aku sedang menduduki kelas 1 di Golden Junior High School. Aku baru pindah ke sini, aku punya sebuah memori kelam yang aku tumpahkan ke sebuah tempat.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *