Kereta Bawah Tanah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 14 February 2017

Suara roda bercampur dengan rel kereta di kejauhan terdengar oleh telingaku. Aku bangun dari dudukku, memanggul ranselku, dan berdiri di pembatas masuk kereta. Suasana sepi di stasiun bawah tanah ini mengundangku untuk berfikir lebih dalam. Tentang apapun yang kurasa tidak sepenuhnya penting. Merenung, menikmati kesendirian ini. Bermain dengan pikiran sendiri.

Langkah sepasang kaki mendekati posisiku berada. Menghalangi sinar lampu yang sudah redup pula. Kereta berhenti, lalu membukakan pintu dengan sendirinya, seakan menyambut kehadiran sang Raja dan Ratu. Aku memasuki kereta terlebih dahulu. Aku memilih untuk duduk di sudut gerbong, mendapati kereta yang tidak ada penumpangnya sama sekali.

Kereta kembali berjalan setelah menutupkan pintunya. Kulihat laki-laki itu duduk dan seperti sedang berfikir, membayangkan sesuatu. Dengan melihat penampilannya, aku tahu, Ia sedang memikirkan pekerjaannya, atau entahlah. Lengan kemejanya tergulung, kaus kaki hanya dipakai sebelah, dasi yang tersampir di bahunya, dan rambut yang sedikit berantakan.

Aku tersenyum simpul, namun tidak lama. Karena tiba-tiba lampu padam. Dan kereta berhenti. Aku terdorong ke arah yang berlawanan, namun kutahan untuk menyeimbanginya. Dengan sigap, aku meraba ranselku untuk mengambil senter. Mengarahkan lampu, aku berjalan ke arah laki-laki itu. Di sampingnya, aku pun duduk.

Hening. Tidak ada yang memulai percakapan. Menunggu bantuan yang akan datang. Kulihat laki-laki itu hendak berdiri, namun dengan cepat terjatuh lagi, karena kereta yang dengan tiba-tiba melaju. Awalnya normal, kemudian, kereta menambah kecepatannya, dengan sendirinya.

Aku merasakan ada tangan yang menggenggam tangan kiriku. Aku memutar kepala menghadapnya, yang sedang memejamkan matanya. Aku balas menggenggam tangannya, karena tahu ini adalah kelemahannya. Kereta melaju semakin kencang, membuat kepalaku pusing. Kulihat dia seperti merasakan hal yang sama. Belum sempat aku berbicara, semuanya berubah menjadi gelap.

Angin berhembus menerpa wajahku. Sinar matahari menembus mataku. Perlahan kubuka kedua mata, lalu menggerakkan organ-organ tubuhku yang terasa kaku. Aku bagaikan ikan yang terdampar di pesisir pantai. Bedanya, aku terdampar di tanah, yang basah. Aku bangun, memanggul tasku yang tergeletak dan sudah kotor, melihat sekitar, dan mencoba mengenali tempat ini. Namun tidak berhasil.

Tempat ini seperti bayanganku saat kecil tentang dunia fantasi. Ikan yang hidup walaupun sudah terdampar di sisi sungai, gunung berapi namun sebenarnya tidak berbahaya, burung-burung yang terbang bebas membuat pola yang unik, dan lainnya yang terlihat biasa ketika dibayangkan, namun luar biasa ketika direalisasikan. Di sini sunyi, seperti tidak ada kehidupan manusia. Melainkan, di sini banyak binatang, yang pastinya tidak biasa. Salah satunya, aku sempat melihat gajah berwarna biru di balik pohon-pohon besar.

Aku kembali mengingat apa yang membuatku pingsan dan berakhir di tempat… atau dunia, ini? Entahlah. Terakhir kali, aku berada di kereta bawah tanah menuju stasiun dekat rumah. Dan di sana aku duduk bersama seorang laki-laki asing. Apakah dia tersesat ke dunia ini juga? Jika iya, di mana dia? Bagaimana kita bisa balik ke dunia nyata?
Banyak pertanyaan yang muncul di benakku, yang bahkan aku tak tahu sama sekali apa jawabannya. Meski aku sudah terbiasa dengan situasi seperti ini, aku tidak akan bisa terus berada di sini, karena ini bukanlah duniaku. Aku mulai berkeliling, mencari informasi atau apapun yang bisa membawaku pulang.

Aku berjalan di pinggiran sungai, sambil menikmati pemandangan selagi masih di sini. Tak lama aku aku berjalan, aku tersandung sesuatu yang mengakibatkan aku terjatuh dengan posisi telungkup. Aku mencoba berdiri, lalu menepuk pakaianku yang sudah kotor, yang malah menjadi semakin kotor.

Saat aku melihat apa yang membuatku tersandung, aku kaget. Dia, adalah laki-laki yang terakhir kali bersamaku di kereta. Laki-laki itu pingsan dengan posisi meringkuk. Aku coba menepuk-nepuk pipinya, mengoyang-goyangkan tubuhnya, sampai akhirnya dia terbatuk, tanda ia sudah sadar.

“Hei,” sapaku dengan mengular senyuman tipis, membantu dirinya untuk duduk. “Apa kau baik-baik saja?”
Ia terlihat ingin berbicara, namun kesulitan untuk melakukannya. Aku melihat sekitar, mengambil daun besar, lalu pergi ke sungai untuk menampung air. Aku berikan air itu kepada laki-laki tersebut. “Nih, minum dulu. Semoga airnya ga beracun ya,”
Wajahnya menampakkan raut bingung dengan mengerutkan alisnya. Tapi sepertinya ia tidak peduli, karena ia langsung meminum air yang aku bawa. Terbatuk lagi, kemudian mencoba berbicara, “Terimakasih.”
Aku membalasnya dengan tersenyum, lalu membantunya untuk berdiri. Ia memandang ke sekelilingnya, terlihat bertambah bingung. Seperti menanyakan dirinya sendiri di manakah dia. Kemudian, ia melihatku, dan berkata, “Ini di mana? Kamu siapa? Malaikat?”
Rasanya aku ingin tertawa, namun aku urungkan. “Aku Rosie, aku tidak tahu ini di mana. Yang aku tau adalah terakhir kali kita berada di kereta yang melaju dengan kencang dengan lampu yang padam.”
Ia seperti mengingat-ingat apa yang terakhir kali ia lakukan, lalu seperti mendapatkan ilham. “Oh, aku ingat! Omong-omong, namaku Adrian.” Katanya sambil mengulurkan tangan. Aku pun balas mengulurkan tangan untuk menjabatnya.
“Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?” kata Adrian. Aku bingung harus menjawab apa, karena aku pun tidak punya ide sama sekali. Dia melanjutkan, “Lebih baik kita berkeliling dulu saja, siapa tahu ada sesuatu yang akan membantu kita. Bagaimana?”
Aku mengangguk, kemudian mulai berjalan di sampingnya.

Adrian menanyakan hal-hal tentangku, aku jawab seadanya, mungkin ia hanya ingin mengenalku agar lebih akrab. Juga, tanpa disuruh, Adrian menceritakan tentang dirinya, keluarga, bahkan pekerjaannya. Adrian menceritakan itu semua dengan pembawaanya yang santai, yang membuat orang akan sukarela mendengarkan ceritanya, dan merasa nyaman di sekitarnya.

Entah mulai dari kapan, kami sudah berada di ujung tebing, melihat ke bawah ke arah pemandangan yang ada. Kelihatan aneh, namun menakjubkan. Kami tidak berbicara satu sama lain. Melainkan seperti sedang berfikir jauh ke dalam pikiran masing-masing.

Seekor kupu-kupu membuyarkan lamunan aku, dan sepertinya juga kepada Adrian. Kupu-kupu itu berwarna ungu, ukurannya sedikit lebih besar daripada umumnya, dan… “Halo Rosie, Adrian,” bisa berbicara. Dan bagaimana dia tahu nama kami?
“Baiklah, sebelumnya, perkenalkan namaku Tirza. Aku di sini untuk membantu kalian. Aku tahu nama kalian karena, yah, aku tahu apa yang ada di pikiran kalian,” jelasnya singkat. Aku tahu, wajahku pasti sedang menampakkan wajah yang sangat amat bodoh. Antara tidak pernah bertemu kupu-kupu seperti Tirza, dan oh! Bagaimana seekor kupu-kupu dapat membantu?
Adrian angkat bicara, “Kalau begitu, bagaimana kami bisa pulang?”
Tirza tersenyum, “Aku akan menjelaskannya, selagi aku akan memandu kalian ke suatu tempat,”. Aku dan Adrian pun menurut saja. Tirza terbang mendahului kami, menuju ke arah hutan.

Tirza memulai penjelasannya, “Kalian pasti bertanya-tanya di mana ini, dan mengapa kalian bisa sampai ke sini. Ini adalah Dunia Rungu. Kalian bisa masuk ke dunia ini karena hanya kalian berdualah yang menaikinya, yang berarti kalian adalah pasangan sejati,”
Aku menoleh ke arah Adrian, yang juga menoleh ke arahku. Kami bertatapan sebentar, lalu memalingkan muka. Aku bahkan baru mengenalnya, apakah benar Adrian adalah jodohku?
Tirza tersenyum simpul, “Jangan dipikirkan, jalani saja”. Lalu kembali menghadap depan, dan melanjutkan. “Jika kalian ingin pulang, setidaknya, kalian harus menginap satu malam di sini, di sebuah tempat yang akan aku tunjukan nanti. Lalu saat fajar, kalian bisa pulang. Tapi itu tidak semudah yang dibayangkan. Selama malam tersebut, akan ada rintangan,”

Hari terlihat senja, menuju malam. Kami berhenti di depan sebuah rumah kayu yang sudah tua, namun tidak kumuh. “Pada dasarnya, rintangan tersebut hanyalah badai yang akan melanda. Tantangannya, kalian harus menjaga satu sama lain. Badai ini bisa saja mematikan salah satu atau kedua dari kalian, atau tidak sama sekali. Tergantung bagaimana kalian mengatasinya,” kata Tirza panjang lebar.
“Sampai di sini saja ya, aku bisa membantu. Aku sangat senang mengenal kalian berdua,” kata Tirza. Wajahnya menyiratkan wajah sedih, yang kutahu, itu bukan sedih karena perpisahan. Tapi apa? “Selamat tinggal.”
“Terimakasih banyak, Tirza.” Ucapku yang juga dilanjutkan ucapan terimakasih dari Adrian. Tirza mengulas senyuman, untuk kesekian kalinya. Aku balas tersenyum padanya. Rasanya aku ingin mempunyai teman sepertinya, yang sangat baik hati dan bijak.

Aku dan Adrian berjalan memasuki rumah kayu tersebut. Adrian pergi ke kursi di depan, seperti, sebuah perapian. Tadinya, aku akan pergi untuk bersih-bersih. Nyatanya, tidak ada kamar mandi. Yah, wajarlah. Aku pun menyusul Adrian.
Saat itu, aku ingin melangkah melewati kaki Adrian karena jarak kursi dan meja sangat sempit. Namun, realita sangat tidak berhubungan dengan ekspektasi. Aku tersandung. Dengan sigap, Adrian mengkapku. Tapi, malah berakhir di pangkuannya.
Aku diam, tidak sanggup untuk bergerak. Karena posisi jatuhnya aku di pangkuannya dari awal sudah menatapnya, aku tidak bisa memalingkan wajah. Adrian menatapku aneh, namun dalam. Tapi, aku merasakan kenyamanan itu. Entah dari mana.

Aku hendak untuk mengangkat tubuh untuk duduk di sampingnya saja. Dan seperti yang kukatakan, realita sangat tidak berhubungan dengan ekspektasi. Adrian menyandarkan kepalanya di bahuku, dan berkata. “Biarlah seperti ini dulu.”
Tiba-tiba aku merasakan jantungku yang berdebar lebih cepat dari biasanya. Aku belum pernah merasakan hal seperti ini. Tapi, teman-temanku sering mengatakannya, ketika mereka sedang jatuh cinta. Apa itu terjadi padaku, sekarang?
Adrian masih belum melepaskan sandarannya di bahuku. Kulihat melalui kaca, malam sudah tiba. Aku tidak tahu kapan badai akan menghadang. Aku ingin bersiap. Namun, saat aku lihat Adrian, dia sudah terlelap dalam tidurnya. Dan aku pun akan hanya diam, takut membangunkannya jika melakukan pergerakan.

Aku merasakan angin kencang menerpa seluruh tubuhku. Aku membuka mata, merasakan pegal di bahu kiriku. Aku melihat keluar, badai menerpa dedaunan, bahkan pintu masuk rumah kayu ini, terdorong hingga roboh. Aku mencoba membangunkan Adrian, mengoyang-goyangkan tubuhnya, dan juga memanggil namanya.
Aku panik, tidak tahu mengapa. Aku mempunyai perasaan yang aneh, yang tidak bisa kudefinisikan. Adrian terbangun, kaget dengan keadaan sekitar yang sudah berantakan. Aku beranjak berdiri, disusul olehnya. “Kita harus gimana?” kataku dengan nada yang ketakutan, namun bukan karena badai. Entah apa.
“Kamu jangan kemana-mana, di belakangku saja, oke?” titahnya, yang kubalas dengan anggukan. Angin bertambah kencang, membuat atap rumah bergoyang, tanda akan roboh. Aku memejamkan mata, memikirkan kejadian terburuk yang aku pun tidak ingin itu terjadi.

Langit di luar sangat gelap, tapi aku tahu, sebentar lagi fajar akan muncul. Atap rumah semakin terdorong angin, hampir roboh. “Adrian, atapnya mau roboh!”
“Iya, aku tahu,” katanya, dengan tenang. Ia memutar tubuh menghadapku. Memelukku, menutupi kepalaku dari robohan atap yang akan menerjang. Kulihat di luar, langit sedikit demi sedikit menjadi terang. “Apapun yang terjadi, jangan salahkan dirimu sendiri.”
Aku bingung, pikiranku campur aduk, hatiku resah. Aku memeluknya erat. Atap rumah mulai roboh. Awalnya hanya serpihan-serpihan kecil. Dilanjut kayu-kayu yang besar, menimpa dan membuat kami terjatuh. Kayu yang jatuh semakin banyak. Dan aku tidak bisa melihat apa-apa lagi.

Suara roda bercampur dengan rel kereta di kejauhan terdengar oleh telingaku. Perlahan kubuka kedua mata, menggerakkan organ-organ tubuhku yang terasa kaku, lalu melihat sekitar. Seketika aku merasakan hampa. Hatiku terasa sesak. Aku tidak sanggup untuk sekedar berdiri. Air mataku jatuh mengalir di pipiku. Karena aku tahu, dia sudah tiada.

Cerpen Karangan: Tiara Puspa Amanda

Cerpen Kereta Bawah Tanah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hadirnya Menyakitkan

Oleh:
Hari ini hari pertama aku masuk kuliah di semester tiga. Tidak terasa hari begitu cepat, aku sedikit terlambat hari ini tetapi untung saja dosenku kali ini bisa mengerti dan

Pria Cengeng Dan Wanita Hebat

Oleh:
Rikal adalah anak pertama dari 2bersaudara, dia memiliki seorang adik perempuan yang masih balita bernama fila. Rikal termasuk anak yang kurang mendapat perhatian dari orangtuanya, meski orangtuanya bekerja sebagai

Bila Di Dunia Kertas

Oleh:
Pagi hari Bila telah sibuk membereskan tempat tidurnya, lalu ia mandi dan mengenakan T-shirt berwarna ungu, memakai celana selutut yang berwarna abu-abu, dan bandana berwarna ungu di sampingnya terdapat

The Bladekeeper

Oleh:
Di hari yang cerah di suatu desa terdapat orang yang bernama Yunero, dia adalah anggota terakhir dari klannya, dulu semua klannya dibunuh dan desanya dibakar, kecuali ia dan ibunya

Senyummu Untuk Tuhan

Oleh:
Bel sekolah pun mulai berbunyi menandakan saatnya untuk pulang. Aku adalah seorang pelajar di salah satu SMKN Surabaya, aku mengambil jurusan pariwisata. Sekolah ini sangat nyaman untukku. Apalagi didukung

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *