Kalung Liontin Merah (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 18 January 2016

“Aku nggak akan menangis. Hal itu hanya dilakukan oleh orang lemah,” ucapku dalam hati. Tapi ternyata pikiranku tak sejalan dengan hatiku yang telah tergores sekian lama.

Tersirat banyak luka yang terpendam. Aku merasa seperti orang asing dalam rumah ini. Juga di dalam lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi rumah keduaku. Dan mungkin di dalam dunia ini. Ya, mereka memang menganggapku ada. Ada di saat ku menjadi bahan tertawaan dan tempat pelampiasan emosi. Mereka tak pernah mendengarkanku yang mencoba membela diri. Aku harus mengalah dan kalah. Hanya siksaan psikis yang selalu mengingatkanku pada perbuatan mereka yang ku anggap tak adil. Tapi mau bagaimana lagi? Aku selalu mencoba untuk menjadi pribadi yang kuat, namun selalu gagal karena hatiku yang lemah.

“Aku.. lemah,” kataku ditemani air mata yang mengucur deras.

Sampai pada suatu malam, aku menyembunyikan diri di dalam selimut. Aku tak ingin diganggu oleh apa pun dan siapa pun. Di tengah kesendirian yang sunyi, terlintas beberapa pertanyaan di benakku. Mengapa mereka selalu memperlakukanku secara tak adil? Apakah aku pernah melakukan sesuatu yang salah? Tidak. Semua yang ku perbuat selalu mereka anggap salah. Lalu mengapa aku dilahirkan seperti ini? Atau.. Siapa aku sebenarnya? Pertanyaan-pertanyaan itu semakin membuatku merasa sedih dan bingung. Aku tak tahu apa yang harus ku perbuat. Aku pun terlelap.

“BRAAKK!!”

Suara seperti benda jatuh ini membangunkanku. Aku membuka selimut dan menggerakkan bola mataku ke setiap sudut ruangan. Ternyata hanya lampu belajarku yang jatuh. Aku memang tak pernah mematikannya saat tidur. Tunggu. Mengapa lampu itu bisa jatuh? Rasanya, aku sudah meletakkannya di tempat yang aman. Aku beranjak dari kasur menuju ke dekat lampu itu. Aku membungkukkan badanku dan meraih lampu belajar itu.

Sebelum sempat berdiri tegak, aku melihat sepasang sepatu boots hitam tepat di depanku. Kepalaku mulai bergerak ke atas dan melihat sosok berjubah hitam dengan wajah manusia. Aku langsung berlari ke kasur dan melompat ke dalam selimut. Setelah cukup lama, aku memberanikan diri membuka selimut dan apa yang ku lihat membuatku duduk ketakutan. Sosok misterius itu belum beranjak dari tempatnya semula. Lalu ia mengarahkan pandangannya padaku dan memulai pembicaraan.

“Apakah kamu benar-benar ingin mengetahui siapa dirimu sebenarnya? Aku dapat membantumu,”
Aku tak menjawab.

“Hahaha. Jika kamu memang ingin mengetahui siapa dirimu sebenarnya, percayalah padaku. Aku tidak akan berbohong padamu,” kata sosok misterius itu meyakinkan.
“Iii..yaa. Saya memang ingin mengetahui jati diri saya sebenarnya. Lalu bagaimana anda dapat membantu saya?” tanyaku dengan sedikit keraguan.
“Carilah sebuah kotak hitam yang disimpan oleh kedua orangtuamu. Petunjuk selanjutnya berada di dalam kotak itu,” jawab sosok itu dengan suaranya yang agak berat.
“Petunjuk?” sahutku heran.
“Ya, petunjuk untuk mengetahui siapa dirimu sebenarnya,” ucapnya.

Aku mulai berpikir. Apakah aku dapat mempercayainya? Apakah semua yang dia katakan adalah kebenaran? Saat aku hendak bertanya lagi dengan sosok itu, tiba-tiba dia menghilang dalam kejapan mata. Aku pun tersentak dan mencubit pipiku untuk memastikan bahwa apa yang ku alami hanyalah mimpi. Cubitan itu terasa sakit, pertanda kejadian yang baru ku alami adalah nyata. Aku terdiam. Aku masih tidak percaya dengan semua ini.

Kalau apa yang ia katakan adalah kebenaran, berarti papa dan mama sudah menyembunyikan sesuatu yang sangat penting dalam hidupku. Tapi bagaimana mungkin mereka memendam hal itu selama bertahun-tahun? “Aku harus mencari tahu dan membuktikannya sendiri,” tekadku dalam hati. Jam masih menunjukkan pukul 4 pagi. Aku yakin papa dan mama masih terlelap. Aku harus mencari kotak hitam itu di kamar mereka.

Kakiku mulai menapak lantai. Aku ke luar dari kamar dan bergegas menuju kamar papa dan mama. Tak lama berselang, telapak tangan kiriku memegang gagang pintu kamar orangtuaku. Aku mengayunkan gagang pintu dan ternyata dugaanku benar, papa dan mama masih tertidur pulas. Aku membuka dan memeriksa beberapa laci serta lemari pakaian, tapi aku tak kunjung menemukan kotak hitam itu. Aku melihat ke atas lemari dan mataku melihat sesuatu. Seperti.. sebuah kotak hitam! Aku mencoba mengambilnya dengan kursi, namun ternyata aku masih kurang tinggi.

“Huh, bagaimana yah cara untuk mengambilnya?” pikirku sambil mencari sesuatu yang mungkin dapat membantuku.

Bola mataku terhenti pada penggaris besi yang biasa digunakan papa untuk menggambar desain rumah dan bangunan pesanan kliennya. Papa memang sering membawa gambar yang belum selesai ia desain di ruang kerjanya ke kamar dengan maksud untuk menyelesaikannya sembari mengobrol dengan mama. Aku mengambil penggaris itu dan mencoba menggerakkan kotak itu. Aku berhasil, namun kotak itu jatuh ke lantai dan membuat mama membalikkan tubuhnya. “Apa sih..” kata mama dan langsung tertidur lagi. “Huh syukurlah,” gumamku. Aku membawa kotak itu ke kamarku.

Aku duduk di kasur lalu membuka kotak itu. Aku tak menemukan barang lain, kecuali sebuah kalung dengan liontin merah bulat. Lalu di mana petunjuknya? Bagaimana aku dapat mengetahui jati diriku dengan seuntai kalung? Ah ini semua hanya omong kosong! Harusnya aku tak mudah percaya dengan perkataan sosok misterius itu. Aku menutup kotak itu. Tapi.. Kalau memang tidak ada apa-apa, mengapa mama meletakkan kalung itu dalam sebuah kotak hitam di atas lemari?

Rasa penasaran mendorongku untuk membuka kotak itu lagi. Aku mengambil kalung itu dan mulai berpikir. Pasti ada sesuatu yang bisa ku temukan dengan kalung ini. Aku harus menemukannya. Jam wekerku yang tiba-tiba berbunyi membubarkan segalanya. Aku menaruh kalung itu ke dalam kotak dan menyembunyikannya di bawah kasurku. Aku pun bergegas mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.

“Eh guys, lihat deh ada anak permen lewat,” ucap Vera yang sedang duduk di lorong sekolah saat aku lewat di depannya. Teman-temanku pun tertawa. Aku tak menghiraukan mereka dan terus berjalan ke kelas. Vera adalah salah satu musuhku di sekolah. Sampai sekarang aku tak mengetahui alasan mengapa dia terlihat begitu membenciku. Ya aku pun tak ingin mengetahuinya.

Tiba-tiba Vera masuk ke kelas dan menggebrak mejaku.
“kalau orang ngomong tuh dengerin, jangan main asal lewat aja kayak tadi!” bentak Vera dengan matanya yang melotot. “Oh kamu ngomong sama aku? Namaku K-E-Z-I-A, bukan anak permen!” sahutku dengan berani.
“Jadi sekarang lo…”
“Selamat pagi anak-anak,” ucap Bu Ratna saat masuk kelas.

Anak-anak berlarian ke tempat duduknya masing-masing, termasuk Vera yang belum sempat menyelesaikan perkataannya. Bu Ratna adalah guru sejarah di sekolahku. Ia adalah seorang pribadi yang ramah dan penyayang, tak heran jika banyak anak-anak yang suka dengannya, termasuk aku. Ia juga seorang yang terbuka dan pengertian. Aku sering kali mencurahkan keluh kesahku padanya. Kebetulan Sejarah juga merupakan salah satu mata pelajaran favoritku di sekolah, jadi aku juga lebih mudah menangkap materi yang diajarkan Bu Ratna.

Bel pun berdering, pertanda waktunya pulang ke rumah. Aku pun dengan sigap merapikan tasku dan ke luar dari kelas. “Bu Ratna!” teriakku saat melihat Bu Ratna yang sedang berjalan ke luar dari ruang guru hendak pulang ke rumahnya.
“Ada apa Zia?” tanya Bu Ratna saat aku menghampirinya.
“Ehm.. Ibu lagi ada urusan nggak?”
“Enggak sih, kenapa?”
“Aku pengen cerita nih, Bu. Kalau kita cerita di taman dekat sekolah gimana?”
“Ya udah, yuk,” ajak Bu Ratna.

Cahaya matahari mulai tampak tak terlalu terik. Angin mengurangi kecepatannya berhembus seolah tak ingin mengganggu kami. Burung yang sedang bertengger pada pohon hijau besar di belakang kursi taman tempat kami duduk pun terbang hilang menjauh. “Kamu mau cerita apa Zia?” tanya Bu Ratna sembari melebarkan senyumnya. “Apa ada hubungannya dengan Vera dan teman-temannya?” Mataku seperti tertusuk jarum. Kelopak mataku tak sanggup lagi menahan luapan air mata yang semakin memaksa ke luar. Aku mulai menangis.

“Loh kok Kezia malah nangis?”
“Ibu..” ucapku sembari memeluk Bu Ratna dengan erat.
“Kenapa sayang?”
“Aku ngerasa Mama dan Papa nggak pernah anggap aku sebagai anaknya Bu. Mereka selalu nyalahin aku kalau ada sesuatu yang buruk terjadi. Mereka..” ucapanku terhenti. Aku hanyut dalam tangisanku yang semakin menjadi-jadi.
“Sayang, kamu nggak boleh ngomong gitu. Orangtua kamu pasti sayang banget sama kamu,” kata Bu Ratna sambil terus mengelus kepalaku.

Tiba-tiba aku teringat akan kalung dengan liontin merah bulat itu. Aku menceritakan semua yang ku alami pada Bu Ratna, termasuk pertemuanku dengan sosok misterius itu. Awalnya Bu Ratna tidak percaya dan menganggap ceritaku hanya halusinasi belaka. Namun aku terus meyakinkannya. “Aku akan bawa kalung itu besok, Bu” sahutku.

Jam menunjukkan pukul 5 sore. Aku dan Bu Ratna memutuskan untuk pulang ke rumah kami masing-masing. Setelah kurang lebih 20 menit berjalan kaki, aku pun sampai di depan rumah. Aku mendorong pintu rumah dan melihat mama yang sedang berada di ruang tamu. Aku berjalan menuju kamarku melewati sofa yang sedang diduduki mama.
“Dari mana aja kamu?” ucap mama dengan tetap mempertahankan pandangannya pada tayangan televisi.
“Abis dari taman, Ma,” jawabku pelan.
“Oke,” kata mama dingin.

Aku pun terus melanjutkan langkahku. Aku masuk ke kamar dan mengambil kotak hitam dari bawah kasurku. Aku membuka kotak itu dan.. kalung itu.. Di mana kalung itu? Mengapa kalung itu tidak ada di sini? Aku menggeledah seisi kamarku namun kalung itu tak kunjung memperlihatkan keberadaannya. Bagaimana ini? Aku tak mungkin menanyakannya pada mama maupun papa kan? Bisa-bisa mereka malah balik memarahiku. Ah.. Malah aku juga sudah bilang pada Bu Ratna akan bawa kalung itu besok. Kalau aku nggak bawa, pasti Bu Ratna benar-benar menganggap bahwa aku hanya berhalusinasi. Tapi mengapa kalung itu bisa hilang? Siapa yang mengambilnya?

Bu Ratna duduk di kursi sambil menaruh kepalanya pada sebuah meja kayu cokelat. Beberapa buku mitologi tampak tersusun rapi di atasnya. Tumpukan helaian kertas berserakan memenuhi permukaan meja itu. Kipas angin kecil seolah menyapa dengan anginnya yang membelai rambut hitam tipis Bu Ratna. Bu Ratna pun memejamkan kedua matanya sejenak. Ia mulai mengingat semua hal yang telah dilakukannya hari ini. Tiba-tiba Bu Ratna mengambil salah satu buku mitologinya. Ia membalik halaman demi halaman seolah mencari suatu informasi yang pernah dibacanya. Tangannya terhenti pada halaman 365.

“Kalung dengan liontin merah bulat. Apa kalung ini yang dimaksud Kezia?” kata Bu Ratna dalam hatinya. “Kalau memang iya, berarti Kezia adalah…”

Bersambung

Cerpen Karangan: Dea Faustine
Facebook: Dea Faustine
Twitter: @deafaustine

Cerpen Kalung Liontin Merah (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kontes Memasak Endemmo

Oleh:
“Selamat pagi, Itzel! Aku punya kabar baik untukmu!” ujar Silvana di pagi yang cerah itu. Ia datang ke toko roti Itzel dengan semangat hari ini. “Nanti saja, sedang banyak

Kau Tak Pernah Berjalan Sendiri

Oleh:
Entah ini adalah kali keberapa Kayla ingin mengakhir hidupnya, namun selalu gagal, entah ketahuan atau tiba tiba ia diganggu oleh kawanan kawanan hantu yang sering mengganggunya, ya, Kayla merupakan

Ibu (Part 3)

Oleh:
Penutup mataku dibuka dan aku melihat Fera ada di hadapanku. Apa maksud semua ini? Kenapa Fera ada disini? “Akhirnya aku menemukanmu, sayang,” ucapnya sambil mengecup keningku. “Mmmmpppphhhhh,” aku berusaha

Death Note

Oleh:
Hidup sungguh tak berguna. Bagiku, hidup tak lebih dari sampah. Kau setuju denganku? Silahkan saja kalau kau memiliki pendapat yang berbeda. Namun aku memiliki alasan kuat, kenapa aku mengutuk

Kuil Tua Pembawa Jiwa

Oleh:
“Andai pada waktu itu, aku berhasil menghalang mereka… Aku tak akan dikejar rasa bersalah seperti ini”. Ucap seorang remaja wanita bernama alejandra. Yang termenung di bawah rembulan malam. 2

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *