Kebebasan Merengguk Keadilan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 1 May 2018

Ketika senja menggeser sinar mentari perlahan-lahan, seorang bocah gendut terduduk di teras rumahnya menatap momen tersebut. Ari namanya. Memandang kosong kapas-kapas yang terbendung di langit. Saat hari beranjak gelap, Ari bergegas masuk ke dalam gubuk tempat tinggalnya. Ditemuinya sang ibu. “Ibu, sampai kapan kita akan hidup miskin seperti ini terus?”, tanyanya. Sang ibu menoleh. “Ssst! Apa yang kamu bicarakan Ari? Berhenti mengeluh, Bahkan banyak orang-orang di sekitar kita yang lebih tak mampu dibandingkan kita”, jawabnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Tapi, bu. Teman-teman di sekolah sekarang sudah punya handphone…”, “Jadi kamu mau minta handphone juga?”, tanya ibunya. Ari menjawabnya dengan anggukan. “Tabung saja uang jajanmu, belajar mandiri. Ibu perlu biaya untuk menyekolahkan adikmu tahun depan. Kita tidak begitu membutuhkan barang mahal itu. Toh siapa yang hendak kita hubungi?”, ujar sang Ibu sendu. “Tidak bisakah kita menelepon ayah?”, tanya Ari. “Hentikan. Ayah sudah pergi entah ke mana. Jangan membuat ibu mengingat pria itu!”, jawab sang Ibu kesa. Ari menundukkan kepalanya dan pergi meninggalkan sang ibu menuju kamarnya.

“Ya Tuhan! Aku tak sanggup hidup seperti ini. Aku ingin hidup bahagia seperti teman-temanku yang bisa mendapatkan segala sesuatu yang mereka inginkan dari orangtua. Aku juga ingin makan enak seperti mereka. Aku… Aku ingin.. Membahagiakan ibu pula”, ujar Rian dengan suara parau sendirian. “Hidup ini tidak adil! Orang dewasa seenaknya mengatur anak-anak. Orang dewasa bisa kerja! Orang dewasa penuh kebebasan! Aku ingin menjadi dewasa sekarang juga! Hiks…”
“Riaaaaan! Makan dulu naak!”. Terdengar suara sang ibu memanggil. Rian bergegas keluar dari kamarnya, berniat mengutarakan kekesalannya pada sang ibu. “Ibu, aku iri dengan orang dewasa! Kalian membuat hidup ini tidak adil!”, ujar Rian ketus. Sang ibu membelalakkan matanya. “Apa maksudmu? Menjadi orang dewasa tak segampang dan sesimpel yang kamu ketahui, nak”, “Arghhh! Aku tak peduli lagi, bu! Aku sudah bosan mendengarmu!”, respon Rian dengan kesal. Kemudian berlarilah Rian meninggalkan gubuknya. “RIAAAN! RIAAAN! Kamu mau ke mana?!”. Sang ibu mengejar anaknya hingga pintu gubuk. “Riaaan!!!”

Tanpa menghiraukan panggilan ibunya, Rian terus saja berlari hingga tak sadar bahwa… BRAAKK! Dirinya menabrak seseorang di depannya hingga jatuh terduduk. “Aduh…”, rintih Rian. Pria dewasa yang ditabraknya itu mengulurkan tangannya. “Apakah kamu baik-baik saja?”, tanyanya. Rian hanya mengangguk pelan, takut hendak diculik. “Kakiku luka…”, ujar Rian dengan suara berbisik. “Eum… Sebagai wujud permintaan maafku…”, pria tersebut merogoh kantung jasnya dan mengulurkan sesuatu. “Aku berikan ini padamu. Jangan lupa, hubungi nomor kontak yang sudah ada”. Diberikannya benda rogohan tersebut yang tak lain ialah sebuah handphone sederhana dengan tampilan menarik kepada Rian. “A… APA INI? He-hei, tunggu, pakkk”, seru Rian kaget. Rian mengarahkan pandangannya ke sekeliling, namun pria tersebut sudah menghilang pargi. Alhasil tak dapat menemui pria tersebut di sekitarnya, Rian pun beranjak berdiri. Dibukanya handphone tersebut. Sesuai permintaan pria tadi, Rian mencari satu-satunya nomor yang tersimpan di dalamnya, lalu menghubunginya.

Tak perlu menunggu lama, panggilan yang dihubungi mengangkat suara. “Halo, selamat datang di zona sinyal perjalanan kami! Semoga anda merasa lebih baik. Silahkan mencoba!”, ujarnya panjang lebar. Rian mengernyitkan dahinya. “Apa-apaan ini? Sebenarnya kamu sia…!” Belum sempat Rian menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja kepala Rian merasakan pusing yang hebat dan telinganya berdengung keras. “Arghhhhhh..!!! Tolong akuu!”, jerit Rian. Kemudian sebuah cahaya tampak begitu menyilaukan hingga Rian tak mampu membuka kedua matanya.

Setelah merasakan sakit yang luar biasa, perlahan-lahan Rian membuka kedua matanya kembali. Dilihat sekelilingnya. Di manakah aku sekarang?, gumamnya. Rian mulai beranjak sambil terheran-heran. “Tu… Tunggu..”, ujarnya parau. Seksama diperhatikan raganya. “A.. Apa ini?! Jas? Mengapa badanku tinggi sekali! Mengapa aku terlihat seperti orang dewa..sa..”, keluh Rian. “Ya Tuhan! Bagaimana bisa?”, ujarnya kembali. Senyuman kecil merekah di wajahnya.
“Baiklah. Aku bersyukur, pada akhirnya aku bisa merasakan kebebasan yang luas dengan menjadi orang dewasa! Hahaha..”. Rian merapikan jasnya. Lalu dengan bangganya berjalan-jalan di kehidupan barunya tersebut. Kehidupan yang belum pernah ia jumpai dan mungkin akan ia jumpai di masa mendatang. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.

“Loh, Rian? Katanya mau ngelamar kerja hari ini? Ini sudah jam berapa? Buruan ke sana sebelum terlambat!”, ujar orang tersebut. “Kamu siapa ya?”, tanya Rian. “Si.. Siapa? Bah. Kenapa sih, kamu! Ini aku Deny. Teman kuliahmu. Ah mengerikan. Kamu seperti orang amnesia saja!”, jawab orang yang ternyata bernama Deny tersebut sembari terkekeh. “O..Oh.. Haha! Aku bercanda, Den. Baiklah, terimakasih!”, jawab Rian tergagap. Deny pun berpamitan dan pergi. “Aku akan melamar kerja. Akan kerja di mana aku? Duhh.”

Tak sengaja Rian merogoh kantong jas yang dikenakannya dan menemukan sebuah kunci mobil. “Woaaaa! Ku.. Kunci mobil? Aku punya mobil!”, jeritnya. TIT TIT! Tampak sebuah mobil terparkir yang menyala lampunya saat Rian menekan tombol kunci. Dengan tak sabaran, Rian berlari menuju mobilnya. “Fiuh… Gimana cara menggunakannya, ya? Bisa-bisa aku menabrak mobil lain”, keluhnya pelan. Rian mengedarkan pandangannya dalam ruang mobil. Ada surat amplop?, gumamnya. Dibukanya surat tersebut. Ternyata isinya adalah surat pernyataan lamaran kerja yang akan ditempuhnya.

Dengan segera Rian mencari alamat tempat tujuannya itu dan menemukan tertera di atasnya. “Duh, gimana aku bisa ke sana, ya?”, ujarnya bingung. Alhasil Rian melangkah turun dari mobilnya dengan suratnya. Satu langkah pertama kehidupan Rian dimulai dari saat itu. Mencoba melamar kerja tak semudah yang ia bayangkan, otaknya tak sesiap dengan batas kepintaran yang harus ia miliki. Sebab tak punya kerja, Rian pun tak tahu bagaimana memenuhi kebutuhan pangannya. Mobil pun tak dapat ia kendarai, hingga ia harus berjalan kaki untuk bepergian. Meski ia berhasil menemukan alamat tempat tinggalnya yang ternyata lebih baik, tetap saja ia hidup sebatang kara dan tak punya siapa-siapa.
Rindu dengan ibunya, Rian pun tersadar akan sulitnya sang ibu yang berusaha menghidupi kedua anaknya sendirian. Jiwanya seakan tersiksa dengan kehidupan barunya.

Bebas bukan berarti ia mampu melakukan serta mewujudkan apapun yang ia inginkan. Akan tetapi bebas berarti sudah siap menghadapi dunia dewasa yang tak pandang bulu dan bersaing dengan kecerdasan, bukan hati. Tetesan air mata dalam tangisan Rian, membuatnya sadar pula, bahwa anak kecil tetaplah berarti bagi dunia ini. Bukan diperlakukan tidak adil tetapi mereka bergaul dengan hati.

Setiap gumpalan dosanya tak menjadi masalah besar. Karena malaikat senantiasa menjaganya dengan ketulusan, bukan dengan keteguhan lagi. Layaknya orang dewasa bersaing hidup, dalam ketidak adilan.

Cerpen Karangan: Luthfia Zahra Larosa
Blog: luthfiasasa.blogspot.com
Haloo para pembaca! Terimakasih telah meluangkan waktunya untuk membaca cerpenku. Mohon komentar, kritik dan sarannya yaaa. Jangan lupa, yuk kunjungi juga blogku: luthfiasasa.blogspot.com. Jika ingin bersapen, ig: luthfiasasa
Salam semangat!

Cerpen Kebebasan Merengguk Keadilan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jam Pengubah Waktu

Oleh:
Kring… jam weker berbunyi sekarang pukul 06.00 Adit bangun dan langsung mandi setelah itu salat dan pergi ke dapur “Bu sarapanya apa?” kata adit “ikan sarden pedes” “hore sarden

Putri Duyung Yang Berubah Wujud

Oleh:
Putri duyung adalah cerita dongeng yang mempunyai beperapa versi. Suatu hari ada seorang ibu yang membuang anak perempuanya yang bernama arum, zaman itu masih zaman kuno. Bayi itu ditemukan

Misteri Kompas (Part 1)

Oleh:
Kehidupan biasa tidak ada yang susah tiap hari pergi bersekolah dan pulang. Aku sebagai anak yang baru masuk SMA merasa hidupku membosankan. Sampai sore semuanya berubah. Namaku Nia gadis

The Last Memory of Kei (Part 1)

Oleh:
Aku manusia Android. Aku diciptakan karena permohonan seorang Ayah yang anak gadis semata wayangnya tengah dirundung duka yang amat teramat dalam. Serra, gadis (18 thn) yang 1 tahun lalu

Faster Than Wind

Oleh:
Malam ini adalah malam senin, besok waktunya sekolah lagi. Malam ini pula, Taro, seorang anak SMA kelas 3 IPA C sedang tidur. Entah kenapa malam ini Taro sedang berada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kebebasan Merengguk Keadilan”

  1. Naila h says:

    True story banget! –“

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *