Jacob Lucifer (Pemakan Roh)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 3 April 2017

Angin berhembus kencang menyapu helaian rambut yang menutupi mataku. Kilatan cahaya membelah gumpalan awan yang hitam pekat tanpa disertai dengan bunyi gemuruh. Kawanan gagak api berterbangan ke mana-mana. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Apakah ada musuh? Kuhentakkan kakiku ke tanah dan tubuhku mulai melayang. Aku segera menyeimbangkan tubuhku menggunakan pikiran.
Lolongan serigala terdengar dari arah gunung di kotaku, Lux Abscon. Ini aneh, serigala gunung tidak akan melolong jika tidak ada bahaya. Aku segera mengendalikan tubuhku menuju Lux Abscon.

Lolongan serigala ini benar-benar membuatku khawatir. Aku melesat dengan cepat di antara pepohonan hyperion yang tinggi menjulang menutupi cahaya bulan, entah sudah berapa kali aku menabrak batang pohon. Pepohonan hyperion yang tinggi menjulang mulai tergantikan oleh padang rumput liar. Ini adalah padang rumput di kotaku, tapi kenapa suasana di sini sangat tenang? Apakah… ah, tidak mungkin. Kurasa penduduk kotaku cukup sulit untuk dikalahkan. Aku berjalan menyusuri sudut-sudut kota Lux Abscon. Tiba-tiba kepalaku terasa sangat sakit, seakan-akan ada yang berdengung kencang di telingaku. Kututup kedua telingaku rapat-rapat. Udara dingin di kota berubah menjadi sangat panas seperti di neraka.

Terdengar suara teriakan yang sangat melengking dan memekakan telinga. Aku berbalik badan ke arah datangnya suara itu. Tiba-tiba makhluk-makhluk dengan kobaran api di sekujur badannya terbang mengelilingiku. Aku segera berlari menghindarinya, napasku saling berkejaran dengan langkah kakiku. Aku bersembunyi di balik bangunan tua dan mencari mantera yang tepat untuk melawannya. Jika dia makhluk dari neraka, maka… Semoga mantera ini berhasil, “luminos!” Kuangkat tanganku ke arah makhluk itu dan kulafalkan mantera dengan penuh keyakinan. Cahaya keluar dari telapak tanganku dan makhluk itu menjerit, aku berhasil mengusirnya. Aneh sekali, hanya dengan mantera itu mereka ketakutan? Rasanya tubuhku ingin ambruk, pengelihatanku kabur, dan…

Dimana aku? Kenapa semuanya menjadi putih? Apa aku… ah, tidak mungkin.
“Apa dia baik-baik saja?”
“Apa kau gila? Dia melawan para pemakan roh sendirian. Maksudku, itu bukan hal yang akan dilakukan orang biasa.” Suara-suara itu seperti tali yang menarikku keluar dari ruang hampa. Mataku mulai terbuka dan pengelihatanku mulai jelas.
“Dia bangun!” suara serak seorang pria terdengar sangat keras.
“Hei, apa suaramu itu bisa lebih keras lagi?!” seorang wanita memarahinya.
“Akhirnya kau bangun juga, Lucifer.” Suara wanita di sebelahku menyebut nama belakangku, ia terdengar berwibawa.
“Nyonya Watson, sedang apa anda di sini?” Aku berusaha untuk duduk, tapi tubuhku seperti menolak keinginanku.
“Pertanyaan yang sangat tidak bermutu mengingat sekarang ini kau ada di rumah sakit.” Aku lupa kalau Nyonya Watson adalah kepala dokter di sini. “Tetapi aku juga sangat berterima kasih padamu karena kau telah mengusir para pemakan roh dari Lux Abscon.”
“Apa yang anda maksud? Pemakan roh?” tanyaku kebingungan.
“Kurasa kedua teman satu timmu ingin mengatakan sesuatu.” Ia keluar setelah mengucapkan terima kasih padaku.
“Tunggu sebentar, di mana guru? Bukannya dia menjalankan misi denganku?”
“Jake, guru bilang kau meninggalkannya saat di hutan. Dan saat guru sampai di kota, ia menemukanmu tergeletak di dekat bangunan tua. Sebelumnya ada orang yang melihatmu menggunakan mantera rahasia keluargamu untuk mengusir para pemakan roh.” Jelas Anna panjang lebar. Seperti biasa, ia tidak langsung pada intinya.
“Jadi, di mana guru sekarang?” tanyaku sekali lagi.
“Wali kota memanggilnya untuk membicarakan sesuatu.” Sahut Benji.
“Lalu, apa yang ingin kalian katakan?”
“Jake, walaupun sulit untuk mengakui ini, tapi sebaiknya aku harus mengatakannya padamu. Kami melakukan kesalahan saat menjalankan misi penyelamatan phoenix di neraka. Benji tanpa sengaja telah menarik perhatian para pemakan roh. Mereka mengikuti kami ke sini.” Jelas Anna.
“Aku? Bukannya kau yang memintaku untuk mengambil permata dari sarang pemakan roh?!” Sangkal Benji.
“Kumohon berhenti berdebat! Lalu di mana permata itu sekarang?”
“Aku dengan bijaksana telah mengembalikannya pada pemakan roh menjijikkan itu.” Kulihat raut kesal terpampang di wajah Benji.
“Kepala pertahanan bilang, pemakan roh akan kembali lagi ke Lux Abscon.” Kata Benji.
“Tapi kenapa seperti itu?”
“Pemakan roh bukan makhluk yang tinggal secara berpindah-pindah, mereka sekarang sedang tertarik untuk menggunakan kota kita sebagai tempat tinggal mereka.”
“Karena itukah penduduk diungsikan ke kota bawah tanah?” Benji hanya mengangguk.

Aku harus dirawat selama beberapa hari di rumah sakit karena tubuhku mengalami kerusakan setelah melakukan mantera rahasia keluargaku. Rasanya sangat tidak nyaman tidak melakukan apa-apa sementara para penyihir sedang berusaha menemukan cara untuk memusnahkan pemakan roh dan penduduk hidup menderita di kota bawah tanah.

“Jake!” Suara lantang Anna membuatku terkejut.
“Ups! Maaf, aku membangunkanmu?”
“Tidak, aku hanya sedang berpikir. Di mana Benji?”
“Benji sedang memberikan makanan di kota bawah tanah. Lupakan tentangnya. Hasil rapat penyihir telah keluar, mereka telah menemukan cara untuk mengalahkan mereka. Mereka membuat mantera baru yang serupa dengan mantera rahasia keluargamu.” Ucapnya dengan bahagia. Senyum manis merekah di wajahnya.
“Wow, itu sangat menggembirakan sekali.” Aku berusaha menutupi kebingunganku.
“Ada apa? Bukankah ini kabar yang menggembirakan? Nanti malam seluruh penyihir akan mengitari kota dan menghadapi pemakan roh. Kita pasti akan berhasil.”
“Anna, sepertinya ada yang aneh. Apakah menurutmu masuk akal jika para pemakan roh itu bisa kalah hanya dengan mantera seperti itu? Maksudku, mereka bukan makhluk biasa. Kita mempelajari tentang makhluk itu saat masih di akademi. Kita semua tahu kalau makhluk seperti itu memiliki kekuatan yang tidak bisa dianggap remeh.”
“Kau tahu, kau adalah penyihir paling berbakat menutku. Jadi aku tidak akan meragukan penyihir sepertimu dan aku percaya kita akan berhasil.” Sangkalnya dengan percaya diri. “Aku akan pergi ke luar untuk membantu Benji. Jika ada masalah gunakan mantera telepati.” Ia melenggang ke luar kamar. Sementara itu, kucoba untuk memejamkan mataku dan melepaskan diriku dari dunia nyata.

Tempat apa ini? Kurasa aku tidak pernah berada di sini? Di sini sangat gelap dan kotor. Suara gerangan seseorang terdengar dari arah belakangku. Aku segera bersembunyi di balik batu besar yang lebih cocok disebut dengan tembok. Kucoba mengintip sementara aku berdiri dengan defensif. Sebuah bayangan terpantul di tembok, sepertinya itu bukan manusia. Makhluk itu terus menggerang. Makhluk itu mulai mendekat. “Astaga!” aku hampir berteriak saat melihat pemakan rohlah yang datang. Setelah dia menjauh, aku mengikutinya dari belakang.
Mau ke mana dia? Apakah ia akan menemui kawanannya? Atau bahkan menemui pemimpinnya? Kalau begitu aku tidak akan melewatkan kesempatan ini. Mungkin aku akan mendapatkan informasi.

Dia memasuki sebuah ruangan gelap yang kelihatannya sangat sepi. Aku bersembunyi di balik batu tunggi yang menyangga batu-batu di atasnya.
Betapa terkejutnya saat aku melihat Benji duduk di atas batu yang diukir menyerupai singgasana. Ini tidak mungkin. Aku telah bersamanya sejak kami masih kecil. Tidak mungkin Benji adalah pemimpin makhluk menjijikkan itu. “Aku berhasil mengelabuhi mereka, Tuanku. Aku berpura-pura kalah saat anak payah itu menggunakan manteranya padaku. Nanti malam mereka akan menggunakan mantera yang serupa untuk melawan kami. Mereka tidak akan tahu kalau mantera itu akan membuat kami semakin kuat.” Terang pemakan roh itu dengan bangga.
“Kau benar, cahaya akan membuat kalian menjadi lebih kuat. Karena itu makhluk seperti kalian hanya memakan roh yang suci. Roh yang suci akan mengeluarkan cahaya bagi makhluk gaib seperti kalian.” Aku sangat terkejut mendengar perkataan mereka. Aku harus memberitahu ini pada teman-teman, tentang kelemahan mereka maupun tentang Benji.

Tiba-tiba tubuhku seakan-akan tersedot. Aku berada di tempat lain lagi. Seseorang berdiri di bawah cahaya bulan yang terpancar dari lubang di atasnya. “Siapa kau?! Berbaliklah!”
“Ambillah sebuah tongkat di bawah lantai tempat tidurmu dan arahkan tongkat itu kepada pemimpin mereka dan ucapkan mantera ini, ‘perisabil dispar’ semua akan kembali seperti semula.” Suara pria itu terasa familiar di telingaku. Aku bisa merasakan kenyamanan saat mendengar ia berbicara. “Ingatlah, pemakan roh adalah pengelabuh handal. Jadi jangan mudah terpengaruh olehnya.” Kemudian ia menghilang sebelum aku mengucapkan sesuatu. Cahaya putih yang sangat menyilaukan terpancar dari tubuhnya.

Mataku terbuka lebar-lebar. Ternyata hanya mimpi. Anna dan Benji sudah ada di kamarku saat aku membuka mata. Aku langsung melesat menghampiri Benji dan menguncinya. Kutatap matanya tajam-tajam, “alia ratio!” Kugunakan mantera untuk mengirim rohnya ke dimensi lain. Untuk sesaat aku merenungi apa yang telah kulakukan. Tapi tidak ada waktu untuk melakukan hal ini. Aku bergegas menuju tempat tidur dan menunjuk lantai di bawahnya. “Apertis!” lantai kayu itu meledak. Aku segera melihat sebuah tongkat di dalamnya. Sama seperti di dalam mimpi. Kemudian Anna mendekatiku.
“Returnate!” Ia mengucapkan mantera kepadaku. Tubuhku terpental jauh.
“Siapa kau sebenarnya? Kau bukan Anna.” Seharusnya aku menyadari ini sejak Anna meyakinkanku kalau mantera rahasia keluargaku akan berhasil.
“Kau benar, aku bukan temanmu yang cerewet itu. Aku sudah menguasai tubuhnya.”
“Dasar makhluk menjijikkan. Keluar dari tubuh Anna!” Aku merangkak mengambil tongkat, tapi makhluk dalam tubuh Anna memanteraiku lagi. Tanganku sangat panas.
“Protector!” Aku mengeluarkan makhluk penjagaku untuk mengalihkan makhluk dalam tubuh Anna. Sementara mereka bertarung, aku mengambil tongkat. Aku segera bangkit, bisa kulihat dari jendela para penyihir mulai mengalami kekalahan. Semoga ini berhasil.
“Perisabil dispar!” Aku mengeluarkan seluruh kekuatanku. Mantera ini cukup membuatku kelelahan. Mantera ini berhasil. Tubuh Anna menunjukkan reaksi, tubuhnya mengejang dan kemudian ia jatuh tergeletak. Napasku terengah-engah karena memakai mantera ini. Kulihat pemakan roh sudah mulai menghilang sedikit demi sedikit. Aku sudah bisa tersenyum karena masa-masa ini telah berakhir. Pengelihatanku kabur, tubuhku mulai lemas, sepertinya aku akan pingsan.

“Apakah dia akan bangun?”
“Ini sudah tiga hari sejak kejadian itu.” Mataku terbuka perlahan-lahan. Orang-orang mengelilingiku.
“Kalian semua?” tanyaku kebingungan.
“Ini sudah kedua kalinya dalam seminggu kau dirawat di rumah sakit, Tuan Jacob Lucifer.” Ucap Nyonya Watson, kali ini ia tersenyum. “Sekali lagi kami sangat berterima kasih padamu, Nak.”
“Kami bangga padamu, Jake.” Ucap Benji, ia duduk di kursi roda di dekatku.
“Benji?” Aku mulai teringat saat aku memanterainya. “Aku sangat menye?” ia mengangkat tangannya untuk menghentikanku.
“Anna juga sangat bangga padamu. Sayangnya dia masih di ruang isolasi untuk mencegah makhluk jahat merasukinya lagi. Kuharap bukan hanya makhluk jahat yang hilang tapi sifat cerewetnya juga.” Aku tersenyum mendengar perkataannya, semua orang juga ikut tersenyum.

“Apa kau ingin menceritakan pada kami kisah menakjubkanmu.” Suara seorang pria di ambang pintu.
“Guru!!!”
“Maafkan aku karena tidak bersamamu saat kau menghadapi hal buruk. Jadi ceritakan kisahmu padaku.”
“Aku akan mulai dari…”

Selesai

Cerpen Karangan: Rizal Boy Oktavian
Blog: bloginirizalboy.blogspot.com

Cerpen Jacob Lucifer (Pemakan Roh) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Behind The Gate

Oleh:
Hujan gerimis sore itu, menyisakan hawa amat dingin. Bahkan balutan sweater tebal, tak juga menghentikan getar tubuh Ane. Kaki kecilnya melangkah hati-hati. Ia kepayahan mengambil sesuatu yang terselip di

Pemuda Gila, Peri dan Bulan

Oleh:
Sore menjelang, dan pemuda itu berjalan menaiki bukit. Bukit yang sangat tinggi, bahkan awan pun selalu berada di bawah puncak bukit itu. Bukit yang sangat sepi, hanya terdapat padang

Carbon

Oleh:
Ada seseorang yang membuatku tertarik selama ini. Iris segelap malam milikku menatap ke arah luar jendela, tangan yang sedari tadi bergerak -membalikkan satu persatu halaman tipis sebuah buku bertemakan

Pusaka Membawa Petaka (Part 1)

Oleh:
Asap tebal pun mulai mengepul diiringi semerbak wangi harum dari dupa yang tertancap di bawah pohon beringin itu. Tak berapa lama.. Dessssshhhh!! Sebuah letupan kecil terjadi dari bawah sekitar

Malaikat Tanpa Sayap

Oleh:
Aku memandang muka bapak lekat lekat. Disana terlihat wajah kusam pertanda ia lelah. Seharian ini bapak sibuk mengguguri waktunya untuk mencari pekerjaan di ibu kota super kejam, aku menamainya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Jacob Lucifer (Pemakan Roh)”

  1. Lulu Mahmudah A says:

    Part 2 nya dong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *