Kepala Dalam Kepala (Part 1) Mindabe

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 19 June 2016

Hey ayolah Mind kemana kau sekarang?! Ini penting untukku. Sekali ini saja aku mohon kau datang dengan undangan. Menentukan keputusan untuk semua ini sungguh berat untukku. aku mohon cepat bicaralah!

“Bubur lebih baik untukmu, itu akan lebih mudah untuk dicerna daripada soto!”

Tanganku yang tadinya bergetar dan berkeringat dingin mulai kembali normal. Lega rasanya mendengar dia mengungkapkan pendapatnya. Setidaknya setelah dia berbicara aku tahu untuk lebih memilih bubur dibandingkan soto. Baiklah, sebaiknya aku segera mendekat ke tukang bubur itu.

Ok mungkin aku sekarang akan dianggap gila karena bicara sendiri sambil makan bubur. Biarlah disebut gila, yang penting sekarang aku perlu meluapkan semuanya pada apapun atau siapapun meski tidak diperhatikan atau mendapatkan balasan, kisah hidupku ini sungguh berat.. Baiklah kamu dengarkanlah ini, aku anggap saja kamu sebagai orang ketiga di antara ‘kami’. Anggap saja kamu adalah juri di antara permasalahan kami. Aku sudah bingung harus minta pendapat dan pertolongan kepada siapa lagi. Aku mohon kamu simaklah ceritaku ini.

Ok inilah permasalahanku, sumber masalahnya aku namai “Mind”. Dia adalah… aduh bagaimana yah aku menjelaskannya padamu. Ok aku menyebut Mind dengan ungkapan “dia” karena dia itu bukan benda, bukan hewan, dan masalahnya dia juga bukan manusia. Mind adalah suara yang ada di dalam kepalaku. Sederhananya dia adalah sebuah pemikiran yang ada di dalam kepalaku. Tapi masalahnya meskipun dia berada di dalam kepalaku tapi aku tidak bisa mengendalikannya. Malah sebaliknya, dialah yang mengendalikanku.

Hey orang ketiga kau masih mendengarkan ceritaku kan?
“Tentu saja dia masih mendengarkanmu, dia pasti penasaran dengan penjelasan cerita bodohmu yang susah dimengerti itu!”
Heeeey Mind bagaimana kau bisa tahu aku sedang bicara dengan si orang ketiga?
“Aku berada di dalam kepalamu, tentu saja aku tahu. Baiklah begini saja, kalau kau mau menceritakan tentang kita maka biar aku saja yang bercerita. Akan lebih mudah dimengerti kalau kau diam dan aku yang ambil alih tubuhmu!”

(Mind mengambil alih tubuh)
Hmmmm terasa lebih nyaman kalau tubuh ini aku yang kendalikan. Hey orang ketiga dengarkan ini dengan seksama. Nama orang bodoh yang aku ambil alih tubuhnya ini adalah Abraham Drajat. Dia sering dipanggil Abe. Lahir di Subang, 18 November 1996.

Abe lahir prematur pada usia kandungan bulan ke-7. Ibunya meninggal saat melahirkan dia. Pada usia 10 bulan dia sudah mulai bisa bicara, dan pada usia satu setengah tahun dia sudah menguasai banyak kosakata yang bayi normal lainnya hal itu dianggap mustahil. Bisa dibilang itu adalah indikasi kecerdasan diatas rata-rata.

Tapi sayangnya kecerdasan Abe tidak sejalan dengan perkembangan tububnya. Dia sangat lemah, sering jatuh sakit. Selain itu Abe yang masih bayi baru bisa berjalan setelah usia 3 tahun.

Abe tumbuh menjadi anak yang bertubuh kecil. Hal itu membuat dia menjadi bahan bulan-bulanan temannya di sekolah. Hampir setiap hari dia diganggu dan ditindas teman sekolahnya. Selain tekanan yang dia terima di dunia sekolah dia juga mendapat tekanan dari ayahnya sendiri. Entah dendam apa tapi yang jelas ayahnya yang seorang anggota kepolisian selalu kasar pada Abe.

Aaaah malas sekali aku harus menceritakan kisah orang ini. Biar aku percepat saja, tahun demi tahun berlalu Abe sudah masuk ke Sekolah Menengah Atas (SMA). Disinilah semuanya berawal. Disinilah aku terlahir.
Masa SMA Abe sangat jauh dari kata menyenangkan dan nyaman. Terutama dengan kehadiran Bagas. Sederhananya Bagas adalah Preman di sekolah Abe. Yang Bagas lakukan tiap hari adalah mengganggu siswa lainnya. Dan di antara semua siswa yang dia ganggu Abe adalah ‘mangsa’ favoritnya. Hampir setiap hari Abe ditindas secara fisik dan psikis, seperti pemajakan, kekerasan, penghinaan dan sebagainya.
Sampai pada puncaknya pada tanggal 12 Desember 2012 (Abe duduk di kelas 10) hal yang sangat buruk dilakukan oleh Bagas pada Abe. Hari itu sekolah sudah bubar, tapi Abe dilarang untuk pulang oleh Bagas dan kelompoknya karena Abe dipaksa untuk mengerjakan semua tugas pelajaran yang tidak pernah mereka kerjakan. Setumpuk buku mereka simpan di hadapan Abe untuk diselesaikan.

Hari itu entah kekuatan atau setan apa yang merasuki Abe, tiba-tiba saja dia berani melawan Bagas dan menolak untuk memenuhi permintaannya. Tentu saja Bagas dan kelompoknya yang merasa terhina dengan penolakan itu langsung memukuli Abe. Meskipun melawan tetap saja Abe kalah dalam kekuatan maupun jumlah.

Setelah babak belur, Abe tak sanggup lagi berdiri dan hanya tergeletak di lantai kelas. Sekali lagi Bagas meminta Abe yang tersungkur di lantai untuk mengerjakan tugas mereka. Tapi sayangnya sekali lagi Abe menolak sambil memaki mereka dengan suara yang serak seperti orang sekarat. Sontak saja Bagas terpancing amarahnya, langsung saja dia bangkitkan Abe dan menggusurnya mendekati jendela kelas. Tanpa pikir panjang dia langsung melempar Abe keluar dari jendela. Saat itu letak kelas mereka ada di lantai 3. Dari ketinggian itu Abe terlempar keluar tepat di atas sebuah pohon mangga yang ada di bawah kelas. tubuhnya terbontang-banting diantara ranting pohon dan akhirnya terjatuh menghantam tanah.

Bagas dan kelompoknya langsung panik setelah tersadar akan apa yang telah mereka lakukan. Bagas yang panik langsung mengancam teman-temannya untuk tidak menceritakan kejadian itu pada siapapun. Bagas mengancam akan melakukan hal yang sama pada mereka bila membocorkan masalah ini. Karena takut akhirnya teman-teman Bagas setuju untuk tutup mulut dan langsung melarikan diri dari tempat itu.

Abe yang sedang sekarat ditemukan oleh seorang petugas kebersihan dalam keadaan kepala yang terus mengeluarkan darah. Langsung saja dia meminta pertolongan dan membawa Abe ke rumah sakit.

Nyawa Abe berhasil diselamatkan. Namun sayangnya dia mengalami gegar otak dan pembekuan darah di dalam kepalanya. Dokter menyatakan kemungkinan untuk Abe sembuh sangat tipis. Meskipun dia berhasil tersadar kemungkinan besarnya dia akan cacat atau mengalami gangguan mental.

Semenjak kejadian itu Ayah Abe berubah sikap. Dia sangat terpukul mengetahui anak sematawayangnya mengalami hal seburuk itu. Dia berubah dari yang asalnya tidak menyayangi Abe menjadi ayah yang sangat mencintai anaknya.

Dia mengerahkan daya dan upaya untuk menyembuhkan Abe dan menangkap orang yang melakukan hal itu pada anaknya. Penyelidikan dilakukan selama 2 bulan lebih dan akhirnya berhasil menangkap Bagas dan komplotannya.
Namun sayangnya hukum tak bisa berbuat lebih menghadapi kekuasaan ayah Bagas yang seorang anggota dewan. Ditambah lagi usia Bagas dan teman-temannya yang masih dibawah umur memberikan mereka keringanan. Bagas hanya mendapat hukuman kurungan 1 tahun dan teman-temannya setengah tahun. Selain itu hakim juga memutuskan setelah ditahan mereka harus direhabilitasi.

Hal sebaliknya terjadi pada Abe, keberuntungan tak berpihak padanya. setelah kejadian itu Abe koma tidak sadarkan diri selama 3 tahun. Segala daya dan upaya telah dilakukan ayahnya. Seluruh harta benda dia korbankan demi kesembuhan Abe. Bahkan hutangnya pada bank tak terhitung lagi jumlahnya. Sampai pada akhirnya sebuah tragedi dan keajaiban terjadi.

3 Januari 2016, Ayah Abe yang sudah putus asa melihat keadaan anaknya yang sepertinya tak ada harapan untuk sembuh akhirnya dia memutuskan untuk menembakan timah panas ke kepalanya sendiri dan meninggalkan sebuah surat wasiat untuk Abe. Hari itu nyawa ayah Abe melayang dan ajaibnya itu terbayar dengan bangunnya Abe dari tidur komanya yang panjang.

Abe terbangun dari kematiannya, tapi saat itu dia tidak bangun sendirian. Dia juga bangun bersamaku. Aku yang dia sebut MIND. Saat itulah secara menakjubkan aku yang dulu terkubur jauh di dalam alam bawah sadar Abe bisa berkomunikasi dengannya. Abe yang masih dalam keadaan bingung aku coba untuk menenangkannya. Saat itu dokter datang untuk mengecek keadaan Abe yang selama ini diperkirakan tidak akan terasadar lagi. tapi Abe malah melawan dan memberontak pada dokter dan suster yang mencoba merawatnya. Saat itulah aku berbisik sebuah kalimat padanya “Tenang, mulai sekarang aku bersamamu!”

Cerpen Karangan: Samroyani
Facebook: Facebook.com/rnyulz
Samroyani adalah Samsul Rizal Royani Pulungan…

Cerpen Kepala Dalam Kepala (Part 1) Mindabe merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Carbon

Oleh:
Ada seseorang yang membuatku tertarik selama ini. Iris segelap malam milikku menatap ke arah luar jendela, tangan yang sedari tadi bergerak -membalikkan satu persatu halaman tipis sebuah buku bertemakan

Destroy

Oleh:
Aku bangun dari tidurku. Keringat membasahi wajah dan rambut pirangku, tanganku gemetaran. Aku bukan lagi di rumahku. Aku berada di tempat aneh yang agak gelap. Pakaian ketat berwarna hitam

Story of The Arthur Pendragon

Oleh:
Kau percaya pada neraka? Pada Karma dan segalanya? Well Arthur tidak percaya akan itu semua. Karena, hatinya sudah terlalu lelah menunggu saat-saat karma melaksanakan tugasnya dengan baik sedang sang

Separuh Dari Satu Yang Utuh

Oleh:
Langit malam yang tadinya hitam kelam, kini memerah, yang sepertinya menandakan pertukaran malam menjadi pagi. Langkah jarum jam seakan terdengar begitu keras pada malam menjelang pagi itu. Yang kemudian

Dia Adalah Fana

Oleh:
Sore ini awan hitam penuhi angkasa. Udara menjadi dingin. Senja tak akan berwarna kemerahan hari ini. Kemudian sepi kembali merambat secara perlahan menyelubungi tubuhnya yang telah terduduk di tepi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *