Jingga Di Desa Pigura (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat), Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 18 January 2017

Di sebuah desa pinggiran bukit lereng Gunung Berapen hiduplah keluarga yang kurang mampu, keluarga itu mempunyai seorang putri yang bernama Jingga. Jingga yang kini berusia lima tahun telah menjadi anak yang lincah, cerdas, ramah, jujur, suka menolong serta penurut dan pemberani. Ayah Jingga yang bernama Marwan hanyalah seorang buruh perkebunan kopi dan ibunya yang bernama Marsini hanyalah seorang buruh di perkebunan teh. Dikarenakan penghasilan ayahnya yang tergolong rendah, maka Ibunya pun harus membantu bekerja dari pagi hingga sore hari. Bahkan tak jarang sampai malam hari jika pekerjaannya mengharuskannya untuk bekerja. Semua itu mereka lakukan guna mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Jingga sehari-harinya tinggal bersama neneknya yang bernama Marsiyem.

Mereka pun hanya bisa berkumpul ketika malam atau pagi hari, jika itu pun Jingga belum terlelap dalam mimpinya dan telah terbangun saat subuh. Karena kedua orangtuanya berangkat bekerja setelah selesai subuh. Jarak rumah dengan tempat kerja yang begitu jauh sekitar 15 kilometer yang mengharuskan mereka berangkat usai subuh menggunakan sepeda, agar tidak terlambat masuk kerja. Karena jika terlambat beberapa menit saja upah mereka akan terpotong. Begitulah kehidupan yang mereka jalani setiap harinya. Hanya secarik kertas berisi pesan dari ibunya yang selalu diberikan di meja sebelah tempat tidur Jingga, jika mereka tak sempat berkumpul untuk berbicara. Biasanya kata-kata petuah yang ibu Jingga tuliskan dalam pesan tersebut seperti “Jangan pernah bermain dekat Sungai Putih, jangan pernah nakal, jangan pernah merepotkan orang, jadilah anak yang pintar, baik, mandiri, jujur dan suka menolong, agar kelak engkau menjadi seorang putri yang cantik.”

Kehidupan di Desa Pigura berjalan seperti biasanya, sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani dan buruh. Karena letaknya masih di pinggiran lereng gunung, Desa Pigura belum dialiri listrik. Kalau malam hari mereka hanya menggunakan teplok yang berisi minyak tanah. Itu pun mereka dapatkan dari seorang agen minyak tanah yang keliling sampai ke Desa Pigura dua kali dalam seminggu. Jika agen minyak tanah tersebut tidak datang-datang ke Desa Pigura, maka warga hanya menggunakan kayu yang ada di perapian atau obor kecil guna penerangan di malam hari. Anak-anak Desa Pigura yang masih belum sekolah seperti Jingga setiap harinya bermain bersama-sama di pelataran rumah mereka. Dan bagi anak yang telah bersekolah setiap harinya berangkat ke sekolah berjalan kaki menyeberangi Sungai Putih melalui jembatan yang dibangun menggunakan kayu diikat dengan tali temali dari ujung ke ujung. Itu pun jika ada angin kencang atau ketika ada beberapa orang menyeberang maka jembatan akan bergoyang-goyang. Tapi karena sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu warga ataupun anak-anak yang sering melintasi jembatan itu tak pernah takut akan terjatuh. Maka dari itu jembatan tersebut diberi nama oleh warga dengan sebutan jembatan ayun. Karena jembatan ayun tersebut yang menghubungkan ke desa lainnya yang paling terdekat, ketimbang mereka harus melalui jalur setapak yang jaraknya dua kali lipat. Padahal jarak Desa Pigura ke desa lainnya berkisar 5 kilometer ketika warga melalui jembatan ayun. Berarti anak-anak yang sekolah setiap harinya harus menempuh jarak pulang pergi sekitar 10 kilometer. Hal itu tidaklah menyurutkan semangat bagi anak-anak Desa Pigura untuk bersekolah, agar cita-citanya yang setinggi langit dapat terwujud.

Jembatan ayun itu dibangun warga untuk mencari jalur alternatif agar ketika harus ke desa lainnya tidaklah terlalu jauh. Perdebatan antar warga saat pembuatan jembatan ayun sangatlah sengit, karena jembatan itu harus melewati Sungai Putih. Konon katanya tersirat kabar ada seekor ular putih yang setiap malamnya melintasi sungai tersebut. Tapi memang air yang mengalir di sungai itu sangatlah jernih dan tenang. Bahkan selembar daun pun enggan untuk singgah di sungai tersebut. Dan bulan pun sangat senang sekali berkaca di air Sungai Putih. Air tersebut berasal dari Gunung Berapen. Dan karena mitos tersebutlah warga akhirnya sepakat membangun jembatan di atas Sungai Putih dengan syarat harus melakukan ritual semacam memberikan sesajen dan doa, agar warga terhindar dari bencana.

Suasana desa sangatlah tenang, sejuk serta asri. Karena letak Desa Pigura berada persis di bawah kaki Gunung Berapen dan dikelilingi oleh Sungai Putih yang lebarnya ada sekitar 30 meter dengan kedalaman mencapai 5 meter dan panjangnya sampai menembus ke laut selatan. Banyak pepohon rindang dan lebat tumbuh di daerah tersebut seperti pohon jati, pinus, maoni dan lain sebagainya. Karena memang daerah sekitar Desa Pigura dikelilingi hutan yang lebat. Tidak jarang pepohonan tersebut digunakan oleh warga untuk kebutuhan mereka, tapi tidaklah sampai merusak habitatnya. Mereka tetap menjaga kelestarian alam. Saat subuh dan malam hari embun mulai menyelimuti Desa Pigura, seolah ingin selalu membuat desa tetap merasakan kesejukannya. Bahkan ketika matahari mulai menampakan diri, suasana di desa masihlah terjaga kesejukannya. Seakan terik yang dipancarkannya tidaklah membuat warga sampai tersengat bahkan terbakar. Setiap harinya warga menggunakan baju panjang tebal atau jaket serta bercelana panjang, agar mereka tetap hangat dan nyaman. Tidak jarang didalam rumah mereka ada ruangan untuk perapian, agar ruangan di dalam rumah terjaga kehangatannya. Sebagian besar rumah warga Desa Pigura rata-rata hanya terbuat dari kayu, beratapkan dedaunan serta beralaskan tanah. Hal itu tidaklah membuat mereka berkecil hati untuk tetap mengarungi kehidupan ini. Bahkan mereka merasa senang dan nyaman tinggal di Desa Pigura. Kehidupan bergotong royong pun terbangun dengan baik di desa.

Anak-anak suka sekali melihat dan bermain kunang-kunang di malam hari. Apalagi kalau bulan bersinar terang benderang. Ia mirip bintang gemintang di langit yang begitu semarak di malam hari. Anak-anak senang mengejar serta menangkapnya untuk dimasukkan di dalam plastik putih dan dibuat untuk mainan. Tapi jika itu terlalu lama ditaruh di dalam plastik, maka kunang-kunang tersebut pastilah mati karena kekurangan udara. Apabila salah satu anak ada yang kunang-kunangnya mati dan tidak dapat untuk dibuat bermain, maka ia akan menangis dan meminta orangtuanya untuk menangkapnya lagi. Bahkan ada anak yang suka main rebut kepunyaan temannya, sehingga sering membuat pertengkaran. Jika sudah demikian Jingga selalu melerai anak-anak yang bertengkar dan mendamaikan mereka. Jingga selalu membantu mereka menangkap kunang-kunang dan memberikannya kepada mereka yang membutuhkan, agar semua teman-temannya dapat bermain bersama. Jingga adalah anak yang baik hati dan tidak suka membeda-bedakan teman-temannya, bahkan ia sering membantu teman yang sedang dalam kesusahaan. Walau usianya yang masih tergolong balita, Jingga sudah mampu hidup mandiri dan tidak membuat repot orang lain. Ia ingin membuat semua orang bahagia. Para orang tua mereka pun selalu mengawasi serta menjaga anak mereka saat bermain di malam hari. Karena suasana malam di Desa Pigura yang cukup menyeramkan bagi orang yang belum pernah sama sekali tinggal di desa tersebut. Banyak terdengar suara-suara binatang malam, ranting-rating dan dedaunan yang bergesekan karena tertiup angin serta banyak hal lainnya, yang membuat Desa Pigura seakan begitu menegangkan. Padahal bagi warga hal itu sudah biasa mereka dengarkan. Tapi untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, maka warga hanya memperbolehkan anak-anak mereka bermain sampai suara Adzan Isya terdengar. Dan anak-anak sudah harus masuk ke rumah masing-masing.

Di suatu malam yang penuh dengan bintang gemintang dan cahaya bulan yang sungguh mempesona, Jingga telah terlelap dalam tidurnya. Karena telah lelah seharian bermain dengan teman-temannya. Didalam tidurnya yang begitu nyenyak, ia bermimpi bertemu seorang peri yang sangat cantik jelita. Peri tersebut mengajak Jingga bermain-main di sebuah hutan. Dan ternyata hutan yang peri tersebut ingin perlihatkan kepada Jingga adalah sebuah Istana Peri yang sangatlah megah dan menawan, penuh dengan para peri-peri cantik, para kurcaci, taman-taman bunga yang indah, pohon buah-buahan yang segar, makanan serta minuman yang beraneka macam, kupu-kupu nan warna-warni, serta pernak-pernik kehidupan lainnya yang sangatlah menarik. Persis seperti dalam dongeng yang suatu malam nenek Jingga selalu ceritakan saat menemani tidurnya. Memang setelah mendengarkan cerita dari neneknya itu, Jingga selalu berangan-angan ingin sekali menjadi seorang putri cantik jelita di sebuah istana yang sangatlah megah dan menawan, berhati baik, rendah hati, suka menolong serta dicintai oleh rakyatnya. Tentunya didampingi oleh seorang pangeran yang tampan, baik hati dan gagah berani. Tapi yang membuat Jingga kaget dalam mimpinya itu, sang peri yang cantik jelita tersebut bersama seekor ular putih yang sangatlah besar dan panjang sekali. Ular itu sejenis phiton, dengan ukuran besar sekitar 3 meter dan panjang sekitar 300 meter. Awalnya Jingga sangatlah senang bermain-main bersama sang peri yang cantik jelita tersebut di sebuah istana yang megah dan menawan, tetapi ketika melihat seekor ular putih ada bersama mereka, Jingga menjadi takut dan berlari bersembunyi dibalik sebuah pohon. Padahal ular itu sedari tadi bersama sang peri, tapi Jingga belum menyadarinya. Akhirnya sang peri mencoba menenangkan serta menjelaskan tentang ular putih tersebut kepada Jingga. Yang sebenarnya ular putih tersebut adalah sahabat sang peri sejak kecil, jadi kemanapun sang peri pergi ular putih tersebut akan selalu ada di sampingnya. Saat Jingga ingin bertanya tentang siapa nama dan dari manakah sang peri dan ular putih tersebut berasal, suara ayam berkokok telah membangunkannya. Ia sangatlah menyesal karena harus terbangun dan tidak bisa melanjutkan mimpi indahnya.

Keesokan harinya, Jingga menceritakan mimpinya kepada teman-temannya. Teman-temannya sangatlah senang mendengar cerita dari mimpi Jingga semalam. Dan ada pula teman yang merasa takut akan cerita dalam mimpi itu, terutama ketika Jingga menceritakan seekor ular putih yang besar dan panjang tersebut. Tidak hanya kepada teman-temannya Jingga bercerita tentang mimpinya, ia juga menceritakannya kepada nenek dan kedua orangtuanya. Kedua orangtua, nenek serta teman-temannya menganggap itu hanya bunga tidur. Tetapi Jingga meyakini bahwa dalam mimpinya itu seperti sebuah kenyataan, yang suatu saat dirinya pasti akan dipertemukan dengan peri cantik dan ular putih di sebuah istana yang megah dan menawan. Mimpi itu tetap melekat dan sangatlah sulit hilang dalam ingatan Jingga. Karena ia merasa seperti mengenal dan tidak asing dengan tempat dimana dirinya bertemu dengan sang peri dan ular putih di dalam mimpi itu. Ia berencana ingin mencari istana sang peri dan ular putih itu. Bahkan rencananya itu ia sampaikan kepada teman-temannya, siapa tahu ada teman-temannya yang juga tertarik ingin bertemu sang peri dan ular putih di sebuah istana yang megah dan menawan. Sayangnya teman-temannya tidak ada satupun yang mau mengikuti rencananya itu. Sebenarnya ada beberapa teman yang mau mengikuti rencananya mencari istana sang peri dan ular putih itu, tapi karena teringat pesan orang tua mereka yang melarang untuk tidak bermain jauh-jauh dari rumah, apalagi sampai bermain ke dekat Sungai Putih atau kedalam hutan. Maka mereka pun tidak berani melanggar pesan dari orangtuanya. Bahkan sebenarnya Jingga telah dilarang juga oleh kedua orangtua dan neneknya, untuk tidak bermain jauh-jauh dari rumah. Karena tidak didukung oleh teman-temannya dan teringat pesan kedua orangtua serta neneknya, maka Jingga membatalkan niatnya untuk mencari keberadaan istana sang peri dan ular putih.

Di malam harinya, Jingga bermimpi kembali bertemu dengan sang peri dan ular putih. Berbeda dengan mimpinya yang terdahulu, kali ini Jingga diminta sang peri untuk naik di atas punggung ular putih bersama sang peri. Awalnya Jingga merasa takut dan risih, tapi karena diberi pengertian serta penjelasan dari sang peri, akhirnya Jingga naik juga ke atas punggung ular putih. Ular itu meliuk-liuk menyusuri sungai dan melewati perbukitan, lalu masuk ke dalam hutan. Di dalam hutan itulah sebuah istana megah nan menawan berada. Tapi yang membuat Jingga heran dan kagum saat dirinya dan sang peri naik diatas punggung ular putih menyusuri sungai, badan serta pakaian yang ia kenakan tidaklah basah. Dan sang peri mengetahui apa yang sedang Jingga pikirkan saat itu. Maka dengan perlahan sang peri memberikan penjelasan tentang semua itu, sehingga Jingga pun mengerti. Sebenarnya badan dan pakaian yang ia kenakan basah kuyup saat menyusuri sungai, tapi karena kecepatan ular yang berjalan seperti angin topan maka dengan seketika pula badan serta pakaiannya kembali kering. Semua yang terjadi itu diluar dari pengetahuan Jingga. Dan ketika telah berada di istana, Jingga teringat akan sebuah pertanyaan yang saat itu belum sempat ditanyakan, tentang siapa nama dan dari manakah sang peri dan ular putih berasal. Maka saat itu sang peri memperkenalkan diri. “Putri Imer,” ucap sang peri. Putri Imer tak lupa juga memperkenalkan ularnya yang diberi nama Nur Putih. Dan Jingga pun memperkenalkan dirinya, walaupun Putri Imer dan Nur Putih telah mengenalnya. Pertemanan mereka semakin dekat, bahkan Jingga diperlakukan layaknya seorang putri oleh mereka. Yang sebenarnya Putri Imer adalah seorang ratu di Istana Peri tersebut. Di Istana Peri itu Jingga banyak sekali belajar dan mengenal tentang kehidupan. Tentang bagaimana ia menjaga sikap serta menyayangi dengan penuh kasih tidak hanya dengan sesamanya manusia tapi dengan semua makhluk ciptaan Tuhan. Tentang bagaimana merawat, menjaga, melindungi serta menolong semua ciptaan Tuhan. Tentang bagaimana jika ada orang atau makhluk lainnya yang ingin mengganggu atau mencelakainya. Tentang bagaimana ia harus tetap menjadi orang yang penuh kasih, sabar, penolong, jujur serta pemberani. Dan masih banyak hal baik lainnya yang ia pelajari di Istana Peri. Jingga sangatlah senang berada di Istana Peri Putri Imer dan Nur Putih. Jingga pun menceritakan cita-citanya kepada Putri Imer dan Nur Putih, kalau dirinya ingin sekali membahagiakan orangtua, nenek dan orang-orang di desanya. Ia ingin sekali bisa bekerja di kota dan menjadi wanita karir yang hebat dengan membawa uang banyak untuk bisa membahagiakan orangtua, nenek serta orang-orang di sekitarnya. Karena dirinya menganggap kehidupan di kota lebih baik daripada di desanya. Sehingga dirinya bisa seperti seorang putri yang mampu membuat semua orang senang dan bahagia serta bisa membuat desanya akan menjadi lebih baik. Putri Imer pun memberikan pengertian serta penjelasan tentang cita-citanya itu. Putri Imer mengatakan kalau cita-citanya itu sangatlah baik dan mulia. Tetapi apakah dengan kita harus hidup di kota dan menjadi wanita karir dengan membawa uang yang banyak akan membuat diri kita dan orang di sekitar kita bahagia. Karena kehidupan kota tidak seperti yang Jingga bayangkan. Banyak hal kurang baik yang terjadi di kota, seperti polusi udara, polusi suara, pencemaran lingkungan, dan lainnya. Bahkan jika sudah berkaitan dengan uang, akan banyak sekali hal yang kurang baik terjadi, seperti iri dengki, sikut sana sini, dan banyak lainnya. Menurut Putri Imer di desa jauh lebih baik, karena kehidupan di desa masih sangat sejuk, asri, guyup, rukun dan tenteram. Masih ada tepo seliro, gotong royong dan banyak hal baik lainnya yang ada di desa. Yang sangatlah jarang sekali ditemukan di kehidupan kota. Walau ada juga orang kota yang masih berperilaku baik. Jingga pun akhirnya mengerti akan semua itu. Dan kini ia menetapkan diri untuk selalu menjaga serta merawat desa tercintanya. Akhirnya Jingga kembali terbangun dari mimpinya, ketika Ibunya mencium keningnya seperti biasa dilakukan saat hendak berpamitan untuk berangkat kerja.

Cerpen Karangan: Herlambang Kusumawardana
Facebook: Lambang Pisungsung[-at-]facebook.com
Nama: Herlambang Kusumawardana
Tempat/Tgl Lahir: Klaten, O5 April 1978
Alamat Rumah: Griya Indo Permai C-39 RT. 003 RW. 015 Tambakaji, Ngaliyan, Semarang, Jawa Tengah
Pengalaman
Puisi dan Sajak dimuat di Harian Bangka Pos
Puisi dimuat dalam Antologi Puisi “Tidak Ada Titik Masihkah Kalian Melawan”
Tahun 1994-2000 bergabung dengan Teater CUK di Klaten
Tahun 2000-2002 sebagai Ketua II Bidang Eksternal Paguyuban Seniman Muda Klaten “Pisungsung” di Klaten
Tahun 1998-1999 sebagai Wakil Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Kampus di AAP “Bentara Indonesia” Surakarta
Tahun 1999-2000 sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa di AAP ” Bentara Indonesia” Surakarta
Tahun 1998-2001 bergabung dengan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Surakarta
Tahun 2007 bergabung dengan Teater Lentera di Pangkalpinang-Bangka

Cerpen Jingga Di Desa Pigura (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Doppelganger

Oleh:
“Hei, Rika, kemarin sombong banget sih,” Ujar Dika sambil membalikkan badannya, menatap seorang gadis bersurai cokelat ponytail yang baru saja duduk di meja di belakangnya. “Maksudnya?” Iris caramel Rika

Putri Bulan dan Dewa Laut

Oleh:
Dahulu terdapat sebuah kerajaan bulan dan kerajaan laut yang terjadi kisah cinta antara Putri bulan yang sangat cantik dan Dewa Laut yang sangat tampan yang mendapat pertentangan dari Orangtua

Sialnya Bocah

Oleh:
“Alamak… susah betul lah cari cerita yang berbobot ni… ei, ada sesiapa yang mau membantu saya tak?” tanya seorang anak Malaysia di hutan belantara Kalimantan. Suasana hening tak menentu,

Dunia Kita Berbeda

Oleh:
Namaku Vesya. Aku adalah seorang gadis berkacamata yang duduk di bangku kelas X SMA Nusa Bangsa, selain gadis yang berkacamata aku juga seseorang yang pendiam dan tidak terlalu akrab

Bahasa Kami Berdua

Oleh:
Metias. Nama yang menurutku agak aneh. Biasanya, namanya ditulis sebagai “Matias”, atau disebut sebagai “Matius”. Yang jelas, Metias bukan nama yang sering kudengar. Metias melangkahkan kakinya memasuki kelas kami.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *