Joddy & Kampung Bejo

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 5 July 2013

Di Kampung Bejo (sesuai namanya yang berasal dari sebuah kata bahasa jawa yang berarti “untung”) keberuntungan terjadi setiap saat disini. Siapapun orangnya, bagaimapun kondisinya, dan kapanpun waktunya keberuntungan hampir selalu saja terjadi bagi orang-orang yang memasuki wilayah kampung itu.

Joddy, seorang pemuda melarat dari Kota mendengar keistimewaan Kampung Bejo. Ia memutuskan untuk pergi ke Kampung Bejo untuk merubah nasibnya. Untuk pergi ke sana ia terpaksa menumpang dengan truk pemasok unggas karena ketidakadaan biaya yang sangat. Sedikit usaha diawal akan membuat ini bagus, pikir Joddy.

Joddy tiba di Kampung Bejo saat tengah hari. Ia langsung dikejutkan oleh suasana yang sangat aneh, suasana yang penuh dengan faktor keberuntungan. Jalanan di kampung itu terbuat oleh beton tebal yang diatasnya dilapisi rumput gajah yang terlihat baru. Juga terdapat beberapa lampu taman dari perunggu di pinggir jalan. Namun yang membuat Joddy sangat kagum adalah kebersihan kampung ini, sepanjang matanya mampu memandang, sama sekali tidak ada sampah yang terlihat, walau hanya selembar daunpun. Hal ini cukup aneh mengingat bahwa di pinggir jalan juga tumbuh berbagai macam pohon berdaun lebat. Hanya keberuntungan yang bisa melakukan hal seperti ini, pikir Joddy.

Pandangan Joddy jatuh pada sebuah warung makan yang ada di seberang jalan tempatnya berdiri. Walaupun papan didepannya bertuliskan warung makan tetapi tempat itu lebih mirip sebuah restoran mewah. Tidak seperti restoran-restoran mewah yang ada di Kotanya yang pada umumnya terlihat sepi, restoran (warung makan) itu terlihat penuh sesak oleh orang-orang. Dan yang makin aneh lagi, Joddy tidak melihat penjaga ataupun pelayan di restoran itu. Semua orang mengambil dan membayar sendiri makanan mereka. Konsep ini mirip seperti kantin kejujuran yang sering dipraktikkan di sekolah-sekolah elit di kotanya.

Uang untuk membayar makanan yang di pesan diletakkan di sebuah keranjang besi besar yang terletak di sudut depan restoran itu. Dan karena restoran itu sangat ramai, uang yang ada di keranjang besar itu membentuk sebuah tumpukan besar uang yang bahkan dapat terlihat jelas dari tempat Joddy berdiri.

Joddy berniat pergi ke restoran itu untuk membeli sesuatu bagi perutnya yang sudah berpuasa sejak 2 hari lalu. Setelah berpikir sangat panjang yang lamanya seperti sepanjang jaman, Joddy akhirnya memberanikan diri untuk pergi ke restoran itu meski tidak memiliki uang sepeserpun. Dari pemikirannya tadi ia sadar, bahwa ia tidak memerlukan uang di kampung ini “Yang benar saja, ini kan Kampung Bejo keberuntungan menggantikan peran mata uang disini…” katanya dalam hati. Lagipula di restoran itu tidak ada yang akan memperhatikan apakah ia akan membayar makanannya atau tidak. Sebuah pencurian kecil yang akan ia lakukan takkan disadari oleh siapapun. “…Ini pasti keberuntungan pertamaku”, lanjutnya.

Saat ia ingin menyebrang ke restoran itu, ia melihat di dekat tempatnya berdiri ada dua lembar uang pecahan seratus ribu dollar yang di lipat jadi satu. Ia menatap uang itu lama. Sangat lama sampai akhirnya ia mengambil uang tersebut dan memasukkannya ke dalam saku kemeja coklatnya yang dulu pernah berwarna putih.

Dengan perasaan enteng Joddy mulai melangkahkan kaki lagi untuk menyebrang jalan menuju restoran itu. Dengan uang disakunya ia membatalkan niat mencuri dari restoran itu. Bahkan dengan uang itu ia tidak perlu lagi terus-terusan pusing memikirkan kelangsungan hidupnya kedepan. Atau setidaknya untuk saat ini.

Sekarang yang ia pikirkan hanyalah kesenangan hidup yang ia yakini akan segera ia rasakan. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia akan makan sampai kenyang. Menemukan uang dua ratus ribu tergeletak di pinggir jalan begitu saja adalah sesuatu yang mustahil akan dialaminya jika ia tetap tinggal di kota. Namun dengan tidak sampai lima belas menit ada di kampung ini, ia langsung mengalami kemustahilan itu. Sungguh beruntung. Restoran dan uang dua ratus ribu ini baru awalnya. “Mulai sekarang keberuntungan akan selalu menghampiriku”, pikir Joddy.

Karena asyik dengan pikirannya, saat ia mencapai 3/4 perjalanannya menyebrang Joddy tidak menyadari bahwa sepuluh meter dari arah kirinya muncul dari sebuah gang, ada sepasang muda-mudi yang mengendarai sebuah mobil SUV mewah dengan kecepatan yang sedang yang melaju tepat ke arah Joddy. Kedua muda-mudi itu nampaknya juga tidak menyadari bahwa di depan jalan mereka ada orang yang sedang menyebrang.

Joddy – si penyebrang jalan itu – yang masih asyik dengan pikirannya belum menyadari bahwa ada bahaya yang mendekat. Sensor alami tubuhnya baru bereaksi saat bahaya itu mencapai jarak lima meter darinya. Joddy sontak melompat ke depan. Si pemuda yang mengendarai SUV mewah bersama teman wanitanya tadi langsung membanting stir ke kanan untuk menghindari Joddy sambil menghujat orang bodoh yang menyeberang tanpa lihat-lihat itu. Joddy yang tadi melompat tanpa sadar tersandung zebra cross tinggi di pinggir jalan, 10 cm didepannya. Zebra cross itu membuat kaki Joddy tersangkut. Bagian atas tubuhnya yang masih melayang di udara karena kekuatan lompatannya tadi tertahan dan terhempas ke bawah dengan cepat, keadaan semakin memburuk setelah Joddy menyadari bahwa di tempat kepalanya akan mendarat nanti ada sebuah Hydrant pemadam api yang cukup besar. Akhirnya kepala Joddy benar-benar jatuh membentur Hydrant pemadam api itu dengan sangat keras, teriakan-teriakan pengunjung restoran di depan ikut meramaikan kekacauan siang itu. Setidaknya hampir semua orang beruntung kecuali Joddy.

Tamat

Cerpen Karangan: Nuansa Adidaya
Facebook: Nuansa Adidaya

Cerpen Joddy & Kampung Bejo merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Payung Merah (Part 2)

Oleh:
Adzan subuh dari masjid dekat rumah membangunkanku. Sambil merenggangkan badan dan menguap selebar-lebarnya aku duduk di pinggir ranjang guna mengumpulkan nyawaku. Setelah merasa sedikit segar, aku ambil handphoneku yang

El Corto

Oleh:
Matahari terasa terik sekali siang ini, tiada awan, tiada angin berdesir, hanya panas terik menyengat. Dua orang sedang asyik mengobrol, atau lebih tepatnya satu orang yang berorasi dan satunya

Tak Lekang Oleh Waktu (Part 1)

Oleh:
Di suatu kota, tepatnya di Bandung, hidup dua orang yang bersahabat karib sekali sejak kecil, mereka adalah Joe Sandy dan Abu. Joe merupakan seseorang yang cerdas dan hidup sendiri

The Bad Girl Is The Beauty Girl

Oleh:
Pemenang Lomba Melukis & Cerpen Fuzi Azoya Hadiah: Uang sebesar 3 jt + Laptop & HP Pengumuman itu dipasang di mading sekolah. Ini sangat menarik bagi semua siswa-siswi. Gimana

Joana (Part 2)

Oleh:
Aku terus berpikir apa yang sedang terjadi. Setelah bel istirahat berbunyi lola mengajakku untuk ke kantin bersama namun aku menyuruhnya pergi duluan nanti aku menyusul, sebenarnya aku ingin berbicara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *