Kalung Liontin Merah (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 18 January 2016

“Bi, tadi pagi bersihin kamar aku kan?” tanyaku pada Bi Ijah yang sudah bekerja dengan keluargaku selama 10 tahun.
“Iya non, ada apa?”
“Emm, nggak deh Bi nggak apa-apa,” jawabku.

Awalnya aku berniat untuk menanyakan hal ini pada Bi Ijah. Tapi kalau Bi Ijah tahu tentang kalung itu, bisa-bisa dia bilang sama papa dan mama.
“KEZIAAA!!” teriak mama memanggil namaku. Perasaanku mulai tak enak. Aku pun menghampiri mama di lantai bawah.

PLAKK!

Tangan mama pun mendarat di pipi kananku dengan kerasnya.

“Ke..ke..ke-napa Ma?” ucapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Kamu tuh keterlaluan banget ya! Apa yang tadi kamu bilang sama guru kesayangan kamu itu? Kamu bilang kan kalau selama ini Mama dan Papa selalu marahin kamu?”
“Ma, aku cuma…”
Tanpa mendengar penjelasanku, mama pun menampar pipi kiriku.

“Pokoknya hari ini nggak ada jatah makan malam buat kamu! Ini hukuman buat anak yang nggak pernah tahu diuntung! Awas ya kalau Mama tahu kamu cerita sama orang lain lagi, hukumannya akan lebih berat!” kata mama dengan geramnya. Aku berlari ke kamarku sambil menangis tersedu-sedu. Seketika terdengar suara ketukan yang berasal dari jendela kamarku. Aku menggeser tirai jendela dan melihat Bu Ratna di depan. Aku pun membuka jendela dan Bu Ratna masuk ke kamarku.

“Kezia, kamu harus ikut Ibu sekarang,” ucap Bu Ratna yang terlihat panik.
“Loh gimana caranya Ibu bisa naik ke sini? Dan kenapa saya harus ikut sama Ibu?”
“Nanti Ibu jelaskan, di mana kalung itu?” tanya Bu Ratna.
“Kalung itu..”

“Di mana kalung itu Kezia?” tanya Bu Ratna sekali lagi.
“Kalung itu hilang, Bu,”
“Apa? Hilang?” ucap Bu Ratna yang mulai terlihat panik.
“Iya Bu. Memangnya kenapa?”
“Kalung itu adalah sumber kekuatan kamu,” ujar Bu Ratna menjelaskan.
“Tapi darimana Ibu begitu yakin dengan semua itu?

“Kalau memang iya, berarti Kezia adalah keturunan bangsa Vigrindfa yang terakhir.”
Bu Ratna pun terdiam sejenak. “Ah stop, stop. Nggak mungkin. Di buku ini tuh tertulis jelas kalau bangsa ini sudah kalah saat perang melawan bangsa Agrindfa dan tidak ada satu pun keturunannya yang tersisa. Ratna. Ratna. Lagi pula ini udah zaman apa kali, masih percaya kalau hal itu nyata?” ucap Bu Ratna sambil menepuk-nepuk kepalanya.

“Itu benar,”

Bu Ratna mulai merinding. Ia yakin tak ada seorang pun di kamarnya. Hari sudah menjelang malam. Cahaya matahari pun sudah tak terlihat. Akhirnya Bu Ratna memberanikan diri untuk menengok ke belakang. Betapa terkejutnya ia saat melihat sosok berbaju hitam berdiri tepat di belakang kursinya. Ia pun meloncat duduk di meja.

“Siapa kamu?!” kata Bu Ratna ketakutan.
“Aku adalah roh dari keturunan Vagrindfa. Aku datang untuk meminta bantuanmu,” sahut sosok itu.
“Ba..ba..bantuan? Bantuan apa?”
“Selamatkan Kezia. Dia adalah keturunan bangsa kami satu-satunya yang masih hidup. Kami kahwatir jika dia terlalu lama tinggal bersama bangsa Agrindfa nyawanya akan terancam,”

“Keturunan Agrindfa? Maksudnya orangtua Kezia?”
“Benar. Dahulu pada saat perang itu berlangsung, ada satu keluarga dari bangsa kami yang berhasil lolos. Mereka lalu menyamar menjadi bangsa Agrindfa karena takut dibunuh sebagai keturunan Vagrindfa. Namun lambat laun, semuanya hanya kesia-siaan belaka.”

“Sia-sia?” tanya Bu Ratna bingung.
“Tak lama keluarga itu ketahuan dan dibunuh, kecuali bayi mereka. Salah satu keluarga Agrindfa merasa iba dan melindungi anak itu dari ancaman kematian yang hendak menimpanya.”
“Lalu bagaimana dengan keluarga Agrindfa dan anak itu?” tanya Bu Ratna yang terlihat makin penasaran.
“Mereka diasingkan ke alam manusia karena melindungi bayi itu,” jawab sosok berbaju hitam itu.

“Dan Kezia adalah bayi itu?”
“Iya,” ucap sosok itu pelan.
“Tapi gimana caranya saya bisa nyelamatin Kezia?”
“Dengan kalung itu. Kalung itu adalah kalung milik bangsa Vigrindfa yang dicuri oleh keluarga Agrindfa itu dengan maksud untuk menggunakan Kezia sebagai tameng mereka nantinya,” ujar sosok itu sebelum tiba-tiba menghilang.

Aku tercengang tak percaya. Ini semua nggak mungkin. Semuanya pasti bohong. Kakiku lemas tak berdaya. Tanganku pun berlabuh pada meja belajar yang menjadi tumpuanku untuk tetap berdiri. Hati kecilku mulai menemukan jawaban dari pertanyaan yang terus mendekam dalam benakku. Jadi ini. Alasan mengapa mama dan papa selalu memperlakukanku secara tak adil?

“Bu, tapi bangsa Vigrinda dan Agrindfa itu apa?” tanyaku pada Bu Ratna.
“emm.. mereka.” jawab Bu Ratna dengan mayanya yang terus melihat ke bawah.
“Jawab Bu,” kataku sambil memegang erat kedua lengan Bu Ratna.
“Menurut buku mitologi yang Ibu baca, mereka adalah bangsa penyihir yang selalu bermusuhan,” ujar Bu Ratna yang mulai menatap mataku.

Apa lagi ini? Mengapa semuanya jadi begini? Seumur hidupku, aku tak pernah berkenalan dengan ilmu sihir. Dan sekarang kenyatannya aku adalah keturunan bangsa penyihir? Ini semua benar-benar sulit dipercaya. Kalau mama dan papa adalah bangsa Agrindfa, berarti mereka adalah.. musuhku. Tiba-tiba pintu kamarku dibanting dengan keras oleh papa dan mama yang sepertinya sudah mengetahui percakapanku dengan Bu Ratna. Tapi… Mereka berpakaian aneh seperti seorang.. penyihir. Wajah mereka pun berubah menjadi jauh lebih tua, meskipun aku masih dapat mengenalinya. Mata mereka juga tampak sangat menyeramkan bagi siapa pun yang melihatnya.

“Sebelum kamu membunuh kami, kami yang akan membunuh kamu lebih dahulu!” kata papa sambil menunjuk mukaku dengan jari telunjuknya yang panjang.
“TIDAK! Kalian nggak akan pernah bisa bunuh Kezia!” teriak Bu Ratna dengan matanya yang membelalak memandang papa dan mama. “Hihihihi. Seorang manusia lemah ingin melawan kita rupanya,” ujar mama dengan gaya tertawanya yang belum pernah ku dengar sebelumnya.

Bibir mama pun bergerak mengucapkan sesuatu yang sangat cepat dengan bahasa yang aneh. Tak lama tongkat hitam dengan bola kristal putih yang dipegang mama diarahkannya pada Bu Ratna. Tongkat itu mengeluarkan sinar hijau dan membuat tubuh Bu Ratna tak bisa bergerak sedikit pun.
“Udah nggak ada lagi yang bisa ngelindungin kamu, Kezia sayang. Hihihihi,” ucap mama dengan nada bicara yang sedikit menakutkan.

Tanpa pikir panjang aku mendorong mama dan papa lalu berlari ke luar kamar. Aku memang tak tahu ke mana aku harus pergi, tapi yang jelas aku harus ke luar dari rumah ini. Kakiku berhenti saat hendak menuruni tangga. Apa ini? Mengapa tiba-tiba ada jeruji besi yang sangat rapat di sini?
“Hihihihi, kami tidak sebodoh yang kamu kira, Kezia sayang,” ujar papa.

Mereka terus melangkah maju mendekatiku, berbeda denganku yang terus melangkah mundur menjauhi mereka. Mereka kini seperti orang asing yang tak pernah ku kenal. Memang tak pernah ada kasih sayang yang mereka limpahkan bagiku, tapi kali ini mereka. Dengan cepat ku buka pintu kamar mama dan papa yang berada tepat di belakangku dan menguncinya. Ah apa yang harus ku lakukan sekarang.

Mereka bisa saja menggunakan sihirnya untuk membuka pintu ini. Sontak aku teringat akan kalung itu. Apa mungkin mama dan papa yang mengambilnya? Aku harus mencoba mencari kalung itu di sini. Saat hendak berjalan, kakiku malah terpeleset kulit pisang yang ada di lantai. Ah! Nggak tahu timing banget sih! Aku terjatuh tepat di samping kasur papa dan mama. Aku berdiri sambil menahan rasa sakit di kakiku. Untung cuma sedikit memar. Tunggu. Sepertinya aku melihat sesuatu di kolong kasur tadi. Aku menengok ke arah kolong dan menemukan kalung itu.

“Bagaimana cara pakainya yah? aha! Buku mitologi Bu Ratna! Di sana pasti tertulis bagaimana cara memakai kalung ini. Aku harus ke kost-an Bu Ratna sekarang,” gumamku.

Aku membuka jendela kamar dan meloncat ke bawah. Yah untungnya posisi kamar mama dan papa di samping kolam renang. Aku sedikit berenang dan berlari ke luar pagar rumah yang tidak dikunci. Sementara itu, papa dan mama menghancurkan pintu kamar dengan sihirnya. Mereka kaget melihatku yang tidak ada di sana. Namun ternyata mereka mendengar suara air dari kolam renang.

Mereka pun mengejarku. Aku terus berlari dan berlari. Ku terjang dengan kuat angin yang berhembus berlawanan arah. Rasa lelah tak menjadi halangan bagiku. Tak ku hiraukan mama dan papa yang mengejarku dengan sapu terbangnya di belakang. Aku pun sampai di kost-an Bu Ratna dengan napas yang terengah-engah. Dulu Bu Ratna sempat mengajakku ke kamarnya, sehingga aku tahu di mana letaknya. Aku berlari ke depan kamar Bu Ratna.

Aku mencoba mendobrak pintu, akan tetapi tenagaku tak sekuat yang ku kira. Mama dan papa tetap mengejarku. Mereka mulai menyerangku dengan sihirnya. Aku berhasil menghindar dari sihir itu dan alhasil pintu itu hancur terkena sihir mereka. Secepat kilat aku masuk ke dalam kamar kost Bu Ratna dan pandanganku langsung tertuju pada buku mitologi yang masih terbuka di meja. Aku mengambil buku itu dan membacanya dengan cepat.

Di situ tertulis jelas bahwa aku harus memakai kalung itu baru setelah itu mengucapkan mantra. Mama dan papa masuk ke dalam kamar itu. Aku semakin kalang kabut. Ku bolak-balik halaman di buku itu dan mengucapkan salah satu mantra yang ku lihat, meski aku tak tahu apa yang akan diakibatkan oleh mantra itu. Tak lama muncul sinar merah dari kalungku yang sepertinya menyinari mama dan papa dengan sangat kuat. Seketika itu pula, mereka pun berubah menjadi abu.

Aku terperanjat. Kakiku seolah tak sanggup lagi menopang diriku sendiri. Tubuhku lemas tak berdaya. Apa yang baru saja ku lakukan? Aku membuka buku itu dan membaca akibat dari mantra itu. Dan ternyata.. Mantra itu adalah mantra yang digunakan untuk mengubah sesuatu menjadi abu. Selamanya.

The End

Cerpen Karangan: Dea Faustine
Facebook: Dea Faustine
Twitter: @deafaustine

Cerpen Kalung Liontin Merah (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Terdalam

Oleh:
Ketika polisi tiba di tempat itu, mereka hanya menemukan 2 jasad yang telah mati. Dua-duanya dengan luka tusuk tepat di jantung. Darah menggenang di sekitarnya. Keduanya terbaring berdampingan, dengan

Janeta a Hero

Oleh:
Mentari mulai redup, dan menghilang di ufuk barat. Menambah indahnya negeri hijau, yang penuh kedamaian dan keindahan negeri ini. Negeri ini merupakan negeri ideal, karena selain indah negeri ini

Devil (Part 1)

Oleh:
Kulangkahkan kakiku menyusuri koridor sekolah yang telah gelap itu, mataku tak henti-hentinya mengedarkan pandangan ke setiap jengkal tempat yang kulewati. Aku harus menemukan pria itu, tekatku dalam hati. Tepat

Magic Sagitarius

Oleh:
Pagi pagi sekali, Shirakaba sedang di rumah. Mamanya pun memanggilnya, dan berkata “Shirakaba, ini kalung untukmu. Ini hadiah ultahmu minggu lalu”. Lalu, Shirakaba berkata “terima kasih Mama”. “Sama sama

Tristis Finis

Oleh:
Namanya Feliz Flor, umurnya 15. Dia memiliki keistimewaan yang membuatnya sangat spesial. Kebanyakan orang menganggap itu kekurangannya. Dia tak pernah menyukai sekolah dan pelajarannya, dua hal yang membuatnya nelangsa.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kalung Liontin Merah (Part 2)”

  1. Malika Sekar R. says:

    Keren ada lanjutanya gak? Soalnya ini cocok kalau ada lanjutannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *