Kamu Dimana

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Lingkungan
Lolos moderasi pada: 11 August 2020

“Kamu dimana?”
“Aku di sini, tolong perlihatkan dirimu”.

Suasana di hutan itu tiba-tiba berubah. Hening. Sudah tidak terdengar lagi suara kicauan burung. Sudah tidak terdengar lagi suara daun yang diterpa angin. Sudah Lima menit aku menunggu, Dia belum juga muncul.

“Seharusnya dia muncul”, aku berbicara sendiri.

Sudah tujuh tahun aku tidak mengunjungi hutan ini. Tujuh tahun yang lalu, saat umurku masih sepuluh tahun, aku pernah tersesat di hutan ini. Saat itu, aku bermain petak umpet dengan teman-temanku. Aku mencari tempat persembunyian yang paling aman. Lalu, aku menemukan hutan ini. Tidak terlalu jauh memang, tapi aku yakin tidak akan ditemukan kalau aku bersembunyi di sini.

Aku benar, tidak ada yang mencariku sampai ke sini. Setengah jam, satu jam, dua jam. Tidak ada yang mencariku. Aku memutuskan untuk pulang saja. Aku menelusuri jalan setapak yang telah kulewati tadi. Sudah setengah jam, tapi aku belum sampai ke pinggir hutan. Aneh sekali. Seharusnya tidak akan selama ini. Aku terus berjalan hingga jalan setapak itu berakhir. Jalan itu berakhir di sebuah rumah panggung tua yang kelihatannya sudah tidak ditempati berpuluh-puluh tahun yang lalu.

Rumah itu sangat tua, namun masih bisa berdiri kokoh. Seolah masih bisa berdiri puluhan tahun lagi tanpa rubuh. Di samping itu, jendelanya sudah terlepas. Sarang laba-laba dimana-mana. Aku ingin sekali meninggalkan tempat menyeramkan itu. Kalau bukan ada suara yang memanggilku, aku akan langsung lari. Tapi suara itu seolah menahan kakiku untuk kabur, memaksaku mendekati rumah itu. Kakiku semakin gemetar. Jantungku berdetak kencang.

“Ghina…. kemarilah”. Suaranya halus tapi terdengar jelas di telingaku.
“Aku ingin bertemu denganmu, Ghina. Aku butuh bantuanmu…”.

Aku semakin dekat dengan rumah itu. Atmosfernya berubah secara signifikan. Aku merinding, bulu kudukku berdiri. Seperti ada makhluk yang mengintaiku dari jauh. Suara itu semakin jelas saat aku sampai di depan pintu. Tanganku bergerak perlahan memegang kenop pintu. Aku membuka pintu itu pelan sekali. Suara itu berhenti. Aku tidak bisa melihat apapun di sana. Gelap. Sialnya waktu itu aku tidak membawa senter atau penerang lain. Aku tetap masuk. Ruangannya mulai terlihat samar-samar dari jarak yang lebih dekat. Hanya ada satu ruangan besar dan satu ruangan yang lebih kecil. Suara itu kembali terdengar dari arah ruangan yang lebih kecil.

Kali ini aku yakin sekali. Siapapun atau apapun yang membuat suara itu, pastilah ada di balik pintu ruangan kecil itu. Aku sudah lupa dengan ketakutan yang kurasakan beberapa waktu yang lalu. Kali ini aku akan menemui pemilik suara halus itu. Tepat setelah pintu ruangan itu kubuka, seekor kucing melompat ke arahku. Aku berhasil menghindar. Dia menatapku tajam. Matanya bersinar dengan terangnya. Sepertinya dia tidak akan menyerang, tapi aku tetap saja ketakutan. Kakiku bergetar hebat. Aku menangis dalam diam. Aku pikir ini akan menjadi hari terburuk dalam hidupku. Ternyata aku salah.

“Ikut aku, Ghina”, kucing itu berbicara.
“A-a-aku?”
“Iya, siapa lagi”.

Aku mengikutinya keluar rumah, masih dalam keadaan takut. Kucing itu berbalik ke arahku. Sepertinya dia sudah tau apa yang ingin kutanyakan, siapa engkau?

“Ghina, aku adalah jelmaan alam. Aku adalah makhluk yang menjaga hutan, sungai, gunung, bukit dan laut agar dapat memberi manfaat”.
“L-l-lalu, apa yang kau inginkan dariku?”
“Aku ingin kau memperingatkan makhluk yang paling merusak alam. Manusia”.
“Merusak alam? Kami?”
“Benar, Ghina. Manusia melakukan kerusakan dimana-mana. Mereka membuang sampah-sampah mereka di sungai kami, mereka menebangi hutan untuk proyek-proyek mereka, banyak ikan di laut mati karena mereka menuangkan limbah mereka ke dalamnya. Saat bencana menimpa mereka, mereka menyalahkan alam”.
“Aku pernah melihatnya. Tapi, tidak semua manusia berbuat demikian wahai kucing jelmaan alam”.
“Memang tidak semuanya. Tapi aku membutuhkan bantuanmu, Ghina. Beritahukanlah kepada mereka agar menghentikan perbuatan mereka”.
“Aku akan melakukannya”.

Dengan sekejap, cahaya bersinar terang kemudian berhenti. Aku sudah tidak melihat kucing itu. Aku memperhatikan sekitar, ternyata aku sudah ada di pinggir hutan.

Itu kisah tujuh tahun yang lalu. Setelah kejadian itu, aku sempat mengunjunginya beberapa kali. Dia menemaniku dan mengajariku banyak hal tentang alam. Dia bisa mengendalikan alam, bisa memperbaiki apapun yang terbuat dari bahan organik. Semenjak aku pindah, aku sudah tidak bertemu dengannya.

Beberapa menit lagi berlalu. Sepertinya aku tidak akan bertemu lagi dengannya. Diluar dugaanku, kucing itu sudah datang dan memanggilku dari belakang.

“Ghina…”.
“Eh… ternyata kamu masih di sini. Senang melihatmu kembali”.
“Tentu saja masih. Ada apa?”
“Kurasa kamu benar. Manusia bertindak melampaui batas, mereka tidak bisa lagi diperingatkan”.
“Begitulah manusia, Ghina. Mereka tidak pernah puas dan bertindak semena-mena pada alam. Hanya kesadaran dirilah yang akan membuat mereka berubah”.
“Aku harap begitu. Semoga saja manusia-manusia baik akan menularkan kebaikan mereka dan kesadaran akan muncul pada setiap umat manusia. Berjanjilah akan tetap menjaga alam, Ghina”.
“Aku berjanji. Saat aku sudah dewasa, aku akan menjadi orang yang paling peduli pada alam dan lingkungan”.

Cerpen Karangan: Maulana Malik Yusuf
Blog / Facebook: pandoraworldsite.wordpress.com / facebook.com/maulana.m.yusuf.9

Cerpen Kamu Dimana merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Beautiful Dream in Paris

Oleh:
“Apa?? Liburan ke Paris?” Tanyaku tak percaya saat mendengar pernyataan Papa yang menginginkan aku liburan ke Paris, Perancis. Mataku membulat dan tidak berkedip untuk beberapa detik, mengingat Paris bukanlah

Mimpi Burukku

Oleh:
Namaku Ellie. Panggil saja aku Lie Aku ini adalah anak yang suka membangkang dan melawan ayah dan ibuku. Pada suatu malam aku tertidur sangat lelap. Sampai-sampai aku tak dapat

Chemistry On The Road

Oleh:
Di malam yang begitu sunyi dan hampa, angin yang kencang disertai dengan H2O yang indah berikatan polar jatuh berurutan dari atas O3 yang saat itu sedang gelap. Aku merenung

Dunia dengan Takdir Terikat

Oleh:
Perkenalkan, namaku Keep dan aku adalah salah satu anak yang tinggal di atas tanah penuh abu yang kelabu di mana segala sesuatu telah ditentukan untuk setiap orang. Ada ‘Hukum’

Something Isn’t Right (Part 2)

Oleh:
Sudah di ujung Hutan, mereka menemukan laut. Caryn melihat papan kayu. “Uno, lihat! Ada papan kayu! Kita bisa pakai itu buat ke sana!” kata Caryn. Uno mengangguk. Uno mengambil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *